Sepenggal Kisah Tentang Mutiara 2

2327 Words
Sesuai dengan janjinya, pemuda itu harus terbang kembali ke Ibu Kota. “ Jaga dirimu baik- baik disini.” Tangan besar itu mengelus puncak kepala Mutiara lembut sebelum mengacaknya dengan gemas. “ Iya.” “ Apakah kamu mau berjanji satu hal pada kakak?” jemari itu merangkum pipi gadis yang masih pucat itu. “ Jangan biarkan hal seperti ini terjadi lagi padamu!” “ Iya.” “ Gadis cantik jangan menangis!” pemuda itu tersenyum tipis, menghapus lelehan air mata yang mulai menganak sungai dipipi pualam itu. “ Kakak harus pergi sekarang.” “ Hati- hati!” tangan kecil itu melambai, melepas kepergian pemuda yang sudah menjadi kakak baginya itu. Dan kini setelah hampir satu bulan sejak kejadian itu, Mutiara kembali menapaki bangku sekolah. Langkah kecilnya semakin menunduk saat memasuki gedung tempatnya belajar itu pasalnya beberapa pasang mata menatap dirinya cukup lama sembari berbisik- bisik, seolah Mutiara adalah makhluk aneh yang terdampar disana. “ Mutiara!” tepukan ringan itu langsung menyentaknya. “ Selamat datang kembali, ya!” senyum itu lebar, memeluk tubuh Mutiara singkat dan mengacak surainya senang. “ Terima Kasih, Andra!” “ Sama- sama! Sekarang ayo kuantar ke kelasmu!” tanpa ragu, jemari Andra langsung meraih jemari kacil Mutiara, membawa gadis itu ke kelasnya dengan semangat. Suasana kelas yang awalnya berisk itu tiba- tiba senyap, beberapa pasang mata menatap dua orang yang berdiri didepan kelas mereka dengan berbagai macam ekspresi. “ Apakah kamu akan baik- baik saja?” pemuda itu sangat peka, menatap wajah Mutiara iba. “ Tenang saja! Aku orang yang kuat!” senyum itu lebar menularkan tawa renyah di bibir Andra. “ Baiklah kalau begitu! Aku ke kelas dulu nanti istirahat kujemput. Bye!” “ Bye!” Andra pergi dan kini Mutiara melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam ruangan dengan menundukkan kepalanya seperti biasa. Sebelum kejadian itu Mutiara sama sekali tidak pernah dianggap ada, ketidakhadirannya di kelaspun tidak pernah ada yang menanyakan lalu apakah sekarangpun juga sama? Tas warna pastel itu diletakkan dengan perlahan diatas meja dengan jemari saling menjalin dibawah meja. “ Semua akan baik- baik saja Mutiara.” Doa gadis itu.  “ Apakah kamu makan sesuatu?” Suara Andra memecah lamunan Mutiara, dengan cepat gadis itu mendongak, menatap pemuda yang lebih tinggi beberapa centi darinya itu. “ Bakso dan es jeruk seperti biasa saja.” Jawabnya pelan. “ Hanya itu? Baiklah kamu duduk saja di bangku sana, biar kuurus pesananmu!” usir Andra dengan mengibaskan tangannya ke udara. Semakin masuk kedalam, kasak- kusuk itu kembali terdengar, entah apa yang mereka bicarakan tapi Mutiara tahu mereka semua berbicara tentang dirinya. “ Kamu kuat Mutiara!” dengan wajah menunduk dan tangan terkepal erat, gadis itu berjalan menuju kosong bangku diujung. “ Ini pesananmu!” Andra seperti seorang penyelamat, datang dengan cepat dan meletakkan mangkuk Bakso dan es jeruk milik Mutiara diatas meja. “ Terima kasih!” senyum tipis itu sedikit terbit. “ Jangan hiraukan mereka!” Andra tersenyum, saat melihat jemari gadis itu yang sedikit bergetar saat meraih sendoknya. “ Terima kasih, Andra!” Mutiara menunduk, menyembunyikan butiran kristal yang sewaktu- waktu bisa mengalir deras. Hari itu berjalan seperti biasa, jika dulu Mutiara dianggap tidak ada hari inipun juga sama meskipun ada segelintir siswa- siswa yang mulai menyapa dan tersenyum padanya. “ Apakah hari ini berjalan dengan baik?” suara lembut itu menarik perhatian Mutiara dari layar macbooknya. “ Semua baik hari ini!” senyumnya lebar, menatap manic lembut yang berdiri didepan pintu. “ Baguslah kalau begitu, sekarang sudah malam, tidurlah!” Andira mendekat, mengelus puncak kepala Mutiara sebelum pergi. Dan kini gadis itu terbaring terlungkup diatas ranjang, membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, manic matanya terpejam tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Kelopak mata yang tertutup itu berkerut dalam disusul lelehan air mata yang mulai berebut ingin keluar. “ Ayah Ibu!” isakan itu terdengar menyayat hati, berbaring semakin meringkuk, melindungi diri secara tak kasat mata dari dunia yang sudah berulang kali menyakitinya. “ Kenapa kalian pergi tanpa membawaku!” manic itu terbuka, dengan mata sedikit mengabur menatap dua lembar foto yang dia rekatkan dengan selotip, foto usang yang selalu setia menemani tidur malamnya. Ada Ayah, Ibu, Ares serta dirinya berpose dengan bibir tersenyum lebar, seolah dunia akan baik- baik saja saat itu. Namun siapa sangka, foto itu adalah kenangan terakhir mereka untuk bersama. Sedangkan foto sebelahnya adalah foto dirinya sedang tersenyum, memeluk tubuh gemuk seorang wanita paruh baya. “ Mutiara tidak sanggup kalau seperti ini lebih lama lagi, bisakah aku ikut saja dengan kalian!” isakan itu semakin dalam mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat terangkum dengan jelas dalam benak Mutiara, saat itu dirinya tidak ubahnya dengan remaja yang lain, menggantungkan mimpinya setinggi langit dan berharap bisa seperti teman-teman yang lain, melanjutkan ke SMA terfavorit, menjadi orang sukses dan membanggakan kedua orang tuanya. Kaki itu melangkah riang sepanjang jalan menuju rumah sepulang dari SMP itu namun semakin lama langkah itu semakin melambat, pandangan mata terpaku dengan apa yang sedang terjadi didepan matanya. Disana, orang- oranng berbadan besar itu melemparkan semua barang-barang dari rumah kecil berdinding ayaman bamboo milik keluarganya. Sang adik meringkuk ketakakutan, memeluk dirinya sendiri diujung dinding, wajah ketakutan dan air matanya terus meleleh melihat sang Ayah dipukul bertubi-tubi oleh beberapa orang berbadan besar. Sedangkan ibu, beliau bersimpuh memohon kepada mereka semua, meminta untuk menghentikan siksaan kejam itu dengan tangisnya.  Beberapa warga hanya bergerombol tanpa berani mendekat ataupun melerai karena bisa berakibat fatal bagi diri mereka sendiri.  “ Ibu...” Mutiara mendekat, memeluk sang ibu yang bersimpuh. “ Dia putrimu?!” Suara berat nan sumbang itu terdengar, Secara terang-terangan menatap gadis yang masih memakai baju putih biru itu dari atas sampai bawah dengan wajah menyeringai licik. “ Kumohon jangan putriku!” ibu semakin mendekap Mutiara erat, menyembunyikan wajah sang putri dari predator menjijikkan itu. “ Saya akan berikan apapun asal jangan ambil putriku!” ibu menangis, menghalangi siapapun yang hendak mengambil putri kecilnya.  “ Putrimu ini cantik! Kurasa bos besar akan senang kali ini. Kurasa tidak masalah hutangmu tidak dilunasi bahkan bisa jadi kamu dapat hadiah yang besar kalau putrimu yang cantik ini mau menjadi istri ke tiga bos!” lelaki bertubuh gempal itu tertawa saat mengakhiri ucapannya. Tangan Mutiara terkepal erat, penuh dendam. Mereka pikir mereka siapa?! Mutiara bukan barang yang bisa diperlakukan seperti itu! “ Ayo cantik, ikut paman! Saya jamin hidup kamu akan berubah kalau kamu ikut saya. Kamu akan hidup enak kalau kamu mau ikut!” Tangannya terulur, menyeret dengan paksa tubuh kecil yang masih dipeluk erat oleh sang ibu. “ Jangan, kumohon jangan putriku!” jerit ibu, memukul dengan brutal pria berwajah codet itu. “ Singkirkan tanganmu wanita menjijikkan!” dalam satu dorongan wanita paruh baya itu terjugkal. “ Orang jahat!” Mutiara marah dengan reflex gadis itu menggigit lengan pria itu dengan ganas. “ Gadis jalang!” Dia berteriak kesakitan dan akhirnya satu tamparan keras mendarat di pipi halus Mutiara. Ujung bibir gadis itu berdarah, perih. “ Jangan siksa putriku, S*tan!” teriakan ayah dengan berusaha bangkit dari pukulan pukulan mereka. “ Ayah Ibu!” Tangannya ditarik paksa, Ayah dan ibu yang hendak meraih sang dihadiahi pukulan dan tamparan. Tangis gadis itu semakin pecah melihat keluarganya diperlakukan seperti itu, berulangkali  meronta merekapun akan membalas Mutiara tanpa pandang bulu hingga akhirnya tubuh gadis itu lemas, tubuh tak berdayanya pun dimasukkan kedalam mobil. Sampai akhirnya, mobil berhenti di rumah termewah di kampung itu. Dengan tidak berperasaannya Mutiara diseret masuk, menghadap bos besar mereka yang sudah tua renta. “ Jadi ini anak Purwanti yang kata orang-orang cantik itu?” tatapan mata tuanya menjalar dari atas sampai bawah tubuh Mutiara yang menggigil ketakutan. “ Cantik! Sangat sesuai dengan selera saya.” Rentenir itu mendekat, menakup wajah Mutiara dengan senyum menjijikkan. “ Lepaskan tangan anda!” Mutiara berujar dengan nada jijik, membuat pria tua rent aitu tersenyum dengan lebar, “ Saya suka karakter yang seperti ini! Sangat ganas!” senyumnya lebar sembari menatap para algojonya dengan senang. “ Kalian cepat urus semua, saya ingin besok atau lusa pernikahan saya berlangsung dengan sempurna!” Ucapnya menjijikkan. Para pria gempal itu mengangguk patuh dan kembali membawa Mutiara keluar dan kali ini menuju sebuah kamar yang katanya akan menjadi kamar pengantinnya. Mutiara meringkuk diujung pintu, menangis terisak. Menangisi nasibnya yang tak pernah baik? Mutiara tidak mau seperti ini! Hari telah larut, tapi gadis itu sama sekali tidak bisa memejamkan matanya! Berteriak, menggedor pintu sudah dia lakukan berulang kali namun semuanya itu tiada hasil. Dok...Dok...Dok! Jendela kamar dilantai dua itu seperti dilempari batu dari luar, setengah ketakutan gadis itu mendekat dan membuka tirai. “ Ayah!” Mata itu berbinar dan senyum itu terbit. Dengan berbekal kertas dan spidol, pria paruh baya itu menulis sesuatu dikertas dan mengangkatnya tinggi- tinggi.   Buka jendelanya, ambil kain panjang dan ikat ke ranjang lalu turunlah dengan hati- hati!   “ Iya!” gadis itu cepat tanggap, mencari selimut, seprei dan apapun yang berukuran panjang, menjalinnya menjadi satu dan mengikatnya di kaki ranjang kemudian lemparkan kebawah. “ Turunlah dengan hati- hati!” suara ayah Mutiara tertahan, menatap khawatir pada sang putri yang berusaha turun menggunakan kain- kain itu dan langsung memeluknya dengan erat saat ujung kaki Mutiara sampai ketanah. “ Mutiara maafkan Ayah atas semua yang terjadi, nak!” Pria itu mengecup dahinya, “ Kita semua harus pergi dari sini sebelum subuh. Ibu dan adikmu sudah menunggu kita diterminal. Kita akan pergi dari kota ini.” Jelasnya. Mutiara mengangguk patuh kemudian berjalan mengendap-endap melewati beberapa orang anak buah pak tua yang tengah teler minuman keras di pos jaga. “ Ayo cepat naik!” Pak Doni, tetangga mereka sudah menunggu diujung jalan dengan sepeda motor tuanya, meminta keduanya cepat- cepat sebelum pria- pria mengerikan itu bangun dan menangkap mereka bertiga. “ Ibu!” Mutiara langsung berlari kearah sang ibu, memeluk tubuh tuanya dengan tangis lega. “ Kita harus cepat pergi!” wanita itu menghapus lelehan air mata Mutiara, membawa seluruh anggota keluarga kecilnya untuk masuk kedalam bus setelah berterima kasih kepada tetangga mereka yang baik itu.  “ Mutiara,  Ibu janji semua akan baik-baik saja setelah ini! Kita akan memulai semuanya dari awal, ya nak!” Ucap ibu lembut, memeluk tubuh Mutiara erat. “ Sekarang tidurlah!” wanita itu mengecup puncak kepala sang putri sulungnya dan menepuk- nepuk punggung kecil itu supaya tertidur dengan nyenyak. Entah apa yang terjadi setelahnya yang jelas sekarang manic Mutiara terbuka lebar, mengamati tempatnya berbaring kini. Nuansa putih tertangkap di netra itu dan bau obat-obatan  menyengat hinggap di hidung.   Rumah sakit?! “ Ibu!” tubuh itu hendak bangkit namun langsung terhenti karena sakit luar biasa yang mendera sekujur tubuhnya kini. Seorang perawat menghampiri, memeriksa kondisinya gadis yang nyatanya tidak sadarkan diri selama 2 hari itu. “ Kenapa aku disini? Dimana Ayah, ibu dan adikku?” “ Maaf adik, mungkin ini bukan kapasitas saya untuk memberikan informasi ini, tapi berdasarkan informasi dari TIM SAR, bus yang kalian naiki terjatuh di jurang yang cukup curam. Beberapa korban ada yang selamat selebihnya dalam masa pencarian.” “ Berapa orang yang selamat?” tanyaku sesak, d*danya seakan ditekan dengan batu. “ Yang sampai di rumah sakit kami hanya ada tiga orang. Yang pertama kamu, dua orang lainnya seorang anak perempuan berusia 13 tahun.” Terangnya. “ Lalu Ayah, Ibu, Ares?” manic itu menggenang, “ Dimana mereka?!” teriaknya tertahan, “ Carikan mereka!” “ Tenanglah!” “ Kubilang carikan untukku sekarang! Aku mau keluargaku sekarang!” tangisnya keras. Apakah ada yang bilang bahwa hidup ini kadang tak adil? Ya hidup ini benar-benar tak adil, terutama pada Mutiara. Mutiara juga ingin mati!Dia ingin hidup bersama keluarganya disana! Secara sadar, Kaki kecil itu naik keatas jembatan yang lumayan tinggi itu, memejamkan matanya seolah menikmati semilir angin yang menyejukkan pikiran. “ Sebentar lagi kita akan berkumpul kembali!” senyum itu terbit. “ Ayah, Ibu, Ares, tunggu aku!” manic Mutiara terpejam, seulas senyum tipis terpatri dibibirnya kala itu dan bersiap melompat detik itu juga.  “ Astagfirullah!” dengan cepat tangannya ditarik sepersekian detik sebelum tubuhnya jatuh ke jurang curam itu, menimpa sosok paruh baya itu dengan tubuhnya yang kecil. “ Sadar, nduk! Istiqfar!” sosok paruh baya itu berusaha bangkit dan memeluknya erat,  mendekap kepala Mutiara tepat dalam d*da hangatnya dengan air mata yang perlahan mengalir dimata senjanya, bersyukur pada Yang Maha Kuasa karena datang tepat waktu dan berhasil menyelamatkan satu nyawa. “ Hiks!” tubuh mungil itu bergetar, menangis dengan kencang dalam buaiannya itu. “ Muti ingin mati! Ingin susul Ayah, ibu dan Adik!” mencengkram dengan erat baju yang membungkus tubuh wanita paruh baya itu. “ Istiqfar!” wanita itu melepaskan pelukannya, menatap sosok kecil rapuh itu dengan sedih, jemari keriput miliknya secara perlahan terulur, menghapus lelehan air mata tanda keputusasaan itu dengan bergetar. “ Nduk, apapun masalah yang menimpamu saat ini, Bunuh diri bukanlah jalan utama. Tuhan memberimu kesempatan hidup bukan untuk melakukan hal seperti ini. Percayalah Tuhan punya rencana baik untukmu nanti.” “ Tapi..” “ Keluargamu yang sudah tenang disana tentu tidak akan pernah mau melihat kamu menempuh jalan sesat seperti ini! Hiduplah untuk mereka! Buat mereka tersenyum melihat putri mereka yang bisa bertahan dan hidup dengan baik.” “ Saya tidak bisa!” “ Kamu bisa, Nak!” wanita paruh baya itu tersenyum dalam tangisnya, “ Mbok Sri, panggil saya itu dan mulai sekarang kamu adalah putri mbok!” Itulah Awal pertemuan dengan wanita baya yang menjadi  ibu keduanya itu. Wanita baik hati yang sudah tenang dialam sana. “ Hallo, kak!” gadis itu meraih ponsel yang tak berhenti berdering diatas meja belajarnya. “ Apakah kamu menangis?” suara diujung sana curiga. “ Suaramu sedikit serak dan sengau, Muti! Demi Tuhan katakan apa terjadi sesuatu?!” “ Tidak ada. Semua baik- baik saja, Sungguh! Aku sekolah dengan baik, makan di kantin dengan teman- teman dan mendapatkan nilai bagus seperti biasa!” ucapnya dengan sedikit menggigit bibir. “ Syukurlah kalau begitu! Hari sudah larut, istirahatlah!” “ Iya!” “ Selamat malam!” “ Malam kak Nathan!” Sambungan terputus dan gadis itu kembali terpekur.  ‘ Kenapa kamu harus bohong Mutiara? Karena dilihat dari sisi manapun kamu tidak baik- baik saja dan masih belum sembuh secara mental!’  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD