Janji Suci

1011 Words
Enam bulan kemudian. Vila mewah di Tuscany, Italia, dan ruang tamu Penthouse. ​Satu tahun setelah perjanjian berakhir, Sal menepati janjinya. Pernikahan kedua di sebuah vila pribadi di Tuscany. Tidak ada Capo Mafia, tidak ada politik, hanya mereka berdua, Marco, Lucio, dan seorang pendeta. ​Saat mereka berdiri di altar bunga mawar, Sal memegang tangan Isabella. Dia mengenakan tuksedo, tampak agung dan menawan, namun matanya dipenuhi kerentanan yang hanya diperlihatkannya pada Isabella. ​"Aku menahan mu di sini, Bella, bukan karena hutang," bisik Sal, suaranya bergetar. "Aku menahan mu karena kau adalah kehormatanku yang sebenarnya. Aku ingin berlutut dan meminta maaf atas setiap sentuhan yang ku paksakan padamu dulu. Hari ini, aku bersumpah, ini adalah pernikahan kita, yang didasari oleh pilihanmu." ​Isabella tersenyum, air mata menetes di pipinya. "Aku tahu, Sal. Aku memilih ini. Aku memilihmu. Aku memilih menjadi mahkota di kepalamu, bukan rantai di kakimu. Sekarang, cium aku, Giudice." ​Ciuman itu lembut, suci, dan penuh janji. Setelah upacara, Marco dan Lucio memeluk Isabella erat-erat. Marco, yang sudah remaja, berbisik. "Terima kasih sudah memilih Ayah lagi, Mama Bella." Air mata Isabella tumpah. Dia telah memenangkan keluarga itu. "Sekarang kita akan menjadi pasangan yang saling menghargai. Kau jangan kasar dan arogan lagi. " "Tentu sayang, aku hanya kasar di ranjang kita," bisik Sal membuat semburat merah di pipi Bella. ​Beberapa bulan kemudian, di penthouse New York, Isabella menyiapkan makan malam. Dia menunggu momen yang tepat. ​"Aku punya berita, Sal," kata Isabella saat mereka duduk. "Aku sudah memeriksakan diri. Aku hamil." ​Sal menjatuhkan pisau dan garpunya. Matanya yang biasanya dingin melebar, dipenuhi syok, lalu luapan kegembiraan dan teror. ​"Hamil?" Sal bangkit, menarik Isabella ke pelukannya, menciumnya dengan intens. "Pewaris! Bella, kau..." ​Seketika, kegembiraan Sal beralih menjadi kegelisahan. Dia mulai mondar-mandir, mengeluarkan ponselnya. ​"Kita butuh sepuluh pengawal lagi," kata Sal, nadanya kembali menjadi perintah. "Kau tidak akan keluar dari penthouse ini. Kau tidak akan pergi ke Giordano Holdings lagi. Aku akan mengatur dokter untuk datang ke sini. Anak ini tidak boleh disentuh siapa pun! Dia adalah pewaris!" ​Isabella menarik tangannya, amarahnya muncul. "Hentikan, Sal! Kau kembali menjadi Giudice yang paranoid!" ​"Aku seorang ayah, Bella!" bentak Sal, ketakutannya tulus. "Kau hamil pewaris, di tengah-tengah perang yang hampir dimulai Moretti! Aku tidak bisa mengambil risiko!" ​"Justru itu risikonya!" balas Isabella, suaranya tegas. "Kau merantai aku lagi? Setelah semua janji di Tuscany? Anak ini bukan milikmu sendiri, Sal! Dia milik kita, dan aku akan melindunginya dengan caraku sendiri. Jangan pernah berpikir untuk mengunci aku lagi. Atau kau akan kehilangan kami berdua." ​Sal menatapnya, terkejut. Dia menyadari ia hampir merusak kepercayaan yang baru ia peroleh. Dia menghela napas, merosot kembali ke kursinya. ​"Maaf, Bella. Aku hanya..." Sal mengusap wajahnya. "Aku takut. Anak ini adalah kelemahan terbesarku. Tapi kau benar. Aku berjanji, aku tidak akan mengunci mu. Kita akan melindunginya, bersama." ​Isabella mengangguk. Dia mencintai pria yang takut itu, pria yang kini mengizinkannya untuk memimpin dalam masa krisis. Mereka berdua tahu, masa depan mereka akan diuji, dan ancaman baru. Riccardo dari Moretti sudah menunggu di luar sana. *** Sejak berita kehamilan Isabella, seluruh penthouse Giordano terasa seperti benteng. Sal telah menempatkan pengawal baru, tetapi yang paling utama, ia telah menyerahkan kendali keamanan kepada Nico, yang kini hanya melapor kepada Isabella untuk urusan harian. Ini adalah tanda nyata bahwa Sal memegang janji untuk menjadikan Isabella setara. ​Satu bulan berlalu dalam ketenangan yang menipu, hingga suatu pagi, Isabella dan Sal dipanggil ke ruang komite keamanan. Nico berdiri di depan layar, wajahnya lebih serius dari biasanya. ​"Kita punya masalah, Capo," lapor Nico, menunjuk ke foto buram di layar. Foto itu menunjukkan seorang pria berkepala plontos dan berwajah dingin, sedang duduk di kafe persis di seberang sekolah menengah Marco. "Namanya Riccardo. Dia adalah letnan kunci Don Moretti." ​Sal menegang. "Moretti? Dia berani..." ​"Dia tidak berani menyerang langsung," potong Isabella, mendekati layar, otaknya mulai bekerja. "Itu akan memicu perang total yang merugikan mereka. Riccardo di sini untuk mengintai, Sal. Dia mencari titik lemah. Dan kita baru saja memberinya titik lemah terbesar: anak-anak." ​Nico mengangguk. "Tepat, Nyonya. Dia mengikuti Marco dan Lucio selama seminggu ini. Dia tidak mencoba mengganggu hanya memetakan rutinitas mereka." ​Amarah Sal meledak. Dia membanting tangannya ke meja, membuat cangkir kopi bergetar. "Aku akan mencarinya! Aku akan mengirim orang-orang ku dan menghancurkannya sekarang juga! Aku akan mengirim pesan kepada Moretti!" ​"Tidak!" teriak Isabella, suaranya tajam dan tegas, memotong ledakan Sal. "Itu yang dia inginkan! Kekerasan yang impulsif! Itu akan membuktikan pada Moretti bahwa kita panik dan mudah ditebak. Kita akan bermain dengan kepalanya, bukan dengan pistol mu, Sal. Kau berjanji." ​Sal menarik napas dalam-dalam, berusaha keras mengendalikan dirinya. Matanya menunjukkan konflik batin yang besar antara insting Bos lamanya dan janjinya pada Isabella. ​"Baiklah," desah Sal, menyandarkan diri. "Aku tidak akan mengirim timku. Tapi apa rencana kita, Bella? Aku tidak akan membiarkan b******n itu mendekati anak-anakku, atau anak kita." ​Isabella mengambil alih kendali ruangan, menunjuk ke layar. "Riccardo datang ke sini untuk tujuan ganda. Pertama, mengganggu kita. Kedua, pasti ada agenda finansial yang dia sembunyikan. Dia tidak hanya mengintai anak-anak, dia mengawasi bisnismu. Nico, lacak semua arus dana mencurigakan yang masuk dari Sisilia dalam enam bulan terakhir. Cari transaksi besar yang menggunakan shell company." ​"Dan aku?" tanya Sal, nadanya sedikit sarkastis. "Aku hanya duduk di sini dan minum kopi sementara dia mendekati anak-anakku?" ​"Tidak, Sal," jawab Isabella, melembutkan suaranya. "Kau akan menjadi umpan. Tunjukkan pada Riccardo bahwa kita sibuk dengan Giordano Holdings yang besar. Kita akan memancingnya ke dalam intrik keuangan. Dan aku, aku akan menggunakan apa yang kutemukan di Napoli. Aku akan menggunakan jaring laba-laba Sofia Mancini untuk menangkap Riccardo." ​Isabella menyadari bahwa Riccardo mungkin menggunakan celah yang ditinggalkan Sofia. Ia memiliki semua arsip Sofia. Mereka akan membalikkan permainan, menggunakan kejahatan korporat untuk menjebak Mafia. Sal menatap Isabella, senyum tipis, bangga, dan sedikit takut muncul di wajahnya. ​"Kau benar-benar mahkotaku," bisik Sal, melangkah dan mencium dahi Isabella. "Lakukan, Bella. Tapi jika Riccardo menyentuh salah satu dari kalian... janji kita batal. Aku akan menghancurkan Sisilia."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD