Episode 2. Kembali Terlihat

1828 Words
    Sejak kejadian di mana aku melihat Arkha dengan gadis itu, di dalam kepala selalu saja terbayang pemandangan yang seakan merusak batin dengan air mata. Tetapi, aku masih tetap berpegang pada tiang-tiang kokoh yang menjadi tumpuanku. Sebuah hubungan tidak cukup hanya dengan cinta dan rasa sayang, akan tetapi harus disertai kepercayaan dan juga kesetiaan. Namun ketika pikiranku berhasil memanipulasi hati yang masih bisa percaya, jika semua itu tidaklah nyata, tiba-tiba saja kedua bola mataku kembali menangkap sesosok bayangan dari orang yang sangat aku kenal. Dia memang laki-laki yang menjalin status denganku.     “Arkha?!”     Suaraku terasa tercekat di tenggorokan. Aku ingin sekali berteriak, tetapi kata-kataku tersangkut pada urat-urat leher yang seakan mengencang. Ada apa denganku? Bukankah dia adalah tunanganku? Seharusnya aku tidak perlu merasa takut untuk memanggil namanya, bahkan aku berhak untuk berlari, lantas bertanya mengenai wanita yang pada saat ini memeluk pinggulnya dari belakang.     Tapi, apa yang aku lakukan sekarang? Aku hanya bisa terdiam terpaku, hingga cuma sekedar menelan pahitnya rasa, ketika membiarkan mata pisau seakan menusuk jantungku. Tubuhku seketika mematung dengan air yang mulai meluap jatuh dari pelupuk mata. Di kejauhan, Aku hanya bisa memperhatikan gadis itu bermanja-manja dengannya. Aku amati dengan seksama, ia bahkan sama sekali tidak menolak perlakuan yang telah diterimanya. Apakah bukan seperti itu yang disebut dengan perselingkuhan? Apa aku sudah gila dengan membenarkan kesalahan yang telah terbukti? Kedua pupil mataku menangkap tangan centil yang mulai merayap membelai wajahnya dengan mesra. Bagaimana mungkin tingkah mereka yang begini, hanya sekedar seorang teman? Bisakah aku terus mempercayai ucapannya?     Ketika kepalaku yang penuh dengan ribuan pertanyaan hampir saja meledakan emosi, Arkha ternyata telah memergoki kehadiranku yang tidak jauh dari tempat ia berada. Aku terus saja menatap nanar pada keterkejutan laki-laki yang sangat kucintai. Kemudian dengan sigap, dia langsung menyingkirkan tangan gadis itu, lantas berlari untuk memburuku. Aku yakin ia telah menyadari, bahwa pikiran negatif tentang dirinya saat ini sedang bergulat bebas di dalam kepalaku. Hatiku seakan membeku sedingin es, kemudian hancur berserakan. Sekarang yang tersisa hanya tinggal puing-puing kepercayaan yang mulai memudarkan cinta.     “Sayang, sejak kapan kamu berada di sini?” Arkha bertanya sambil melirik gadis yang telah ia tinggalkan.     Aku hanya bisa membisu, ketika menatap Arkha menghujaniku dengan berbagai pertanyaan yang sama sekali tidak bisa diterima oleh otak kecilku. Saat ini di dalam benakku, bayangan mereka berdua berulang kali melintas. Tanpa terasa, air mata bergulir hangat membasahi pipi.     Kemudian Arkha memegang tanganku, lantas membalikkan badannya. “Aku pulang duluan!!” Ia melambaikan tangan tanda perpisahan.     Dia berteriak kepada sekumpulan laki-laki dan perempuan yang ternyata adalah teman sekantornya. Tidak berselang lama, ia lantas menarik tanganku, dan aku mulai berjalan mengikutinya melangkahkan kaki. Dia berhenti tepat di samping mobil miliknya dan membukakan pintu untukku.     Kami memasuki CR-V hitam dan melesat entah kemana. Aku hanya bisa terdiam menatap jalan yang bergerak terlampaui. Meskipun Arkha terus saja berceloteh, tapi telingaku seakan acuh mendengar suara yang terlontar keluar dari mulutnya. Degup jantung yang memburu, terasa meremukkan hatiku. Sakit, sungguh perih, hati ini juga telah mulai letih.     “Kenapa kamu diam saja?” Dia menyentuh bahuku, namun aura tubuhku seakan melakukan penolakan terhadapnya.     Kemudian, kesadaranku mulai kembali seketika itu juga. “Ah, aku ....” Aku mengamatinya, hingga membuat air mata membanjiri wajahku. Aku tidak percaya, dia telah tega hati melakukan perbuatan itu tanpa sepengetahuanku.     “Berhentilah menangis! Sebenarnya yang terjadi bukan seperti yang kamu pikirkan saat ini,” Arkha mencoba untuk meluruskan rajutan kusut yang mulai terbentuk di dalam pikiranku.     “Siapa gadis itu? Jangan lagi membuat alasan, bahwa kalian hanya sekedar teman!!” Aku menatap lekat ke dalam matanya, mengobrak-abrik mencari kebenaran yang telah ia sembunyikan.     “Dia,” ia terdiam sejenak, “dia temanku. Kami tidak memiliki hubungan seperti yang kamu maksudkan. Kenapa kamu selalu bertanya dan punya pemikiran mustahil seperti itu? Apa kamu tidak bisa, jika hanya percaya saja padaku? Buanglah jauh-jauh halusinasi konyolmu itu! Tidak ada sesuatu yang terjadi di antara aku dan dia. Kamu hanya berlebihan menyikapi apa yang telah kamu lihat.” Aku mendapati wajah Arkha yang mulai tampak kesal.     “Hanya teman? Gadis itu melingkarkan tangan di pinggulmu, menyentuh wajahmu, tapi seringan itu kamu bilang, dia hanya teman?! Apakah semua perempuan di kantor itu bersikap begitu padamu? Tidak, kan?!” Aku terus saja berteriak dengan air mata yang semakin mengalir. “Kamu pikir, aku ini sebodoh perkiraanmu, yang dengan lugunya percaya semua yang kamu katakan padaku? Kalau hanya untuk berbohong, lebih baik tutup saja mulut kamu itu! Asal kamu tahu, segala sanggahanmu tidak bisa memperbaiki apa pun juga. Semua alasan yang kamu buat itu, telah membuatku semakin terluka. Hatiku perih, Kha! Kepercayaanku padamu terkikis sebanyak kata-kata yang kamu keluarkan untuk menipuku. Semua yang kamu lakukan dengannya, membuat prinsipku runtuh seketika,” ujarku dengan napas pendek mengiringi kemarahan yang terus membeludak.     Arkha menepikan kendaraan yang dikemudikannya. Kemudian, ia mulai menatapku dengan penuh kelembutan. “Sayang, aku mohon tenangkan dirimu! Aku minta tolong dan sangat berharap, agar kamu bersedia mendengarkan dulu penjelasanku! Kamu harus tahu, dia memang seperti itu orangnya. Gadis itu bersikap begitu kepada semua laki-laki dan tidak hanya kepadaku saja. Kenapa kamu yang sekarang menjadi selalu curiga seperti ini sih? Ingat kata-kata kamu sendiri, hubungan itu harus berdasar dengan kepercayaan. Jadi bagaimana hubungan kita akan baik-baik saja, kalau kamu terus bersikap seolah aku seorang pendusta?”  Ia berusaha mendinginkan amarahku.     Namun hatiku semakin bergejolak memanas.“Jangan panggil aku seperti itu lagi! Gak ada sayang-sayangan sekarang!” sentakku. “Jika pikiranku tentangmu dan dia memang salah, bukankah kamu bisa bicara dengannya untuk tidak bertingkah genit seperti itu terhadapmu. Kita ini sebentar lagi akan menikah, Kha. Jadi, tidak sepantasnya dia bersikap seperti itu dengan laki-laki yang akan menjadi milik wanita lain!” Aku yakin, ia hanya mencoba untuk menutupi kebusukkan atas perselingkuhannya.     Seketika itu juga, Arkha mengatupkan mulutnya. Ia menacapkan kaki pada pedal gas, hingga membuat CR-V hitam yang kami naiki melesat kencang. Kemudian tidak berselang lama, ia berhenti di depan sebuah rumah yang tidak asing lagi bagiku. Bangunan yang cukup besar itu di huni oleh keluarga dari calon suamiku.     “Diamlah dan berhenti menangis! Aku tidak ingin, jika sampai Mama melihat wajahmu yang tampak berantakan itu.” Arkha melepaskan sabuk pengaman. “Tadi pagi, Mama memintaku untuk mengajakmu makan malam di rumah. Jadi, sekarang singkirkan air matamu dan berusahalah seakan tidak terjadi apa pun juga. Kita bicarakan lagi masalah ini setelah acara selesai.” Arkha mulai beranjak turun dari mobilnya.     Air mataku seketika terhenti, karena mendapati sikapnya yang sangat jauh berbeda. Perhatian, tatapan lembut, dan perlakuannya yang selama ini telah membuatku selalu bangga menjadi kekasihnya, kini tidak bisa lagi tertangkap oleh mataku. Sekarang hanya tinggal sisa-sisa tangis yang masih menggenang dan menutupi padanganku. Kemudian, Arkha mengetuk pintu mobil yang berada di samping tempat dudukku. Aku tersadar dari lamunanku dan mengambil beberapa helai tisu yang berada tepat di depanku. Aku mulai menghapus tetesan air mata yang telah menghiasi wajahku. Namun, sepertinya guratan kesedihan masih sangat memperjelas kondisiku.     Dia membukakan pintu mobil tersebut dan aku mulai beranjak turun. Aku dan Arkha berjalan memasuki rumah besar itu, di mana sebentar lagi akan menjadi tempat tinggal sementara setelah kami melangsungkan pernikahan. Kemudian, aku melihat Mama Arkha yang ternyata sudah sejak dari tadi berdiri menanti kedatanganku bersama dengan putra tercintanya.     “Akhirnya, kalian sampai juga. Mama sudah dari tadi menunggu Dian, calon menantu kesayanganku.” Mama Arkha memelukku, lalu menatapku. Wajahnya berubah masam, saat ia mendapati kelopak mataku yang terlihat sedikit menebal.     “Maaf Ma, kami terjebak macet untuk sesaat. Jalanan penuh dengan kendaraan. Harap bisa dimaklumi, ini memang masih waktunya para orang kantoran pulang kerja.” Arkha menggaruk-garuk kepala.     Aku mencium tangan calon mertuaku, berusaha untuk setegar batu karang, agar bisa memberikan senyuman kepadanya. Aku berusaha sekuat tenaga, supaya wanita itu tidak menyadari kesedihan yang saat ini telah menyelimuti hatiku. Tapi apalah dayaku, ketika air mata telah terlanjur meninggalkan jejaknya.     “Tunggu dulu! Kenapa wajahmu seperti itu? Dian, menantu Mama, kamu habis menangis?” Calon mertuaku menatap anaknya. “Kakak, coba jelaskan ini kenapa? Pasti telah terjadi sesuatu dengan kalian?” Ia tampak serius menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Arkha.     “B-bukan karena Arkha kok, Ma. Tadi aku kena marah sama Bosku, jadi aku bercerita padanya sambil menangis.” Aku mencoba melindunginya, sekaligus merutuk kalimat yang aku lontarkan sekarang ini.     “Benar begitu?” Calon mertuaku mengarahkan sorot mata tajam pada putranya, seakan tidak percaya dengan yang baru saja aku katakan.     “B-benar yang dia katakan. B-Bosnya memang keterlaluan! Coba deh Mama pikir, masa dia maksa Dinda lembur, tapi malah mengurangi gajinya. Gak masuk akal, kan?” Arkha membohongi mamanya.     “Bos macam apa kaya gitu?” Mama Arkha mengalihkan pandangannya padaku. “Sudah, kamu berhenti saja dari pekerjaanmu yang sekarang. Mama yakin, gaji yang Arkha dapat sangat cukup untuk membahagiakanmu, bahkan bisa lebih dari itu.” Ia terlihat kesal.     “I-iya, Ma.” Aku hanya asal menyetujui permintaannya, agar situasi tidak semakin rumit.     Kemudian aku, Arkha, dan calon mertua perempuanku, masuk ke dalam rumah besar milik keluarga Pramudya. Lalu kami berjalan menuju ke ruang makan, di mana seluruh keluarga sudah menunggu. Di tempat itu, aku melihat Papa Arkha yang sedang membaca sebuah buku tebal, dan juga Ale yang terkesan sibuk memainkan sendok dan garpunya. Aku perhatikan senyuman tampak menghiasi wajah Papa Arkha. Aku juga melihat Ale yang menyeringai, seakan memamerkan deretan gigi putihnya kepadaku. Inilah keluarga yang sebentar lagi akan menjadi bagian kecil dari hidup yang nantinya aku jalani bersama dengan Arkha.     “Kenapa denganmu?” Papa Arkha memperhatikan raut mukaku untuk sesaat, kemudian berpaling kepada putranya.     Seketika itu juga Ale menghentikan kesibukannya, lantas ia ikut terpaku mengamatiku.     “Dian sedang ada masalah dengan atasannya. Tempat dia kerja saat ini, sepertinya sudah tidak cocok lagi buatnya.” Mama Arkha mewakiliku untuk beralasan.     “Di tempat ini hanya ada kebahagiaan dan makanan lezat, jadi buang jauh-jauh masalahmu itu. Sebuah pekerjaan tidak boleh terlalu dipikirkan, tapi cukup dijalani saja. Kalau kamu terlalu perasa terhadap sesuatu yang menyakitkan, maka akan semakin berat untuk kamu terima. Jika kamu sudah berusaha sekuat tenaga, namun tetap tidak bisa memperbaikinya, maka lebih baik tinggalkan saja. Hidup cuma sekali, jadi jangan dibuat terlalu rumit.” Papa Arkha tersenyum lembut padaku.     “Papa benar, Di. Lagipula Mama juga sudah bilang pada Dian, agar dia berhenti dari tempat kerjanya saat ini. Mama pikir, kalau untuk mencukupi kebutuhan hidup dan membahagiakanmu, Arkha masih sangat mampu.” Mama Arkha mendorongku perlahan pada kursi yang sudah ia tarik, kemudian aku duduk di tempat tersebut.     “Sudah jangan dipikirkan lagi. Lebih baik kita mulai acara makan malam ini.” Mertua laki-lakiku membalikkan piringnya. “Kamu juga jangan hanya berdiri saja, segera duduk!” Ia memberi perintah pada Arkha.     Aku sangat menyayangi dan menyukai keluarga tunanganku. Aku merasa sudah seperti anak mereka. Kedua mertuaku selalu bersikap baik dan juga memanjakanku. Tetapi saat ini, aku hanya bisa tersenyum menahan ngilu. Aku tidak menyangka, jika telah begitu ringannya memberi alasan untuk menutupi kesalahan dari laki-laki yang telah menorehkan luka pada hatiku. Saat ini aku sama sekali tidak dapat menyukai diriku sendiri, hingga membuatku semakin membenci pria yang telah berani bertingkah di belakangku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD