Airin mendorong tubuh Raldo di atasnya dengan kedua tangan. Berharap ada cela agar ia bisa kabur dari kungkungan kekasihnya itu. Namun jangankan bergerak, bergeser satu sentimeter pun tidak. Air mata sudah mengalir deras. Airin merasa putus asa, hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya nanti. Senyuman sinis tertarik di sudut bibir Raldo. Merasa puas bisa menikmati wajah putus asa gadisnya. Bagaimanapun keadaannya, Airin akan selalu terlihat menarik dalam pandangannya. Termasuk saat gadis itu merasa ketakutan seperti yang sedang ia tunjukan sekarang. “Please ... tolong jangan seperti ini ... aku sungguh tidak berbohong,” isak Airin lirih. Ia tidak tahu harus bicara apalagi agar Raldo mau mempercayai ucapannya. Tubuhnya meremang, ketika jemari pria itu mulai menyentuh w

