Kereta kuda yang dikendarai oleh Lovely dan Satria tiba di istana. Wajah Lovely murung dan hatinya kelam. Sejak perjalanan pulang ke mari, otaknya terus berpikir bagaimana caranya pulang kembali ke masanya. Namun belum juga mendapatkan jawabannya.
“Puteri Kartika, anda dicari Yang Mulia Paduka Raja!” seru tiga orang pengawal istana saat mereka baru saja tiba.
Wajah Satria langsung sedikit terlihat panik. Perasaannya langsung tidak enak takut paduka raja akan memarahinya dan Kartika karena mengajak keluar istana.
“Aku dicari?” tanya Kartika sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Paduka Raja menunggu anda di Pendopo,” jawab salah seorang pengawal yang bertubuh tegap dan kulitnya sedikit lebih kehitaman dari pada teman di sebelahnya.
Lovely menoleh ke arah Satria dan menatapnya. “Kenapa Raja mencariku?”
“Mungkin ingin memastikan kamu baik-baik saja atau tidak,” jawab Satria dengan wajah tegas seperti biasa. “Lebih baik sekarang tanpa banyak tanya lagi kamu ke segera temui Raja.”
Lovely menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa tercekat karena perasaannya menjadi takut. 'Apa yang diinginkan Raja dariku?’ tanyanya di dalam hati.
Ia berjalan meninggalkan halaman belakang Istana. Meninggalkan kereta kuda dan berjalan menuju pendopo yang dimaksud. Tapi saat kaki Lovely baru empat langkah. Ia langsung berhenti. Menoleh ke belakang. “Satria!” panggilnya sedikit keras.
Satria menoleh ke arah sumber suara. Tangannya yang sedang mengikat tali kereta kuda ke sebuah tiang kayu besar tetap bergerak walau netranya melihat ke arah Lovely. “Ada apa?”
“Temani aku. Aku takut. Lagi pula aku tidak tahu di mana pendoponya,” jawab Lovely.
Satria menatap raut muka Lovely yang kusut dan muram. Perasaannya selalu merasa iba pada gadis cantik yang keselamatannya menjadi tanggung jawabnya itu. “Baiklah aku akan temani,” jawabnya dan kemudian menggandeng tangan Lovely menuju pendopo yang dimaksud.
Sekitar delapan menit mereka berjalan menuju Pendopo. Langkah Lovely sulit bergerak karena kain yang melilit bagian perut ke bawahnya itu benar-benar menyiksa.
“Wajahmu jangan ditekuk begitu. Nanti Romomu pasti akan bertanya kenapa wajahmu begitu? Aku masih tidak mengerti kenapa kamu terus-terusan mengatakan jika kamu ingin pulang, padahal Istana ini rumahmu,” tegur Satria sembari melirik ke arah Lovely.
Lovely menghentikan langkah kakinya. Ia memiringkan badannya dan menatap Satria. “Kamu harus percaya padaku, Satria. Aku memang bukan berasal dari abad ini. Awalnya aku kira ini hanyalah lokasi syuting film kolosal. Tapi ternyata dugaanku itu salah. Entah bagaimana caranya aku bisa terjebak di jaman beratus ratus tahun yang lalu sebelum jamanku! Aku lahir di abad 21! Kamu tahu abad 21?! Saat ada internet! Ponsel. Dan sebentar lagi akan diciptakannya mobil terbang! Dan ini lihat, kendaraan tercanggih kalian saja hanya delman!” gerutunya menjelaskan.
Tapi tetap saja Satria kurang begitu faham dengan apa yang dijelaskan oleh Lovely. “Maksudmu kamu berasal dari dunia yang berbeda?” tanyanya kemudian. Akhirnya ia mulai sedikit mengerti.
Sorot mata Lovely tampak bersinar bahagia. Akhirnya Satria mengerti apa yang dia ceritakan. “Iya, begitu! Aku bukan berasal dari jaman ini. Aku berasa dari jaman moderen! Jaman harus jaga jarak di antara kita. Jamannya kalo keluar pake masker dan jaman PPKM level empat!” Penjelasan Lovely semakin berlebihan. Kepalanya seperti ingin pecah ketika bercerita panjang lebar tapi wajah Satria tanggapannya hanya begitu saja. Ekspresi pria itu datar.
“Kamu faham kan sekarang? Aku bukan dari jaman ini. Tapi bukan juga dari mahluk dedemit!”
Satria diam bukan karena tidak mengerti. Mendadak ia teringat akan ramalan buruk tabib Sayuti. Beliau bilang, kelak akan ada manusia dari jaman entah berantah di masa datang. Kembali ke masa lalu, untuk mengubah sesuatu. Bisa kemungkinan mengubah menjadi kebaikan. Atau justru sebaliknya, perubahan yang dia bawa akan membawa pada keburukan dan juga malapetaka.
Apa maksud dari tabib Sayuti adalah ini? Tabib Sayuti adalah orang pintar. Selain bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat ramuan, ia juga bisa meramalkan sesuatu yang biasanya tidak pernah salah.
Sepasang mata Satria yang maskulin itu membulat, manik matanya mengilat menatap Lovely. “Tadi siapa nama yang kamu sebutkan? Jika kamu bukan Putri Kartika. Tapi kamu– ?
“Aku adalah Lovely. Lovely Pramesti Angelina,” sahutnya lantang.
“Astaga. Masalah akan lebih gawat jika Paduka mengetahuinya. Jika kamu bukan Putri Kartika. Lalu di mana dia? Di mana Putri Katika yang asli?!” tanyanya sembari mencengkeram bahu Lovely dan menggoyang-goyangkannya.
Lovely meringis sakit. “Tanganmu menyakitiku Satria ... Tapi aku benar-benar tidak tahu di mana Putri Kartika yang asli. Aku tiba-tiba berada di sini saja masih belum faham.”
“Ehem ... Kalian berduaan di sini ya!” Suara seorang gadis menegur. Lovely dan Satria langsung kompak menoleh ke sumber suara.
Diah Gayatri berdiri tidak jauh dari mereka. Ia berjalan mendekat sembari tersenyum tipis. “Mbak yu Kartika sejak tadi dicari Romo. Bukannya cepat temui. Malah berduaan sama Satria di sini. Aku mencium bau busuk di sini,” ucapnya sinis.
Kedua alis Lovely saling bertautan. Maksudnya apa Diah berkata demikian padanya?
“Sudah mbak jangan merengek dan menggoda Satria terus,” kata Diah sekali lagi.
Satria baru sadar dengan kedua tangannya yang mencengkeram pundak Lovely. Untung saja tidak ada yang melihat sikapnya yang demikian selain Diah Gayatri.
“Apa maksudmu menggoda? Aku sama sekali tidak menggoda Satria!” sanggah Lovely yang sudah mulai migren. Permasalahan tentang bagaimana ia pulang saja belum ketemu jalan keluarnya. Kini ditambah dengan omongan Diah yang tidak enak didengar. Apa lagi kata-kata yang menyebutkan ‘aroma busuk'. Apa maksudnya itu?
Diah Gayatri berjalan semakin dekat. Sudut bibirnya terulas senyuman manis. “Mbak Kartika ... Aku tahu kok kalo mbak suka kan sama Satria? Tapi sayangnya hubungan kalian tidak akan terjalin karena mbak sudah dijodohkan dengan Mas Bima Sandiaga.”
Kening Lovely semakin berkerut. Ia menoleh sebentar ke arah Satria sembari mengerutkan dahi. “Adikku ... Siapa aku lupa ... Iya, Diah," katanya pelan. “Masalahku sudah banyak. Jangan kamu tambah-tambahkan dengan masalah lainnya. Romo mencariku? Baiklah aku akan menghampirinya.”
Bibir Diah yang sudah bergerak ingin bicara, kini kembali merapat. Ia mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal-hal lainnya pada Kartika.
Lovely berjalan meninggalkan Diah. Satria mengikuti langkahnya dari belakang. Ia sama sekali tidak menanggapi ucapan Diah. Membuat gadis itu merasa gondoknya bukan kepalang.
“Setelah pernikahanmu dan Mas Bima terjadi. Maka mbak akan pergi dari istana ini. Lalu Satria akan menjadi pengawalku,” guman Diah lirih sembari memandangi punggung Lovely dan Satria yang semakin menjauh.
Sesampainya di Pendopo, Lovely langsung menghadap raja yang juga ayah Kartika itu. “Hai Romo,” sapanya dengan gaya gaul di jaman Milenal.
Raja Wijaya Kusuma langsung menatap terkesiap Lovely. Gaya sapaan Lovely yang tidak biasa membuat sepasang matanya mendelik. “Apa itu Kartika? Kenapa menyapa Romo dengan gaya tubuh begitu?”
Raja berbalik bertanya dengan gaya kedua tangan memegang bahu dan setelahnya menujuk ke arah lawan bicara dengan jari yang membentuk pistol. “Apa itu?”
“Itu pistol,” jawab Lovely asal. “Mungkin jaman ini belum ada. Tapi nanti akan ada penjajah berkulit putih yang disebut Kompeni akan membawa benda tersebut. Kalian semua harus hati-hati.”
Hening. Raja Wijaya Kusuma dan Satria menatap Lovely dengan tatapan aneh.
“Jangan didengarkan yang mulia Raja,” ujar Satria membuka suara.
Raja Wijaya Kusuma menghela nafas panjang. “Astaga ternyata kamu belum sadar juga dari mabukmu? Memalukan.”
“Aku itu tidak mabuk,” sanggah Lovely. Ia langsung duduk di samping Raja dengan gerakan cepat. Hingga Raden Kusuma Wijaya terkejut dibuatnya.
“Raja kan ayahku. Eh Romoku. Seorang Raja pasti bisa melakukan segalanya. Tolong carikan aku seorang ilmuan yang bisa membuatkan ku mesin atau sesuatu yang bisa membawaku kembali ke jamanku.”
Hening kembali.
Satria dan Raja Wijaya Kusuma memandangi aneh Lovely.
“Kartika, kamu adalah putri mahkota. Putri tertuaku. Kenapa sikapmu begini?” tanya Raja Wijaya Kusuma kecewa. “Semakin hari sikapmu semakin parah. Apa lagi hari ini mabukmu tidak berhenti. Terus meracau. Dan tadi kalian ke mana? Dengan kondisimu yang begini, kamu keluar istana?”
Lovely terdiam. Suara tegas dan wibawa Raden Wijaya Kusuma, sang Raja ini seperti menghipnotisnya agar diam.
“Aku yang menjaganya Tuan Paduka Raja,” sahut Satria.
“Sudah aku bilang, jangan keluar Istana dulu!” teriak Raja murka.
Lovely sampai bergidik ngeri hanya dengan mendengar suaranya itu. “Aku yang meminta Satria untuk mengajakku keluar," jawabnya menjadi takut.
“Anak tidak bisa diatur!” teriak Raja sekali lagi. “Memang satu-satunya jalan kamu harus menikah dengan Bima! Pernikahan kalian harus segera dilaksanakan agar tidak terjadi malapetaka dan hal buruk yang lebih parah dari ini!”
Wajah Lovely yang tertunduk langsung mengandah. Sepasang matanya membulat menatap lekat Raja Wijaya Kusuma. Bibirnya terbuka karena terkejut.
“Pernikahanmu harus dilaksanakan tujuh hari lagi! Romo akan membicarakan ini dengan Raja Jaya Langit, ayah Bima. Pernikahan kalian harus segera dilaksanakan! Tidak ada penundaan hari lagi!”
“Tidak! Aku tidak mau menikah!” seru Lovely menjawab dengan lantang dan bersuara keras.
“Kartika, kamu mulai berani melawan Romomu!” teriak Raja dengan mata mendelik penuh amarah.
“Aku bukan Kartika! Aku bukan Putri dari kerajaan ini! Aku ingin pulang!” Lovely mulai tidak bisa mengendalikan diri. Ia mulai emosional dan berteriak-teriak tanpa sadar. Hingga tiga orang pengawal diminta Raja untuk memegangi Lovely yang mengamuk.
Satria ikut memegangi Lovely, agar diam. “Kartika, diam lah, jika terus melawan kamu akan dihukum Raja,” bisiknya lirih.
“Aku ingin pulaaaaang ...,” ujarnya meratap.
“Pernikahanmu akan dilaksanakan tujuh hari lagi. Semoga pernikahanmu dengan Bima ini mampu mengubah sifat burukmu yang gemar mabuk tuak!” seru Raja Wijaya Kusuma sekali lagi.
Bersambung