Bab 8

1283 Words
Reihan dan juga Rima benar-benar melakukan apa pun yang mereka mau, setelah membalik nama semua aset milik Reina, mereka juga datang ke perusahaan tempat di mana mereka bekerja untuk mengundurkan diri. Setelah itu, mereka kembali bersenang-senang. Keduanya menghabiskan uang yang ada di dalam kartu ATM Reina untuk membeli baju, tas dan juga semua barang yang mereka inginkan. Mereka tidak takut akan kehabisan uang, karena ternyata semua uang milik Reina tidak disimpan dalam satu kartu ATM saja. Untuk keuntungan Resto, Reina menyimpan uangnya dalam bentuk emas sebagai investasi jangka panjang. Selama satu bulan ini Raka yang selalu ditugaskan untuk mengurus Resto milik Reina, sedangkan dirinya lebih sering bersenang-senang bersama dengan Rima. Bahkan, keduanya berencana akan berlibur ke luar negeri pada akhir tahun ini. Sungguh kedua manusia yang tidak tahu diri dan tidak tahu cara menghargai hasil jerih payah orang lain. "Yang, pokoknya bulan depan aku mau liburan di luar negeri. Jangan sampai tidak terlaksana," ujar Rima dengan manja. Kini keduanya sedang berada di dalam ruangan kerja milik Reina, tetapi mereka tidak mengerjakan apa pun. Tetap saja semua pekerjaan dihandle oleh Raka. "Iya, pokoknya semuanya yang kamu inginkan akan aku penuhi. Tenang saja," ujar Reihan. Rima nampak naik ke atas pangkuan Reihan, tetapi wajahnya kini terlihat ditekuk. Wanita itu nampak mencubit d**a Reihan, Reihan sampai meringis dibuatnya. "Kenapa cemberut seperti itu? Bukankah apa pun yang kamu inginkan selalu aku turuti?" tanya Reihan yang merasa tidak mengerti dengan raut wajah yang ditampilkan oleh Rima. Rima yang merasa kesal karena Reihan tidak peka kembali memukul pundak pria itu, padahal Rima sudah berulang kali membicarakan hal ini tetapi Reihan selalu dirasa mengulur waktu. "Kapan kamu akan menikahi aku? Udah satu bulan kita bersama tetapi kenapa kamu belum juga menikahi aku?" tanya Rima. Reihan terkekeh karena ternyata Rima marah hanya karena dia belum menikahi wanita itu, padahal mereka selalu tinggal bersama dan selalu menikmati harta peninggalan dari Reina bersama-sama. Lalu, apa yang harus Rima takutkan, pikirnya. Memangnya merubah status di antara mereka adalah sebuah keharusan, tanya Reihan dalam hatinya. "Sayang, aku tidak bisa menikahimu. Karena statusku masih merupakan suami dari Reina, bukankah kamu tahu jika di dalam agama kita hanya boleh menikah satu kali saja?" ujar Reihan. "Ck! Menikah hanya boleh satu kali, tetapi kalau istri kamu meninggal kita tentunya boleh menikah lagi. Bukankah Reina sudah mati? Lalu, kenapa kamu masih belum juga menikahi aku?" tanya Rima. Masalahnya Reihan dan juga Rima membunuh Reina dengan cara yang keji, sedangkan dia kepada orang lain selalu berkata jika Reina dalam keadaan baik-baik saja. Reihan takut jika dia menikah dengan Rima, maka apa yang sudah dia lakukan terhadap istrinya tersebut akan terbongkar dan dia akan dipenjara. "Yang, dengarkan aku. Yang penting kita bisa hidup bersama, yang terpenting kita bisa bersenang-senang bersama. Jangan menuntut untuk menikah lagi, karena kamu sendiri pasti tahu alasannya." Rima nampak marah, wanita itu turun dari pangkuan pria itu. Lalu, Rima pergi karena merasa kesal dengan jawaban yang terlontar dari mulut kekasihnya. "Ck! Kenapa dia harus marah dan juga pergi? Kenapa hidupnya itu tidak pengertian sekali?" kesal Reihan yang memilih untuk bangun dan keluar dari ruangan tersebut. Karena lebih baik dia membantu Raka saja, atau mungkin dia bisa membantu para karyawannya untuk melayani pembeli, pikirnya. Karena memikirkan Rima hanya membuat kepalanya semakin sakit saja, karena wanita itu selalu saja menuntut kepada dirinya untuk dinikahi dan selalu menuntut agar dirinya membahagiakan wanita itu. Di lain tempat. Di sebuah Rumah Sakit internasional yang berada di pusat kota, seorang wanita yang satu bulan lalu berusaha dibunuh oleh suami dan juga selingkuhannya kini nampak berusaha untuk membuka matanya. Setelah selama satu bulan dia tidak sadarkan diri karena mengalami koma, kini wanita itu mulai tersadar dan mulai menggerakkan anggota tubuhnya. "Aduh! Sakit," ujar wanita itu. Wanita itu adalah Reina, wanita yang diselamatkan oleh seorang wanita berhati malaikat. Setelah menemukan Rima dalam keadaan yang sangat mengenaskan, wanita itu pulang ke ibu kota dan membawa Reina Rumah Sakit internasional untuk mendapatkan perawatan. Hanya untuk membuka mata saja dia sudah merasakan sakit yang luar biasa, apalagi ketika dia mencoba untuk bergerak, tulang-tulang di tubuhnya seakan terasa patah semua. "Argh! Kenapa sangat sakit sekali?" ujar Reina. Reina berusaha untuk mengangkat sebelah tangannya, karena dia ingin mengusap matanya yang dia rasa begitu sulit untuk dibuka. "Apa ini? Kenapa wajahku terasa seperti kulit buaya?" tanya Reina ketika dia mengusap pipinya. Reina ketakutan, walaupun terasa sakit tetapi dia berusaha untuk membuka matanya. Setelah dia berhasil membuka matanya, dia nampak mengedarkan pandangannya. "Rumah Sakit?" tanya Reina jangan bingung karena kini dirinya ada di rumah sakit. Tidak lama kemudian, Reina mengingat jika dirinya berusaha didorong oleh suami tercintanya ke dalam jurang yang begitu dalam. Mengingat akan hal itu, dia langsung mengusap wajahnya yang begitu kasar dan terasa sangat sakit. Reina bisa menebak jika pastinya kini wajahnya sangat buruk rupa. "Argh!" teriak Reina dengan histeris. Reina yang merasa penasaran dengan bentuk wajahnya berusaha untuk bangun, walaupun terasa begitu sakit ketika dia berusaha bangun, tetapi dia menahannya karena ingin melihat bentuk wajahnya. Dahi Reina sampai dipenuhi oleh keringat ketika dia berhasil duduk, karena tubuhnya benar-benar terasa begitu sakit yang luar biasa. "Di mana adanya cermin? Aku ingin melihat wajahku seperti apa?" ujar Reina seraya mengusap-usap wajahnya yang benar-benar terasa begitu kasar. Wanita itu terus saja mengedarkan pandangannya, berharap akan menemukan cermin agar bisa menatap wajahnya. Dia juga sempat bertanya-tanya di dalam hatinya, bagaimana bisa dia kini berada di rumah sakit. Bagaimana bisa dia selamat dari maut, lalu Siapa orangnya sudah menyelamatkan dirinya dan membawa dirinya ke rumah sakit, pikirnya. "Ah! Kamar mandi, biasanya di kamar mandi ada cermin. Aku ke kamar mandi saja," ujar Reina. Wanita itu berusaha untuk turun dari tempat tidur, karena dia ingin pergi ke kamar mandi untuk melihat wajahnya. "Ya Tuhan! Ini sangat sakit," ujar Reina ketika dia berusaha untuk menggerakkan tubuhnya. Namun, karena keinginannya begitu kuat, Reina berusaha dengan sekuat tenaganya untuk turun dari ranjang pasien dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia melangkah dengan tertatih, bahkan selang infus yang dia rasa mengganggu langsung dia cabut agar dia bisa berpegangan pada tembok. "Argh!" teriak Reina dengan histeris ketika wanita itu mantap wajahnya pada pantulan cermin. Wajah wanita itu rusak parah, Reina merasa jika dirinya kini lebih menyeramkan daripada hantu. Reina terlihat gelisah dan berteriak tanpa henti. "Tuhan! Kenapa Engkau tidak membiarkan aku mati saja? Aku tidak mau hidup jika dalam keadaan seperti ini!" jerit Reina. Ternyata jeritan Reina sampai terdengar ke luar ruarangn itu, dua orang suster yang kebetulan lewat langsung masuk dan menghampiri Reina. "Ya Tuhan, Nona. Jangan berteriak seperti itu, kemarilah!" ajak satu suster yang langsung menghampiri Reina dan berusaha untuk menenangkan Reina. "Aku mau mati saja sus, aku mau mati!" jerit Reina. Suster itu menatap iba ke arah Reina, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah temannya. Dia memberikan kode pada temannya, suster itu seolah paham dengan kode yang diberikan oleh suster wanita itu. Dengan cepat dia berlari keluar dari dalam ruangan tersebut, tidak lama kemudian dia datang kembali dengan membawa suntikan penenang di tangannya. "Suster! Aku mau mati saja, Sus. Aku mau mati!" teriak Reina putus asa saat menyadari wajahnya yang rusak parah. ''Sabar, Nona. Sabar," ujar suster seraya mendekap tubuh Reina. Satu orang suster lainnya nampak mendekat, kalau dia menyuntikkan obat penenang pada Reina. Karena wanita itu terus saja menjerit-jerit dan berkata ingin mati. "Sus, apakah aku akan mati sekarang?" tanya Reina ketika dia mulai hilang kesadarannya. Suster tidak menjawab pertanyaan dari Reina, dia langsung meminta tolong kepada sahabatnya untuk membopong tubuh karena dan menidurkannya di atas ranjang pasien. "Kasihan sekali wanita ini, pasti sangat stres saat mengetahui wajahnya buruk rupa seperti ini," ujar suster satu. "Iya, kasihan dia. Mana selama sakit tidak pernah ada yang menjenguk," ujar suster 2. Kedua suster itu nampak menatap Reina dengan tatapan iba, mereka benar-benar meras kasihan kepada wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD