Xavier masuk kedalam mobil setelah Bahar membukakan pintu untuknya, mobil itupun melesat dengan cepat menuju El-XX Mall. Sepanjang perjalanan, pria satu itu terus menarik nafasnya panjang berusaha mengontrol nafsu yang masih tersisa. Andai pria yang bernama Charles Van Gregh itu tidak mengkonfirmasi kedatangannya secara tiba- tiba, mungkin saat ini dia telah menikmati manisnya madu. “ Hentikan mobilnya!” Xavier yang sedari tadi melihat keluar jendela dengan nafas panjang itu tiba-tiba memintanya berhenti. “ Apakah ada masalah Tuan Xavier?” Bahar yang duduk dibangku depan menolehkan kepalanya. “ Beli yang mereka jual!” tunjuknya pada seorang penjual arum manis dipinggir jalan, “ Hanya beli yang warnanya pink!” “ Baik tuan!” kejadian ini bukan yang pertama jadi Bahar maklum saja dengan

