Setelah perdebatan panjang soal Jo yang tidak mempercayai saranku, kami akhirnya tiba di pasar loak dengan wajah kusut. “Ini beneran tempatnya, Ya? Kok rame sih,” komentar Jo yang masih meragukanku. “Itu juga jualan baju-baju daster. Mamaku mana suka daster, Ya.” Aku membuang napas. Masa iya harus ku jelaskan definisi pasar biar dia mengerti? “Itu kan di dalamnya masih luas, Jo. Lagian namanya juga pasar, ya rame lah! Kalau sepi mana mau orang jualan di sini.” Jo berdecak. “Tapi itu jualannya daster, Ya. Kamu nyaranin aku buat beli daster?” ia menatapku meminta penjelasan. “Ini namanya pasar loak Jo, bukan pasar daster. Makanya ayo kita keliling dulu supaya tahu mereka jual apa aja,” paksaku yang mulai terbawa emosi. “Tapi ….” “KALAU LO NGGAK MAU DENGERIN GUE YA DARI AWAL NGGAK USAH

