Mengandung kata tidak pantas (21+)! Harap bijaklah!
***********
Xavier menatap lautan luas dari balik jendela kamar tempatnya menginap saat ini, satu gelas cairan berkadar alkohol tinggi telah dihabiskannya dalam beberapa kali tegukan.
“ Selamat Malam Tuan Xavier, maaf saya mengganggu anda.” Pria itu membungkuk hormat, “ Daniel menginformasikan telah menemukan jaringan yang bekerja sama dengan Sanjaya dan mereka kini sudah ditangkap.”
“ Benarkah? Kerja yang bagus!” Pria itu menyeringai, selalu puas dengan kinerja Daniel. “Apakah ada yang lain?”
“ Wanita yang telah anda booking akan datang 20 menit lagi, Tuan!”
“ Baiklah, Kamu bisa keluar sekarang!” perintah itu keluar dari bibir Xavier sedangkan dirinya sendiri mulai meletakkan gelas diatas nakas dan membuka pintu kamar mandi, mengguyur sekujur tubuhnya dengan air dingin yang mengalir deras dari balik shower.
Hanya lima belas menit, pria itu segera menyudahi acara mandinya dan meraih bathrobe yang tersampir digantungan bertepatan dengan diketuknya pintu dari luar.
“ Mainan baru sudah datang rupanya!” jemarinya membuka pintu dan mendapati seorang wanita dewasa berdiri didepannya, terlihat seperti wanita baik—baik dengan midi dress yang membungkus tubuh jenjangnya. Tanpa banyak ucap, pria itu mundur, memberi celah untuk sang wanita masuk kedalam sebelum menutup pintu.
“ Cepat lakukan tugasmu!” perintah Xavier dengan menarik lengan wanita itu kasar hingga jatuh terduduk diatas ranjang. Wajah pria itu mendekat, jemarinya menarik wajah cantik berpoles make up tipis itu. “ Lepas bajumu sekarang!”
Sesopan apapun wanita itu berpakaian, sekali binal tetap saja binal.
“ Dengan senang hati, Tuan!” senyumnya lebar sebelum membuka gaun warna biru navy yang membungkus tubuhnya dan menyisakan sepasang underware berwarna merah menyala disana.
“ Apakah saya sudah memenuhi kriteria anda?” wanita itu berani bertindak, mendekati Xavier dan mengalungkan lengannya pada leher tegap pria itu.
“ Entahlah, sayapun tidak tahu karena kau belum bisa membuatnya bangkit!” mata Xavier mengarah pada pusat tubuhnya yang tidak bereaksi sama sekali.
“ Saya bisa membuatnya bangkit lebih cepat!” senyum menggoda itu terbit, menuntun pria besar itu untuk duduk diatas ranjang dan mulai meliuk- liukkan tubuh sintalnya sampai dua buah kain terakhir itu jatuh teronggok diatas lantai.
Jalang itu menggigit bibirnya, menggoda puncak buah ranum miliknya sendiri dengan kedua ujung jari.
“ Bukankah mereka terlihat sangat menggoda?” nakalnya, menuntun Xavier untuk menyentuh. “Bukankah lembut?” suara itu bertanya diiringi desahan panjang pasalnya jemari panjang itu mulai beraksi. “Lakukan lebih, please!” suara itu seperti pengemis yang haus buaian, membawa tangan kanan Xavier untuk dikucupi.
“Tuan jadikan saya budakmu!” wanita itu kian merintih saat jemari kiri Xavier kian nakal, meremas dengan keras bagian yang menggungung cantik itu sembari memelintir puncak pinknya, menggoda tubuh itu sudah terbaring diatas ranjang itu tanpa ampun, “ Teruskan Tuan!” wanita itu meliukkan tubuhnya, terlihat amat menggiurkan dalam balutan hormone yang tak terbendung.
Inti wanita itu sudah sangat basah, siap untuk menyambut kenikmatan utama dari permainan keduanya.
“Masukkan J*nior yang sangat besar itu sekarang! Buat saya mendesah dengan keras, Tuan!” tungkai panjang wanita itu mulai membelit pinggang Xavier,berusaha mendekatkan bagian inti milik mereka.
“ Siapa kamu berani memerintah saya!” dalam sekejap desahan itu terhenti, wajah yang tadinya menggoda berubah dengan cepat saat wajah cantiknya dicengkram dengan erat.
“ Tuan! Apa yang anda lakukan?! Saya kesakitan!”
“ Sakit?” Xavier tertawa, menikmati wajah kesakitan itu, “ Kau memohon ampun setelah berani memerintahku?!”
“ Maafkan saya! Saya mohon!” suara itu tertahan, kedua tangan berusaha melepaskan jemari yang membuat rahangnya terasa remuk itu.
“ Memohon ampun? Sungguh sangat menggelikan!”
“ Tuan saya mohon!” manic itu mulai menganak sungai karena putus asa, “ Saya mohon Tuan, apapun akan saya lakukan untuk anda!”
“ Apapun?”
“ Iya!” dengan cepat cengkraman itu lepas dan sang wanita langsung terduduk takut, jemari lentik bercat merah itu berusaha menarik selimut, menutupi ketelanjangannya yang terasa menusuk dan tidak berani menatap pria mengerikan yang menjulang didepannya itu, “ Apa yang harus saya lakukan Tuan?” ucapnya bergetar.
“ Keluar!”
“ Maksudnya?” wanita itu mengangkat kepalanya, takut salah dengar dan berakibat fatal untuknya.
“ Keluar sekarang juga atau kau ingin sesuatu yang lebih menarik?” Xavier mendekatan wajahnya, “ Seperti mengikat tangan dan kakimu diranjang ini saat kita melakukan S*x atau mungkin melemparkanmu pada selusin anak buah saya yang menunggu di luar?”
“ Tidak!” wanita itu menggeleng dengan keras, takut jika ancaman itu benar- benar terjadi maka dengan cepat dia berdiri, memakai gaun yang teronggok di lantai dan berlari keluar ruangan dengan membawa tas tangannya. “Jalang menjijikkan!” maki Xavier terlebih saat melihat dua penutup area pribadi wanita itu yang teronggok diatas lantai.
Pagi datang, sinar mentari pagi mulai menggantikan tugas rembulan dan dibalik suite mewah itu, sosok alpha tengah memakai dasi dan menatap sekali lagi penampilannya yang telah sempurna.
“ Selamat pagi Tuan Xavier!” Bahar, personal Asistant itu berdiri dengan kaku di belakangnya.
“ Apa schedule hari ini?”
“ Hari ini anda harus menghadiri meeting dengan Team Marketing El-XX Dep. Store untuk koleksi musim ini dan Wangsa Group mereka mengundang anda secara khusus untuk datang ke perayaan ulang tahun mereka yang ke 30 dan acara itu akan diadakan di Heaven’s Resot & Hotel nanti malam.” Xavier hanya menyahutinya dengan anggukan pelan, meninggalkan kaca besar didepannya dan menuju El-XX Mall, salah satu mall besar yang menjadi ladangnya dalam berbisnis di pulau Dewata.
Pintu ruangan besar itu terbuka, beberapa orang dari Team Marketing dan team fashion designer yang telah menunggu dalam ruangan itu segera berdiri, membungkukkan tubuhnya dengan takzim pada sang penguasa tempat itu.
“ Selamat datang Mr. Wijaya!” Gustaf, pria berkepala botak, Direktur Penanggung Jawab El-XX Mall menjabat tangan sang atasan sebelum mempersilahkannya untuk duduk. Tak ada acara ramah tamah dalam meeting karena Xavier sama sekali tidak suka akan hal itu. Situasi kaku itu berhasil dilewati dalam waktu dua jam dengan keputusan final, mereka akan mengambil rancangan dari beberapa merek terkemuka dengan kombinasi warna cerah, penuh energi dan manis.
Setelah selesai dengan meetingnya pria satu itu memutuskan untuk mengelilingi Mall empat lantai seluas 9 hektar itu. Manic tajamnya dengan cepat menatap setiap sudut mall.
“ Pastikan CCTV terpasang 24 jam disetiap sudut! Yang paling utama, semua pengunjung tempat ini merasakan kepuasan, kenyamanan dan keamanan!” perintahnya tegas pada Gustaf.
“ Akan kami laksanakan Tuan Xavier!” pria itu mencatat dengan teliti apa yang harus dia lakukan. Dan langkah kaki kelima orang itu memasuki area Dep. Store.
“ Selamat Siang dan Selamat datang di El-XX Dep. Store Tuan Xavier!” ucap setiap pegawai saat Xavier melintas didepan mereka.
“ Bukankah gaun yang terepajang itu sudah terlalu kuno? Kenapa kalian masih menempatkannya tepat di sini?!” manic itu dengan cepat menatap Gustaf tajam, “ Cepat singkirkan gaun itu karena zaman sekarang tidak akan pernah ada gadis yang bermimpi menjadi Cinderella!”
“ Akan kami singkirkan secepatnya Tuan Xavier!” Gustaf menatap salah satu anak buahnya, meminta dengan tatapan mata agar gaun itu segera diganti dengan gaun yang baru.
Pria satu itu menghabiskan hampir seharian untuk inspeksi ke seluruh bangunan Mall. Dan kini pria itu berdiri didepan cermin, bersiap untuk menuju pesta perayaan Keluarga Wangsa yang satu jam lagi akan dihadirinya, datang seorang diri tanpa ada pasangan yang mengandeng lengannya dengan manja seperti pria pada umumnya.
Ballroom hotel mewah itu telah ramai, jajaran pengusaha serta orang penting yang diundang oleh Wangsa Group itu mulai memasuki ruangan, menyapa dengan ramah sang pemilik acara yang sudah mulai lanjut usia dan masih sangat sehat itu.
“ Terima kasih karena telah menyempatkan hadir Xavier.” Pria baya berusia 65 tahun itu menjabat jemari Xavier erat, seulas senyum lebar menghiasi wajah keriputnya.
“ Saya datang karena itu undangan special dari anda Tuan Wangsa!” tak ada senyum diwajah tampan itu saat berucap dan pria tua itu tidak terlalu mengambil pusing karena tahu sekali tabiat dari anak seorang Mitch Wijaya itu.
“ Kalau orang tua ini boleh lancang, apakah kamu datang tanpa membawa seorang untuk kau pamerkan?” manic tua itu melirik sekitar Xavier dan hanya mendapati sang Personal Assitant yang berdiri dibelakangnya.
Bahar lagi, Bahar lagi!
“ Sayang sekali anak muda!” tawa pria itu, menepuk lengan Xavier berulang kali, “ Tapi jangan khawatir, ditempat ini akan banyak sekali wanita- wanita atau gadis cantik yang siap menghabiskan malamnya dengan pria tampan sepertimu!” alis tua itu menggoda sebelum melepas kepergian sang pria single incaran kaum hawa itu.
Diwaktu yang bersamaan, ketiga anggota keluarga Soetopo itu hadir dan tampak sedikit mengusik tamu yang lain dengan kehadiran gadis muda diantara dua orang dewasa itu.
“ Tuan Kusuma Wangsa, maafkan atas keterlambatan kami. Dan atas nama keluarga besar Soetopo, saya ucapkan selamat atas pencapaian yang Anda capai sampai saat ini.” Ucap Narendra sopan, menjabat tangan keriput itu.
“ Sama- sama anak muda. Terima kasih telah datang ke acara sederhana ini. Ah mari kita lihat siapa kedua wanita cantik yang kamu bawa sekarang.” Pria tua itu menatap lembut Andira dan gadis manis berbalut A Line Dress berwarna putih gading, tampak sangat cantik dengan make up flawlessnya.
“ Ah, perkenalkan ini istri serta adik bungsu Saya.” Ucapnya membawa sang istri serta Mutiara mendekat.
“ Andira Pratama Putri, istri dari pria menyebalkan didepan Anda ini, dan ini adalah adik kami.” Wanita itu merangkul pinggang kecil Mutiara yang tersenyum kikuk, membalas dengan sopan jemari keriput yang menggenggam tangannya itu.
“ Mutiara Annisa.” Ucapnya pelan.
“ Cantik sekali, seperti orangnya.” Pria tua itu tersenyum dan menepuk kepala Mutiara. “ Nikmati hidangan yang kami sediakan, Pria tua ini harus menyambut tamu- tamu yang lain.”
“ Terima kasih.” Ketiganya meninggalkan Tuan Kusuma Wangsa menuju meja yang telah disiapkan bertepatan dengan acara dansa yang mulai berjalan. Alunan music yang lembut membuat Narend mengulurkan tangannya dan membawa Andira bergabung dengan puluhan pasangan.
Sedangkan Mutiara, gadis duduk dengan kaku sambil sesekali menatap sekitar dengan jari saling memilin. Dia lapar karena waktu berangkat tadi dia belum makan apapun.
‘ Baiklah tidak masalah Muti, kamu tinggal harus berdiri dan mengambil makanan yang tersaji cantik di meja sana!’
Diatas meja permukaan meja besar yang mengkilat itu telah tersaji beraneka ragam makanan serta kudapan yang ditata dengan apik beserta gelas- gelas crystal yang berisi beragam jenis minuman.
Senyum gadis itu terlihat manis, mengambil piring dan mengisi beberapa buah makanan diatasnya.
Tanpa gadis itu tahu setiap gerak- geriknya tidak luput dari pandangan seseorang diujung meja bar, menyesap cairan berwarna pekatnya disertai seringai tipis yang membayang.
“ Kau bisa pergi dan tinggalkan saya sendiri.” perintahnya pada Bahar. Pria itu membungkukkan badannya dan berlalu tanpa suara, sedangkan Xavier sendiri meletakkan gelas di meja dan mendekat pada sosok menawan itu. Menatap dengan intense dari atas ke bawah berulang kali. Cukup memikat terlebih lagi dengan buah ranum yang terlihat mengintip malu dari balik gaun yang dipakainya itu, terlihat masih fress dan sepertinya belum terjamah, pasti akan sangat lembut dan kenyal.
Mungkin gadis satu ini bisa diajak menghabiskan malam bersama setelah ini.
“Perawan!” sudut bibir pria itu menggumam, menyeringai dengan pikirannya sendiri.
Dan Xavier semakin tidak sabar untuk membawa gadis ini ke ranjangnya dan melakukan s*x dengan keras!
“ Mutiara, kakak mencarimu!” belum sempat Xavier melancarkan aksinya, sosok wanita dewasa datang, “ Aku hanya ingin mengambil makanan saja, aku lapar.” Jawaban yang amat polos itu mengalun dengan lembut dari bibir berpoles warna Red cerry itu.
“ Apakah sudah selesai?” manic wanitta dewasa itu menatap isi piring yang dibawa gadis itu, “ kita harus segera kembali ke meja kita!” mengamit lengan mulus gadis itu kemudian mengalihkan tatapannya pada Xavier. Seulas senyum ancaman terpatri di bibirnya, seolah berkata dengan keras, “ Jauhi gadis ini, B*JINGAN!”