MCH 6

1163 Words
Rasa kecewaku. Haruskah kulampiaskan pada orang lain Arlan mengumpat beberapa kali. Hari ini ada meeting penting dengan klient tapi berkas pentingnya malah tertinggal di rumah. Akhirnya Arlan mampir ke rumah sebelum bertemu dengan klientnya. Ia melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Suara derap langkahnya terdengar begitu jelas. Saat tiba di ruang tengah ia menatap Binar sedang duduk di sofa sambil memegang ponselnya. Awalnya Arlan berniat langsung masuk ke dalam kamar tapi saat mendengar Binar menyebut namanya, membuat Arlan menghentikan langkahnya. Arlan mendengar semua percakapan Binar dengan seseorang di seberang sana. "Mereka itu beda, Ri. Gak tau kenapa gue nyaman aja jalan sama Mario." Arlan sudah tidak sanggup lagi mendengarnya. Ia langsung meninggalkan Binar dan melangkah masuk ke dalam kamar. Terlalu sakit mengetahui kenyataan bahwa orang yang kita cintai mengharapkan hati lain. Arlan sempat terdiam di dalam kamar. Merenung. Bayangan-bayangan wajah Binar saat tertawa lepas terus melintas di dalam benaknya. "Apa kamu tidak bahagia hidup denganku?" gumamnya lirih. Hatinya benar-benar terasa sakit. Tidak mungkin jika tidak ada rasa cemburu di dalam hatinya. Binar adalah istrinya dan ia sangat mencintai wanita itu. Sama sekali tidak ingin Binar membagi hatinya untuk laki-laki lain. Tapi apa yang sudah Binar lakukan sangat menyakitkan. Gak tau kenapa gue nyaman aja jalan sama Mario. Kalimat itu sudah membuktikan jika Binar merasa jengah dengan dirinya. Apa pernikahannya hanya bertahan sampai angka 7 bulan saja? Arlan keluar dari kamar sambil membawa berkas di tangan kanannya. Saat itu Binar sudah selesai dengan obrolannya. Binar tampak terkejut dengan keberadaan Arlan yang tiba-tiba sudah ada di dalam kamar. Sejak kapan Arlan ada di dalam kamar? batin Binar berseru. "Hubby," panggil Binar dengan suara pelan dan sedikit bergetar. "Berkasku tertinggal. Aku kembali ke kantor!" jelas Arlan dan langsung pergi meninggalkan Binar yang hanya terdiam menatapnya. Arlan membanting pintu mobil dengan sangat keras lalu melempar berkasnya ke jok belakang. Ia menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan. Kedua tangannya mencengkeram erat setir kemudi. Matanya terpejam. "Aku tidak bisa terima ini, Binar. Aku tidak bisa!" Arlan diam-diam mencari tau tentang Mario. Ia menyuruh seseorang untuk menggali informasi tentang laki-laki yang telah mencuri perhatian Binar. Dan dalam 1x24 jam Arlan sudah menggenggam semua informasi tentang Mario. "Mario Adiyasa. Ternyata memang benar kalian pernah menjalin hubungan. Dulu kau pernah meninggalkannya dan sekarang kau ingin merebut milikku? Tak akan kubiarkan itu terjadi!" Arlan meremas kertas berisikan data diri Mario lalu melemparnya dan masuk ke dalam tempat sampah. Sambil menatap sinis ke arah keranjang sampah, Arlan berucap, "Disitulah seharusnya kau tinggal!" Kehidupan rumah tangga Binar dan Arlan semakin monoton dan kaku. Arlan jarang sekali bersuara sementara Binar lebih respect dengan ponselnya yang selalu bergetar dan berbunyi. Mario yang selalu menghubunginya. Sikap dingin Arlan terhadap Binar semakin membuka lebar peluang Mario untuk masuk. Harapan Binar mendapatkan kasih sayang dari Arlan pupus sudah dan akhirnya ia menempuh jalan salah. Mencari perhatian lewat orang lain. Wanita adalah makhluk dengan hati yang lembut. Materi memang segalanya dalam kehidupan berumah tangga tapi tak adanya keharmonisan membuat segalanya sia-sia. Bahkan seorang wanita akan lebih memilih hidup bahagia bergelimang kasih sayang dari pada hidup mewah bermandikan uang tapi tak ada kehangatan di dalam rumah. Itu yang ada dalam pikiran Binar saat ini. Apapun bisa ia dapatkan. Mobil dan barang-barang mewah lainnya bisa dengan mudah ia beli tapi kasih sayang seorang suami? Tak bisa ia raih. Hanya dengan Mario ia bisa tertawa lepas. Ia bisa dengan mudah mengekspresikan perasaannya. Dan Mario memang laki-laki romantis yang pernah Binar temui. Rasa sakit karena ditinggalkan rasanya menguap begitu saja saat ia mendapatkan perlakuan manis dari Mario. Yang tidak ia dapatkan dari Arlan. Suami sahnya. Andai saja Arlan bisa bersikap romantis seperti Mario. Arlan dengan gerakan cepat memasukkan beberapa bajunya ke dalam koper. Bukan ingin meninggalkan Binar tapi karena suatu hal. Ia ada keperluan penting di luar kota dan mengharuskan ia ada di sana. "Hubby, kamu mau kemana?" tanya Binar sambil melangkah pelan masuk ke dalam kamar. "Aku akan ke Jakarta selama tiga hari. Ada yang harus aku selesaikan!" jelas Arlan sambil terus memasukkan beberapa bajunya. "Apa---aku tidak boleh ikut lagi?" tanya Binar lagi. Pergerakan tangan Arlan terhenti sebentar, tak menyangka Binar akan menawarkan diri untuk ikut. "Maaf. Ini benar-benar penting," Binar mengangguk pelan. Dulu ia akan merasa kecewa berat karena Arlan tak membawanya tapi entah kenapa sekarang beda. Tak ada rasa kecewa atau apapun yang Binar rasakan. "Aku berangkat siang ini," ucap Arlan lalu melangkah keluar kamar. Tepat saat itu, bel rumah mereka berbunyi. Binar dengan cepat menolehkan kepalanya dan mendapati Arlan sudah berjalan menuju pintu. Binar sedikit was-was, takut jika Mario yang akan datang. "Masuklah!" titah Arlan. Kening Binar mengernyit menatap tamu yang datang siang ini. "Riana?" "Hai, Bin. Kaget gak kenapa gue bisa ke sini?" Riana langsung menghampiri Binar. "Selama suami lo ke luar kota, gue yang akan nemenin lo. Oke?" Binar tampak bingung lalu menoleh ke arah Arlan, meminta penjelasan. "Aku tidak yakin akan disana selama tiga hari. Mungkin bisa lebih!" Binar kembali menatap Riana yang tampak tersenyum jahil saat menatap Arlan. Dengan gemas Binar menyikut lengan Riana. "Biasa aja ngeliatnya!" cibir Binar. "Lo juga biasa aja kalo ngeliat Mario!" bisik Riana membuat kedua mata Binar melotot. Entah apa rencana Arlan, Binar tak tau kenapa harus menyuruh Riana tinggal di rumahnya dengan alasan menemaninya selama Arlan pergi. Jam 20.14 Riana keluar dari bioskop pribadi Binar. Ia cengar-cengir sendirian, membayangkan adegan film yang baru saja di lihatnya. "Kenapa lo?" tanya Binar yang sedang duduk santai di sofa ruang tengah. "Baper gue," jawab Riana singkat lalu duduk di sebelah Binar. "Nonton apaan barusan?" Binar mengalihkan pandangannya dari wajah Riana dan kembali sibuk dengan ponselnya. "Fifty shades of freed!" Binar menoleh cepat. "GILA. LO BAWA DARI RUMAH?" teriak Binar. Riana menggeleng pelan. "Gaklah. Kenapa emang?" "Trus kenapa bisa ada film itu?" Riana mengangkat kedua pundaknya. "Ya mana gue tahu. Palingan Arlan yang beli," Binar menelan salivanya pelan. Apa benar Arlan yang beli? gumam Binar dalam hati. Getaran ponselnya langsung menyita perhatian Binar. Seketika senyum Binar mengembang. "Suami lo?" tanya Riana. "Mario," sahut Binar singkat dan langsung beranjak dari sofa. Mengambil jarak sedikit menjauh dari Riana. "Awas gue bilangin Arlan lo!" ancam Riana. Binar malah membalasnya dengan menjulurkan lidahnya. Bertepatan dengan itu ponsel Riana ikut bergetar juga. Nama Arlan tertera di layar ponsel pinknya. "Halo," Riana ikut beranjak dari sofa dan langsung masuk ke dalam kamar. Tak mempedulikan teriakan Binar. "Tidur sana. Jangan kepoin orang!" Riana menutup pintu kamarnya dengan cepat. "Ya, Lan. Ada apa?" "Sedang apa dia?" "Lagi telponan--" "Dengan?" sela Arlan. "Mm, Mario katanya!" Riana menunggu respon dari Arlan. "Terus awasi Binar. Aku akan pulang besok!" "Bukannya lo tiga hari di sana?" "Itu hanya alasanku saja," Riana manggut-manggut saja. "Aku ingin kau membantuku kali ini," "Bantu gimana?" Riana mengambil duduk di tepi tempat tidur sambil sesekali menoleh ke arah pintu kamar. Takut jika tiba-tiba Binar masuk dan mengetahui rencana mereka. "Pertemukan aku dengan mereka!" "Mak-maksud lo Binar sama Mario?" pekik Riana dan setelahnya ia langsung membekap mulutnya sendiri. "Ya. Aku ingin tau, siapa yang akan Binar pilih!" Surabaya 04 April 2018 ayastoria
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD