Enzi benar-benar membawa Laura pergi dari kantornya dan mencari tempat untuk mereka berduaan saja. Kali ini tidak hanya mengedepankan nafsu, Enzi juga ingin mencari tahu lebih lanjut tentang apa yang diperintahkan oleh mamanya pada Laura. Dinilainya Laura sangat lemah terhadap pesona Enzi, oleh karena itu Enzi akan terus menebarkan pesonanya serta bersikap lembut pada Laura untuk mendapatkan informasi yang dia butuhkan.
Sedangkan di kantor, Iva mendatangi ruangan Enzi dan mencari keberadaan pemuda tersebut. Didapatinya ruangan Enzi sudah tidak berpenghuni. Iva pun kemudian melangkah keluar dari ruangan Enzi dan menanyakannya pada Rachel yang baru kembali ke mejanya.
“Kemana Pak Enzi?” tanya Iva.
Rachel menjawab, “Tadi Pak Enzi pergi dengan seorang wanita, katanya ada urusan penting.”
“Seorang wanita? Siapa?” Iva penasaran.
“Namanya Laura. Dia akan mulai bekerja atas rekomendasi Ibu Anne. Hanya itu yang saya tahu, Bu.”
Iva tidak tahu menahu jika Ibu Anne merekomendasikan seseorang untuk bekerja di CAVE Company. Tetapi Iva bisa langsung menyadari jika Laura sengaja dikirimkan oleh Ibu Anne pasti dengan sebuah peintah yang hanya Laura dan Ibu Anne saja yang mengetahuinya.
Tak ingin berlama-lama lagi Iva kemudian melangkahkan meninggalkan Rachel untuk kembali ke ruangannya. Namun, baru beberapa langkah Iva berjalan, dia harus terhenti karena seorang pemuda tegap berdiri menghalangi jalannya.
“Permisi, saya ingin bertemu dengan Enzi,” ucap pemuda tersebut.
“Maaf, anda siapa?” tanya Iva.
Pemuda itu pun langsung memperkenalkan dirinya. “Saya Alvin, temannya Enzi. Saya ada keperluan dengan dia. Apa dia ada di ruangannya? Karena saya tidak bisa meneleponnya.”
“Pak Enzi sedang tidak berada di ruangannya. Dia sedang ada urusan di luar.” Ya, sibuk mengurusi wanita barunya, sambung Iva di dalam hatinya.
“Wah, gawat. Rencana kerjasama saya bisa berantakan kalau saya tidak bertemu Enzi hari ini.” Raut wajah Alvin mendadak berubah kebingungan.
Iva menjadi sedikit penasaran dengan kerjasama yang dimaksud oleh pemuda di hadapannya tersebut. Dia pun sedikit mengorek informasi darinya. “Kalau saya boleh tahu, rencana kerjasama apa yang anda maksud? Jika menyangkut CAVE Company, anda bisa bicarakan dengan saya. Nanti akan saya sampaikan pada Pak Enzi.”
Untuk beberapa detik Alvin hanya memindai Iva dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dirinya seolah berpikir apakah tidak masalah memberitahukan wanita yang baru dia kenal itu tentang rencananya.
“Apa saya bisa mempercayai kamu?” tanya Alvin penuh kewaspadaan.
“Tentu anda bisa mempercayai saya, karena saya adalah General Manager di perusahaan ini,” jawab Iva penuh percaya diri.
“Baik kalau begitu, bisa kita bicara di dalam ruangan anda?” pinta Alvin kemudian.
Iva menganggukkan kepalanya lalu memimpin Alvin menuju ke ruangannya. Tanpa sepengetahuan Iva, Alvin menyunggingkan senyum miring sambil menatap punggung gadis itu dengan intens dari belakang.
Kemudian di dalam kamar hotel bintang lima, Enzi sudah hampir melucuti seluruh pakaian Laura. Namun, Enzi kemudian berhenti dan membawa dirinya duduk di kursi yang berada di dekat jendela.
“Loh, kenapa kamu malah ke sana?” tanya Laura kebingungan.
Wanita itu kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian depannya yang terlihat jelas karena kemeja yang dikenakannya sudah terlepas seluruh kancingnya.
“Berapa yang kamu inginkan? Katakan saja,” tanya Enzi dengan nada dingin.
“Apa maksud kamu?” Laura tidak mengerti maksud dari ucapan Enzi.
“Huh!” Enzi mendengkus. “Berapa yang diberikan oleh mama saya? Saya akan jadikan dua kali lipat asalkan kamu beralih dan bekerja sama dengan saya,” sambungnya. “Sekarang katakan, apa yang sedang direncanakan oleh Ibu Anne, mama saya?” tambahnya lagi.
Bibir Laura terkatup. Dia benar-benar mengira jika Enzi akan memberikannya kesenangan. Tetapi nyatanya Enzi malah menjebaknya hanya untuk mendapatkan informasi yang dia butuhkan.
Laura menyingkirkan selimut yang tadi digunakannya, lalu dia mengancingi kemejanya lagi dan turun dari ranjang. Dia mengambil rok yang tergeletak di lantai dan juga mengenakannya kembali.
“Kamu tidak akan bisa pergi dari saya. Sekali kamu melangkah keluar, maka orang-orang suruhan saya akan membawamu kembali untuk berlutut di hadapan saya,” ancam Enzi. Tatapan matanya sangat tajam mengalahkan mata elang.
Laura terjebak. Dia tidak bisa kemana-mana lagi. Ancaman yang dilayangkan oleh Enzi barusan membuatnya tak punya nyali untuk pergi.
“Tolong lepaskan saya,” pinta Laura dengan nada suara lirih.
“Kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan jika mau saya melepaskanmu,” balas Enzi.
“Tetapi jika saya membongkar semuanya, saya dan keluarga saya terancam. Ibu Anne akan menutup segala akses bagi saya dan juga keluarga saya untuk bisa bertahan hidup. Saya akan kehilangan pekerjaan, sedangkan saat ini ayah saya sedang sakit keras,” ungkap Laura.
Namun, Enzi kembali menegaskan, “Jika memang begitu, saya juga tidak akan melepaskan kamu. Saya butuh semua informasi dari kamu. Jika saya tidak bisa mendapatkannya, maka jangan berharap kamu bisa keluar dari kamar ini.”
Sudah terlihat genangan air mata di kedua pelupuk mata Laura. Keputusan gadis itu menerima pekerjaan dari Ibu Anne dengan bayaran yang menggiurkan membuatnya terlibat dalam masalah besar.
Enzi memalingkan pandangannya ke luar jendela. Biarpun dia kejam, tetapi dia juga masih memiliki hati. Dia tidak akan tega melihat seorang wanita menangis di hadapannya.
“Saya mohon, lepaskan saya,” pinta Laura yang mulai terisak.
Hati Enzi mulai terketuk. Dia juga sama seperti Laura, sama-sama dijadikan alat oleh Ibu Anne hanya untuk memenuhi keinginan wanita paruh baya tersebut. Tetapi Enzi juga membutuhkan informasi tentang rencana Ibu Anne selanjutnya.
“Jika kamu mau bekerja sama, saya akan melepaskan kamu. Cepat katakan apa rencana mama saya!” Dengan suara lantang Enzi memaksa Laura untuk memberitahunya.
Laura semakin terisak. Dia tak masih memilih untuk bungkam dan tidak mengatakan apapun pada Enzi. Hal itu membuat emosi Enzi semakin memuncak.
Enzi bangkit dan berjalan mendekati Laura. Lengan Laura dicengkeram dan kedua mata Enzi menatapnya setajam silet.
“Cepat katakan! Jangan membuang waktuku!” Enzi berteriak di depan wajah Laura.
Sontak wanita itu menjerit sesaat lalu menutup kedua matanya dengan kedua tangannya. Enzi pun jadi semakin geram. Dia membuka kedua tangan Laura secara paksa, lalu menarik dagu wanita tersebut dengan kasar.
Baru saja Enzi ingin mengeluarkan caci dan makiannya pada Laura, tiba-tiba ponsel Enzi berdering dengan sangat kencang. Laura pun dilepaskan oleh Enzi dan bisa menghela nafas lega.
“Halo!” ucap Enzi sedikit sinis saat menerima panggilan yang masuk ke ponselnya tersebut.
Dari seberang sana Alvin pun bertanya, [Lo dimana? Gue lagi berdua sama Iva di ruangannya.]
“Lo dimana?” Enzi ingin mendengarnya sekali lagi.
[Gue di ruangan Iva, berduaan aja sama dia. Lo masih lama ‘kan?] jawab Alvin membuat hati Enzi menjadi panas karena api cemburu.
“Ngapain lo berduaan sama Iva?!” bentak Enzi.
[Eh, sudah dulu ya. Gue mau nyusun janji sama Iva. Hmm … lumayan juga sih sekarang kita cuma berduaan aja, jadi gue bisa punya banyak kesempatan biar lebih dekat sama Iva.] Alvin semakin memanas-manasi Enzi kemudian mengakhiri teleponnya.
“Halo? Alvin, halo! Cih! Berengsek dia!” Enzi mengumpat sahabatnya sendiri.
Kemudian Enzi melirik ke arah Laura yang memperhatikannya sambil tetap menangis. “Kali ini kamu selamat. Tapi saya harap jangan pernah kamu perlihatkan wajah kamu lagi di hadapanku. Dan satu lagi, jangan pernah mengganggu saya dan Iva apalagi sampai melaporkan apapun pada wanita tua itu. Kamu mengerti ‘kan?” Enzi memberi peringatan pada Laura.
Laura mengangguk kemudian menyeka air mata yang membasahi wajahnya. Setelah itu Enzi pergi meninggalkan Laura di kamar hotel bintang lima tersebut. Dia harus segera kembali ke akntor untuk menghentikan Alvin. Dia tidak ingin jika Alvin sampai menyentuh Iva seujung kuku pun.
Sialnya kondisi jalanan kini sangat padat dan merayap. Enzi tidak bisa menyalip kendaraan di depannya.
TIINN … TIINN!!
Dibunyikan klakson mobil Enzi dengan kencang agar kendaraan yang menghalanginya segera menyingkir. Namun, tentu saja usahanya itu sia-sia jika melihat kemacetan yang mengular di depan sana.
Enzi mengambil ponsel dari saku celananya, kemudian dia berusaha menghubungi Alvin. Sayangnya Alvin tidak menerima panggilan telepon dari Enzi.
“Sial! Kenapa lo nggak angkat telepon dari gue sih, Vin!” decak Enzi dengan kesal.
Tak habis akal, Enzi kemudian menghubungi Iva. Enzi bisa bernafas lega karena kali ini Iva menerima panggilan teleponnya.
“Iva! Dimana kamu? Apa yang kamu lakukan dengan Alvin? Kenapa kamu tidak menghubungiku dulu jika kamu bertemu dengan Alvin?” Enzi langsung memberondong Iva dengan banyak pertanyaan.
Sambil memegang ponsel di telinganya Iva mengernyitkan dahinya. “ Kenapa kamu membentakku?” tanya Iva yang tidak suka langsung dibentak oleh Enzi.
“Apa Alvin masih di sana? Apa yang kalian lakukan?” Enzi tidak menjawab Iva dan terus memberondong Iva dengan pertanyaan.
“Tanyakan saja langsung pada temanmu itu,” jawab Iva.
Kemudian samar-samar terdengar suara Alvin bertkata, “Iva, ayo kita lanjutkan. Jangan nanggung begitu. Saya sudah tidak sabar menunggu kamu.”
Setelah itu Iva mengakhiri panggilan telepon dari Enzi. Tentunya Enzi semakin berpikir macam-macam setelah mendengar Alvin mengatakan hal yang ambigu seperti barusan.
TIINN!! TIINN!!
Lagi-lagi Enzi membunyikan klakson agar dia diberikan jalan oleh kendaraan di depannya. Walaupun sia-sia, dia tetap melakukannya.
“Apa yang sedang kamu lakukan dengan Alvin, Iva? Beraninya kamu mengkhianatiku,” desis Enzi penuh amarah.
Sekitar satu jam kemudian Enzi baru tiba di kantornya. Dia melangkahkan kakinya dengan cepat dan tanpa menolehkan kepalanya ke kiri atau kanan. Pandangannya berkilat dan lurus menatap ke arah lift. Dia harus segera melihat Iva dan Alvin dengan kedua matanya sendiri dan berharap apa yang menyelimuti pikirannya itu salah.
“Minggir kalian! Biarkan saya masuk duluan ke lift!” pinta Enzi dengan kasar dan mengusir semua karyawan yang sudah terlebih dahulu berbaris di depan pintu lift.
Saat pintu lift terbuka Enzi langsung masuk ke dalamnya dan menekan tombol untuk menutup pintu lift tersebut dengan kasar beberapa kali. Setelah pintu lift tertutup, dia menekan tombol lantai dimana ruangan Iva berada.
Entah kenapa baginya lift bergerak naik dengan sangat lambat. Kakinya menghentak-hentak lantai lift lalu dia melihat jam yang melingkar di tangannya. Dia benar-benar tidak bisa menunggu lama lagi. Sepertinya jika dalam waktu satu menit dia belum juga sampai di lantai tujuan, dia akan meminta teknisi untuk mempercepat gerak lift keesokan harinya.
Ting!
Lift berhenti bukan di lantai tujuannya. Saat pintu lift terbuka ada beberapa karyawan yang ingin masuk ke dalamnya.
“Kalian tunggu lift yang di sebelah saja, saya sedang buru-buru,” ucap Enzi sembari menekan kembali tombol untuk menutup pintu lift.
Ya, dia sudah terbakar api cemburu dan amarahnya pun sudah memuncak sejak tadi. Sekarang dia hanya ingin cepat-cepat bertemu Alvin dan Iva lalu memberi Alvin bogem mentah.
Ting!
Akhirnya dia sampai di lantai tujuannya. Enzi langsung melangkah keluar ketika pintu lift baru terbuka setengahnya. Kakinya melangkah dengan cepat menuju ke ruangan Iva. Kedua tangannya terkepal dengan erat bersiap untuk dilayangkan ke wajah Alvin saat Enzi berhasil memergokinya berduaan dengan Iva.
Pemuda itu kini sudah berhadapan dengan pintu ruangan Iva. Ditariknya nafas dalam lalu dihembuskannya cepat. Enzi pun membuka pintu ruangan Iva.
“Iva! Alvin! Sedang apa kalian?!” teriak Enzi saat memasuki ruangan Iva.
Iva dan Alvin pun terperanjat dan menolehkan kepala mereka ke ara pintu secaa bersamaan. Kedua mata Iva membesar saat melihat Enzi bergerak mendekat dengan raut wajah yang sangat menyeramkan.
Apakah Alvin dan Iva benar-benar melakukan sesuatu seperti yang Enzi pikirkan sebelumnya?
Bersambung ....