Bab 2

1002 Words
Reihan merasa jika hari ini dia tidak bisa fokus dalam bekerja, karena dia terus saja teringat akan kehamilan istrinya. Kehamilan yang tidak pernah dia inginkan. Pada saat jam istirahat tiba, Reihan menyempatkan waktu untuk menemui Rima. Wanita yang sudah menjadi kekasih dari Reihan sejak mereka duduk di bangku SMA. Keduanya bahkan kini bekerja di tempat yang sama, jika sedang berada di dalam kantor mereka seperti tidak saling mengenal. Sesekali mereka akan bertegur sapa seperti layaknya karyawan lainnya. Namun, jika setelah mereka pulang bekerja, Reihan akan pergi ke kostan milik Rima. Mereka akan menyempatkan waktu untuk memadu kasih, atau hanya sekedar mengobrol dan melepas penat. Rima sengaja ngekost di tempat yang bebas, hal itu dia lakukan agar Reihan bebas keluar masuk ke dalam kostnya. "Kamu kenapa sih? Tumben banget ngajak aku ketemuan di kantin, nanti gimana kalau ada orang yang curiga tentang hubungan kita?" tanya Rima. Reihan nampak mendekatkan wajahnya ke arah wanita itu, lalu pria itu pun berbisik tepat di cuping telinga wanita itu. "Abisnya aku udah nggak sabar pengen bilang sama kamu kalau Reina hamil," bisik Reihan. Rima sampai membulatkan matanya dengan tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Reihan, dia bahkan sampai menutup mulutnya karena takut berteriak karena kaget. "Reina hamil? Bagaimana bisa?" tanya Rima. Kesal rasanya mendengar wanita yang menjadi saingannya itu kini tengah hamil, karena jujur saja dia takut jika Reihan tidak akan bisa melepaskan Reina jika wanita itu hamil. "Entahlah!" jawab Reihan seraya menggedikkan kedua bahunya. Rima sampai menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Reihan, dia tidak percaya jika Reihan tidak paham bagaimana caranya istrinya bisa hamil. Karena memang keduanya sepakat untuk memberikan Reina pil KB, tetapi mereka memasukkan pil KB tersebut ke dalam botol vitamin yang biasa dikonsumsi oleh Reina. "Pulang langsung kek kostan aku, kita bahas masalah ini nanti," ujar Rima yang tidak mau ada orang yang sampai mengetahui kedekatannya dengan Reihan. "Hem!" jawab Reihan dengan deheman saja. Selain karena Reihan sudah menikah dengan Reina, dia juga tidak mau sampai dipecat dari perusahaan tersebut. Karena peraturan perusahaan tidak boleh ada karyawannya pria dan wanita yang berpacaran. Apalagi di antara laki-laki dan perempuan itu sampai menikah. Selepas makan siang, Reihan kembali bekerja. Pria itu merasa sedikit lebih tenang setelah membicarakan hal itu dengan kekasihnya, dia lumayan bisa fokus dengan pekerjaannya. Di saat Reihan sedang fokus berkutat dengan pekerjaannya, ada satu pesan chat yang masuk dari istrinya. Reihan sampai menghela napas kasar, tetapi tetap saja dia membaca pesan chat dari istrinya tersebut. "Kalau bisa pulangnya jangan telat, ya. Aku masak yang spesial malam ini, itung-itung merayakan kehamilan aku." Membaca kata hamil membuat Reihan mual, dia benar-benar tidak suka mendengar kehamilan istrinya tersebut. Jika saja bisa, sepulangnya dia ke rumah, ingin rasanya memberikan obat penggugur kandungan pada makanan yang akan dikonsumsi oleh istrinya. Namun, walaupun wajahnya terlihat begitu kesal, tetap saja Reihan mengirimkan pesan chat yang selalu mampu membuat Reina semakin mencintai pria itu. "Aku usahakan akan pulang jam tujuh, sayang kalian selalu. Kerjanya jangan terlalu cape, takut baby kita kenapa-napa." Reihan nampak meluah setelah menuliskan pesan chat seperti itu kepada istrinya, karena terus terang saja dia merasa mual setelah menuliskan pesan chat itu. "Ya, Sayang." Itulah pesan balasan dari istrinya, bahkan banyak emot love yang dikirimkan oleh istrinya kepada Reihan. Pria itu bahkan terlihat hampir muntah. "Ck! Menyebalkan!" ujar Reihan yang kembali fokus dalam bekerja. Walaupun Reihan merasa jika melalui hari ini dengan begitu lama, tetapi pada akhirnya sore hari pun tiba juga. Pukul empat sore dia langsung pergi ke kostan sang kekasih hatinya. "Yang! Gimana ini?" tanya Reihan yang langsung memeluk kekasih hatinya dan menyandarkan kepalanya pada d**a wanita itu. "Justru seharusnya aku yang bertanya, kenapa dia bisa hamil? Apa kamu lupa mengganti vitamin istrimu itu dengan pil KB?" tanya Rima. "Ngga lupa kok, serius!" ujar Reihan. "Bagaimana kalau kita bunuh Reina saja, setelah itu kamu balik nama semua aset berharga milik wanita itu." Rima sengaja mengusulkan hal tersebut, karena dia sudah tidak tahan melihat pujaan hatinya harus tinggal satu atap dengan istrinya. Terlebih lagi kini Reina tengah mengandung, Rima aku jika perasaannya pria itu akan goyah. Bisa bahaya jika Reihan nantinya benar-benar akan meninggalkan dirinya karena memilih anak dan juga Istrinya. "Bunuh bagaimana? Bukankah rencana awalnya kita hanya mencuri semua aset berharga milik wanita itu?" tanya Reihan yang tidak paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Rima. Sebenarnya jika untuk membunuh istrinya, Reihan tidak begitu setuju. Karena bagaimanapun juga wanita itu sering memberikan kenikmatan kepada dirinya. Bahkan, selama berpacaran dan berumah tangga dengan dirinya, Reina selalu melayani dirinya dengan penuh cinta. "Kalau kita tidak melenyapkan wanita itu dan juga kandungannya, akan sangat sulit untuk mendapatkan aset berharga milik wanita itu." Rima terlihat menatap Reihan dengan tatapan penuh protes, Reihan langsung paham dengan keinginan dari wanitanya. "Hem! Kamu benar juga, bagaimana cara membunuh wanita itu?" tanya Reihan. "Bagaimana kalau malam Sabtu nanti kamu ngajakin dia ke puncak? Nanti kita jalankan rencana pembunuhan di sana," usul Rima. "Caranya?" tanya Reihan. Rima nampak mencondongkan tubuhnya ke arah sampai kekasih hatinya, lalu wanita itu berbisik tepat di telinga Reihan. Tidak lama kemudian, Reihan nampak tersenyum dengan seringai licik di bibirnya. Dia sangat setuju dengan usulan dari kekasih hatinya tersebut. "Boleh, Yang. Ide kamu sangat brilian, sebagai ucapan terima kasih aku karena kamu sudah memberikan ide terbaik, aku akan memuaskan kamu saat ini." Rima langsung mencebikkan bibirnya mendengar apa yang dikatakan Reihan, karena itu bukanlah hadiah, tetapi memang pria itu terlihat sangat menginginkan dirinya sejak tadi. "Boleh, Sayang. Tapi ingat, kamu harus cepat-cepat membuat surat peralihan harta milik Reina atas nama kamu," ujar Rima. Reihan menganggukan kepalanya mendengarkan perkataan dari wanita itu, karena itu memang sudah dia rencanakan semenjak melihat usaha yang dilakoni oleh istrinya itu berkembang dengan pesat. "Ya, Sayang. Tenang aja, tapi untuk saat ini aku mau kamu dulu." Reihan langsung mengusap bibir wanita itu, tidak lama kemudian Reihan nampak menyatukan bibirnya dengan bibir Rima. Ciuman panas pun langsung terjadi. Tentunya, percintaan panas yang selalu dilakukan oleh Rima dan juga Reihan terjadi kembali. Di dalam kamar kost itu, hanya terdengar erangan penuh kenikmatan yang bersahutan dari bibir keduanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD