Episode 1. Hadirnya Mawar Berduri

1706 Words
    Lima tahun merangkai cinta kasih adalah waktu yang cukup lama, tetapi terasa begitu singkat bagiku. Aku seorang gadis yang bertubuh tinggi dengan kulit putih dan berambut panjang bernama Diandra. Saat umurku yang masih jauh di bawah tiga puluh tahun ini, aku masih terlihat cantik tanpa keriput yang menyembur di sana sini. Semua orang yang mengenalku, sering memanggilku, Dian. Kecuali dengan tunanganku, Arkha, ia lebih senang memanggilku dengan sebutan Dinda. Singkatan itu, terdengar lebih romanstis di telinganya. Dia sengaja menghilangkan beberapa huruf dari namaku. Menurutnya, itu merupakan panggilan sayang untukku darinya.     Kemudian selain tunanganku, ada juga adik lali-laki yang sangat mencintai kakaknya itu. Mungkin saja, jika Arkha meminta nyawa yang selalu menyertai Ale, pasti akan diberikannya saat itu juga. Sebenarnya dia seusia denganku dan kami pernah berada di kampus yang sama. tetapi saat itu, aku tidak begitu mengenalnya. Bahkan aku tidak pernah mengetahui, jika ada makhluk seperti dia berada di tempat yang sama denganku.     Aku ingat pada saat pertama kali melihat wajahnya. Peristiwa tersebut belangsung, ketika Arkha menjemputku setelah pulang kuliah lima tahun yang lalu. Pada waktu itu, aku mengawali pertemuanku dengan adik kesayangannya.     “Kita pergi ke mana sekarang?” Arkha membukakan pintu mobil untukku. “Kak Arkha!! Tunggu!! Aku ikut mobil kamu?!” Laki-laki seusiaku berlari mendekat, ke tempat di mana aku dan Arkha berada. “Boleh, ya?! Please!” Ia merajuk seperti anak kecil.     “Bukankah kamu sudah membawa mobil sendiri tadi pagi? Mana mobil kamu?” Arkha bertanya pada laki-laki yang terlihat memamerkan sederet gigi putihnya dengan dua taring yang sedikit menyembul. Menurutku, pria tersebut terlihat sangat manis dan menyegarkan mata, sedangkan Arkha menghela napas menatapnya.     “Sayang, siapa dia?” Aku bertanya sambil menarik baju Arkha. Aku belum pernah bertemu pria itu sebelumnya.     “Kamu aneh, kalian ini satu kampus, tapi kamu tidak mengenalnya?” Arkha mengerutkan dahi, lantas tertawa terpingkal. “Benarkah? Kamu tidak tahu dia?” Dengan rasa penasaran, ia menyipitkan mata menunggu kepastian dariku, namun aku hanya bergeleng kepala. “Sudahlah, aku akan memperkenalkan kalian berdua.” Arkha menarik napas sejenak. “Dinda, dia ini adalah adik yang sangat aku sayangi.” Arkha tersenyum manis kepadaku.     Laki-laki tersebut menjulurkan lidah pada Kakaknya, lantas mengulurkan tangannya ke arahku. “Tidak perlu berbelit dan panjang lebar. Panggil saja aku, Ale! Kamu?” Ale memperhatikanku.     Aku membalas jabatan tangannya. “Aku, Diandra–”     Ale memangkas kalimatku, “pacar Kak Arkha, benarkan?” Ia terlihat cengengesan.     Aku seketika merasa heran, dengan tingkahnya yang selengean. “Bagaimana–?”     Ale sudah menjawab, sebelum aku selesai bertanya, “Kak Arkha sering menceritakan tentangmu kepadaku. Begitukan, Kak?” Ia mengedipkan sebelah mata kepada Arkha. “Aku panggil kamu dengan sebutan kecil saja.” Ia terlihat sedang berusah mencari kepingan ide di dalam kepalanya. “Enaknya, siapa ya? Ah, iya, Rara saja. Bagaimana?” Ia menatapku dengan sorot mata yang tampak berbinar. “Aku rasa sebutan itu lebih enak buatku, dari pada Diandra yang bikin lidahku terasa seperti keseleo.” Senyum dari adik laki-laki pacarku, seakan membuatku meleleh, hingga tanpa sadar telah mengiyakan keinginannya.     “Kamu ini, ada-ada saja, Le.” Arkha tertawa melihat tingkah adiknya. “Bagi Kakak, dia ini sangat istimewa.” Ia menatapku penuh cinta. “Dari sekian banyak gadis yang mengejar-ngejar, Dinda merupakan satu-satunya yang bisa membuat hati Kakakmu ini begejolak.” Arkha memegang bahuku dengan lembut.     Itulah pertama kalinya aku mengenal salah satu keluarga Arkha. Peristiwa singkat itu telah berlangsung lama sekali, mungkin juga sudah sekitar lima tahun yang lalu. Kejadian tersebut muncul di awal-awal hubunganku dengannya. Kemudian setelah itu, sedikit demi sedikit aku mulai memasuki kehidupannya, hingga sekarang aku benar-benar tahu tentang dia yang sebenarnya. Aku juga sudah mengenal seluruh keluarga dari pacar yang saat ini berniat untuk melangkah lebih jauh denganku. Begitu pula sebaliknya, Mamaku juga telah menerima keberadaannya, hingga menganggap ia sebagai seorang anak laki-laki tertua di keluargaku.     Semua itu sekarang sudah berlalu terlampau jauh. Bahkan aku dan Arkha, sudah saling melingkarkan cincin emas tanda pertunangan di jari manis kami. Aku dan dia juga telah melalui berbagai lika-liku percintaan. Begitu banyak rayuan gadis-gadis bermunculan, seakan ingin menggantikan posisiku. Namun segala peristiwa yang terjadi, telah membuat tali pengikat hati kami menjadi semakin kokoh. Hubunganku dengan tunanganku, tidak mungkin lagi dapat dihancurkan dengan mudahnya. Apa lagi hanya dengan buaian iblis-iblis penggoda yang sama sekali tidak bisa membuat ia bergeming, bahkan melirik mereka sepercik pun tidak.     Tetapi filosofi yang aku percayai mengenai sebuah hubungan, tampaknya mulai tergerus pupus. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat ia telah mendua. Dia telah mengingkari kata hati untuk saling jujur dan setia. Dia juga tampak bergandengan tangan dengan seorang gadis berambut pendek yang jauh lebih cantik dariku. Namun, aku hanya bisa tertegun mencermati seorang wanita belia yang dengan mesra bergelayut pada lengan tunanganku. Perempuan itu dengan lancang telah menyentuh rambut laki-laki yang kucintai. Gerakan jari-jari tangan dari anak dara itu seakan membuatku merasa muak. Saat ini aku hanya bisa berharap, bahwa mataku telah rusak, sehingga aku salah dalam mengenali wajah seseorang. Aku terus merutuki makian dalam hati untuk laki-laki itu. Ia terlihat begitu menikmati segala sentuhan yang menjelajahi setiap inci wajahnya . Aku terus menyangkal, jika ia bukanlah tunangan yang akan selalu mencintaiku sepenuh hati. Dia adalah pria milik gadis itu, bukan Arkha yang mengikatkan janjinya denganku.     Saat ini, aku masih terus mempercayainya, bahkan aku masih meyakini perkataannya yang siap berkorban apa pun untukku. Aku tetap percaya dengan ia yang pernah berkata, bahwa ia akan melakukan segalanya untuk kebahagiaanku, meskipun dengan nyawa sekali pun sebagai taruhannya. Aku juga masih menganggap yang terlihat hanyalah sebuah mimpi. Hingga batinku menyuarakan, jika laki-laki tersebut adalah pacar dari gadis itu, ia bukanlah tunanganku yang sesungguhnya. Akan tetapi, setiap aku menolak kenyataan tersebut, maka air mataku akan semakin deras mengalir. Aku bisa memanipulasi pikiranku. Akan tetapi tidak dengan hatiku yang sakit atas peristiwa tersebut, hingga asaku juga sependapat dengan menambah kepiluan. Sekarang ini, aku hanya bisa menangis di depannya yang terdiam melihat lelehan air mataku.     “Katakan padaku!! Siapa sebenarnya gadis itu?!” aku bertanya sambil terus menangis.     “Aku sudah berkali-kali menjawab pertanyaanmu, gadis itu adalah temanku. Kami tidak ada hubungan apa pun. Kamu jangan berpikiran negatif mengenai apa yang kamu lihat! Kamu sendiri selalu berkata meyakinkanku, meminta agar jangan percaya dengan mata, karena yang terlihat terkadang bisa menipu. Apa kamu masih ingat pernah berujar seperti itu, ketika dulu aku melihatmu bersama dengan teman laki-lakimu?” Arkha mencoba untuk terus berkilah.     “Aku memang berkata seperti itu, tetapi yang aku lihat ini sangat berbeda. Dulu, aku hanya mengobrol dan bergurau saja dengan temanku. Tapi kamu, aku melihatmu tampak begitu mesra dengannya. Apa aku salah, jika telah mencurigaimu?” Aku memukul-mukul d**a Arkha.     “Iya kamu telah keliru sudah salah sangka padaku. Dinda, kamu terlihat berbeda. Aku salut dengan prinsipmu yang begitu bagus mengenai suatu hubungan. Aku sangat sependapat denganmu, bahwa hubungan akan berjalan dengan baik, jika pasangan setia dan saling percaya. Apa kamu juga akan menyangkal dengan prinsipmu sendiri? Tidak bisakah, jika kamu tetap percaya dengan tunanganmu ini? Sangat tidak mungkin, aku mengkhianatimu dengan gadis seperti itu. Bagiku, kamu adalah segalanya. Kalau tidak, mana mungkin aku akan menikahi kamu akhir minggu ini?!” Ia mencoba untuk meluluhkan amarahku.     Arkha merengkuhku ke dalam pelukannya, seketika itu juga kecurigaan dalam benakku mulai musnah. Hanya rasa percaya yang kembali muncul untuk menutupi luka yang terlanjur menggores hati. Dengan kata-katanya, pemikiranku tentang perselingkuhan itu runtuh. Aku hanya merasa masih bisa untuk percaya dan takut akan kehilangan dirinya. Aku terlalu cinta akan ia, hingga menjadi seorang bebal untuk bisa menerima keraguan yang mempertanyakan realita sesungguhnya.     Aku memeluk Arkha dengan sangat erat, seolah-olah dekapan yang diberikannya tidak akan lagi dapat aku rasakan. Kata orang cinta itu memang buta, tetapi aku memiliki pendapat yang sedikit berbeda. Cinta bagiku adalah membutakan mata yang harusnya bisa melihat, mana yang benar-benar nyata dan mana yang hanya fatamorgana semata. Tetapi meskipun kedua retinaku diburamkan oleh cinta, namun sepertinya pikiranku masih bisa bergumul dengan realita. Walaupun terkadang logika itu sendiri juga tidak bisa mengalir, hingga membuat otakku berhenti untuk berpikir.     “Kali ini, aku akan berusaha menerima semua alasan yang kamu katakan. Tapi, aku tidak akan menyangkal dengan semua yang telah aku lihat.” Aku melepaskan pelukannya. “Jika kamu benar-benar berdusta sekarang, kamu memang bisa berkilah dariku, namun aku pastikan kamu tidak akan dapat berkompromi dengan waktu. Semakin lama kamu menyimpan kebusukan, maka kenyataan juga akan terus mengejarmu, hingga tabir penutup akan terbuka dengan sangat jelas. Pada saat itu,  kamu tidak akan lagi bisa menyangkal. Meski sekeras apa pun kamu berusaha, namun akhirnya realita yang akan menghancurkanmu, hingga tidak ada lagi ketidakjujuranmu yang akan bersisa.” Aku menatapnya sinis.     “Begitu juga denganku yang akan rela meninggalkanmu saat itu juga.”     “Percayalah, Dinda! Aku tidak pernah sedikit pun ada niat untuk menipumu, apalagi berkhianat darimu. Andai kamu tahu cintaku yang terlalu bersar untukmu, hingga aku akan mengutuk diriku sendiri, jika benar aku telah menyakitimu.” Arkha menatapku dengan sorot mata yang terlihat sangat sedih.     “Untuk saat ini, aku akan memegang kata-katamu. Tapi aku minta, jauhi gadis itu. Aku tidak ingin, kedekatanmu dengannya akan merusak hubungan kita. Pernikahan sudah di depan mata. Banyak orang akan mencerca sikapmu yang hanya berdiam dengan tingkah tidak pantas itu terhadapmu.” Tangisku mengalir tanpa bisa terhenti.     “Aku akan berusaha menjauhinya.” Arkha memelukku, lantas memohon dengan suara yang lembut, “sudah, jangan menangis lagi! Aku sungguh minta maaf atas segala yang terjadi, saat ini, atau pun untuk nanti. Aku hanya ingin kamu mengerti dan tahu, bahwa cintaku untukmu akan semakin besar, hingga tidak mungkin akan berkurang, bahkan menghilang.”     Kami berdua terhanyut dalam hangatnya pelukan. Kecurigaanku yang memuncak, seketika mulai surut. Aku memang tidak tahu yang sebenarnya,  namun aku juga tidak bisa mengatakan, bahwa ia telah berdusta. Aku hanya berharap, ini tidak akan terjadi lagi untuk selanjutnya. Cukup hanya sekali, hatiku seakan teriris sembilu. Sakit, perih, namun rasa percaya memaksa untuk menyamarkan lukaku. Saat ini, aku cuma ingin memetik kebahagiaan yang berasal dari kisah cinta yang telah aku jalani bersama dengannya. Pernikahan merupakan sebuah berkah yang tidak ingin aku kotori dengan duka. Aku juga tidak berharap akan ada lagi keburukan yang mengitari hari bahagia kami nantinya. Mungkin di waktu ini, kami sedang diuji untuk bisa menyatukan dua hati yang berbeda. Namun di akhir cerita, aku yakin cinta kami bisa bertaut dengan indahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD