Reihan dan juga Rima tersenyum dengan penuh kepuasan, keduanya benar-benar bahagia dan juga merasa hebat karena sudah bisa menyingkirkan Reina.
Keduanya langsung pergi ke resort untuk bersenang-senang, tentunya sebelum pergi tidak lupa mereka membayar dua orang yang sudah menyiapkan makan malam romantis untuk Reihan dan juga Reina.
Saat tiba di resort, keduanya langsung masuk ke dalam kamar penginapan yang tentunya sudah Reihan pesan. Rima dengan senangnya langsung merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Lalu, wanita itu nampak menyingkap rok mini yang dia pakai. Setelah itu Rima langsung berpose dengan begitu menggoda, mata Reihan langsung membulat dengan sempurna.
Terlebih lagi ketika wanita itu membuka celana dalamnya, Reihan bahkan sampai kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.
"Kamu sangat menggoda, Sayang."
Reihan yang melihat kekasih hatinya begitu menggoda karena berpose dengan kesaksiannya di atas tempat tidur, dengan cepat pria itu menghampiri wanitanya dan merebahkan tubuhnya di samping Rima.
Rima terlihat begitu senang sekali, karena selain pria itu kini tidur di sampingnya, pria itu juga nampak mengusap-usap dadanya yang masih terbungkus rapi dengan baju yang dia pakai.
Tidak lama kemudian, tangan pria itu bahkan nampak turun untuk mengusap paha mulus wanita itu sampai ke pangkal pahanya. Reihan terlihat begitu nakal, tetapi Rima tidak marah. Justru, dia begitu menyukai hal itu.
"Kamu sangat hebat, Sayang. Kamu sangat luar biasa karena sudah menyingkirkan istri kamu sendiri," ujar Rima memuji.
Setelah mengatakan hal itu, Rima nampak memeluk Reihan dengan begitu erat. Wanita itu seolah takut akan kehilangan kekasih hatinya tersebut.
"Tentu saja aku sangat hebat, karena aku adalah pria yang akan berusaha untuk melakukan apa pun agar apa yang diinginkan segera tercapai."
Pria itu menyeringai dengan licik, tidak terlihat sama sekali jika pria itu merasa menyesal dengan perbuatannya. Tidak terlihat sama sekali kesedihan di wajah pria itu, padahal pria itu baru saja membunuh istrinya dan juga calon buah hatinya sendiri.
Di saat orang lain begitu menginginkan keturunan, bahkan sampai mengeluarkan uang ratusan juta, Reihan malah dengan sengaja membunuh calon buah hatinya yang berada di dalam perut istrinya.
Rima mengurai pelukannya dengan kekasih tercintanya itu, lalu dia naik ke atas tubuh kekasihnya. Wanita itu membungkuk dan langsung memberikan ciuman yang begitu mesra kepada Reihan.
"Kamu nggak nyesel, udah bunuh istri kamu?" tanya Rima setelah pagutan bibir mereka terlepas.
Pria itu langsung menggelengkan kepalanya, karena nyatanya dia sama sekali tidak merasa menyesal. Justru dia merasa bahagia karena sebentar lagi dia akan langsung membalik nama semua harta istrinya menjadi namanya.
Dengan seperti itu Reihan benar-benar bebas untuk menggunakan uang milik istrinya tersebut, Reihan benar-benar bebas untuk mengelola Resto milik istrinya.
"Tentu saja tidak, aku tidak pernah menyesal karena sudah membunuhnya. Lagi pula dari dulu juga kamu sangat tahu jika aku tidak pernah mencintai wanita itu," jelas Reihan.
Ya, selama ini dia bertahan dengan Reina karena harta yang dihasilkan oleh wanita itu lebih banyak daripada penghasilan dirinya di kantor, jika tidak, sudah dari awal dia tidak ingin menikah dengan wanita itu.
Walaupun wanita itu begitu membelanya dan rela meninggalkan kedua orang tuanya demi dirinya, tetapi hal itu tidak menjamin kehidupannya ke depannya akan berlangsung baik atau tidak.
"Tapi, Sayang. Di dalam perut wanita itu ada anak kamu, emangnya kamu tidak menginginkan anak?" tanya Rima.
"Tentu saja aku sangat menginginkan keturunan, aku ingin anak. Tapi hanya dari rahim kamu, udah ah jangan ngomongin dia mulu, lebih baik kita bersenang-senang malam ini."
Reihan nampak mengajak kekasih hatinya untuk memadu kasih, dia melakukannya dengan penuh hasrat. Tidak sedikit pun terlihat gugup dan juga canggung saat bercinta dengan Rima, dia itu benar-benar terlihat tidak peduli terhadap Reina.
Keduanya bahkan memadu kasih sampai hampir pagi tiba, keduanya benar-benar merupakan sepasang kekasih yang tidak mempunyai hati.
Padahal, Rima adalah seorang perempuan. Namun, dia tidak menyesal sama sekali karena sudah membantu Reihan untuk membunuh istrinya.
Bahkan, saat dia membuatkan minuman untuk Reina, Rima sengaja mencampurkan sedikit obat tidur. Hal itu dia lakukan agar Reina mengantuk, agar wanita itu susah melakukan perlawanan ketika Reihan mencoba untuk membunuh wanita itu.
"Tidurlah, Sayang. Terima kasih karena sudah membantuku selama ini, terima kasih karena sudah mencintaiku sedalam ini." Reihan mengecup bibir Rima dengan mesra setelah percintaan panas mereka selesai.
Reihan selalu saja mendapatkan kepuasan setiap kali dia bercinta dengan Rima, karena wanita itu begitu pandai dan juga lihai dalam memanjakan dan memuaskan dirinya.
Rima begitu berbeda dengan Reina, karena Reina tidak pernah mau berinisiatif untuk bermain kasar seperti Rima agar hasratnya terpuaskan. Nyatanya, Reina memang tidak punya pengalaman sama sekali.
Reihan bahkan adalah cinta pertama bagi Reina, Reihan adalah pria satu-satunya yang membuat dia jatuh cinta selain ayahnya sendiri. Karena dari kecil Reina hanya dekat dengan ayahnya saja.
"Ya," jawab Rima yang langsung memeluk Reihan dan menyadarkan kepalanya di d**a bidang pria itu.
Keduanya nampak kelelahan, hingga tidak lama kemudian keduanya terlelap dalam tidurnya. Walaupun tubuh mereka banjir dengan keringat, tetapi mereka tidak merasa risih sama sekali.
Beberapa saat kemudian.
Seorang wanita matang sedang menikmati waktu liburnya di Villa pribadinya, Villa yang sengaja dia bangun di lembah pegunungan. Jika dia merasa penat dengan pekerjaannya di rumah sakit, wanita itu akan berlibur ke Villa walaupun hanya satu atau dua hari.
Wanita matang itu tidak memiliki suami, dulu dia pernah memiliki suami tetapi diceraikan, karena ternyata wanita itu tidak bisa mengandung alias mandul.
Namun, mendapati kenyataan seperti itu dia tidak terpuruk sama sekali. Walaupun memang dia sempat bersedih dan merasa terluka, tetapi setelah itu dia begitu menikmati kehidupannya walaupun dalam kesendirian.
"Menikmati udara pagi di dekat sungai pasti sangat menyenangkan," ujarnya.
Wanita itu tersenyum dengan begitu lebar, lalu dia melangkahkan kakinya menuju sungai yang keberadaannya lumayan jauh dari Villa miliknya.
Jarak dari Villa menuju sungai itu membutuhkan waktu sekitar setengah jam dengan berjalan, tetapi dia merasa tidak masalah karena itung-itung berolahraga, pikirnya.
"Selalu saja menyenangkan jika duduk di atas batu sambil menikmati hangatnya mentari pagi," ujar wanita itu ketika tiba di sungai.
Wanita matang itu nampak mengambil ponselnya, dia menekan kamera untuk mengambil foto-foto terbaiknya. Namun, gerakannya terhenti ketika tidak jauh dari sana dia melihat ada sosok wanita yang sedang tengkurap dan tersangkut batu besar.
"Ya Tuhan! Apakah itu mayat?" tanya wanita itu dengan was-was.
Wanita itu terlihat begitu penasaran, dengan cepat dia turun dari atas batu dan menghampiri wanita yang dia sangka adalah mayat itu.
"Astaga! Tubuhnya penuh luka, wajahnya juga rusak. Apakah dia jatuh dari jurang dan terbawa arus sungai?" tanya wanita itu seraya mendekat dan mencoba untuk mengecek denyut nadinya.
Walaupun begitu takut tetapi dia memberanikan diri, dia menekan urat nadi wanita itu. Dia berharap wanita yang dia temukan masih hidup, karena dia sungguh takut jika menemukan mayat di tempat dia biasa menenangkan dirinya.
"Dia masih hidup, denyut nadinya masih ada." Wanita itu tersenyum dengan begitu lebar, lalu dia menarik tubuh wanita itu dengan perlahan-lahan menuju pinggir kali.