Kedua manusia tidak berperasaan itu benar-benar melakukan apa yang sudah mereka rencanakan, keesokan harinya mereka datang ke tempat pengacara.
Tentunya yang mereka lakukan adalah membalik nama semua aset berharga milik Reina menjadi milik Reihan, hal itu tidak lepas dari bantuan Rima.
Wanita itu semalaman belajar untuk membuat tanda tangan Reina, dia memalsukan tanda tangan wanita yang masih sah berstatus sebagai istri dari Reihan itu.
Tadi malam tugas Reihan adalah membuat surat pengalihan harta, sedangkan Rima bertugas untuk memalsukan tanda tangan dari wanita yang sudah mereka bunuh itu.
"Jadi istri anda ingin mengalihkan semua hartanya kepada anda?" tanya pengacara.
Pengacara itu nampak curiga kepada Reihan, karena biasanya pihak lelaki yang selalu mengalihkan hartanya untuk pihak perempuan. Bukan sebaliknya.
"Ya," jawab Reihan.
Reihan sudah menceritakan maksud kedatangannya menemui pengacara tersebut, dia juga sudah memberikan berkas pengalihan harta yang sudah dia buat tadi malam.
"Kenapa hanya anda yang datang? Kenapa istri anda tidak ikut?" tanya pengacara itu dengan penuh selidik.
Jangan sampai dia salah dalam bertindak, karena setiap tindakan tentunya ada pertanggungjawaban di akhirnya nanti.
"Karena istri saya sedang hamil, dia ada di rumah sakit. Istri saya harus bedres, maka dari itu dia ingin mengalihkan semua hartanya kepada saya agar saya bisa mengurus semua asetnya. Lalu, dia akan begitu tenang menghadapi kehamilannya," jawab Reihan.
Pria itu berkata dengan sangat tenang, seolah tidak ada kebohongan yang sedang dia katakan. Ucapannya begitu meyakinkan, raut wajahnya juga begitu meyakinkan.
"Lalu, siapa yang datang dengan anda ke sini?" tanya pengacara tersebut dengan tetapan penuh selidik saat menatap Rima.
Reihan sudah memperkirakan jika dengan membawa Rima pasti akan menjadi pertanyaan, tapi tentunya pria itu sudah mempersiapkan jawaban apa yang akan dia lontarkan.
"Oh! Ini adalah adik saya, dia yang akan membantu saya mengelola Resto milik istri saya," jawab Reihan seraya tersenyum hangat ke arah Rima.
Rima membalas senyuman dari kekasihnya itu, kalau dia menolehkan wajahnya ke arah pengacara dan tersenyum hangat seraya menganggukkan kepalanya.
"Oh! Oke, saya akan memroses apa yang anda inginkan," ujar pengacara menyanggupi.
Ah! Reihan dan juga Rima terlihat begitu senang sekali mendengar apa yang dikatakan oleh pengacara tersebut. Karena itu artinya semua aset milik Reina akan menjadi milik Reihan seutuhnya.
"Saya sangat senang, lalu... berapa lama kira-kira pengerjaan proses balik namanya?" tanya Reihan.
"Hanya memerlukan lima hari kerja saja, anda tidak usah khawatir. Oiya, ini biayanya. Silakan dilunasi, nanti setelah jadi saya akan menghubungi anda," ujar pengacara itu seraya memberikan kertas berisikan biaya yang harus Reihan keluarkan.
Ternyata untuk membalik nama rumah dan juga Resto milik istrinya memerlukan uang yang cukup banyak, beruntung uang yang ada di dalam tabungan Reihan masih mencukupi.
"Terima kasih atas kerjasamanya," ujar Reihan dengan senang setelah dia membayar lunas biayanya.
"Sama-sama," ujar pengacara itu.
Selesai dengan hal itu Reihan langsung mengajak Rima menuju Resto milik istrinya, saat dia datang dengan Rima para karyawan Resto nampak menatap aneh ke arah keduanya.
Mereka seolah bertanya-tanya kenapa Reihan membawa Rima ke sana, sedangkan Reina tidak terlihat keberadaannya.
"Rasya! Aku mau minta kunci ruangan Reina," ujar Reihan ketika dia berpapasan dengan orang kepercayaan dari Reina.
"Eh? Tumben anda yang datang, nyonya Reina ke mana?" tanya Rasya.
Pria itu nampak kaget melihat kedatangan dari Reihan, karena selama ini pria itu tidak pernah datang ke Resto di saat jam kerja.
Sesekali Reihan memang akan datang ke sana, tetapi hanya pada saat jam makan siang. Itu pun benar-benar sangat jarang, karena memang setiap pulang kerja Reihan akan menghabiskan waktunya bersama dengan Rima.
"Dia sedang hamil, jadinya sudah tidak akan mengelola Resto lagi. Dia akan beristirahat, jadi... mulai hari ini saya yang akan mengelola Resto," jawab Reihan.
"Oh! Oke, Tuan," jawab Rasya patuh tapi dengan raut bingung.
"Bagus kalau kamu paham, mana kuncinya?" tanya Reihan.
"Ah! Sebentar, Tuan," ujar Rasya yang dengan cepat pergi ke dalam ruangannya untuk mengambil kunci ruangan kerja Reina.
Sebenarnya Reina selalu membawa kunci ruangannya tersebut, tetapi Rasya memang dipercayakan untuk memegang kunci cadangannya.
Maka dari itu Rasya merasa aneh ketika Reihan berkata jika pria itu yang akan mengelola Resto, karena jika memang mengelola Resto adalah tugas yang diberikan oleh Reina, seharusnya pria itu mempunyai kunci milik Reina.
"Ini sangat aneh, benar-benar terasa aneh. Dari pagi aku sudah menghubungi nyonya Reina, tapi nomor ponselnya tidak aktif. Apakah dia benar-benar memiliki penyakit yang berbahaya atau bagaimana?" tanya Rasya seraya mengambil kunci cadangannya dari dalam lacinya.
Sungguh Rasya merasa ada hal yang janggal, karena biasanya kalau ada apa-apa tentang masalah Resto, Reina pasti akan berbicara kepada dirinya.
"Haish! Sudahlah, Rasya. Kamu jangan ikut campur, yang terpenting kamu bekerja dengan baik dan benar agar tidak dipecat."
Setelah mengatakan hal itu, Rasya keluar dari dalam ruangannya dan segera pergi untuk menemui suami dari atasannya tersebut.
"Ini kunci ruangan nyonya Reina, Tuan." Rasya memberikan kunci tersebut kepada Reihan.
Reihan tersenyum seraya menerima kunci yang diberikan oleh Rasya, senyum yang begitu tipis sampai-sampai Rasya tidak menyadarinya.
"Terima kasih, untuk ke depannya kamu harus melaporkan apa pun yang terjadi di Resto ini kepada saya. Tentang laporan keuangan atau apa pun itu kamu harus bicarakan dengan saya," pesan Reihan.
"Iya, Tuan," jawab Rasya.
Setelah berpesan kepada Rasya, Reihan langsung naik ke lantai tiga. Karena di sana memang digunakan khusus untuk tempat Reina bekerja dan juga beristirahat.
Reina menyimpan semua barang-barang penting milik Restonya di sana, semua susunan pekerjaannya di sana.
Resto itu terdiri dari tiga lantai, lantai pertama digunakan untuk menerima para pengunjung yang ingin makan di sana seperti biasanya. Di lantai dua disediakan untuk para pengunjung yang ingin menyewa tempat privat.
Lalu, untuk lantai tiga memang sengaja dikhususkan untuk Reina sendiri. Karena wanita itu berpikir perlu memiliki tempat pribadinya sendiri.
"Ya ampun, Sayang. Lihat deh! Ruangan kerjanya luas banget," ujar Rima seraya memandang kagum ruangan itu.
Reihan menganggukkan kepalanya tanda setuju, karena dia pun merasakan hal yang sama. Apalagi saat dulu pertama kali dia masuk ke sana, Reihan merasa jika Reina itu memang memiliki selera yang tinggi.
"Bukan hanya ruang kerjanya yang di rasa nyaman, di sebelah juga ada ruang tempat Reina biasa beristirahat. Kamu mau lihat tidak?" tanya Reihan seraya merangkul pundak kekasih hatinya itu.
"Mau," jawab Rima dengan begitu antusias.
Reihan terkekeh lalu mengajak wanita itu untuk pergi dari ruang kerja milik Reina untuk masuk ke dalam ruangan pribadi Reina, tempat yang ada di sebelah ruangan kerja wanita itu.
"Oh ya ampun, Sayang! Tempat ini sangat luar biasa," ujar Rima dengan matanya yang membulat dengan sempurna.
Di dalam ruangan tersebut sudah mirip seperti kamar impian dari Rima, ada tempat tidur yang terlihat begitu nyaman. Ada sofa empuk dan ada dua lemari juga di sana.
Lemari pertama berisikan baju-baju milik Reina, sedangkan lemari kedua berisikan buku dan juga file-file penting milik wanita itu.
Di dalam ruangan itu juga terdapat lukisan antik yang menempel di dinding, Rima bisa menebak jika harganya pasti sangat mahal.
"Ya, seleranya memang sangat luar biasa. Kita benar-benar bisa menjadi orang kaya dalam sekejap mata," ujar Reihan seraya tertawa.
"Kamu benar, untuk dua mobil milik Reina juga harus langsung balik nama, Yang. Nanti biar aku yang bantu urus deh," ujar Rima.
"Atur aja, Sayang. Aku terima beres aja," ujar Reihan.
"Uuuh! Kamu memang terbaik, Yang. Oiya, kapan kita datang ke perusahaan untuk mengundurkan diri?" tanya Rima.
"Besok pagi aja, pagi-pagi kita datang ke kantor untuk mengundurkan diri. Terus, aku pergi ke kantor untuk bekerja dan kami pergi untuk membalik nama kedua mobil milik Reina," ujar Reihan.
"Aku setuju," ujar Rima.
"Bagus kalau kamu setuju, untuk saat ini lebih baik kita mencoba kasurnya dulu. Enak dipakai atau tidak," ujar Reihan.
"Eh? Maksudnya?" tanya Rima.
Reihan tidak mengatakan apa pun lagi, dia langsung menggendong tubuh Rima dan menghempaskannya ke atas tempat tidur.