Aku tidak bisa memenangkan perdebatanku dengan Virza. Aku hanya bisa berharap dengan cemas, karena pintu masih juga belum terbuka. Lantas aku memperhatikan sekitarku, menatap jajaran orang yang ternyata menampilkan rona wajah sepertiku. Pintu tiba-tiba terbuka, seorang suster belia tampak olehku. Dengan jantung seakan ingin meloncat keluar, aku menantinya membuka suara, dan rasa takut merayap andai nama Mamaku yang disebutnya. Namun ternyata bukan, aku mendengar nama lain yang dipanggilnya, dan seorang nenek tua masuk ke dalam ruang intensive care unit. Kemudian tidak berselang lama wanita tua itu keluar, menangis terisak mengiringi pasien yang tertutup kain di seluruh tubuhnya. “Kek! Kenapa meninggalkanku seorang diri? Nenek ingin ikut bersamamu, Kek,” suaranya terdengar menyedih

