bc

The silent knot

book_age16+
14
FOLLOW
1K
READ
adventure
city
like
intro-logo
Blurb

Seorang gadis cantik berusia 19 tahun bernama Luira menjalani hari-harinya dengan latihan dalam keadaan terikat. Luira, seorang gadis cerdas yang sering disalahpahami, menjalani pelatihan sunyi yang membentuk tubuh dan pikirannya, sembari menyimpan rahasia yang tidak diketahui siapa pun...

chap-preview
Free preview
CHAPTER 1
Bab 1 — Situasi yang Tak Terduga Senja merangkak perlahan, menelan cahaya hari di langit Akademi Risten. Warnanya jingga kemerahan memantul lembut pada genting-genting bangunan tua yang menjulang kokoh, memancarkan kesan damai yang kontras dengan denyut penasaran di hati seorang gadis. Udara mulai membawa bisikan dingin dari pegunungan utara, menyelinap masuk melalui jendela-jendela, dan perlahan menyelubungi kompleks akademi yang megah itu. Di salah satu jendela lantai dua asrama siswa perempuan, berdiri Riria, sosoknya ramping dibalut seragam akademi yang rapi, dengan sorot mata yang penuh keingintahuan tak terbendung. Di jemarinya, Riria memegang sebuah artefak komunikasi berbentuk kristal pipih. Cahaya redupnya berkedip-kedip, menampilkan sebuah gambar yang berhasil ia abadikan secara diam-diam siang tadi. Gambar itu menangkap sosok seorang gadis lain, duduk sendirian di taman belakang akademi yang rimbun, seolah terisolasi dalam dunianya sendiri. Mata gadis itu terpejam, posturnya tegak sempurna, dan seluruh tubuhnya terbalut jalinan tali biru yang tampak begitu halus namun teramat rumit. Simpul-simpul itu teranyam dengan presisi menakjubkan, menciptakan pola yang nyaris artistik, melilit setiap lekuk tubuh gadis itu dengan sengaja. Yang paling mengejutkan, ekspresi wajah gadis itu begitu tenang, bahkan damai, seolah ikatan yang membelenggunya adalah bagian dari sebuah ritual sakral. Gadis dalam foto itu adalah Luira. “Dia beneran kayak patung hidup,” gumam Riria pada dirinya sendiri, suaranya nyaris berbisik, memecah kesunyian kamar yang mulai temaram. Rasa takjub bercampur sedikit kecemasan menyelimuti benaknya. Luira bukanlah siswi yang mencolok atau populer di antara teman-teman seangkatannya. Namun, nyaris semua orang di Akademi Risten tahu tentang keberadaannya, atau setidaknya, tentang desas-desus yang menyertainya. Ia dikenal sebagai sosok yang pendiam, tenang, dan selalu tampil rapi, nyaris tanpa cela. Emosi di wajahnya hampir tak pernah terlihat, seolah ia mengenakan topeng ketenangan abadi. Akan tetapi, di balik citra itu, sebuah bisikan aneh mulai menyebar, seperti angin malam yang membawa kabar dari satu telinga ke telinga lain. Luira memiliki kebiasaan misterius di malam hari. Konon, ia melakukan semacam latihan spiritual dengan tali sihir, duduk diam berjam-jam dalam posisi terikat, menenggelamkan diri dalam meditasi yang mendalam. Awalnya, Riria menganggap semua itu hanya mitos konyol yang disebarkan oleh siswa-siswa tingkat atas yang bosan mencari sensasi. Namun, saat ia secara tak sengaja melihat Luira langsung dari jendela lantai empat tadi siang, semua keraguan lenyap. Ia tahu, ada sesuatu yang benar-benar aneh sedang terjadi, sesuatu yang jauh lebih dari sekadar desas-desus. Rasa penasarannya, seperti nyala api yang baru membara, tak bisa lagi ia tahan. Dengan keputusan impulsif, Riria menyambar jaket tipisnya. Bahan wolnya terasa lembut di kulit, memberikan sedikit perlindungan dari hawa dingin yang menusuk. Tanpa memikirkan izin atau peraturan asrama, ia melangkah keluar. Lorong asrama sudah sepi, lampu-lampu sihir di dinding mulai memancarkan cahaya redup, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari. Di luar, halaman akademi juga tak lagi ramai, hanya segelintir siswa yang masih terlihat berkeliaran, mungkin baru kembali dari perpustakaan atau sesi belajar kelompok. Cahaya lampu sihir di sepanjang jalanan berbatu mulai menyala satu per satu, menerangi jalur yang mengarah ke distrik timur—wilayah tempat tinggal siswa-siswa dari keluarga terpandang dan berada. Rumah Luira terletak di sudut jalan yang tenang, agak jauh dari keramaian pusat distrik. Bangunan itu tampak sederhana namun elegan, dengan dinding berwarna krem terang dan atap cokelat tua yang serasi. Sebuah pagar besi rendah yang terawat mengelilingi pekarangan kecil yang dihiasi bunga-bunga musiman yang tertata apik, menandakan pemiliknya sangat memperhatikan detail. Lampu ruang tamu menyala samar dari balik jendela yang tertutup gorden tipis, memancarkan kehangatan yang kontras dengan suasana malam yang sunyi. Tidak ada suara, tidak ada tanda-tanda aktivitas yang berarti dari dalam rumah. Keheningan itu justru menambah misteri yang menyelimuti Luira. Riria menelan ludah, detak jantungnya berpacu lebih cepat. Sebuah perasaan campur aduk antara antisipasi dan kegugupan menyergapnya. Ia melangkahkan kaki menaiki dua anak tangga batu menuju teras depan, berdiri terpaku di depan pintu kayu bercat biru gelap. Aroma tanah basah dan bunga-bunga malam samar-samar tercium, menambah ketenangan pada suasana yang tegang. Dengan ragu, ia mengangkat tangannya dan mengetuk pintu pelan. Suara ketukan itu terasa nyaring dalam keheningan malam. Tidak ada jawaban. Ia menunggu beberapa detik, napasnya tertahan, berharap mendengar langkah kaki dari dalam. Namun, keheningan tetap tak terpecah. Ia mencoba mengetuk lagi, sedikit lebih keras, tapi hasilnya sama: sunyi, seolah rumah itu kosong. Dengan sedikit keberanian yang tersisa, Riria menyentuh gagang pintu. Logamnya terasa dingin di tangannya. Ia memutarnya pelan, hampir tidak yakin apa yang akan terjadi. Klik. Sebuah suara pelan, namun jelas, terdengar. Pintunya… tidak terkunci. Sebuah gelombang kejutan melandanya. Siapa yang meninggalkan pintu terbuka di malam hari seperti ini? “Luira…?” panggilnya pelan, suaranya berbisik, nyaris tak terdengar. Ia menyelipkan tubuhnya masuk, matanya menjelajahi setiap sudut ruangan yang gelap itu. Tidak ada suara yang menjawab. Yang menyambutnya hanyalah aroma lembut dari kayu tua yang dipadukan dengan wangi teh kering yang samar, menciptakan suasana yang anehnya menenangkan. Interior rumah itu terasa sangat rapi, nyaris terlalu tenang, seolah tidak ada satu pun barang yang bergeser dari tempatnya. Di ruang utama, sebuah sofa panjang berwarna krem membentang di salah satu sisi, menghadap sebuah meja rendah dari kayu gelap. Di atas meja, terdapat sebuah vas bunga kecil dengan beberapa kuntum bunga kering dan selembar kain penutup meja yang dibordir dengan pola rumit. Namun, yang membuat Riria terpaku dan jantungnya seolah berhenti berdetak adalah sosok yang duduk tegak di sofa. Luira. Gadis itu duduk dalam posisi yang sama persis seperti yang Riria lihat di taman tadi siang. Tubuhnya sepenuhnya terikat oleh tali biru yang kini memancarkan cahaya redup, seolah memiliki kehidupan sendiri. Ikatan di sekeliling tubuhnya tampak begitu rumit, namun diatur dengan rapi dan seimbang, menciptakan pola geometris yang indah di atas gaun panjang birunya. Kedua lengannya ditarik ke belakang, disatukan dalam gaya Gote Shibari, sebuah teknik ikatan yang mengunci kedua tangan di belakang punggung dengan sangat presisi. Kakinya tertekuk rapi, terikat pada paha dalam posisi Frogtie yang sangat stabil, membuat seluruh tubuhnya tampak terkunci dalam postur meditasi. Gaun panjang birunya tersusun rapi di bawahnya, dan stocking putih bersih membungkus kakinya dari ujung jari hingga paha, menambah kesan keteraturan pada seluruh pemandangan itu. Kepalanya sedikit tertunduk. Matanya tertutup rapat. Ia tak bergerak sedikit pun, seolah patung hidup yang terbuat dari ketenangan dan disiplin. Riria menahan napas, matanya tak berkedip. Pemandangan itu seperti sebuah mimpi yang aneh, surealis. Di satu sisi, ada ketenangan luar biasa yang terpancar dari postur Luira, sebuah kedamaian yang seolah tak terjangkau. Di sisi lain, ada ketegangan dan keterikatan nyata dari simpul-simpul tali yang mengunci tubuh gadis itu. Apa dia… tidur? Meditasi? Atau ini… semacam latihan serius yang tak bisa kubayangkan? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di benak Riria, mendorongnya lebih jauh ke dalam pusaran rasa ingin tahu. Perlahan, Riria melangkah mendekat, kakinya terasa ringan seolah menginjak awan. Ia bahkan bisa mendengar tarikan napas Luira—pelan, teratur, dalam, seperti napas seseorang yang tengah berada di alam bawah sadar yang dalam. Seolah-olah gadis itu memang sengaja memasuki keadaan terikat seperti ini untuk… sesuatu yang penting, sesuatu yang tak bisa ia pahami. Tanpa sadar, jari Riria sudah menyentuh permukaan kristal komunikasinya. Sebuah dorongan kuat untuk mengabadikan momen ini, untuk membuktikan apa yang dilihatnya, tak bisa ia lawan. Ia mengangkat kristal itu perlahan, mengarahkannya ke arah Luira. Cahaya biru dari lensa menyorot lembut wajah Luira yang damai. Ia menahan napas, jantungnya berdegup kencang di dadanya. “Cuma satu foto,” bisiknya pada dirinya sendiri, mencoba membenarkan tindakannya. “Buat bukti. Nanti juga bisa aku hapus kalau sudah jelas.” Klik. Seketika itu juga, udara di sekitarnya berubah. Aura damai yang tadinya menyelimuti ruangan menghilang, digantikan oleh energi yang tiba-tiba terasa tegang. Denting aneh bergema di ruang itu, seolah beling pecah, namun lebih dalam dan misterius. Riria menoleh dengan panik, matanya membelalak mencari sumber suara. Dari bawah meja, dari celah-celah lantai, dari udara di sekelilingnya—tali-tali biru mulai muncul, seolah tumbuh dari ketiadaan. Mereka melesat cepat, seperti sulur hidup yang haus, melilit dan membelit sebelum Riria sempat menarik napas, apalagi mundur. “Apa—?!” serunya, terkejut dan ketakutan. Terlambat. Kaki Riria ditarik paksa ke bawah. Lututnya tertekuk, pergelangan kakinya diikat kuat ke paha dalam posisi frogtie yang sama persis dengan Luira. Tangan kirinya ditarik ke belakang punggung, lalu tangan kanannya menyusul, dan dalam sekejap… ia berada dalam posisi yang sama persis seperti Luira, terkunci dalam ikatan tali biru yang kini juga memancarkan cahaya redup di sekelilingnya. Ia jatuh terduduk ke lantai, bersandar tak berdaya pada sisi sofa. Tubuhnya terkunci rapat, tidak bisa bergerak sedikit pun. Napasnya memburu tak karuan, wajahnya merah padam karena terkejut dan marah. “Ah… ahh—tunggu! Ini apa?! Apa yang terjadi?!” ia berteriak, suaranya sedikit melengking. Luira membuka mata perlahan. Bola matanya yang gelap menatap lurus ke arah Riria. Ekspresinya tetap tenang, seolah apa yang baru saja terjadi bukanlah sesuatu yang luar biasa, melainkan sebuah rutinitas yang sudah diperkirakan. “Selamat malam, Riria,” sapa Luira, suaranya lembut, namun tegas, tanpa sedikit pun nada terkejut. “Kamu sadar?! Kamu bangun?! Bantu aku lepas dulu ini! Apa ini?!” Riria menggeliat, mencoba melepaskan diri, namun setiap gerakannya hanya membuat ikatan terasa semakin kencang, menekan kulitnya. “Kau memotret seseorang yang sedang dalam keadaan meditasi terikat,” Luira menjelaskan, suaranya datar, tanpa emosi. “Itu melanggar Aturan Kedua. Tali biru tidak mengizinkan itu.” “Aku—aku cuma mau tahu! Aku gak niat aneh-aneh! Aku—” Riria mencoba membela diri, putus asa. Kata-katanya terputus oleh napasnya yang memburu. “Kamu memotret,” Luira memotong dengan tenang. “Maka kamu menerima konsekuensinya.” Riria menggeliat lagi, mencoba menemukan celah. Namun, setiap gerakan hanya membuat simpul-simpul itu makin kencang, mencengkeramnya erat. Ia meringis, menggertakkan gigi, rasa malu mulai merayapi benaknya. “Kenapa ikatannya kayak gini?! Aku bahkan gak bisa duduk tegak! Aku gak pakai apapun di kakiku, dan ini—” Ia memalingkan wajahnya, pipinya merah merona. Sebuah perasaan memalukan menyergapnya. Gaun biru yang ia kenakan hanya menutupi bagian atas tubuhnya. Lutut dan pahanya yang tertekuk dan terikat dalam posisi frogtie membuatnya nyaris telanjang dari pinggang ke bawah, terekspos tanpa penutup. Luira menunduk sedikit, matanya melembut, seolah merasakan kegelisahan Riria. “Tenanglah. Aku akan bantu. Tapi aku… sedang dalam pelatihan juga. Aku perlu menyelesaikan tahap ini sebelum bisa bergerak.” Riria mendesis, lalu mencibir sambil memalingkan wajahnya, rasa kesal dan malu bercampur aduk. “Ini menyebalkan… dan memalukan… dan kamu malah santai kayak gitu, Luira.” Luira tidak menanggapi cemoohan itu. Ia hanya menutup matanya lagi, kembali ke dalam keadaan meditasinya yang tenang. “Sabar sebentar. Aku akan cari cara setelah ini selesai. Lagipula, ini salahmu sendiri, Riria. Mengapa kau memotretku dalam keadaan seperti itu?” Riria tidak menjawab. Ia hanya menggembungkan pipinya, lalu mengalihkan pandangan, menahan rasa malu dan kesal yang memuncak di dalam dirinya. Terperangkap dalam ikatan tali biru, ia kini harus menghadapi konsekuensi dari rasa penasarannya yang tak terkendali.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
7.7K
bc

Hamil Anak Sugar Daddy

read
10.1K
bc

Nona-ku Canduku

read
105.9K
bc

Eat Me, Daddy!

read
31.4K
bc

Lara, Ketika Cinta Tak Memilih

read
75.3K
bc

BRIANNA [Affair]

read
134.8K
bc

SEXY DEVIL UNCLE

read
20.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook