Akhir dari Perjanjian

1055 Words
Perjalanan pulang Isabella terasa dingin dan sunyi. Dia tiba di New York pada malam hari, langsung menuju penthouse Sal, tanpa memberitahu siapa pun. Dia ingin menghadapi Sal sendirian, tanpa pengawal, tanpa saksi. Dia memegang flash drive kecil yang berisi bukti yang dapat menghancurkan kerajaan Giordino kunci kebebasannya. ​Ketika Isabella memasuki penthouse, dia menemukan Sal sendirian di ruang kerja, dalam kegelapan total, hanya diterangi oleh lampu layar monitor di mejanya. Udara terasa berat dengan ketegangan. Sal pasti sudah menerima pesan darinya dan laporan dari Nico yang berhasil meloloskan diri dan pasti sudah kembali. ​Sal tidak bergerak, tetapi matanya yang tajam menatap Isabella, mengunci dirinya dengan pandangan yang penuh amarah, kelelahan, dan rasa frustrasi yang mendalam. ​"Kau kembali," desis Sal, suaranya rendah dan berbahaya. "Kau meninggalkan Nico dalam kekacauan dan membuat laporan palsu. Kau mempertaruhkan nyawamu." ​"Aku tidak mempertaruhkan nyawaku," balas Isabella, melangkah maju. Nada suaranya tenang, dingin, dan penuh otoritas yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. "Aku mempertaruhkan hidupku, Sal. Dan aku menang." ​Sal bangkit dari kursinya. Dia berjalan mengitari meja, menyusul Isabella. Ini adalah momen yang paling berbahaya; puncak dari permainan kekuasaan mereka. ​"Kau mencari kebebasan," kata Sal. "Kau mengambil kunci Adriana, bukan? Katakan padaku, apa yang kau temukan? Uang? Kesalahan kecil dalam pembukuan?" ​Isabella menarik napas dalam-dalam. Dia tidak memberinya kunci. Dia memberinya bom kematian. ​"Aku menemukan pengkhianatan, Sal," jawab Isabella. "Bukan kesalahan, tapi pengkhianatan dari orang yang kau anggap setia." ​Isabella mengeluarkan flash drive itu dan melemparkannya ke atas meja Sal. Drive itu berputar sebentar sebelum terdiam. "Itu bukan sekadar kesalahan. Itu adalah skema korupsi besar yang dilakukan oleh Sofia Mancini dan jaringan yang ia bangun menggunakan nama Adriana. Skema itu mencuri dari Trust anak-anakmu dan menghubungkan Giordano Holdings dengan politisi yang sekarang rentan. Bukti itu ada di sana." ​Sal membeku. Matanya tidak beralih dari flash drive itu. Pikirannya, yang selalu kalkulatif, pasti sudah berlari ratusan mil per jam, menghitung risiko yang diungkapkan Isabella. Ancaman dari luar yang selama ini ia takutkan, ternyata adalah ancaman dari dalam, yang ia buta karena keangkuhan dan obsesinya. ​"Kau tidak bisa membohongiku, Bella," kata Sal, tetapi ada keraguan di suaranya. ​"Aku tidak berbohong," balas Isabella. "Sofia menjebakku di Napoli. Dia ingin aku ditangkap agar dia bisa mengklaim bahwa aku adalah pengkhianat. Aku mempertaruhkan nyawaku di Napoli untuk membawakanmu kebenaran yang akan menyelamatkan kerajaanmu, Sal. Kau punya pilihan. Kau bisa membunuhku dan menutupi semuanya. Tapi bukti itu akan tetap ada di cloud. Atau, kau bisa melepaskan aku, dan biarkan aku membantumu menyelamatkan sisa yang ada." ​Keheningan melanda ruang kerja. Ini adalah titik balik final. Sal harus memilih antara melindungi ego atau Isabella yang kini membawa kebenaran dan solusi. ​Sal menatap flash drive itu, lalu ke Isabella. Di matanya, Isabella tidak lagi jaminan utang. Dia baru saja menyadari bahwa wanita yang ia anggap properti, adalah satu-satunya yang setia. Keheningan di ruang kerja Sal terasa mencekik, lebih mematikan daripada gudang anggur malam itu. Sal akhirnya mengulurkan tangan ke flash drive itu, matanya masih terfokus pada Isabella. Dia mengambilnya, lalu mengalihkan pandangannya ke layar monitor, memasukkan drive itu. ​Selama beberapa menit yang terasa seperti keabadian, Sal membaca. Wajahnya yang tegang perlahan berubah menjadi ekspresi campuran amarah dan kekalahan. Bukti yang dibawa Isabella terlalu rinci, terlalu meyakinkan. Bukan hanya Sofia yang korup, tetapi jaringan yang ia bangun bisa menarik Giordano Holdings ke dalam masalah hukum yang tidak terhindarkan sesuatu yang akan membahayakan anak-anaknya. ​Sal menoleh kembali pada Isabella. Matanya tidak lagi membawa amarah pengkhianatan, melainkan kekalahan dari seorang Bos yang menyadari kesalahannya. ​"Kau benar," desis Sal, suaranya parau. "Sofia... dia bermain di belakangku." ​"Dia tidak hanya bermain di belakangmu," jawab Isabella tegas. "Dia mengkhianati kepercayaan Adriana, anak-anakmu, dan kau sendiri. Dan kau hampir membiarkannya menang karena obsesimu untuk mengendalikan ku." ​Sal tidak membantah. Dia akhirnya melihat kekejaman yang ia timpakan pada Isabella sebagai hasil langsung dari keangkuhannya. Dia menundukkan kepala, memegang dahinya. Setelah beberapa saat, Sal mengambil keputusan, sebuah keputusan yang benar-benar mengubah dirinya. ​Sal meraih teleponnya dan membuat panggilan dingin yang singkat. Perintahnya sangat jelas. Sofia Mancini diasingkan dari semua urusan Keluarga dan Giordano Holdings. Ia diberi kesempatan terakhir untuk pergi dengan tenang sebelum bukti yang dikumpulkan Isabella diserahkan ke pihak yang tepat di luar jaringan Mafia, bukti yang tidak bisa diabaikan. Anak buah yang membantu Sofia di Napoli ditangani secara terpisah. Kemudian, Sal melakukan panggilan kedua, memerintahkan pembebasan Marcus dan penghapusan total utangnya. ​Setelah semua urusan bisnis Mafia diselesaikan, Sal beralih pada urusan pribadinya. Sal mengambil kontrak jaminan yang masih disimpan rapi di lacinya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Sal merobek kertas itu menjadi berkeping-keping. ​"Kau bebas, Isabella," katanya, suaranya mengandung pengakuan yang menyakitkan. "Utang sudah lunas. Marcus aman. Aku tidak akan pernah lagi memaksamu tinggal di sini. Perjanjian kita sudah berakhir." ​Isabella tidak bergerak. Dia telah mendapatkan kebebasannya, tetapi ada sesuatu yang lebih Sal tawarkan kali ini. ​Sal melangkah maju, menjatuhkan diri berlutut di depan Isabella. Itu adalah gestur penyerahan diri yang monumental dari Giudice. ​"Aku... Aku mencintaimu, Isabella. Bukan bukan sebagai jaminan, tapi sebagai wanita yang menghancurkan dan menyelamatkan duniaku," bisik Sal, menatapnya dengan kejujuran yang telanjang. "Aku salah. Kau mengajarkanku bahwa cinta sejati bukan tentang memaksa, tapi tentang menghormati. Jangan pergi. Tinggallah. Tapi kali ini, aku memohon, bukan menuntut." ​Isabella menatapnya. Dia melihat penyesalan di matanya dan ketakutan seorang ayah yang takut kehilangan segalanya. ​"Aku akan tinggal," jawab Isabella, suaranya tegas. "Tapi bukan sebagai jaminan atau istri yang patuh. Aku kembali sebagai diriku sendiri, Sal. Aku akan menjadi mitra-mu. Kau akan memberiku kendali penuh atas audit keuangan, dan setiap keputusan besar, kita buat berdua. Kau tidak akan pernah lagi menyentuhku dengan amarah atau hukuman. Cinta ini harus dibangun dari awal." ​Sal tersenyum, senyum yang tulus, lega, dan penuh hormat. "Itu adil," katanya, mencium tangan Isabella. "Aku menerima syarat mu, Bella." . ​Isabella dan Sal memulai lembaran baru. Isabella tetap berada di penthouse, tetapi kini ia memiliki kunci akses penuh dan otoritas yang setara. Dia tidak lagi takut pada Sal, melainkan mencintai pria yang bersedia melepaskan tahtanya demi kebenaran dan cinta. Sal benar-benar memenuhi janjinya, belajar untuk menghormati dan menghargai kecerdasan dan keberanian Isabella. Mereka mendapatkan 'Happily Ever After' sebuah kemitraan yang rumit, penuh gairah, dan didasarkan pada kekuasaan yang kini dibagi, dengan Isabella memegang kendali atas hati Giudice.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD