Episode 5. Tentang Dia

1656 Words
    Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, ketika mengetahui tunangan dan sahabatku, telah menyembunyikan segala sesuatunya dariku. Siapa sebenarnya dia? Siapa yang telah mengawali terjadinya perselingkuhan itu? Mungkinkah hanya aku seorang yang tidak mengenali siapa Arkha sebenarnya? Apakah lima tahun yang aku lalui bersama dengannya, hanya sekedar sebuah sandiwara? Aku benar-benar tidak mengerti dengan kenyataan yang melilit garis hidupku, realita yang seakan membuat diriku merasa tidak lagi bernyawa.     “Diandra, aku mohon kamu jangan membenciku, karena telah melakukan ini padamu! Aku sangat menyayangimu, bahkan aku menganggap dirimu sudah seperti adikku sendiri. Aku hanya tidak ingin, jika kamu sampai terluka. Bukankah kamu pernah bilang padaku, kalau kamu sangat mencintai Arkha, hingga tidak sanggup hidup tanpanya? Jadi bukan karena keperdulianku pada Arkha, melainkan ketakutan yang seakan mengancamku. Aku tidak bisa membayangkan, kalau dia sampai tega mencampakanmu, hingga kamu akan melakukan sesuatu yang buruk pada dirimu sendiri. Diandra, aku sungguh memohon, agar kamu mau memaafkanku.”  Mata sembab akibat tangis yang mengalir terlihat sangat jelas pada wajah putihnya.     “Aku memang sangat mencintainya, akan tetapi saat ini cintanya telah terbagi. Rasa yang dulu hanya ada untukku, kini sepertinya bukan lagi menjadi milikku seorang. Siapa sebenarnya gadis itu?! Aku tahu, kamu pasti mengenalnya.” Aku menatap sahabatku dengan pandangan mata yang terlihat kabur.     “Dia adalah gadis yang digunakan sebagai bahan taruhan oleh Arkha dan teman-temannya. Seharusnya setelah dia mendapatkan gadis paling cantik di kampus kami itu, dia meninggalkannya. Akan tetapi hubungan itu semakin berlanjut, bahkan kedekatan mereka lebih dari yang bisa kamu bayangkan. Namun itu dulu, ketika Arkha menjadi seorang play boy kampus. Dia jalan dengan begitu banyak gadis selain kekasihnya tersebut. Kemudian wanita itu juga mengkhianati Arkha dengan berselingkuh dengan anak band kampus kami.” Vivi menceritakan semua yang diketahuinya tentang Arkha.     “Play boy?! Dia jalan dengan banyak gadis?!” Kesadaranku seperti sudah berada di ujung kepala, hingga hampir melayang terbang. “Vivi, kenapa kamu mengenalkan laki-laki seperti itu padaku?!” Aku meratapi sesuatu yang telah berlalu.     “Mengenalkanmu?” Kening Vivi berkerut. “Coba kamu ingat-ingat lagi saat itu!” Ia mengusap pipinya yang basah. “Seingatku, aku tidak pernah sekali pun mengenalkanmu dengan Arkha. Bukankah waktu itu kita sedang berada di sebuah cafe di dekat taman kota? Arkha yang tiba-tiba muncul di tempat itu, lantas memperkenalkan dirinya sendiri padamu. Kemudian untuk selanjutnya, aku sama sekali tidak mengetahui, jika kalian sedang pacaran. Apa kamu pernah bercerita padaku tentang kedekatanmu dan Arkha? Tidak, kan? Jika bukan aku sendiri yang telah memergoki kalian berciuman kala itu, mungkin kamu dan Arkha akan terus menyembunyikan hubungan kalian dariku.” Vivi terlihat kesal.     “Tapi Arkha sendiri yang bilang padaku, kalau kamu sengaja mengatur pertemuanku dengannya. Kamu ingin melihat aku menjalin hubungan dengannya.” Aku mengerutkan kening, ketika berusaha memahami kebohongan yang selama ini sengaja diciptakan oleh tunanganku.     “Dia bilang seperti itu? Diandra, bahkan secuil ide untuk menyatukan kalian saat itu, tidak sedikit pun terlintas di benakku. Kamu tahu kenapa?” Vivi bertanya kepadaku dan aku hanya bisa menggeleng. “Karena aku telah mengenalnya, dia bukan laki-laki yang baik untukmu. Ya, aku akui kedekatanku dengannya, tetapi aku tidak akan membiarkan gadis sebaik kamu menjadi mangsa buaya rakus seperti dia.” Vivi terlihat sangat kesal.     “Kenapa kamu tidak segera memberitahuku mengenai dia, setelah kamu tahu kami pacaran pada waktu itu? Hubungan kami belum terlalu jauh seperti sekarang ini. Mungkin juga aku akan meninggalkannya, setelah tahu tentang dia yang sebenarnya.” Aku seperti sedang mencari kebenaran yang selama ini tidak kuketahui. Aku juga mencoba menelaah, bahwa selama lima tahun aku telah mencintai orang yang salah.     “Aku tidak pernah punya kesempatan untuk memberi tahumu. Arkha selalu muncul di setiap aku hendak membuka mulut. Tapi ketika kesempatan berharga itu ada, aku mulai menyadari perubahan Arkha, dan tampaknya kalian sudah begitu saling mencintai. Aku tidak ingin menjadi perusak hubungan yang akan menghilangkan senyum kalian. Aku pikir, perilaku seseorang mungkin saja bisa berubah. Arkha telah berusaha membuktikannya, dengan menunjukkan cinta yang sangat besar terhadapmu. Jadi saat itu, aku memilih untuk diam. Tanpa sepengetahuanmu, aku selama ini telah mengamati hubungan kalian. Lima tahun telah berlalu, kalian masih terlihat baik-baik saja, bahkan pernikahan sudah ditetapkan, hingga tinggal menghitung hari saja. Tetapi Diandra, sekarang aku sangat menyesal melewatkan kesempatan itu. Luka yang sekarang kamu rasakan, sebagian merupakan akibat dari kesalahanku.” Vivi  menatapku dengan iba.     “Siapa nama gadis itu?” Hatiku terasa semakin perih.     “Dia … Gita, Anggita namanya.” Vivi membuang napasnya dengan kasar.     Setelah mendengar semua kebenaran yang tidak pernah aku ketahui, aku tidak bisa untuk sepenuhnya menyalahkan Vivi atas segala yang terjadi padaku. Aku sendiri yang telah memilih Arkha sebagai pelabuhan terakhirku tanpa meminta pertimbangan apa pun darinya. Saat ini Aku dan Vivi hanya bisa menangis dalam dekapan penuh penyesalan. Vivi merasa bersalah, sekaligus merasa tidak tega dengan kenyataan yang saat ini menyelinap masuk di dalam kisah cintaku. Sedangkan aku, apa yang bisa aku lakukan? Hanya meratapi nasib yang memaksaku untuk bisa percaya dengan apa yang telah terjadi di dalam hidupku. Ikatan selama lima tahun yang telah aku jalani, ternyata hanyalah sebuah rajutan kusut yang tidak lagi bisa diperbaiki.     Kekasih yang selama ini aku percaya, ternyata meyimpan sebuah belati tajam yang sekarang sedang ia tancapkan padaku secara perlahan. Tunangan sekaligus calon suami yang sebentar lagi akan merangkai hari denganku, ternyata adalah seorang pengkhianat ulung. Aku merutuk mencaci pada waktu yang terus mengalir menutupi segalanya. Jika aku mengetahuinya dari awal, maka mungkin saja aku akan bisa berpikir ulang tentang laki-laki penipu itu. Tidak akan pernah aku biarkan semuanya terjadi, seandainya Vivi juga tidak menyembunyikan segalanya dariku. Namun, semua sudah berlangsung sampai sejauh ini. Segalanya telah menginjak akhir, hingga hari pernikahanku akan terlaksana sebentar lagi. Jemariku sangat cukup untuk mengitung mundur, di mana aku harus menelan segala penyesalan karena telah membuang waktu bersama dengannya. Ada rasa cinta dan benci yang beradu dalam hatiku. Aku juga tidak yakin bisa membuang Arkha dari kehidupanku saat ini. Namun aku tidak bisa tetap mencintainya, seperti sebelum semua keburukannya terbongkar. Saat ini, aku hanya bisa pasrah pada garis takdir yang telah membuatku terjerat dengannya.     Tanpa terasa, langit telah berubah warna. Sore itu aku meninggalkan pekerjaanku begitu saja. Aku bahkan tidak menghiraukan Vivi yang sangat tidak rela melepaskan kepergianku. Namun, aku sedang ingin menenangkan diri tanpanya. Aku terus dan terus melangkah menapakkan kaki di atas jalanan yang dibalut oleh manjanya sinar matahari senja. Aku berjalan sempoyongan, seakan tubuhku tidak lagi mau menyuplai tenaga pada otot-otot yang terlihat lesu. Aku melangkah tanpa tahu arah bersama dengan pikiran yang terus terngiang peristiwa menyakitkan itu. Saat ini hatiku terlanjur perih, sakit, hingga luka tersebut masih menganga sepanas lelehan lahar gunung berapi.     Aku terus berjalan melewati waktu, tetapi seketika itu juga mataku memaksa untuk berhenti. Hatiku seakan seperti rem yang menahanku untuk terus melaju. Apa yang aku lihat saat ini? Mungkinkah itu hanya sebuah khayalan di kala senja? Ketika tertangkap oleh kedua mataku, seorang laki-laki memeluk wanita dengan sangat mesra. Aku perhatikan tangannya mulai bergerilya ke wajah putih gadis itu. Kemudian ia mengecup kening, hidung, hingga akhirnya mereka mulai larut dalam ciuman yang bernafsu. Hatiku seakan hancur melihat peristiwa yang tampak nyata di depan mataku, sedangkan pikiranku seakan berusaha menyusun kembali kepingan hatiku. Aku berusaha memaksa diriku untuk bisa menerima, bahwa yang tampak bukanlah sebuah imajinasi atau halusinasi yang hanya sesaat dan kemudian menghilang. Realita seakan menjejali otakku untuk percaya, bahwa ini memang rasa sakit yang harus aku terima. Namun hatiku tetap tidak bisa, tidak akan pernah mampu, jika harus selalu menyaksikan perbuatan menjijikkan itu.     Aku tidak sanggup berpikir lagi dengan jernih. Saat ini aku hanyalah sesosok zombi yang menapaki jejak dari kedua insan yang terlihat sedang b*******h. Aku ingin berhenti, namun kaki ini tidak mau mendengarkan perasaanku yang terluka. Langkahku seakan mengiyakan isi kepala yang ingin membuktikan, jika yang terlihat memang nyata. Pikiranku seakan ingin menunjukkan seperti apa sebenarnya rasa pahit dari sebuah kesetiaan. Aku dan Arkha, bagaikan kisah cinta dalam sebuah novel romansa. Ketika semua telah selesai diceritakan,  maka cintaku bersama Arkha juga akan ikut berakhir. Aku terus saja mengikuti pasangan tersebut yang sedang menikmati indahnya dunia milik mereka berdua. Dari taman, air mancur, sampai ...     “Rumah itu?!” jeritku tanpa suara.     Pikiranku seakan mentertawakan hati yang masih tidak percaya dengan perselingkuhan yang telah Arkha lakukan. Meskipun aku melihatnya memeluk pinggang gadis itu, hingga mengajaknya masuk ke dalam sebuah rumah yang nantinya akan menjadi milik kami setelah menikah, tetapi hatiku masih tetap menyangkal kenyataan tersebut. Tidak berselang lama, Aku melihat ia memasukkan kunci, lantas memutarnya dengan cepat. Kemudian mereka masuk, pintu tertutup, dan aku hanya bisa terpaku di depan rumah yang nantinya akan menjadi surgaku. Hatiku ragu untuk terus mengikuti jejak dari tunanganku, namun rasaku mulai merajuk untuk melihat kenyataan yang selama ini aku sangkal.     Beberapa menit berlalu, beberapa jam telah mengikuti sang waktu yang menghilang, tetapi aku masih tetap terdiam. Hingga pada akhirnya, aku memutuskan untuk memasuki rumah tersebut. Saat ini hati dan pikiranku seakan sedang beradu  paham yang tidak jelas.     “Bukankah yang berada di dalam bersama gadis tidak tahu malu itu adalah tunanganku? Arkha yang berselingkuh, bukan aku. Tetapi kenapa aku yang merasa takut, jika mereka menyadari keberadaanku?” Aku terus bergumam dengan diri sendiri, hingga tidak memperdulikan lirikkan beberapa orang yang menganggapku seperti orang gila.     Aku mendorong daun pintu yang tidak tertutup dengan rapat. Aku memegang handel dengan sangat erat, lantas mendorongnya perlahan agar mereka tidak menyadari keberadaanku. Kemudian, aku melangkahkan kakiku setapak demi setapak memasuki rumah terkutuk itu. Aku terus mengendap-endap seperti seorang pencuri yang merasa takut akan tertangkap. Selanjutnya, aku melepas sepatu yang aku kenakan, melangkah setapak demi setapak, mengintip ruang tamu dari sisi tembok yang lain. Sepi, tidak ada seorang pun di ruang tamu itu, dan aku melewatkannya. Aku merasa rumah tersebut seakan tidak berpenghuni. Aku terus menyelinap mencari sesuatu yang entah apa, membuka satu persatu kamar yang aku lalui, tidak ada siapa pun juga. Aku terus mengarahkan diriku menuju ke tempat di mana dapur berada, sontak kakiku terhenti, mataku terbelalak kaget dengan apa yang sedang aku lihat saat ini. Mungkinkah sekarang aku sedang bermimpi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD