Hari yang cerah, tetapi bagiku terasa mendung. Di hatiku seakan hujan telah membuat bendungan sendiri yang sepertinya akan meluap dan tidak bisa ditahan lagi. Aku menelungkupkan wajah di atas sebuah meja restoran, tempat di mana aku sedang bekerja saat ini. Batinku meracau, segala yang penuh misteri terus berjejalan di kepalaku. Arkha dan gadis itu, layaknya duri yang terus menusuk tubuhku. Sakit, namun tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menepisnya. Sampai saat ini, Arkha hanya menggelontorkan klarifikasi yang tidak bisa aku yakini. Batin hatiku mengiyakan, namun mata dan pikiranku menyangkal segala penjelasan yang telah ia diberikan.
“Sepertinya kamu lagi tidak bersemangat, Di, kenapa? Tumben kamu begini? Biasa juga teriak-teriak dan selalu bikin rame resto kita ini.” Aku tidak menyadari Vivi, sabahat baikku, sekaligus rekan kerjaku, telah ada di kursi yang saat ini berada tepat di hadapanku.
Aku mengangkat wajah, menatapnya dengan lesu. “Iya nih, sepertinya mau hujan,” aku menghela napas, “sebentar lagi. Jadi aku sangat berharap, dia tidak datang lagi ke resto siang ini. Aku mau menenangkan pikiranku sejenak. Aku tidak ingin melakukan apa pun juga. Aku sedang malas untuk bergerak.” Aku kembali merapatkan wajah pada meja.
“Siapa yang datang?” Vivi mengerutkan kening.
“Pak Bos,” jawabku singkat.
“Apa benar akan turun hujan?” Vivi tampak menatap langit dengan matahari yang menyengat. “Langit terlihat cerah, tidak ada tanda-tanda mau hujan, dan mendung … tidak juga.” Dengan heran, ia kembali beralih menatapku. “Dari mana kamu tahu akan hujan hari ini? Apa kamu sedang belajar meramal cuaca?”
Aku melirik Vivi, membuang napas jengah, kemudian wajahku kembali menempel pada meja.
“Kenapa? Apa ada yang salah dengan kata-kataku?” Vivi menautkan kedua alisnya.
Aku mengangkat kepala yang terasa jauh lebih berat dari biasanya. “Tidak, bukan kamu yang salah, tapi aku yang sudah keliru. Saat ini di hatiku telah ada segerombolan awan mendung, sebentar lagi akan terjadi hujan badai di sana,” jawabku asal-asalan.
“Eh ... kok gitu, sih? Kenapa? Bagaimana bisa seorang calon pengantin malah terlihat kacau seperti ini? Ia mencerrmati raut mukaku, lantas memajukan wajahnya mendekatiku. “Benar, sama sekali gak ada aura kebahagiaan yang terpancar darimu.” Ia menghela napas. “Jangan seperti ini! Orang-orang akan menyangka, bahwa kamu menjalani pernikahan dengan terpaksa.”
“Pengantin?” Aku bertopang dagu dengan meja. “Itu akan terjadi, kalau mempelai pria masih menginginkan hubungannya berlanjut denganku.” Aku meluruskan kedua tanganku di atas meja.
Vivi tampak terkejut. “Kamu kok bilangnya begitu sih, Di? Kalian ribut?! Tumben banget, tidak biasanya kalian seperti ini.”
“Iya, terkadang kami memang beradu argumen, namun tidak terjadi perselisihan. Ini merupakan pertengkaran pertamaku setelah lima tahun merangkai cinta dengannya.” Air mata mulai menggenang. “Entah aku yang salah atau dia yang sudah merasa bosan denganku yang tidak lagi terasa istimewa baginya?
“D-Diandra, jangan menangis di sini!!” Vivi bergegas mengambil tisu yang berada tepat di antara kami dan memberikannya padaku. “Sebenarnya, ada apa dengan kamu dan Arkha? Aku tidak pernah melihatmu sesedih ini.” Ia mengusap-usap punggung tanganku.
Tangisku sama sekali tidak mereda, namun malah semakin meleleh, lantas membanjir. Seketika, semua mata langsung tertuju padaku. Saat ini, mereka terlihat seakan menyiratkan rasa keingintahuan atas sesuatu yang telah terjadi denganku. Vivi menarik tanganku, agar aku bergegas mengikuti langkahnya menuju ke area belakang restoran. Ia membawaku ke sebuah tempat, di mana tidak ada orang yang bisa melihat guliran air mata, dan guratan kesedihan yang sangat jelas terlukis di wajahku saat ini.
“Katakan yang sebenarnya! Ada apa sih, Di? Cerita saja padaku semua yang telah membuat sesak hatimu! Bukankah kamu sudah menganggap aku ini sebagai sahabat sekaligus seorang kakak buatmu? Jadi, kamu bisa berbagi suka dan duka padaku.” Vivi menepuk-nepuk punggungku dalam pelukannya.
“Arkha selingkuh, Vi!! Dia seorang pengkhianat!! Dia tega menusukku dari belakang!” Aku tidak bisa berkata lagi. Aku hanya bisa menangis dan memeluk sahabat baikku itu semakin erat, seakan aku sedang mencari sebuah kenyamanan pada dekapan tubuh kurusnya.
Vivi menghela napas panjang. “Aku … dia selingkuh, ya? Duduklah di sini, aku ambilkan segelas air putih, biar kamu bisa sedikit lebih tenang.”
Aku duduk pada kursi kayu yang tampak sudah tua. Vivi meninggalkanku bekutat pada keheningan. Ia membiarkan diriku hanyut dalam deraian air mata yang membuat pandangan menjadi nanar, kabur. Saat ini semua yang tampak, seakan menjadi tidak jelas bagiku. Sekarang di dalam otakku hanya terlintas bayangan kemesraan tunanganku bersama dengan gadis tidak tahu malu itu.
Emosi mulai merengkuh tubuh dan memaksa kesadaranku tersentak keluar. Aku mulai mengira-ngira ada yang aneh dengan Vivi. Ia seperti tidak tampak terkejut mendengar sesuatu yang selama ini berusaha aku yakini, bahwa semua tidaklah nyata, yang terjadi hanyalah sebuah khayalanku saja. Aku tidak mungkin keliru memperkirakan, bahwa saat ini ia telah memendam sesuatu yang tidak aku ketahui.
Tidak berselang lama, Vivi kembali dengan membawa air putih dalam sebuah gelas kaca bening. Dia meminumkan air itu kepadaku, seteguk demi seteguk, air itu terasa mengguyur panas di hatiku. Aku bagai seorang pesakitan yang tidak mampu untuk meminum sendiri air tersebut. Dia begitu perhatian dan pengertian, seperti seorang kakak yang tidak pernah aku dapatkan. Semua itu karena aku merupakan satu-satunya anak dari kedua orang tuaku. Dia membelai rambutku, seakan aku adalah seorang anak kecil yang sedang menangis karena kehilangan mainan kesayangannya.
Air itu pun habis, hingga tetes terakhirnya. Aku melahap seperti seorang musafir yang kerongkongannya telah dilanda kekeringan. Aku juga merasa seperti seorang pengelana yang kehausan di tengah gurun pasir yang sangat panas. Kemudian aku melirik sahabat baikku yang sejak dari tadi memperhatikan, serta terus menjuntaikan seulas senyum penghibur hati. Dia tampak sangat tenang seperti seorang peri yang memberi kedamaian untukku, tetapi kenapa dia tidak terkejut sedikit pun? Apa yang telah membuatnya tersenyum seperti itu di saat aku terpuruk? Aku menggenggam gelas kaca dengan lebih rapat, seakan luapan pertanyaan tertahan pada ujung lidahku yang terasa kelu.
Vivi tampak menghela napas. “Apa kamu sudah merasa lebih tenang sekarang?” Dia menatapku dengan air mata yang terlihat jelas menggantung dan hampir saja terjatuh.
Aku hanya bisa mengangguk, mengiyakan apa yang dia tanyakan. Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan, segala yang tidak bisa dia katakan. Aku melihatnya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Ia seakan telah hanyut ke dalam pikirannya sendiri. Akhirnya, aku memutuskan untuk membuka suara. Aku ingin mengetahui segala yang ada dipikirkannya saat ini.
“Aku sudah sangat lama mengerti segalanya tentangmu, bahkan lebih lama dari pada mengenal tunanganku itu. Kamu jugalah yang telah mempertemukan aku dengannya.” Aku menghela napas, “aku tahu, kamu sudah mengenalnya jauh sebelum kita bertemu. Kalian telah mengikat hubungan pertemanan, sebelum kita menjalin persahabatan. Karena itu, aku tidak akan menyalahkanmu, jika ada yang tidak bisa kamu ceritakan tentangnya padaku.”
Vivi mengalihkan pandangan dan menatapku. Aku mendapati kesedihan berbalut muram, terlukis dengan guratan iba yang tergambar jelas pada wajahnya.
“Jadi aku bisa menebak, saat ini pasti ada sesuatu yang kamu tutupi dariku.” Aku menatap Vivi, seakan menggali sebuah jawaban atas pertanyaanku di dalam matanya.
“Diandra, kamu tahu? Sampai saat ini, tidak ada secuil pun yang bisa lolos aku sembunyikan darimu.” Vivi menyentuh tanganku.
“Bohong!! Aku mengenalmu dengan sangat baik. Aku bahkan bisa membaca segalanya, hanya cukup melihat semua dari matamu.” Aku menatap sahabatku yang terlihat gelisah.
“Kamu benar, aku memang telah berbohong dengan ketidaksanggupanku untuk membuka mulut. Tapi, aku tidak mungkin bisa selamanya merahasiakan ini darimu. Aku tahu pasti suatu saat, kamu akan memergokinya. Meski tidak dariku, pasti akan ada orang lain yang mengenalmu, juga akan bercerita tentangnya. Tetapi realitanya, sekarang kamu sudah mengetahuinya sendiri.” Air mata yang sejak dari tadi hanya menggantung, sekarang terjun bebas membanjiri paras cantiknya.
“Aku tidak mengerti dengan semua yang kamu katakan. Sebenarnya, apa yang kamu ketahui? Kenapa juga kamu harus menyembunyikannya dariku?” Aku mengerutkan kening mencoba untuk mengerti.
Seketika itu, Vivi langsung merengkuhku ke dalam pelukannya. “Aku juga melihatnya, namun sebelum kalian bertunangan.”
Aku memegang bahunya, mendorong ia menjauh dari tubuhku, dan menatap tajam ke arahnya. “Melihat siapa? A-apa yang kamu lihat?!” Otakku sedikit bisa menangkap dengan yang Vivi maksudkan. Tetapi batinku terus menyangkal, meskipun dengan tiba-tiba rasa panas di hatiku meningkat menjadi bara. “Cepat katakan dengan sejelas-jelasnya padaku, Vi!! Semuanya! Sekarang juga!!” sentakku.
“Arkha, Di,” Vivi mengambil napas di sela-sela isak tangisnya, “Dia masih bersama dengan gadis yang dulu pernah menjadi kekasihnya, saat kami masih berada di bangku kuliah. Mereka ...,” Vivi terdiam.
“Mereka? Ada apa dengan mereka? Vivi, tolong katakan sejujurnya padaku!!” Air mata kembali lagi mengalir dengan derasnya.
“Aku melihatnya. Mereka ber ... berpelukan di taman kota. Saat itu aku langsung menghampirinya. Aku segera menarik Arkha menjauh dari gadis sialan itu. Tetapi Arkha, dia malah mendorongku, hingga aku terjatuh. Kemudian dia mengancam akan mencampakkanmu, jika aku membongkar tentang perselingkuhan mereka.” Vivi menggenggam tanganku yang mulai terasa berubah menjadi dingin. “Gadis itu yang dulu telah mengkhianati dan mencampakan Arkha. Tetapi kenapa dia muncul kembali, saat sudah ada kamu di hidupnya sekarang?!” Deraian air matanya mulai tidak tertahan.
“Vivi, ini sudah sangat terlambat. Kenapa kamu tidak menceritakannya lebih awal padaku?! Apa kamu begitu sangat perduli dengan Arkha, tetapi tidak denganku, hingga setega itu kamu menyembunyikan semuanya dariku?!” Aku menggerak-gerakkan bahunya dengan penuh amarah dan rasa kekecewaan yang mendalam. “Apakah hubungan kita ini masih pantas disebut lebih dari sekedar sahabat?”
“Jangan berkata begitu, Di! Kamu sangat berharga untukku, bahkan lebih bernilai dari pada pertemananku dengan Arkha.” Tangis Vivi semakin menjadi. “Bagiku, kamu sudah aku anggap selayaknya seorang adik. Kita berdua, bahkan sudah seperti seorang saudara.”
Hubunganku dengan Vivi memang sangat istimewa. Aku dan dia, layaknya seorang kakak dan adiknya sendiri. Dia yang mengajakku bekerja di restoran ini, sekaligus mengenalkan Arkha padaku di tempat ini. Laki-laki yang telah bersahabat dengan Vivi, sekarang menjadi tunanganku. Tinggal menghitung hari, maka Arkha dan aku akan menikmati nyamannya kursi pelaminan. Tapi, apakah saat ini aku akan bisa bahagia, setelah segalanya sudah mulai terkuak dengan jelas?
“Kenapa kamu menjadikanku sebagai alasan untuk menutupi keburukan Arkha?! Kamu dan Arkha benar-benar membuatku merasa seperti kambing congek yang sedang dipermainkan!!” Seketika aku benar-benar menjadi sangat marah. Aku merasa seakan tidak bisa lagi menahan emosi yang meluap, karena hatiku yang kian memanas. Semua sudah sangat terlambat sekarang. Apa yang harus aku lakukan dengannya yang telah tega merengkuh gadis selain diriku?