“Jika aku sudah membawamu ke luar istana, aku harap setelah itu kamu tidak berbicara apa pun lagi dan mendengarkan semua kata-kataku!” kata Satria mengingatkan.
Lovely menganggukkan kepalanya mengerti. “Iya, aku akan mendengarkan semua yang kamu katakan,” jawabnya berharap jika ia akan keluar dari istana ini. Sejak tadi otak Lovely masih terus berpikir di mana dia sekarang. Mungkinkah ia benar-benar terdampar di masa lampau? Karena sepertinya semua orang di sini berakting natural untuk menjadi penduduk di masa kerajaan.
Tapi bagaimana bisa dia terdampar di masa lalu? Memiliki Doraemon dengan mesin waktu saja ia tidak punya.
Satria benar-benar menepati janjinya. Ia menggunakan kereta kuda untuk membawa Lovely keluar istana. Langkah kuda terdengar merdu berbunyi menapak tanah. Roda kereta pun terasa bergoyang-goyang saat menerjal bebatuan. Beberapa kali Lovely harus memegang bagian sisi kursi di kereta kuda tersebut agar tidak terjatuh.
“Kita mau ke mana?” tanya Lovely pada Satria. “Kok naik delman? Memang ini hari minggu pakai delman istimewa?”
“Memang kamu mau jalan kaki?” sahut Satria tanpa menoleh ke arah Lovely.
“Karena itu kita sebetulnya memang mau ke mana sih? Kenapa engga jawab? Mau anterin aku pulang kan? Kalo naik delman lewat jalan raya, bukannya kena tilang ya?” Lovely masih saja terus bertanya panjang lebar.
Satria malas menjawab. Ia diam saja sampai akhirnya kereta kudanya itu sampai di sebuah pasar yang luas. “Kita sudah sampai!”
“Sampai di mana?!” seru Lovely sembari melihat ke sekeliling. Ia melihat banyak orang yang hilir mudik dengan pakaian seperti di film silat-silatan Jawa Kuno yang sering dilihatnya di chanel ikan terbang. “Tempat apa ini?! Ini masih tempat syuting film kolosal kan? Aku bilang ingin pulang! Kenapa kamu enggak ngerti sih kalo aku ingin pulang!”
“Rumah kamu itu ya di Istana tadi Kartika! Kepalaku pusing lama-lama mendengar ocehanmu! Aku sengaja membawamu keluar Istana karena menuruti kemauanmu saja! Sekarang kamu mau aku ke mana lagi?!” Satria sudah mulai kesal.
Lovely terduduk diam dan menatap Satria dengan tatapan nanar. Sepasang matanya berkaca-kaca.
Satria mendapati tatapan mata itu dan merasa kasian. Entah ia harus berbuat apa lagi agar Kartika kembali seperti semula. Dari tingkah lakunya, cara bicara, bahasa dan semua yang dikatakan Lovely membuatnya tidak mengerti. Jika begini terus satu-satunya jalan ia harus memberitahukan Paduka Raja Wijaya Kusuma dengan apa yang terjadi pada putri mahkotanya ini.
Lovely mengusap air matanya kasar sembari membuang muka. Ia tidak mau ditatap Satria. “Kalau begitu antarkan aku ke polisi saja. Biar pak polisi yang mengantarkan aku pulang,” katanya kemudian.
“Antarkan kamu ke Polisi?” tanya Satria dengan suara pelan.
Lovely menganggukkan kepalanya pelan.
“Polisi itu rumahnya di mana? Aku merasa tidak pernah mendengar nama itu. Dia temanmu?” tanya Satria sekali lagi.
Lovely langsung menoleh dan menatap Satria lekat. “Kamu tidak tahu polisi?”
Satria menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak ... Aku tidak mengenalnya. Di mana rumahnya? Kamu mau aku antarkan ke sana? Tapi setelah itu pulang ya,” ucapnya sembari ingin menarik tali penarik kuda agar kereta yang mereka tumpangi ini berjalan.
“Tunggu!” Lovely menghentikan tangan Satria yang akan menjalankan kereta kuda. “Serius kamu engga tahu arti polisi?” tanyanya dengan sinar mata tajam.
Satria menggelengkan kepalanya kembali. “Memang polisi itu apa?”
“Dia adalah penegak hukum yang melindungi pemerintahan,” jawab Lovely.
“Maksudmu para prajurit?”
Air muka Lovely langsung datar. Mendadak wajahnya langsung pucat seketika. “Ini ... benar di abad jaman sekitar abad tiga belas atau empat belas?” Ia bertanya sembari menelan ludah. “Pelajaran sejarahku di sekolah juga kurang bagus. Tapi sepertinya di jaman masih berdirinya kerjaan-kerajaan dan belum dijajah, ya abad sekita itu ....”
Lagi-lagi Satria kembali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Lovely. Ia justru mendekatkan wajahnya. Menatap manik mata Lovely sangat lekat. “Hentikan ini Kartika. Ini sudah keterlaluan! Kamu telah berjanji padaku, setelah kita keluar dari istana, kamu akan medengarkan aku. Maka, sekarang dengarkan aku! Jika kamu memang tidak kerasukan arwah leluhur, maka bersikaplah seperti biasanya! Jangan jadikan sikap kamu ini menjadi bahan Putri Diah Gayatri untuk membuatmu susah!”
Lagi-lagi Satria mengingatkan.
Tenggorokan Lovely tercekat. Ia kebingungan setengah mati kenapa ia terjebak di masa lampau? Lalu bagaimana caranya pulang?
“Kamu mendengarkan aku tidak Kartika?!” seru Satria sekali lagi.
Spontan Lovely langsung menganggukkan kepalanya cepat.
Satria menghela nafas panjang lega. “Bagus. Jika kamu mengerti. Karena kamu sudah faham. Maka kita akan kembali ke istana sekarang!” Tali untuk mengatur jalannya kuda di hempaskan ke atas. “Hiya!”
Satria berteriak pada kuda dan dua kuda berwarna hitam pun bergerak membewa kereta yang mereka duduki.
Lovely menggaruk lehernya yang tidak gatal. ‘Aku harus mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi. Ini serius! Aku terjebak di masa lalu ... Bagaimana caranya aku pulang kembali? Ibu ... ayah ... adikku ... Apa mereka mencariku?’
Sepasang mata Lovely kembali berair mata ketika mengingat keluarganya. Kini ia sendirian di tempat entah berantah dan jaman apa? Dan tiba-tiba menjadi seorang putri!
***
“Romo ...!” seru Diah Gayatri memanggil lirih ayahnya.
Raja Raden Wijaya Kusuma yang sedang menikmati udara sore di balai sembari menyesap minuman kopi tubruknya itu langsung menoleh ke arah putrinya.
“Selamat sore Romo ...,” sapa Diah sembari tersenyum ketika telah berdiri tepat di dekat ayahnya itu.
Raja Raden Wijaya Kusuma tersenyum simpul. “Ada apa putriku yang cantik?”
“Aku ingin memberitahukan sesuatu yang sangat penting pada Romo. Dan ini bukan berati aku ingin mengadukan hal buruk pada Romo ya ....”
Raden Wijaya Kusuma mengerutkan dahinya. “Ke mari duduk di sebelah Romo. Memang ada hal penting apa?”
Diah terdiam sebentar. Mengatupkan bibirnya dan kemudian duduk di samping ayahnya. “Romo, aku bukannya mau mengadukan mbakyu. Aku mengatakan ini karena aku sayang sama mbak yu. Aku engga mau nama baiknya tercoreng kembali karena tingkahnya yang selalu menjadi bahan gunjingan. Apa lagi diusianya yang sudah harusnya menikah tidak menikah juga.”
“Memang apa yang dilakukan Mbakyu mu itu?” Raden Wijaya Kusuma semakin ingin tahu dan jantungnya berdetak lebih kencang. Ia takut Kartika melakukan hal aneh-aneh lagi seperti mandi di sungai dan menjadi pergunjingan warga karena tidak pantas seorang putri mandi di sungai bersama gadis-gadis jelataa.
“Tapi jangan katakan pada mbakyu Kartika jika aku yang mengadu ya Romo ....”
Raden Wijaya Kusuma menganggukkan kepalanya cepat. “Iya. Romo pasti tidak akan memberitahukan Kartika jika kamu yang mengadukannya.”
Diah Gayatri tersenyum simpul. Ia sedikit mencondongkan punggungnya dan berbisik di telinga ayahnya. “Mbakyu pergi keluar bersama pengawal Satria. Apa mereka sudah berpamitan?”
Kedua mata Raden Wijaya Kusuma langsung mendelik. “Sudah dibilang, diam saja di rumah! Tadi siang dia mabuk tuak! Kini dia pergi tanpa ijin! Demi dewa, Romo sangat malu memiliki putri seperti itu!” teriaknya. “Pengawaaaaal!!”
Diah Gayatri tersenyum senang melihat kemarahan ayahnya. Senyuman itu ia tahan sembari menundukkan wajah.
Beberapa pegawal yang sejak tadi berdiri jauh dari Raja langsung bergegas menghampiri. “Siap paduka Raja!”
“Cari Putri Kartika Sariningtiyas sekarang juga!”
“Siap Paduka!” Para pengawal langsung menjalankan perintah. Mereka bergegas pergi.
“Lihat saja, Romo akan bersikap tegas kali ini ... Jika sampai Bima mengundurkan tanggal pernikahan lagi karena tabiat buruk Kartika, mau ditaruh mana nama baik kerajaan ini! Pernikahan Kartika dan Bima harus segera dilaksanakan! Tidak boleh ditunda lagi!”
Bersambung