Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Arkha sedang bersama dengan gadis yang menjadi selikuhannya. Aku memperhatikan tangan p*****r itu melingkar pada leher tunanganku, lantas tertawa bersama. Mereka terkesan seperti sedang berada dalam gejolak asmara yang menggebu-gebu. Aku melihat wajah mereka mendekat, semakin dekat, hingga mulut mereka beradu dalam hausnya kenikmatan. Setiap kecupan mulut mereka, seperti ribuan duri yang berulang kali tertancap, hingga membuat hatiku seakan remuk redam. Nyatakah apa yang sedang aku lihat saat ini? Ketika kedua bola mataku merekam jari jemari Arkha yang bergerak meraba punggung, lantas mengusap lembut wajah putih gadis genit itu, hingga aura romatisme mereka semakin memuncak panas dengan mulut yang bertaut.
Aku cermati Arkha menghentikan ciumannya, lantas menyentuh setiap lekuk wajah gadis sialan itu. “Honey,” napasnya sedikit mendesah, “aku punya tempat yang lebih nyaman dari ini.” Arkha berkata dengan mesra di telinganya, selembut goresan pisau yang seakan ia sayatkan pada jantungku.
Tunanganku dan Anggita mulai beranjak meninggalkan dapur tersebut. Aku menyembunyikan tubuh di balik dinding tebal yang sepertinya tidak serapuh hatiku saat ini. Aku tidak ingin lagi melihat apa yang mereka lakukan, kakiku terpaku, tubuhku terkunci dalam diam. Sampai beberapa menit telah berjalan mengejar waktu yang terus bergulir, tanpa sadar kakiku begerak melangkah menuju ke tempat mereka berdua berada. Aku mematung tepat di depan pintu untuk sesaat. Aku mulai memegang gagang pintu, membukanya sedikit, dan aku bisa melihat sebagian aktivitas yang terjadi di dalam ruangan tersebut.
Mataku tidak bisa berkedip, hatiku semakin hancur, hingga jantungku seakan berhenti untuk berdetak. Aku merasa bumi yang aku tempati seperti sedang berakrobat dan berjungkir balik saat ini. Tubuhku kosong, terasa ringan, hingga hampir saja melayang seperti balon udara yang mengembang. Air mataku mengalir semakin deras, bahkan hatiku saat ini juga telah terendam dengan rasa perih, serta kesedihan yang teramat sangat.
Beberapa hari lagi aku dan Arkha akan menikah, tetapi drama apa yang aku lihat saat ini? Tunanganku b******u dengan wanita lain. Aku bisa merasakan gerakkan jari tangannya yang bergerak menyusuri setiap lekukkan indah dari tubuh gadis tidak tahu malu itu, seakan seperti sebuah pisau yang dia goreskan ke setiap lekuk tubuhku. Setiap desahan kenikmatan yang dirasakan oleh Anggita, terasa mencabik-cabik mimpi yang selama lima tahun aku bangun bersama tunanganku, hancur sudah. Setiap kecupan Arkha pada tubuhnya, membuatku menggigit ujung lidahku sendiri yang terasa kelu. Aku ingin marah, berteriak, memaki, bahkan mengeluarkan sumpah serapah, ketika menyaksikan tambatan hatiku yang telah rela berbalas jamah dengan gadis nakal itu. Arkha adalah milikku, tunanganku, bahkan akan menjadi suamiku. Tubuhku menjadi lunglai, lantas seketika terjatuh, hingga tidak sanggup lagi untuk berdiri. Aku merasa seakan ada sebuah batu besar yang sedang menindihku.
“Siapa di sana?!” Arkha berteriak dari dalam kamar. Mungkin dia telah mendengar suara tubuhku yang membentur lantai.
“Sudahlah, Sayang! Jangan memperdulikan yang tidak penting! Tatap aku yang penuh dengan gairah. Aku tidak sabar lagi untuk merasakan hangatnya dekapan tubuhmu." Aku mendengar suara gadis itu yang seakan berusaha menahan Arkha.
“Menjijikkan! Dia … p*****r!!” teriakku dalam hati menahan isak tangis yang hampir meledak.
Aku bahkan belum pernah sekali pun melakukan perbuatan tidak bermoral itu dengan Arkha. Ia bahkan tidak pernah terlihat tanpa sehelai benang di depanku, bahkan bertelanjang d**a pun tidak. Tetapi gadis itu merenggut semua yang akan jadi milikku, segalanya tanpa bersisa, hingga aku tidak tahan lagi melihat percumbuan panas mereka. Aku tidak sanggup lagi melihat gadis jalang itu beradegan ranjang dengan tunanganku.
Aku mulai beranjak pergi, berusaha merangkak dengan sisa-sisa tenagaku menuju ke arah pintu keluar. Aku menenteng sepatu dan berusaha meraih apa pun yang bisa membantuku untuk berdiri tegak. Aku membuka pintu, melangkah keluar dengan kaki terseok-seok. Aku berharap ini semua hanyalah sebuah mimpi, yang jika aku terbangun, maka semua akan hilang dan menjadi indah. Aku ingin berubah menjadi seorang iblis yang dengan beringas tanpa iba membunuh mereka yang telah meremukkan jantungku, hingga tidak lagi berbentuk. Tetapi apalah aku ini? Hanya manusia biasa, hanya seorang gadis yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan itu semua. Bahkan keberanian untuk memasuki kamar di mana percumbuan itu berlangsung, lantas menatap mata tunanganku, hingga menusukkan pisau pada jantung gadis p*****r itu pun, aku tidak sanggup.
Aku hanya bisa berjalan pada malam gelap. Dengan hujan berjatuhan di atas kepala, aku menyusuri jalanan sepi seakan seperti berada pada kawasan pemakaman. Semua orang yang aku lalui mengarahkan pandangannya kepadaku yang terlihat berjalan sempoyongan seperti seorang pemabuk.
“Awas!! Seorang laki-laki menangkap tubuhku yang hampir saja terjatuh. “Kamu tidak apa-apa?”
“Ah … lepaskan aku! A-aku tidak apa-apa,” jawabku lemas.
“Kamu terlihat pucat. Apa kamu sedang sakit? Bagaimana kalau aku carikan taksi untukmu?” Laki-laki itu menawarkan bantuannya.
“T-tidak perlu.” Aku berusaha menegakkan tubuh dan laki-laki itu tengah membatuku.
“Bagaimana kalau aku antar saja kamu pulang?” Laki-laki itu kembali menawarkan bantuannya.
“T-tidak perlu, terima ka ....” Aku terjatuh dan tidak sadarkan diri dalam pelukannya.
***
Aku berusaha membuka mata, kepalaku terasa sangat berat, pusing sekali rasanya. Beberapa detik kemudian, sedikit demi sedikit aku mulai bisa mengingat semua yang terekam oleh mataku, dan masih tersimpan rapi di kepalaku. “Aku yakin itu semua hanya mimpi buruk saja. Buktinya, ketika aku membuka mata,” aku mengarahkan pandanganku ke seluruh ruangan, “ini memang benar kamarku.” Aku menghela napas, “untung saja cuma mimpi.”
Aku terus saja berkata untuk meyakinkan hatiku. Namun sepertinya pikiranku seolah terus menyangkal, bahwa yang telah terjadi memang sebuah kenyataan, hingga tanpa terasa tangisku meleleh. Kemudian, terdengar ketukan yang berasal dari pintu kamarku. Aku segera menghapus tetesan air mata dengan baju yang aku kenakan. Setelah itu aku menggerai rambut agak menutupi wajah, agar mata sembabku tidak terlihat.
Ternyata Mamaku yang muncul dari balik pintu, dengan membawa secangkir teh yang masih mengepulkan uap panas. Mama meletakkan cangkir tersebut di atas meja yang berada tepat di samping tempat tidurku. Kemudian ia duduk di sampingku, menyentuh panasnya keningku, dan membelai rambutku.
“Kamu memang sedang sakit, suhu tubuhmu sepertinya naik.” Mama memegang tanganku. “Sebenarnya, ada apa denganmu? Mama perhatikan beberapa hari ini kamu sangat tidak bersemangat dan terlihat kusut. Apa karena kamu merasa gugup dengan pernikahanmu yang hanya tinggal menghitung hari?” Mama menghela napas. “Memang sudah wajar, jika mempelai wanita merasa setres ketika sudah mendekati hari pernikahannya. Tetapi Mama minta, jangan terlalu larut di dalamnya! Kamu lihat kan, apa yang terjadi padamu sekarang?” Mama kembali membelai rambutku. “Jangan berpikir terlalu rumit! Kehidupan rumah tangga itu tidak seberat yang kamu pikirkan. Jalani saja! Seiring berjalannya waktu, kamu pasti akan bisa menghadapi segala sesuatunya bersama Arkha. Kalian berdua akan belajar untuk saling mendukung. Mama yakin kamu dan Arkha akan mengenyam kehidupan rumah tangga yang bahagia.” Mama menyentuh daguku.
“Baiklah, Ma.” Aku hanya bisa mengiyakan kata-katanya dengan malas, agar perkataannya tidak semakin panjang, dan melebar.
“Kalau begitu, mulai sekarang kamu harus cukup istirahat! Mama harus turun ke bawah, masih banyak yang harus dipersiapkan untuk pernikahanmu.” Mama berdiri hendah ke luar dari kamarku, namun langkahnya terhenti untuk sesaat. “Ah iya, Mama lupa. Laki-laki yang telah menolongmu di jalan pada waktu itu, ia meninggalkan nomor ponselnya. Dia berpesan pada Mama, agar memintamu menghubunginya, jika kamu telah dalam keadaan sadar.” Ia meletakkan sesuatu yang tampak seperti sobekan kertas di atas meja, tepat di sebelah cangkir teh berada, dan kemudian pergi meninggalkanku sendiri di dalam kamar yang hampa.
Aku mulai beranjak, menggeser tubuhku mendekati meja itu, dan mengambil kertas tersebut. “Jadi, ternyata semua ini bukanlah mimpi?” Tubuhku lemas seketika.
Aku mengambil ponsel yang berada di atas meja dan berniat menghubungi laki-laki itu. Selanjutnya, aku menekan angka-angka sesuai dengan tulisan yang terlihat pada kertas tersebut. Sebuah lagu sebagai nada sambung terdengar mengalun merdu. “Aku sepertinya pernah mendengar lagu ini, apa ya namanya?” aku berguman berusaha untuk mengingatnya.
“Hallo!! Siapa ini?” Terdengar suara laki-laki dari seberang sana yang membuatku terdiam tanpa sepatah kata keluar dari mulutku. “Kalau tidak mau bicara, aku matikan saja.” Kemudian kami saling membisu, tetapi jaringan komunikasi masih dalam keadaan tersambung. “Se-sebentar, apa ini … aku yakin kamu gadis yang semalam pingsan di jalan, benarkan?” ia bertanya, namun mulutku masih gagu. “Ah, aku tahu ini memang kamu.”
Aku mulai mencoba untuk bersuara, “i-iya ini aku. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, karena kamu telah menolongku,” kalimatku terdengar berantakan secapat kilat menyambar.
“Tidak perlu seperti itu! Aku hanya kebetulan saja melintas dan melihatmu yang berjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Jadi ya, aku pikir kamu pasti sedang sakit. Ternyata dugaanku benar, aku mendapatkanmu pingsan kemarin.” Suara laki-laki itu terdengar renyah.
“Iya, aku memang sedang tidak enak badan. Sekali lagi terima kasih.” Aku hendak mematikan ponselku.
“Ti–”
Aku mengakhiri percakapanku dengan laki-laki tersebut. Tetapi, tampaknya dia masih ingin berlanjut. Layar ponsel berkali-kali menyala dan nada dering terus mengalun merusak telinga. Aku mendapati nomor yang sama –milik laki-laki itu –terus saja menghubungiku, namun saat ini aku hanya ingin menyepi seorang diri. Aku sedang berusaha mencari ketenangan di mana air mataku bisa dengan bebas terjatuh, ketika bayang-banyang dari percumbuan itu mulai berloncatan dari ingatanku.
Beberapa waktu telah berlalu, bahkan air mataku sudah mulai mengering tidak bersisa. Namun rasa sakit pada hatiku, masih membuatku sesak untuk bernapas. Kemudian, kembali terdengar suara ketukan pada pintu kamarku.
“Diandra!! Ada yang mencarimu. Mama memintanya untuk menunggu di ruang tamu. Keluarlah, temui dia!” Suara mamaku terdengar nyaring.
“Siapa, Ma?!” aku menyahut dengan suara yang agak keras, tetapi tidak ada jawaban. Sepertinya, ia sudah berlalu pergi.
Aku bangkit dari rasa terpurukku, melangkah mendekat pada lemari kaca, lantas merapikan rambut yang terurai berantakan seperti habis tertiup angin topan. Kemudian aku menatap cermin dan memperhatikan setiap jengkal tubuhku.
“Ah … bagaimana ini? Mataku bengkak!! Apa yang harus aku lakukan, kalau ada yang melihatnya?! Saat ini, pasti sedang ada banyak orang di rumahku.” Aku dirundung kepanikan.
Kemudian aku menggeledah lemari, laci, bahkan kardus tempat kertas-kertas tidak terpakai. Aku seperti orang gila yang sedang mencari sesuatu yang tidak jelas. Aku mulai melangkah mendekati meja yang berada tidak jauh dari tempat tidurku. “Akhirnya, aku menemukannya!” Aku melompat kegirangan seperti seorang anak kecil.
Aku kembali merapikan rambut, lantas keluar meninggalkan kamar yang tampak seperti kandang ayam setelah aku mengacak-acak semuanya. Aku juga meninggalkan air mataku yang telah terkuras habis di dalam kamar tersebut. Kemudian aku menutup pintu rapat-rapat, seakan ingin membenamkan semua rasa sakit di dalam sana. Selanjutnya, kaki ini melangkah menemui laki-laki yang saat ini sedang menungguku.