Bab 3

1182 Words
Setelah puas bercinta dengan Rima, Reihan memutuskan untuk segera pulang ke kediamannya bersama dengan Reina. Lebih tepatnya rumah yang sudah Reina beli dengan hasil jerih payahnya. Tentunya sebelum pulang Reihan selalu mandi terlebih dahulu dan bahkan mengganti pakaiannya, hal itu dia lakukan agar istrinya tidak curiga jika dia sudah bercinta terlebih dahulu bersama dengan Rima. Jika Reina bertanya kenapa Reihan pulang berbeda bajunya dengan baju yang dia kenakan tadi pagi, Reihan selalu beralasan jika hal itu dia lakukan karena sengaja. Sengaja dia mandi dan berganti baju di kantor agar tidak bau setelah seharian bekerja, dia tidak mau membuat istrinya kebauan karena ulahnya. Jika sedang berbicara mulut pria itu memang terdengar begitu manis sekali, bahkan wajah pria itu tidak terlihat sedang berbohong. Karena Reihan begitu pandai memainkan mimik muka. Saat Reihan pulang, ternyata dia tidak melihat istrinya. Bahkan, saat dia mencari istrinya ke kamar utama ternyata Reina tidak ada di sana. Saat bertanya kepada pelayan, ternyata istrinya tersebut sedang berada di taman belakang. Reihan sempat merasa aneh, kenapa istrinya bisa berada di tangan belakang, padahal hari sudah malam. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, seharusnya wanita itu seperti biasanya menunggu dirinya di ruang tamu dan langsung mengajaknya untuk makan malam. Reihan langsung melangkahkan kakinya menuju taman belakang, dia bisa melihat sendiri jika istrinya sedang duduk di salah satu bangku taman tersebut. Reihan menghampiri istrinya dan duduk tepat di samping wanita itu. "Yang, kenapa jam segini malah di luar? Kalau kamu sakit kena angin malam gimana, Yang?" tanya Reihan seraya memeluk istrinya. Ck! Pria itu bukan hanya bermulut manis saja, tetapi kelakuannya juga benar-benar sangat bisa membuat Reina terkecoh dengan sikap asli dari pria itu. "Baru juga aku duduk sebentar, lagi ngadem." Reina membalas pelukan Reihan, lalu dia menyandarkan kepalanya di d**a bidang suaminya. Nyaman sekali rasanya jika dia setiap kali memeluk pria itu, terlebih lagi dia sudah memercayai pria itu dengan seluruh jiwa dan raganya. "Kamu kenapa sih, Yang? Kok kaya orang sedih gitu?" tanya Reihan. Reihan nampak memerhatikan wajah istrinya, wajah wanita itu tidak seceria biasanya. Ada raut sendu yang Reihan baca, entah karena apa Reihan tidak tahu. "Aku hanya sedang kepikiran mimpi tadi siang saja," jawab Reina. Reihan terkekeh mendengar jawaban dari istrinya, lalu dia mengusap puncak kepala istrinya tersebut dengan begitu lembut. "Mimpi itu hanya bunga tidur, nggak usah dipikirin." Reina mengurai pelukannya, lalu dia menatap wajah suaminya dengan lekat. Tangan Reina bahkan terulur untuk mengusap pipi Reihan dengan lembut, pria yang sudah menjadi suaminya selama dua tahun. "Tapi, Yang. Mimpinya kaya nyata banget, masa aku mimpi ada orang yang bertubuh tinggi besar tiba-tiba saja mendorong aku ke jurang. Aku takut banget, Yang. Tapi, herannya aku malah masuk ke alam yang aku ngga tau itu di mana," adu Reina. Jantung Reihan sempat berdebar dengan begitu kencang, karena nyatanya dia dan juga Rima memang sudah merencanakan pembunuhan istrinya tersebut. Mungkin Reina sudah mendapatkan alamat lewat mimpinya, jika wanita itu akan dibunuh oleh dirinya dan juga Rima. "Sudahlah, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan, itu hanya mimpi saja. Mungkin kamu itu terlalu lelah bekerja, bagaimana kalau weekend nanti kita jalan-jalan ke puncak?" ujar Reihan yang kembali memeluk tubuh istrinya tersebut. Inilah saatnya untuk mengutarakan maksudnya kepada Reina, mengajak istrinya untuk pergi jalan-jalan. Namun, nyatanya ada sesuatu hal di balik ajakan dari Reihan tersebut. Reina mengurai pelukannya dengan suaminya, lalu dia menatap wajah suaminya dengan lekat. Mereka memang jarang sekali berlibur, sepertinya ini adalah saatnya mereka menikmati kebersamaan mereka berdua. "Boleh juga, Yang. Aku mau," jawab Reina. Senyum di bibir Reihan semakin mengembang, dengan berkata iya saja Reihan sudah merasa jika rencananya akan berjalan dengan begitu lancar. "Kalau begitu, Jum'at sore kita jalan. Biar malamnya udah ada di sana, malam Senin kita pulang. Bagaimana?" Reina langsung menganggukan kepalanya tanda setuju, karena sepertinya pergi di saat sore hari menuju malam itu akan lebih baik. Tidak akan panas, terlebih lagi memang mereka pergi ke daerah yang memiliki cuaca dingin. "Boleh, tapi aku mau kamu memesan sebuah resort yang ada di pegunungan. Enak kayaknya, bisa menyatu dengan alam yang indah dan juga menyegarkan." 'Ya, Reina. Setelah aku membunuh kamu, kamu akan benar-benar menyatu dengan alam.' "Boleh, Sayang. Kamu serahin aja semuanya sama aku, untuk biayanya juga kamu nggak usah pikirin. Aku yang akan menanggung semuanya dengan uang tabunganku," ujar Reihan. "Aih! Seriusan?" tanya Reina. "Iya dong, Sayang. Masa aku bohong," jawab Reihan. "Ah! Jadi makin cinta sama kamu," ujar Reina yang langsung kembali memeluk suaminya dengan penuh cinta. Berbeda dengan Reihan, pria itu langsung menyeringai licik karena malah terbersit di otaknya untuk mendorong wanita itu ke jurang saat berada di resort nanti. Dia akan mencari tempat yang tepat untuk membunuh istrinya tersebut, setelah kematian dari istrinya itu dia bisa menguasai semua harta istrinya. Beberapa hari kemudian. Pukul lima sore Reihan sudah ada di rumah, sepulang bekerja dia sengaja langsung pulang agar bisa cepat pergi ke puncak bersama dengan istrinya. "Semua barang sudah kamu masukin mobil, Mas?" tanya Reina. Kini keduanya sedang berada di dalam mobil, Reihan sudah menyalakan mesin mobilnya. Reina sudah duduk manis di samping suaminya tersebut. "Sudah, Sayang. Kalau ada yang kurang nanti kita beli di sana aja," jawab Reihan. "Oke," ujar Reina dengan wajahnya yang begitu sumringah karena dia akan pergi jalan-jalan. Pada akhirnya Reihan melajukan mobilnya menuju puncak, selama perjalanan menuju puncak dia terus saja tersenyum karena membayangkan apa yang sudah dia rencanakan akan terlaksana. Begitupun dengan Reina, wanita itu terus saja tersenyum seraya memeluk lengan suaminya. Sesekali dia akan menolehkan wajahnya ke arah Reihan dan menatap wajah pria itu dengan penuh cinta. Pukul tujuh malam mereka sudah tiba di tempat tujuan, dengan cepat Reihan menuntun istrinya untuk masuk ke dalam resort pilihannya. "Silakan masuk, Sayang. Ini kamar yang sudah aku pesan untuk kita," ujar Reihan seraya membuka pintu kamar penginapan yang sudah dia pesan. "Kamarnya bagus banget, Sayang. Lega banget," ujar Reina. Reina langsung masuk dan berkeliling di dalam kamar tersebut, tidak lama kemudian dia membuka jendelanya dan tersenyum dengan begitu lebar. "Lihatlah, Sayang. Pemandangannya bagus banget tahu kalau dilihat dari sini, kamu tau banget deh yang aku inginkan. Makin sayang," ujar Reina yang langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya. Udara yang dingin disertai dengan pepohonan yang rindang membuat Reina merasa tenang berada di sana, apalagi adanya sinar rembulan yang menerangi, hal itu membuat pepohonan yang ada di sana terlihat lebih indah lagi. "Kamu suka?" tanya Reihan. "Sangat," jawab Reina. "Sekarang kamu mandi aja dulu, abis itu kita makan malam." Reihan mengurai pelukannya, lalu menuntun istrinya untuk masuk ke dalam kamar mandi. "Ngga mandi bareng?" tanya Reina ketika melihat Reihan yang hendak menutup pintu kamar mandi tersebut. "Jangan macem-macem, Sayang. Aku bukannya tidak mau mandi bareng, tapi nanti pasti aku malah minta yang lain. Kasian kamu sama baby kita, mending mandinya sendiri-sendiri aja. Biar bisa cepat pergi ke Resto yang sudah aku pesan," jawab Reihan. Duh! Hati Reina benar-benar berbunga mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, karena dia merasa jika suaminya itu begitu pengertian dan juga perhatian. "Oke, Sayang," jawab Reina. Reihan menutup pintu kamar mandi itu, lalu dia menatap pintu kamar mandi itu dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan. 'Mandilah dengan tenang, karena nanti malam Kamu tidak akan lagi mendapatkan ketenangan.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD