Alarm yang terpasang di ponsel Airin berbunyi kencang. Perlahan gadis itu membuka kedua matanya. Terlihat bengkak karena terlalu banyak menangis semalam. Bahkan jejak air mata yang membasahi pipinya juga masih belum hilang. Airin menoleh ke samping, tapi tidak menemukan siapa pun yang menemaninya tidur semalam. Ingatan tentang kejadian semalam kembali terlintas. Membuat gadis itu langsung menutup kembali wajahnya dengan bantal. Meski tidak ingin menangis kembali, tapi rupanya mata ini tak bisa berhenti mengeluarkan air mata. Sikap kasar yang Raldo berikan, sungguh menghancurkan harga dirinya. Tidak hanya tubuh, bahkan hatinya juga ikut sakit. “Kenapa kamu tidak pernah bisa mempercayai ucapanku? Apa yang kurang dariku sampai kamu tega menuduhku sekejam itu?” isak Airin dalam bekapan banta

