Pengakuan Sarah Hamil

1432 Words
Kamu masuk, gih." Sarah menenteng barang belanjaan yang diberikan oleh Zain. "Ini gak kebanyakan, Zain?" "Enggak." Zain mendekat satu langkah ke arah Sarah. "Itu belum setara untuk mendapatkan hatimu sepenuhnya. Hanya untukku saja." Sarah malah terdiam. Ia tidak mencintai Zain sama sekali. Ditatapnya kembali Zain yang mengeluarkan senyum maut andalannya. "Kamu pulang juga. Aku mau istirahat." "Oke, bye!" Sarah memutar badannya dengan cepat dan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Adzan maghrib sudah berkumandang, ia lekas untuk mengambil wudhu dan menunaikan sholat. "Ya Allah, beri petunjuk untuk hamba. Ijinkan hamba untuk merawat anak hamba kali ini dengan penuh tanggung jawab, berikan kesempatan sekali lagi untukku. Kutitipkan Kia bersamaMu, jaga dia dimana pun putri kecilku itu berada, Aamiin." Sarah bangkit dari tempat sholatnya. Ia beranjak duduk ke ranjang. Menatap satu bingkai yang tersusun rapi di atas nakasnya. Salah satunya foto ia yang baru saja melahirkan Kia. Penuh perjuangan tentu saja seorang Ibu untuk melahirkan buah hatinya ke dunia, hal sama pun pernah dirasakan seorang Sarah yang sudah hampir melahirkan untuk kali keduanya. "Nak," ucapnya sambil mengambil foto itu. Matanya berlinang air mata. "Maafin Mama. Kamu tahu? Kamu pernah minta adik, kan?" Sarah menghapus jejak air matanya yang luruh begitu saja. "Di sini, ada adik kecil untukmu." *** "Kenapa gak dimakan, Nak?" tanya Andre saat melihat Kia hanya mengaduk-aduk makanannya di piring. Dengan cemberut Kia lekas menjawab, "Aku mau masakan Mama." "Kia, jangan buat Ayah marah. Patuhlah, makan dan pergi ke kamarmu." Hasan diam menyimak perseteruan Ayah dan gadis kecil -- Kia. "Aku gak mau, maunya makan sama Mama!" Kia mulai memberontak. Andre menghentikan aksi makannya. Menatap Kia dengan penuh pasrah. "Kia, Mama tidak ada di sini." "Kenapa Ayah tidak mengajaknya! Kan Mama yang selalu ada buat aku! Bukan Ayah!" "KIA!" "Ndre!" sahut Hasan karena situasi mulai memanas. Kia bahkan turun dari kursi dan berjalan entah kemana. "Ndre, kamu harus sabar. Kia masih anak-anak. Wajar dia merindukan mamanya." "Tapi lo tau mamanya! Mamanya sendiri yang lepas tangan sama Kia! Gue bisa apa! Gue juga capek!" Andre mengusap kepalanya resah. Kepalanya sudah terasa penuh dengan Kia yang terus mencari Mama dan Mamanya. Berbeda dengannya yang ingin menyingkirkan segala hal tentang Sarah, kecuali anak mereka, Kia. "Lo bujuk anak lo, ambilin piringnya, ntar dia sakit gak makan, malah semakin ngeyel cari emaknya," saran Hasan yang menyodorkan piring makan Kia yang belum disentuh sama sekali nasi dan lauknya. "Maaf dan makasih banyak buat lo, San." "Sans aja." Andre pun beranjak untuk menemui putrinya yang tengah merajuk. Langkahnya terarah ke luar halaman. Dan benar saja, Kia ada di sana menatap langit. "Mama, kenapa tidak datang? Kenapa Ayah marah? Aku salah apa?" "Tidak, kamu tidak salah, sayang." Kia menoleh mendapati Andre berada di dekatnya. Andre menyembunyikan piring makan Kia di belakang badannya. "Kamu rindu Mama?" "Iya, apa Ayah tidak rindu sama Mama?" Perkataan Kia seakan kembali menyobek lukanya. Perih dan miris harus kembali terbuka luka yang berusaha ia pendam. "Ayah? Ayah rindu." Andre tidak berbohong. Kenyataannya, ia begitu mencintai sosok Sarah sebagai istrinya, dulu. Kini, nasib sudah tak bisa dipaksakan lagi. "Kamu tau gak Mama kamu paling gak suka kalau kamu sakit, pasti bakal omelin Ayah siang dan malam," ujar Andre sedikit mengenang kenangan indah di dalam ruam tangga yang sempat ia bangun bersama Sarah. "Tau," sahut Kia singkat. Kedua bola matanya masih tertuju pada langit malam. Begitu banyak gugusan bintang terlihat bersinar malam ini. "Mau Mama marah?" Kia menggeleng. "Mama gak pernah marah sama Kia. Ayah yang suka marah-marah," jawab Kia membuat kekehan kecil keluar dari mulut Andre. Ia mengelus kepala putrinya. "Mama nitip pesan, kamu harus selalu makan. Biar bisa liat Mama lagi, tapi tidak sekarang." Putrinya menoleh. "Kapan aku ketemu Mama, Yah?" "Suatu saat." "Meski Mama ada di bintang, aku bakal tetap mau temui Mama." Hati Andre teriris. Bagaimana jika suami baru Sarah tidak mengijinkan hal itu terjadi? Bagaimana hancurnya hati Kia? Ia sebagai seorang Ayah tentu memikirkan sampai sejauh itu. Terlebih ada perang Dingin antara ia dan Suami baru Sarah kelak, Sarah. "Kalau begitu, Kia harus punya banyak energi, kan? Makan dulu, ya." Kia mengangguk. "Kalau aku makan, biasanya Mama---" "Kia, Ayah iri," sahut Andre cepat. Ia tak ingin putrinya itu kembali bercerita tentang Mamanya. "Iri?" Kia memiringkan kepalanya menatap Andre. "Iya, kamu hanya sayang Mama. Tidak sayang dengan Ayah," ujar Andre sambil tersenyum simpul. Kia menggeleng. "Kia gak bilang kalau gak sayang, Ayah. Kia rindu Mama, itu aja." Nyali anak itu nampak menciut saat mengatakan 'Mama' di hadapan Andre. Andre mendekap putrinya. "Kita akan ketemu Mama kalau Kia udah besar, dan kalau mau besar, Kia harus makan." Andre mengambil piring yang berada di belakangnya. Kia sudah siap dengan membuka mulutnya. "Pesawat akan masuk ke goa, aaaa!" "Hap!" Kia mengunyah makanan yang disuapkan Andre ke mulutnya sambil tersenyum. Anak malang itu merindukan sosok Mama untuknya. Seseorang yang biasa selalu ada untuk menyayanginya, Tiba-tiba saja menghilang. Tentu saja Kia seperti merasa ada yang hilang. Tidak lengkap ia rasa meski kehidupan yang ia rasakan sedikit berbeda dari yang dulu. *** "Bu! Ibu! Jangan!" Sarah berlari mengejar Jinah yang menenteng sebuah kardus besar yang diikat. Jinah berbalik badan. "Kamu ini! Untuk apa menyimpannya? Buat kamu sedih! Jadi gak bisa lupain dia lagi!" sergah Jinah dengan lantang. "Bu, tapi ada foto Kia di situ. Kasih aku satu aja." "Enggak, kamu gak usah ingat apa-apa tentang pernikahan kamu yang sebelumnya. Semua udah selesai!" Sarah menghalangi jalan Jinah sambil membentangkan tangannya. "Ibu tega sama aku! Kia anakku, dia cucu ibu! Hubunganku dengan Andre memang sudah selesai, tapi tidak dengan anakku!" "Itu benar, tapi kamu melihat foto Kia, kamu juga akan mengingatnya, lebih baik disingkirkan saja!" Jinah bersikeras ingin membuang semua kenangan beserta foto yang memiliki kenangan dengan Kia atau pun Andre. "Awh!" Jinah berbalik. Sasha terduduk lemas memegang perutnya. "Bu... ini... saaa... kit!" "Sarah!" Jinah membelalakkan matanya. "Darah! Ayo ke rumah sakit, Sayang!" Jinah panik dengan keadaan Sarah yang nampaknya mengalami pendarahan. Sarah meringis kesakitan tak tertahan. Mungkin efek banyak tekanan. "Sabarlah, Ibu akan mencari taksi dulu." Dari arah berlawanan, sebuah mobil berhenti. Seorang wanita dengan kacamata hitam dan juga seorang Pria turun dari sana. Jinah menatapnya penuh kebencian. "Biar kami bawa dia, tidak usah gengsi." "Kak Rere...," ujar Sarah pelan. Matanya sudah mulai menggelap. "Sar! Sarah!" "Mas, bantu angkat dia." Suami Rere mengangguk. Kakak dari Andre itu melihat Sarah yang terlihat berdiri kesakitan bersama Ibunya di depan rumah mereka. "Ehh---" "Sstt! Tolong anda jangan pentingkan diri anda sekarang." Jinah terdiam. Ia pun masuk mengikuti Suami Rere yang meletakkan Sarah di mobil. "Cepat, Sarah! Nak, kamu bangun!" "Itu ada darah, kenapa?" tanya Rere heran dan sedikit cemas. Meski begitu, ia pernah menyayangi Sarah bak adiknya sendiri juga. "Mana saya tau!" Jinah malah membalas dengan penuh emosi. "Cepatlah!" Rere memutar kedua bola matanya. "Seandainya aku ini orang jahat, tentu aku tak sudi mengangkat orang ini ke dalam mobilku," batin Rere yang kesal dengan sifat Jinah yang tidak berubah. *** "Loh? Neng Maya," sahut Mbak Tias (pembantu) saat melihat Maya berdiri di ruang tamu rumah Hasan. "Ada apa toh Neng?" "Aku disuruh Hasan ke sini." "Oh, gitu. Neng duduk dulu, biar saya ambilin minum," ujar Mbak Tias sambil berlalu meninggalkan Maya. "Dia kenapa suruh aku ke sini." Maya memiringkan kepalanya. Sesuatu dari balik tembok muncul membuatnya sempat terkejut, tetapi cepat menyadari siapa itu. "Kia, sini!" Maya sempat bertanya dalam hati apa yang diperbuat anak itu di dalam rumah Hasan. Kia berjalan ke arah Maya. "Tante ngapain ke sini." Maya menggeleng. "Enggak tahu, dipanggil sama Om Hasan, kamu ngapain di sini, hayoloh," ujar Maya berusaha untuk kembali akrab dengan Kia yang menurutnya tertutup. "Kia tinggal di sini." Maya menoleh ke belakang dan mendapati Hasan berjalan ke arahnya. Maya menaikkan sebelah alisnya, heran. "Ah, oke, Ayahnya dimana?" Tepat saat Maya bertanya, Andre muncul. "Ayah!" Maya buru-buru memalingkan wajahnya. Entah kenapa ia merasa ada hal yang menjanggal ketika melihat Andre. "Maya?" Maya tersenyum tipis, menundukkan kepalanya. Saat semuanya duduk, Hasan mulai membuka pembicaraan. "May, kamu belum tahu kan kenapa aku panggil kamu ke sini?" Maya hanya menggeleng sambil merapikan jilbabnya. Hasan tersenyum. Andre malah kebingungan dengan tatapan Hasan padanya. "Kamu mau jadi pengasuh Kia dulu?" "Hah?" Rumah Sakit "Bagaimana keadaan anak saya?" Jinah bertanya dengan panik saat dokter sudah keluar. Dokter tersenyum. "Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa, Bu. Jadi, Ibu tenang saja. Ini hanya pendarahan ringan, tapi usahakan jangan sampai membuat anak Ibu tertekan atau merasa stress karena itu bisa mempengaruhi kandungannya." Jinah bernapas lega. Dokter itu pun pamit dan mempersilahkan Jinah masuk menjenguk Sarah. Namun, cekalan kuat di tangannya menghentikan langkahnya. "Ada apa?" sengit Jinah. "Sarah hamil?" Jinah meneguk salivanya. Bola matanya berputar mencari alasan. Ia lupa bahwa Rere masih ada bersamanya sedari tadi. "Iya, Sarah hamil."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD