Episode 7. Pria Hujan

1596 Words
    Aku memijakkan satu per satu kakiku pada anak tangga secara bergantian. Dengan wajah tertunduk, aku terus berjalan menuju ke ruang tamu di mana orang yang sedang mencariku berada di sana saat ini. Aku berusaha untuk tidak menghiraukan tatapan heran dari semua orang yang telah aku lalui. Mereka terlihat seperti menyimpan segudang pertanyaan untukku. Beberapa dari wanita paruh baya yang sedang sibuk menyiapkan pernikahanku, tampak berbisik-bisik sambil melirik ke arahku. Aku sangat mengerti, bahwa saat ini mereka sedang mencibirku. Namun aku tidak perduli dengan mereka, karena masalah di dalam hatiku saat ini lebih complicated dari pada segala yang sedang mereka pikirkan.     Kakiku terus melangkah beriringan dengan beberapa pasang mata yang selalu saja mengikuti. Aku berjalan seperti seorang model yang sedang melakukan pertunjukan di catwalk. Kemudian aku membusungkan d**a, seolah menampilkan ketegaranku yang luar biasa. Padahal sebaliknya, saat ini aku berusaha menekan hati yang sudah sangat merapuh. Inilah diriku, seorang makhluk yang tidak pernah bisa menampilkan kejujuran dan selalu menyembunyikan kegelisahan dari semua orang, termasuk dengan Mamaku sendiri.     “Kenapa pakai kaca mata?” salah seorang yang aku lalui, tiba-tiba saja berujar.     “Iya, bergaya kok di dalam rumah.” Seorang lain menimpali.     “Sombongnya calon pengantin!” seru wanita gemuk yang sedang melipat kardus.     Selanjutnya, mereka tertawa serentak. Aku benar-benar tidak nyaman mendapati beberapa teguran dari beberapa orang yang aku lalui, hingga menyebabkan beberapa pasang mata terus bersarang padaku.     Kemudian aku bergegas melewani kerumunan orang, serta berbagai dekorasi yang masih berserakan. Aku berusaha mencari celah dari jangkauan pandang para kerabat yang sepertinya sedang sibuk menyantap makanan ringan. Hingga tanpa sadar, sampailah aku di ruang tamu yang tidak seramai ruang tengah rumahku. Langkahku terhenti tidak jauh dari sosok pria berbadan tinggi. Aku mengamati laki-laki itu sedang duduk sambil memainkan ponsel miliknya. Aku perhatikan ia dengan seksama, sepertinya aku pernah melihatnya, tetapi di mana dan siapa dia? Aku tidak bisa mingingat apa pun juga tentangnya. Tanpa terasa, aku seperti sekan tersihir memperhatikan Laki-laki itu. Menurut pengamatanku, pria tinggi itu cukup tampan dengan bulu tipis pada dagunya. Dia jauh lebih mempesona dengan daya tarik yang ternyata melebihi Arkha, tetapi tidak dengan Ale. “Memang sih, dia tidak bisa diperbandingkan dengan adik tunanganku itu,” gumamku lirih. Aku mengakui ketampanan Ale yang pernah menjuarai lomba cover boy pada salah satu majalah ternama, hingga beberapa kali memenangkan berbagai kompetisi modeling di luar kota, serta mendapatkan sebuah penghargaan yang terbuat dari emas murni.     Itu semua yang telah Arkha ceritakan padaku mengenai adik kesayangannya, ketika aku menatap berderet piala yang berjajar rapi di sebuah lemari kaca hias yang berada di rang tamu ruahnya. Aku juga merasa tidak ada salahnya untuk percaya, karena menurutku, wajah Ale yang lebih condong mirip dengan mamanya memang sangat luar biasa tampan. Meski begitu aku juga tidak tahu kenapa tetap mencitai Arkha yang gantengnya hanya rata-rata saja, tetapi cinta dan perhatiannya luar biasa untukku. Namun, sekarang semua telah berubah. Saat ini tunanganku telah tampak seperti iblis bertanduk yang kejam dan mengerikan, hingga aku bahkan merasa tidak lagi bisa mengenalinya. Bagiku sekarang ini dia seperti seorang penjahat yang dengan tega menikamkan belati pengkhinatan di hatiku, hingga kini menjadi luka yang sangat dalam. Seandainya saja aku bisa mengalami amnesia yang membuatku lupa akan perselingkuhannya, mungkin aku juga menjadi hilang ingatan tentang dirinya.     Kemudian aku tersadar dari lamunanku, ketika laki-laki yang telah menungguku, ternyata menyadari keberadaanku. Dia menatapku, berdiri, lantas menghampiriku. Senyumnya yang terlalu manis, seketika membuat hatiku sedikit bergetar, hingga meleleh. Aku yakin semua gadis yang bertemu dengannya pasti akan langsung terpesona, hingga terhanyut dalam aura ketampanannya itu. Begitu pula denganku, untuk sesaat aku juga ikut terseret bersama tatapan matanya yang begitu menyejukkan.Tetapi, aku tersadar untuk tidak terbelenggu dalam waktu yang lebih lama lagi. Aku masih menjadi gadis yang terus menjunjung tinggi sebuah hubungan dengan berdasar pada cinta dan kesetiaan. Aku juga seseorang yang sebentar lagi akan terikat dengan seorang laki-laki yang sepertinya sudah tidak mencintaiku.     “Eh … hai!!" Laki-laki itu memasukkan ponsel ke dalam kantung celana jeans biru tua yang sedang dikenakannya. Kemudian, ia merapikan kemeja abu-abu yang tampak serasi perpaduannya.     Aku membalas dengan tersenyum sewajarnya saja. Kemudian aku berjalan menuju ke sofa berwarna merah bata yang tidak jauh dari tempat laki-laki itu berdiri. Aku duduk dan ia juga mengikutiku mendaratkan p****t.     Beberapa waktu telah berlalu, aku terus mencermati laki-laki yang hanya tersenyum menatapku. Aku merasa tidak nyaman dengan sikapnya itu. “Maaf, Anda ini siapa? Aku seperti pernah melihat Anda, tetapi di mana ya?” Aku terus saja memperhatikannya, samar-samar aku mengenali wajahnya, tapi aku tidak begitu ingat di mana aku pernah bertemu dengannya.     “Ingatanmu benar-benar sangat payah! Ha, ha, ha!!”     Aku memperhatikan ia tertawa dengan tingkah lucu, sambil menggaruk kepala yang sepertinya tidak gatal. Aku melihat tingkahnya yang seolah dibuat-buat. Aku hanya bisa terdiam dan mengerutkan keningku. Aku mulai berpikir laki-laki itu sangat aneh. Aku merasa tidak berada dalam hubungan yang dekat dengannya. Tetapi, apa yang dia lakukan saat ini? Orang yang sama sekali tidak aku kenal, sekarang dengan ringan meledek diriku. Dia yang gila, ataukah memang aku yang mempunyai otak bodoh?     “Apa yang sedang kamu tertawakan? Kita memang tidak saling kenal, benarkan?” Aku menatap sinis kepadanya.     “Kita memang baru bertemu, tapi–”     “Aku tahu, kita memang tidak saling kenal.  Karena memang seingatku tidak ada teman atau kenalan seaneh dirimu.” Aku melemparkan tatapan tidak sukaku padanya. “Bagaimana mungkin seseorang yang baru bertemu, bisa selantang ini mentertawakan orang yang sama sekali tidak kamu kenal?” Aku memanyunkan mulutku.     “Ah, iya-iya ... maaf, jika tawaku yang seperti ini bagimu sangat tidak sopan.” Wajahnya seketika berubah serius. “Lagipula siapa yang bilang, bahwa aku tidak mengenalmu? Jangankan hanya bertemu, bahkan kita juga sudah saling mengobrol.” Laki-laki itu tampak berusaha menahan tawanya kembali.     “Aku mengenalmu, benahkah?” Aku berusaha berpikir lebih keras lagi. “Kamu –”     “Silakan berusaha untuk mengingat!” Laki-laki itu terlihat jahil.     “Ah! Aku ingat kamu!!” Aku menjentikkan jariku.     “Akhirnya ….” Pria tampan tersebut menghela napas lega.     “Kamu, kamu cowok hujan itu, benarkan?” Aku tersenyum menyambut sejumput ingatanku yang telah kembali.     “Ha? Cowok hujan?” Laki-laki itu tampak mengerutkan kening tidak mengerti.     “Bukankah kita bertemu di persimpangan jalan, saat hujan malam itu?” Aku berusaha menjelaskan maksud dari kalimatku.     “Terserah kamu sajalah, tetapi jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu.” Ia menyiratkan raut wajah tidak suka.     “Aku minta maaf, jika panggilan itu membuatmu tidak nyaman.” Aku tertawa masam merasa tidak enak. “Habisnya, kata itu yang terlintas di pikiranku ketika sedang berusaha mengingatmu. Lagipula, aku juga tidak tahu siapa nama kamu yang sebenarnya.”     “Baiklah, setelah perkenalan ini, maka kita akan menjadi teman!” Laki-laki itu berdiri dan mengulurkan tangannya. “Aku, Alvirza Mahendra. Kamu boleh menyingkat namaku. Panggil aku, Virza dan aku single saat ini. Kamu?”     Aku tersenyum mendengar cara dia memperkenalkan dirinya. Kemudian aku menyambut uluran tangannya. “Aku, Diandra. Aku akan menikah sebentar lagi, itu juga kalau jadi.” Aku kembali teringat segala sesuatu yang diperbuat oleh tunanganku dengan gadis p*****r itu, seketika hatiku terasa ngilu.     “Kamu akan menikah?! Benarkah?” Virza terlihat sangat terkejut. Aku menghela napas, kemudian menghempaskan tubuhku ke atas sofa yang empuk. “Kamu lihat semua dekorasi ini! Kamu pikir, acara apa yang akan berlangsung dengan berbagai hiasan seperti ini? Tapi, pernikahan itu belum tentu juga akan terjadi.”     “Aku sama sekali tidak mengerti dengan ucapanmu? Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa ada masalah dengan acara penikahanmu?” Virza menatapku dengan serius.     “Sudahlah, tidak perlu membicarakan tentang pernikahanku lagi.” Aku menegakkan kepalaku. “Karena pembicaraan kita yang terlalu seru, aku sampai lupa mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu padaku waktu itu. Andaikan pada saat itu aku bertemu dengan orang jahat, mungkin aku sudah tidak bisa tersenyum lagi sekarang.” Aku tersenyum hangat kepada Virza.     “Tidak perlu mengulangi kata terima kasih, kamu sudah mengucapkannya padaku tadi pagi.” Virza membalas senyumku.     Aku mulai teringat peristiwa yang telah berlalu. “Maaf,” aku tertawa keki, “tadi pagi aku tidak sengaja mengakhiri pembicaraan kita begitu saja.”     “Hahaha … sengaja juga tidak apa-apa kok,” ujarnya, lantas berhenti tertawa. “Tetapi aku heran denganmu, kenapa kamu memakai kaca mata hitam di dalam rumah?”     Aku merasa tatapan Virza seolah sedang berusaha menembus pelindung mata yang sedang aku pakai saat ini. Aku merasa bingung menyusun kalimat untuk menjawab pertanyaan dari orang yang telah berbaik hati menolongku.     “Aku akan memberi tahumu, tetapi berjanjilah kepadaku,” aku melirik ke sekitar, “kamu jangan terkejut!” Aku memegang gagang kaca mata yang bertengger di hidungku. “Ah iya, tutup juga rapat-rapat mulut kamu itu. Jangan sampai kamu berteriak, hingga bisa menarik perhatian semua orang yang berada di rumah ini!” aku berkata dengan agak berbisik kepada Virza.     “Baiklah, Diandra. Kamu benar-benar gadis teraneh yang pernah aku temui.” Virza merasa heran, kemudian tersenyum rancu.     Aku sedikit mendekatkan diriku dengan Virza. Aku mulai menurunkan sedikit posisi kaca mata yang menutupi segala kejujuranku saat ini. Aku menyingkap sebagian tabir kenyataan yang berusaha aku sembunyikan dari semua orang di rumahku. Aku memperlihatkan apa yang terjadi di balik benda yang aku kenakan di wajahku. Baru kali ini aku bisa berterus terang pada seseorang yang baru aku kenal, bahkan pada laki-laki seperti Virza.     “Ma –!”     “Sssttt!!” Aku melompat mendekatinya, lantas menutup mulut Virza dengan kedua tanganku.     “Turunkan suaramu! Nanti semua orang bisa memperhatikan kita.” Seketika kepanikan merayapiku.     “Tadi la … apa yang kalian lakukan?”     Aku memalingkan wajahku menatap ke arah suara yang terdengar seakan menggetarkan seisi rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD