Raya berjalan kesana-kemari dengan perasaan gusar. Dalam benaknya, ia terus membayangkan kejadian terburuk yang mungkin saja tengah dihadapi Dean. "Aduh. Dean mana sih kok nggak pulang-pulang," kata Raya dengan wajah cemas. "Sabar, Non. Mungkin Mas Dean sedang dalam perjalanan," ujar seorang Bibik yang masih menemani Raya di ruang tamu rumah mewah itu. "Iya juga sih, Bik. Aku cuma takut dia kenapa-napa di jalanan." "Kita berdoa saja, Non. Biar Mas Dean cepat pulang dengan selamat." "Iya, Bik. Amin." Selesai mengucapkan kata itu. Mendadak sebuah mobil datang. "Sepertinya itu, Bik?" kata Raya lalu ia berlari keluar. Langkah Raya pun semakin lambat ketika melihat mobil yang datang ternyata bukanlah mobil yang ia harapkan sebelumnya. "Hai, Ray?" sapa Desika dari dalam mobilnya yang sud

