Reina sudah terlihat begitu cantik sekali, wanita itu menggunakan gaun malam berwarna hitam tanpa lengan dengan panjang selutut. Wanita itu juga memakai kalung berlian yang belum dia lama beli, tentunya hal itu membuat Reina terlihat semakin cantik.
Rambut wanita itu nampak disanggul, hal itu membuat leher jenjang wanita itu terekspos. Reina berpenampilan dengan begitu sempurna malam ini.
"Kita mau ke mana, Mas? Mau makan di Resto mana?" tanya Reina.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil, Reihan nampak sudah melajukan mobilnya dan hendak pergi ke suatu tempat yang dia dan Rima siapkan.
Sebenarnya di resort tersebut juga sudah ada Resto, ada swalayan dan juga ada toko pakaian. Bahkan, di sana lengkap juga dengan toko oleh-olehnya. Makanya Reina merasa heran kenapa suaminya tersebut malah mengajak dirinya untuk pergi dari resort tersebut.
"Di suatu tempat yang sangat romantis," jawab Reihan.
Reihan dan juga Rima sengaja menyiapkan sebuah tempat yang begitu romantis tidak jauh dari tepi jurang, hal itu mereka lakukan agar bisa lebih mudah untuk menjalankan rencana keduanya.
"Kamu pasti sibuk nyiapin itu untuk kita," ujar Reina dengan senyum yang merekah di bibirnya.
Selama mereka menikah Reihan memang selalu bersikap romantis dengan kata-katanya yang terdengar begitu manis, tetapi pria itu tidak pernah menyiapkan hal yang indah untuk dirinya.
Apalagi sampai mengajak dirinya untuk pergi jalan-jalan seperti ini, tetapi Reina tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Karena yang terpenting baginya, keduanya saling mencintai dan mengasihi.
"Aku ngga sibuk kok, cuma minta sama temen aja buat nyiapin semuanya. Biar kamu seneng," jawab Reihan.
Reihan mengulurkan tangannya, lalu dia mengusap-usap paha mulus istrinya. Reina tersenyum lalu memeluk lengan Reihan dan menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.
"Makasih ya, Sayang. Aku sangat senang," ujar Reina.
"Ya," jawab Reihan dengan seringai licik di bibirnya.
Cukup lama mereka melakukan perjalanan, hingga tidak lama kemudian Reihan memberhentikan mobilnya tepat di sebuah Jalan yang begitu sepi.
"Ini kok sepi banget sih, Mas?" tanya Reina.
"Sengaja, Yang. Biar romantis, ayo aku tunjukkan." Reihan dengan cepat turun dari mobil, lalu dia membukakan mobil untuk Reina.
"Terima kasih, Sayang."
Reina merasa hatinya ketar-ketir, bahkan tiba-tiba saja dia merasakan ketakutan yang luar biasa. Karena ini pertama kalinya dia datang ke tempat yang begitu sepi dan terasa menyeramkan.
Namun, dia datang bersama dengan suami tercintanya. Bahkan, suaminya sendiri yang mengajak dirinya pergi ke sana. Reina mencoba untuk berpikir positif, karena rasanya tidak mungkin suaminya itu melakukan hal yang tidak tidak terhadap dirinya.
"Kita akan makan malam di sini, Sayang."
Reihan menuntun istrinya tersebut ke sebuah saung yang ada di sana, di saung itu sudah ada makanan yang Reina suka.
Saung itu bahkan sudah disulap menjadi tempat yang begitu romantis, banyak lilin di setiap pojok saung itu. Ada juga lampu-lampu kecil yang membuat saung itu terlihat terang dengan cahaya yang temaram.
"Ini sangat indah, Sayang," ujar Reina ketika dia duduk dan memperhatikan saung tersebut yang terlihat begitu indah.
Tidak jauh dari sana ada dua orang pria yang sedang membakar ikan, ada juga seorang perempuan yang sedang membuatkan minuman untuk Reina dan juga Reihan.
Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Rima, kekasih dan juga wanita yang akan membantu Reihan untuk membunuh Reina malam ini.
"Lebih indah lagi kalau kita menengadahkan wajah kita," ujar Reihan.
Reina menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut, dia menang mengadakan wajahnya dan tidak lama kemudian dia tersenyum karena melihat cahaya bulan yang begitu terang.
Bahkan, Reina masih bisa melihat taburan bintang-bintang yang menghiasi angkasa. Ternyata suasana ibu kota dengan suasana puncak sangat berbeda.
"Iya, Sayang. Kamu benar, sangat indah." Reina menggenggam tangan suaminya, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah Reihan dan tersenyum dengan manis.
"Sekarang kita makan malam aja dulu, Yang. Setelah itu aku akan mengajak kamu untuk menikmati keindahan malam ini," ujar Reihan.
"Ya, Sayang," jawab Reina.
Pada akhirnya Reina dan juga Reihan menikmati acara makan malam romantis mereka, Reina begitu bahagia diperlakukan seperti itu oleh Reihan.
Tidak lama kemudian seorang wanita datang menyiapkan minuman dan juga makanan penutup, Reina tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
''Terima kasih," ujar Reina.
"Sama-sama," jawab Rima.
Reina menatap puding buah yang terlihat begitu menggugah selera, lalu dia mencicipi puding buah tersebut.
"Enak, Mas. Ini sangat enak," ujar Reina.
"Makanlah, Sayang. Buat kamu semua," ujar Reihan.
Reina yang begitu senang langsung menghabiskan puding buah tersebut, Reihan kembali menyeringai licik.
"Ayo kita nikmati keindahan alam malam ini, Sayang." Reihan mengajak Reina untuk turun dari saung.
Lalu, dia mengajak Reina untuk pergi ke tepian jurang, jurang yang terlihat begitu dalam. Awalnya Reina sempat menolak, tetapi saat melihat keindahan alam yang nampak tidak jauh dari jurang itu, Reina pun akhirnya mau berdiri di sana.
"Lihatlah, Sayang. Dari sini kita bisa melihat indahnya puncak," ujar Reihan.
"Indah sih, tapi nyeremin, Yang."
Reina mengusap lengannya, tiba-tiba saja dia merasa bulu kuduknya merinding semua. Suasananya terlihat begitu indah tetapi juga menyeramkan.
"Sekali-kali, Yang." Reihan semakin menuntun istrinya agar lebih mendekat ke arah jurang.
"Yang, serem ih!" ujar Reina.
Di sana bahkan banyak bebatuan dari mulai yang kecil sampai yang besar, Reina mulai merasa tidak nyaman.
"Ada aku, Sayang. Ada aku yang akan membantu kamu untuk melihat jurang itu," ujar Reihan.
Dahi Reina nampak berkerut dalam, bukankah pria itu berkata akan membawa dirinya untuk melihat keindahan. Lalu, kenapa sekarang pria itu malah berkata akan membantu Reina untuk melihat jurang dalam tersebut, pirkirnya.
"Eh? Maksudnya?" tanya Reina yang tidak paham dengan maksud dari suaminya itu.
"Jadi begini, Sayang. Selama ini aku memang sengaja mendekati kamu karena ingin menjadi bagian dari keluarga kamu, sayangnya ayah kamu menolaknya. Awalnya aku tidak apa-apa, tapi karena kamu hamil, aku pun jadi berpikir untuk menyingkirkan kalian."
Reihan pada akhirnya berbicara dengan begitu jujur kepada istrinya, Reina merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh kekasih hatinya tersebut. Walaupun Reihan berbicara dengan begitu serius, tetapi dia tidak percaya jika suaminya itu mengatakan hal yang tidak pantas seperti itu.
"Kamu tuh ngomong apa sih? Maksudnya apa?" tanya Reina semakin tidak paham.
"Intinya, aku mendekati kamu karena ingin mendapatkan harta yang banyak. Bukan karena mencintai kamu," jawab Reihan.
Reina menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya jika Reihan mampu melakukan hal itu. Reihan tersenyum melihat reaksi dari istrinya, Reina tiba-tiba saja merasa pusing kepalanya ketika melihat senyum dari bibir suaminya tersebut.
"Tidak mungkin, Mas. Kamu pasti berbohong, kan?" tanya Reina dengan perasaan yang mulai resah.
Apalagi saat melihat seringai aneh di bibir suaminya, rasanya Reina ingin segera berlari dari sana. Tiba-tiba saja dia merasa tidak enak hati dan seakan ada yang berbisik jika dia harus berlari dari sana.
"Tidak, Sayang. Tentu saja aku tidak bohong, karena nyatanya aku memang tidak pernah mencintai kamu. Apa yang sudah terjadi di antara kita, hanya karena aku sudah terlanjur mendekati kamu."
"Mas! Aku ngga percaya, kamu pasti sedang berbohong. Ini tidak mungkin," ujar Reina.
"Sangat mungkin," ucap Reihan yang tiba-tiba saja dengan begitu kencang mendorong wanita itu.
"Argh!" teriak Reina yang jatuh tersungkur tapi masih bisa bertahan karena tangannya berpegangan pada akar pohon.
"Ck! Kenapa malah bisa bertahan?" tanya Reihan dengan kesal.
"Mas! Jangan lakukan ini kepada kami, tolong bantu aku untuk keluar dari sini." Reina terlihat begitu ketakutan, keringat bahkan sudah membasahi seluruh wajahnya.
Namun, Reihan seolah tidak peduli dengan permohonan dari istrinya tersebut. Pria itu malah mencari kayu dan memukul tangan wanita itu.
"Sakit, Mas. Tolong jangan lakukan ini, aku mohon. Setidaknya jika kamu tidak mencintai aku, tolong jangan bunuh aku demi calon buah hati kita." Reina nampak memohon.
Sayangnya Reihan tidak mempunyai belas kasihan, dia kembali memukul tangan Rena sampai berdarah. Hingga tidak lama kemudian dia merasa lemas dan tidak bisa berpegangan lagi pada akar pohon tersebut.
"Mas!" teriak Reina yang semakin lama suara wanita itu hilang seakan ditelan bumi.
"Bagus! Sangat bagus, kamu sudah berhasil membunuh wanita itu." Rima yang sejak tadi bersembunyi di balik pohon langsung menghampiri Reihan dan memeluk pria itu.
"Kamu sangat pandai, Sayang. Ayo kita bersenang-senang, aku yakin wanita itu tidak akan selamat. Karena jurang ini sangat dalam," ujar Rima.
"Ya, Sayang," jawab Reihan seraya tersenyum dengan begitu bangga karena sudah bisa menyingkirkan istrinya.