Kabur

1184 Words
Lovely ditarik paksa ke dalam kamarnya. Paduka raja menghukum Lovely, dia tidak boleh keluar kamar hingga pernikahannya dengan Bima akan dilaksanakan tujuh hari lagi. Lovely menangis terisak. Bagaimana bisa ia tiba-tiba dinikahkan dengan pria yang tidak dikenal. Dari masa lalu begini pula. “Hei! Hei! Lepaskan aku!” teriak Lovely tidak terima. Ia memarahi tiga orang pengawal kerajaan yang memeganginya dan memaksanya untuk diam di dalam kamar. “Maaf Kanjeng Putri Kartika. Kami hanya mengikuti perintah Raja,” ujar salah satu dari tiga pengawal tersebut. Pintu kamar yang terbuat dari kayu jati ditutup rapat. “Blam!” “Hei! Jangan tinggalkan aku di dalam!” teriak Lovely dengan kedua mata sembab. “Kami berjaga di luar kanjeng Putri Kartika. Anda tidak sendirian,” jawab para pengawal yang tadi menarik paksa Lovely ke dalam kamar. “Tidak! Aku tidak boleh menikah dengan pangeran Bima! Aku tidak boleh menikah dengan pangeran yang tidak aku kenal itu!” seru Lovely lirih. Kedua tangannya memegangi kepalanya yang kini terasa pusing. “Satria, juga tidak mau menolongku. Baiklah ... Aku akan menolong diriku sendiri.” Lovely bertekad untuk kabur. Ia akan pergi dari kamar ini. Meloncat dari jendela dan meninggalkan istana. Walau masih belum tahu ke mana ia akan pergi. Lovely mendekat ke arah jendela. Ia mulai menaiki jendela berbentuk kotak tersebut, tapi sangat sulit untuk naik dan turun dari sana karena ia mengenakan kain panjang yang melilit bagian bawah perutnya hingga ke lutut. Karena kain ini membuatnya sulit bergerak, Lovely terpaksa mengambil pisau belati yang tadi ia lihat di meja. Membuka sarung pisau tersebut dan merobek kain panjang yang dikenakannya. “Sreeeeek!” Kain tersobek dan langkah Lovely sedikit bebas. Setelah itu ia ingin menaruh kembali pisau yang belati yang dipegangnya. Tapi kemudian ia berpikir untuk membawa serta merta pisau belati dengan sarungnya yang terbuat dari kulit domba. Menyimpannya di balik kain yang melilit pinggangnya seperti gesper. Di jaman masanya tinggal, kain yang melilit pinggang hingga perutnya ini biasa digunakan ibu-ibu setelah melahirkan agar perut mereka yang kendur rata dan kencang kembali. Saat terbangun dari sadarnya tadi siang, tiba-tiba ia sudah mengenakan lilitan kain yang membuat perutnya terasa sesak. Brak! Lovely melompat dari jendela dan langsung tersungkur. Bibirnya mencium tanah dan membuat bibirnya sedikit jontor. “Siaaal ...,” gumannya lirih. Dan kemudian langsung bergegas berdiri kembali. Ia celingukan ke kiri dan ke kanan. Berharap tidak ada yang melihatnya pergi dari istana ini. Tapi Lovely bingung ia harus lewat mana? Ke kiri atau ke kanan? Jika kabur, harusnya ia keluar lewat pintu belakang. Tanpa tahu harus memilih jalan yang mana, ia pun mengikuti kata hatinya, berbelok ke arah kiri. Langit sudah berwarna orange keemasan, tanda saat ini sudah mulai sore. Dan Lovely harus segera keluar dari istana tanpa ada satu pun orang yang tahu. Jika sampai pengawal memergokinya, maka tamatlah riwayatnya. Pasti penjagaan akan semakin diperketat dan mau tidak mau ia harus menghitung hari untuk menikah dengan pangeran Bima Sandiaga itu. Suara kuda mulai terdengar riuh. Wajah Lovely berbinar. Ia yakin jika di bagian depan adalah halaman belakang tempat ternak dikurung. “Apa aku kabur menaiki kuda?” tanyanya di dalam hati. Tapi sesaat kemudian ia langsung menggelengkan kepalanya cepat. “Bagaimana aku mau kabur menggunakan kuda! Naik ke atas kuda aja aku engga bisa,” gerutunya sembari berjalan merunduk dan cepat menyeberangi kandang. Untung saja di halaman belakang ini tidak ada pengawal yang berjaga. Sehingga Lovely merasa aman untuk melanjutkan aksinya kabur dari istana ini. Suara kereta kuda terdengar akan memasuki halaman belakang. Lovely langsung bersembunyi di tumpukan jerami saat kereta tersebut masuk. Seorang pelayan yang hanya mengenakan celana panjang selutut dan tidak mengenakan baju berjalan menghampiri kereta yang memuat banyak peti-peti. Sepertinya semua itu adalah peti persediaan bahan makanan, batin Lovely. Dan saat si pelayan dan si kusir yang membawa delman sedang berbincang. Lovely mengendap-ngendap berjalan mendekat ke arah belakang kereta kuda. Ia masuk ke dalam kereta kuda yang sekelilingnya ditutupi kain berwarna cokelat. Jantung Lovely berdegup kencang. Sembari meringkuk berjongkok, bersembunyi di kereta kuda itu. berharap pelariannya ini akan berhasil. Walau entah harus lari ke mana dan bagaimana caranya ia pulang. Tapi setidaknya ia berhasil kabur meninggalkan istana, kabur dari perjodohan yang menakutkan itu. *** “Kamu yakin Putriku Kartika kasembet, kemasukan dedemit?” tanya Raja Prabu Wijaya Kusuma pada Satria. Satria menundukkan wajahnya sembari menjawab, “Untuk yakin atau tidak, saya juga tidak faham yang mulia. Tapi saya merasa memang Putri Kanjeng Kartika agak aneh sejak kami pulang dari upacara mengenang nenek moyang di tepi tebing tadi pagi.” Raden Wijaya Kusuma menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Sekiranya Kartika, kesambet kerasukan dedemit atau ia terasuki oleh roh dari nenek moyang?” Pertanyaan dari Prabu Wijaya Kusuma semakin membuat Satria tidak bisa menjawab. Tapi setidaknya ia memiliki satu jawaban yang bagus. “Apa Paduka ingat apa yang pernah diramalkan tabib Sayuti tiga tahun yang lalu? Jika akan ada seseorang yang datang bukan dari masa kita. Kedatangan dia akan membuat perubahan.” Ternyata Raden Wijaya Kusuma masih ingat dengan jelas. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. “Hm ... Iya, iya, aku ingat! Tapi perubahan yang dibawa, entah kebaikan atau malah menjadi keburukan bagi negara ini kan? Aku tidak mau kerajaanku hancur hanya karena seorang dedemit yang merasuki Kartika.” “Belum tentu dedemit Paduka Raja. Bisa jadi Kanjeng Putri Kartika kerasukan arwah nenek moyang. Karena itu bahasanya melantur. Bahkan ia seperti orang mabuk seharian ini.” Raden Wijaya Kusuma menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak ... tidak ... aku tidak mau mengambil keputusan berbahaya.” “Mengambil keputusan berbahaya?” tanya Satria dengan sepasang mata memicing. “Maksudnya Paduka?” “Aku tidak bisa membiarkan jika seandainya kerajaanku ini hancur karena Kartika kerasukan.” “Tapi semua itu hanya ramalan Paduka. Lagi pula belum tentu Kartika memang benar-benar karasukan,” kata Satria menyesal mengingatkan Raja tenang ramalan tersebut. Sejenak hening. Raden Wijaya Kusuma berpikir. Dan sejenak kemudian ia mulai bersuara kembali, “Tabib pernah mengatakan jika saat masa penceklik tiba, lalu akan datang jiwa yang entah dari mana datangnya, maka aku harus segera menikahkan Kartika. Karena jika tidak begitu, Kartika akan menjadi perawan tua dan akan membuat malu nama baik Kerajaan. Dan kutukan putri Mahkota yang menjadi perawan tua itu akan mengakibatkan musim panceklik yang panjang.” Raden Wijaya Kusuma masih teringat jelas setiap kata yang diramalkan oleh Tabib Sayuti padanya tiga tahun yang lalu itu. “Jadi? Apa yang harus saya lakukan?” Hening. Raden Wijaya Kusuma tidak langsung menjawab. Satria menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Raja Raden Wijaya Kusuma yang akan diperintahkannya itu. “Bawa Putri Kartika menghadapku lagi ke mari! Dan panggil tabib Sayuti. Kita akan membuat upacara pensucian sebelum Kartika dinikahkan dengan pangeran Bima!” “Pensucian?” tanya Satria dengan wajah sedikit ragu. “Iya, pensucian Putri Kartika yang akan dilempar ke laut selatan dengan bunga tujuh rupa agar jiwanya menjadi suci kembali sebelum menikah dengan Bima. Agar negeriku ini juga terhindar dari malapetaka dan bencana,” jawab Raden Wijaya Kusuma menggelengkan kepalanya pelan. Air mukanya tampak kecewa bercampur takut. “Sepertinya leluhur sangat marah padaku karena tidak bisa membimbing putri mahkota menjadi putri yang baik.” Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD