Kami memulai untuk makan secara beriringan pada malam ini. Aku dan keluarga dari tunanganku, bersenda gurau sambil tertawa. Aku berusaha untuk menutupi dukaku dan terus mengiringi setiap candaan-candaan mereka. Aku juga memperhatikan Arkha yang terlihat menyantap makanan dengan tenang, serta beberapa kali tampak terkekeh ketika menangkap kelakar dari Ale–adik laki-lakinya itu. Aku merasa, bahwa saat ini hanya diriku sendiri yang sedang berusaha menahan sakit dari luka yang disebabkan oleh sebuah panah pengkhianatan. Sedangkan Arkha, dia terlihat tidak terlalu menganggap penting awan hitam yang telah menyelimuti perasaanku. Sikapnya seolah tidak pernah terjadi sesuatu antara aku dan dia. Ternyata, dia memang seorang yang pandai dalam bersandiwara. Mungkinkah selama ini, aku yang telah menjadi bodoh, hingga dengan mudahnya tertipu? Tapi, lima tahun bukanlah waktu yang cukup singkat untuk berpura-pura dalam sebuah hubungan. Aku tidak tahu lagi, bagian mana yang harus aku yakini tentang kebenaran dirinya?
Tidak terasa hari telah semakin malam dan acara perjamuan tersebut juga telah usai. Mama dari calon tunanganku berdiri dan melangkahkan kaki meninggalkan meja makan. Kemudian tidak berselang lama, ia muncul dengan mententeng jaket, serta kunci mobil yang gantungannya telihat mencuat dari genggaman.
“Dian,” mengambil sebuah apel merah yang tersaji di atas sebuah piring datar, “kami ada petemuan penting dengan rekan bisnis Papa. Tidak lama, hanya sebentar, jadi kamu jangan pulang dulu sebelum kami kembali ke rumah.” Mama mencium keningku, lantas berlalu bersama dengan suaminya, dan meninggalkanku bersama dengan kedua putranya.
“Aku juga suntuk di rumah. Aku mau keluar sebentar buat beli cemilan. Kakak mau nitip sesuatu?” Ale mendapatkan gelengan kepala dari Arkha. “Bagaimana dengan Rara?”
“Aku juga tidak, Le. Perutku masih penuh dan hampir meledak,” ujarku.
“Kamu suka seaweed snack, benarkan? Aku akan membelikan itu saja buat kamu.” Ale meneguk segelas air putih yang masih terisi penuh. Selanjutnya, ia berujar pada Arkha, “Aku pinjam motornya ya, Kak?! Motorku bensinnya lagi tipis dan aku malas pergi terlalu jauh dari rumah cuma untuk mengisinya.”
“Dasar kau ini!” Arkha tersenyum geli melihat tingkah adiknya.
Ale bergegas mengambil sebuah kunci yang tergeletak di atas meja kecil di sudut ruangan. Kemudian, ia kembali mendaratkan pandangan secara bergantian pada kami berdua. “Selama aku tidak ada, Kakak jangan pernah macam-macam sama Rara!” Sorot tajam yang terpancar dari matanya, dengan jelas memperlihatkan keseriusan.
“Jangan mikir yang tidak-tidak! Apa kamu kira, aku ini laki-laki tidak bermoral?” Arkha mengambil apel dan melemparkannya pada Ale. “Sudah, pergi sana!”
Dengan gerakan gesit, ia menghindari lemparan Arkha, dan berlari ke luar rumah. Saat ini yang tertinggal, hanya aku dan Arkha yang mulai melangkahkan kaki menuju ke ruang tengah.
Kemudian, kami berdua duduk di atas sofa putih yang berada di depan televisi. “Aku ingin membahas masalah kita.” Aku menatapnya dengan penuh curiga.
“Masalah apa?” Arkha megambil remot dan menyalakan televisinya.
“Kenapa kamu malah bertanya kepadaku? Jangan berpura-pura lagi! Sebenarnya, ada hubungan apa di antara kamu dan gadis keganjenan itu? Aku masih tidak percaya dengan alasan yang kamu berikan.” Aku berusaha menekan amarahku.
Sepertinya Arkha tidak begitu memperdulikanku. Aku terus saja menatap ia yang memijit remot dengan jari padatnya. Ia mengganti-ganti siaran televisi dengan cepat, hingga terlihat dengan sangat jelas, bahwa ia sedang tidak berniat untuk menonton salah satu acara yang ditayangkan. Tampaknya, ia memang dengan sengaja tidak mendengarkan kalimat yang telah aku ucapkan. Seketika itu juga, aku langsung merebut benda yang sedang ia mainkan saat ini.
Arkha mengacak-acak rambutnya, lantas berujar padaku, “aku sudah berkali-kali menjelaskan padamu, tidak ada apa pun juga di antara aku dan dia. Kami hanya teman dan selamanya akan menjadi teman.” Tiba-tiba saja, ia berubah menjadi marah. “Aku sudah capek mendengarkan tuduhanmu padaku!” Ia dengan tangkas beranjak dari tempat duduknya.
“Pelankan suaramu!” Aku menariknya untuk kembali mendaratkan pinggul. “Lebih baik, kamu jangan berkilah lagi! Aku sudah melihatmu sebanyak dua kali. Mataku ini masih berfungsi dengan baik. Aku yakin saat itu tidak salah melihat, kalian memang sedang bermesraan. Kalau kamu dan dia tidak memiliki hubungan khusus, tidak mungkin dia berani bersikap seperti itu padamu.” Air mataku mulai kembali mengalir deras.
Arkha merubah posisi tubuh, hingga menghadap ke arahku. “Aku juga sudah menjelaskan ini kepadamu, dia memang seperti itu. Tidak dengan aku saja, tetapi dengan yang lain juga. Jadi, kamu jangan memikirkan sesuatu yang aneh-aneh begitu. Aku tidak akan berselingkuh, apalagi sampai tega mengkhianatimu. Aku mohon padamu, hentikanlah pikiran kotormu itu, Dinda.” Ia memegang kedua pundakku.
“Pertemukan aku dengan gadis itu!” Aku menampik tangan Arkha yang hendak menghapus air mataku.
Arkha menghela napas. “Buat apa kamu bertemu dia? Kamu hanya akan membuat masalah menjadi semakin runyam.”
“Aku janji, tidak akan berulah dengannya. Aku hanya ingin bicara dengan teman kamu secara baik-baik, memperingatkan gadis itu, agar tidak lagi bersikap yang tidak pantas terhadapmu.” Aku mengusap tangisku yang terus membanjir.
“Sudahlah, Sayang! Kamu jangan terus-terusan seperti ini, aku capek! Anggap saja, apa yang kamu lihat itu tidak benar. Ingatlah, bahwa aku masih begitu mencintaimu. Jadi, sangat tidak mungkin aku berpaling darimu.” Arkha berusaha memelukku.
Aku berusaha menolak dekapannya. “Kalau kalian tidak memiliki hubungan apa pun juga, kenapa masih bersikeras tidak mau mempertemukan aku dengan gadis itu?” Aku menatap tajam, berusaha menyelidik ke dalam mata tunanganku.
“Dia saat ini sedang sangat sibuk. Aku tidak bisa mengajakmu untuk menemuinya. Aku khawatir, kita hanya akan dianggap sebagai seorang pengganggu saja olehnya. Lagi pula, tidak terjadi apa pun di antara aku dan dia. Kamu hanya berlebihan menanggapinya.” Arkha terlihat begitu mahir merangkai alasan.
“Jadi menurut kamu, aku yang sekarang ini berlebihan? Tapi kenapa aku merasa, jika saat ini kamu hanya mencari-cari alasan saja, agar aku tidak bertemu dengannya?! Jangan-jangan yang aku pikirkan benar, ada sesuatu di antara kalian.” Perasaanku menjadi tidak enak dan semakin kecewa. “Jujur saja padaku, kamu sedang selingkuh dengannya, benarkan?!”
“Sudahlah, aku lelah terus-terusan menjelaskannya padamu. Sekeras apa pun aku meluruskan, tapi kamu akan tetap saja menganggapku sebagai seorang pengkhianat.” Ia berdiri dari sofa. “Sekarang lebih baik aku antar kamu pulang. Pikiran kamu sedang kacau dan sudah mulai melantur kemana-mana. Aku tidak ingin ribut lagi. Perdebatan ini sudah semakin memanas, hingga membuat hubungan kita mulai berubah menjadi tidak nyaman.”
Aku memalingkan wajah, lantas mengikuti Arkha yang mulai melangkah ke arah pintu depan. Amarahku semakin membesar dan aku bergegas mengejarnya. Aku hanya ingin mencari jawaban untuk menyangkal sebuah argumen mengenai perselingkuhan tunanganku yang saat ini melayang-layang di dalam pikiranku. Akan tetapi sebelum mulutku kembali terbuka, mataku beradu dengan Ale. Ia terlihat sedang berdiri terpaku. Kemudian dengan panik, ia melempar pandangan menatap kami berdua, saling bergantian. Aku merasa, jika Ale sudah sejak dari tadi mengetahui pertengkaran di antara kami. Aku hanya bisa menelan ludahku sendiri, lantas berusaha menahan kecurigaan yang saat ini menggantung di ujung lidahku.
Aku mendapati Arkha hanya sekilas menatap adiknya yang tampak serba salah. Kemudian, ia melangkah menuju ke mobilnya. Aku juga bergegas menyusul tunanganku, dengan tidak melewatkan senyumanku untuk Ale. Meskipun saat ini hatiku masih menangis, setidaknya calon adik iparku tidak berpikir negatif. Sebenarnya, aku tidak ingin keluarga besar Arkha megetahui keretakan hubungan kami. Aku tidak pernah bisa membayangkan, jika sampai ada yang memergoki pertengkaran yang tidak pernah sekali pun terjadi dalam hubungan kami yang sudah berjalan selama lebih dari lima tahun ini. Namun apa dayaku, Ale sudah melihatnya. Segala sesuatu yang terjadi hanya bisa menambah kesedihan dan rasa sakit yang saat ini terasa menusuk-nusuk dadaku.
Lalu aku ikut memasuki mobil di mana Arkha sudah berada di dalamnya. Aku duduk di sampingnya, lantas seketika itu juga dia langsung menjalankan kendaraan menggusur angin. Aku yang sedang dirundung pilu, tidak secuil pun memperdulikan Arkha yang menyetir dengan kecepatan di atas rata-rata. Hanya beberapa menit–tidak ada satu jam, kendaraan beroda empat tersebut berhenti tepat di depan rumahku.
“Turunlah!” Aku sangat terkejut mendengar kata-kata yang menyembur keluar dari mulutnya. Dia yang selama ini selalu bersedia membukakan pintu mobil untukku, kini hanya berkata ketus sambil menatap lurus ke depan. Tunanganku yang selalu memberikan perhatian lebih padaku, kini dia bersikap acuh, seakan enggan untuk menatap guratan-guratan luka di wajahku. “Cepat, turunlah!!” sentaknya. “Jernihkan pikiran kamu yang berlebihan itu! Aku tidak ingin ada pertengkaran lagi, cuma karena masalah yang tidak penting seperti ini. Cukup sampai di sini! Aku tidak mau mendengar lagi tuduhanmu terhadapku.”
Aku hanya bisa terdiam menatapnya dengan linangan air mata yang terus berjatuhan. Beberapa saat aku menunggu, tetapi dia tetap diam, dan pintu mobil masih tertutup rapat. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk membuka sendiri pintu tersebut. Memang ini adalah sesuatu yang sangat kecil. Tetapi tidak pernah sekali pun selama lima tahun bersamanya, aku membuka sendiri pintu mobil miliknya dengan tangan ini. Aku mulai merasa dia terlihat seperti orang asing bagiku. Untukku sekarang, dia terkesan seperti bukanlah tunangan yang selama ini kukenal. Sikapnya terlihat seperti seseorang yang tidak menginginkan kekasihnya lagi. Hatiku terasa semakin pedih dibuatnya, bahkan air mata seakan mampu menembus jantungku yang terasa ngilu.
Aku beranjak turun dari mobil, menapakkan kaki yang seakan tiada lagi bertulang di atas jalanan yang terasa sunyi dan sepi. Kemudian aku menutup pintu, mundur satu langkah, dan hendak melihat Arkha dari kaca yang tampak buram. Namun, keterkejutan kembali lagi aku rasakan. Arkha menjalankan mobil secara tiba-tiba, melesat semakin kencang, dan menghilang seketika.
Aku terpaku diam mematung, seakan ruh dalam tubuhku ikut terhempas bersama angin yang terpecah berserakan. Ada apa dengan Arkha? Hatiku tidak bisa menerima segala sesuatu yang terjadi begitu saja di depan mataku. Bahkan pikiranku menolak, untuk bisa menerima setiap perubahan yang tampak pada diri laki-laki yang sebentar lagi akan mengakhiri masa lajangku.
Aku mencoba melangkah dengan rasa sakit yang seakan membuat kakiku terasa berat untuk berjalan. Air mata yang berjatuhan pada malam ini, bercampur dengan rintikan hujan yang menambah deraian-deraian kesedihan. Benarkah ini sebuah realita? Aku hanya berharap yang terjadi tidaklah nyata. Kemudian ketika aku membuka mata, Arkha yang selalu aku cintai masih tetap menjadikan diriku satu-satunya pemilik dari hatinya. Aku tidak ingin gadis genit itu semakin menjajah hati tunanganku, hingga menggusur posisiku dari tempat itu. Aku tidak mau, jika pernikahanku akan menjadi sebuah malapetaka yang tidak bisa kuhindari. Mimpiku merajut mahligai kehidupan yang bahagia dengannya, mungkinkah akan bisa terwujud jika gadis itu masih hadir di antara kami? Aku sama sekali tidak dapat meyakinkan diriku untuk bisa percaya lagi dengan segala perkataan yang terucap dari mulutnya.