Chapter 7 — Tamu yang Tidak Diundang
DING DONG.
Bel rumah kembali berbunyi, dentingan ketiganya menggema di seluruh penjuru rumah, terlalu keras dan mendesak di tengah keheningan yang hanya diisi oleh napas dua orang. Suara itu terasa seperti pukulan tiba-tiba, memecah kerapuhan suasana yang baru saja mereka bangun.
Riria nyaris menjatuhkan cermin yang sedang dipegangnya saat berdiri tergesa-gesa, tubuhnya tegang seperti pegas yang dilepas. Ia mengutuk dalam hati. “Sial, siapa pagi-pagi gini?” gumamnya, suaranya tercekat antara kejengkelan dan kepanikan. Pandangannya kembali tertuju pada Luira—yang masih terikat sempurna, duduk bersandar anggun pada tiang kayu di tengah ruangan. Kedua kakinya masih terhubung ke belakang, dalam gaya frogtie yang membuat pahanya terbuka lebar dan terekspos sepenuhnya. Tanpa stocking, tanpa penutup, hanya kulit putih bersih yang terlihat kontras dengan lilitan tali biru. Dan yang paling mengkhawatirkan… cermin itu masih tergeletak di lantai, memantulkan semuanya, memperlihatkan pemandangan yang tidak seharusnya dilihat oleh siapa pun.
“Gawat,” gumam Riria lagi, kali ini lebih pelan, lebih putus asa, sebuah ritme kepanikan yang berulang. “Gawat gawat gawat…”
Ia tahu pasti—jika siapa pun masuk sekarang, bahkan hanya melongok sekilas ke dalam, dan melihat apa yang sedang terjadi di ruangan ini, maka tidak akan ada penjelasan yang masuk akal, tidak ada alasan logis yang bisa diterima. Reputasi Luira, reputasi dirinya sendiri sebagai seorang murid, dan kepercayaan yang telah mereka bangun, semuanya akan hancur dalam sekejap.
Dengan tangan gemetar, ia menyambar tas kecilnya yang tergeletak di dekatnya. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia mengambil benda bundar berwarna hitam dari dalamnya—sebuah ball gag dari kulit, halus dan dingin di telapak tangannya. Matanya kembali menatap Luira, dan sedikit rasa bersalah merayapi hatinya. Ia tahu ini akan menambah ketidaknyamanan Luira, namun tidak ada pilihan lain. “Maaf… ini cuma sebentar,” katanya, suaranya memohon pengertian. “Beneran cuma sebentar. Aku janji.”
Luira memandangi Riria sebentar, tatapan matanya yang teduh menangkap setiap emosi yang bergejolak di wajah Riria. Tidak ada sedikit pun tanda pemberontakan, tidak ada upaya untuk menolak. Sebuah kepercayaan mutlak terpancar dari sorot matanya yang dalam. Ketika Riria mendekatkan ball gag itu ke bibirnya, Luira bahkan membuka mulutnya sedikit—tanpa suara, sebuah isyarat penerimaan yang sunyi. Seolah-olah ia berkata: “Aku percaya padamu. Lakukan saja apa yang harus kau lakukan.”
Klik.
Tali ball gag itu dikaitkan dengan cepat ke belakang kepala Luira, mengencangkannya dengan hati-hati agar tidak terlalu erat namun efektif. Bola hitam itu kini membungkam Luira, menyegel suaranya di balik bibir yang tertutup rapat.
Luira kini tak bisa bicara. Ia masih terikat dalam pose yang tak biasa itu. Masih duduk tenang di tengah ruangan. Dan kini… dibungkam, sebuah tambahan pada kerentanannya yang membuat Riria sedikit meringis.
Tanpa membuang waktu, Riria bergegas. Ia mengangkat cermin yang tadi tergeletak di lantai, menyembunyikannya di bawah sofa terdekat, memastikan pantulannya tidak akan terlihat dari pintu. Lalu, dengan gerakan cepat, ia menarik tirai jendela lebih rapat, menghalangi cahaya pagi yang terlalu menyorot masuk ke dalam ruangan, demi menciptakan ilusi ruangan yang lebih gelap dan, yang terpenting, menyembunyikan Luira dari pandangan langsung. Ia memastikan semua ikatan Luira tidak terlihat langsung dari ambang pintu, hanya ada siluet samar yang mungkin bisa disalahartikan sebagai seseorang yang sedang duduk santai.
DING DONG.
Bel berbunyi sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih tidak sabar, seolah orang di luar mulai kehilangan kesabarannya. Riria menghirup napas dalam-dalam, menahan gugup yang melilit perutnya. Ia mengembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang. Dengan tekad yang terpancar di matanya, ia melangkah maju dan membuka pintu.
Di hadapannya berdiri seorang gadis muda.
Sekilas, usianya tampak sebaya dengan Riria, mungkin hanya setahun lebih muda atau lebih tua. Rambutnya hitam panjang, tergerai bebas hingga punggungnya, dengan ujung-ujungnya yang memudar menjadi ungu gelap yang misterius—sebuah sentuhan unik yang kontras dengan seragam sekolah musim panasnya yang sangat rapi dan bersih. Seragam itu terlihat seperti baru, tanpa satu pun kerutan, dan warnanya begitu putih cerah, seolah memancarkan aura kesempurnaan. Matanya tajam, berwarna keemasan, menyorot langsung ke arah Riria dengan intensitas yang tak terduga.
Gadis itu menatap Riria sejenak, mengamati, sebelum akhirnya membuka suara. Suaranya tenang, datar, namun memiliki otoritas tersendiri.
“Maaf mengganggu. Aku mencari seseorang bernama Luira.”
Riria terdiam sejenak, otaknya bekerja keras memproses informasi yang baru masuk. Nama Luira disebut. Ini bukan tetangga. Bukan teman sekolahnya sendiri. “Eh, dia… um, lagi tidur. Ada apa ya?” jawab Riria tergagap, mencoba menyusun alasan yang paling masuk akal dalam waktu singkat. Kata 'tidur' keluar dengan sedikit keraguan.
Gadis itu menaikkan satu alisnya yang rapi, ekspresi skeptis melintas di wajahnya yang kalem. “Tidur? Jam segini?” tanyanya, nada suaranya mengimplikasikan keraguan yang jelas.
Riria tertawa gugup, tawa yang terdengar sangat dipaksakan dan sedikit pecah. “Iya, dia… kurang enak badan. Jadi dia butuh istirahat lebih lama.” Ia menambahkan alasan lain, berharap bisa menutupi kecurigaan.
Mata emas itu menatap tajam ke dalam mata Riria, sebuah tatapan yang tidak seperti orang yang mudah diyakinkan, tatapan yang mampu menembus kebohongan. Aira—nama yang akan Riria ketahui nanti—memiliki aura yang cerdas dan skeptis.
“Aku murid baru,” kata gadis itu, memperkenalkan diri. “Namaku Aira. Aku diminta oleh wali kelas untuk menyerahkan bahan sihir khusus ke Luira. Dia bilang Luira pasti di rumah pagi ini.”
Riria menahan napas. Rahang Aira tegas, seolah setiap kata yang diucapkannya adalah fakta yang tak terbantahkan.
Aira? Nama itu baru. Belum pernah ia dengar sebelumnya di sekolah, atau dari Luira sendiri. Tapi yang lebih mencurigakan adalah… tatapan Aira. Itu bukan tatapan polos seorang murid baru yang sedang mencari guru. Ada semacam analisis diam-diam di sana, seperti sedang mengukur sesuatu, memindai, mencari celah. Riria merasa seolah dirinya sedang dianalisis, seperti seekor mangsa yang sedang dinilai oleh predatornya.
Riria memaksakan senyum, senyum kaku yang tidak mencapai matanya. “Aku bisa sampaikan saja, kalau kamu—"
“Tidak perlu,” potong Aira, suaranya tegas dan tanpa kompromi, menghentikan kalimat Riria di tengah jalan. Tatapannya tetap lurus, tidak berkedip. “Boleh aku masuk sebentar?”
Detik itu juga, jantung Riria nyaris melompat keluar dari d**a, berdebar kencang seolah ingin meledak. Permintaan itu adalah bencana. Jika Aira masuk, semua akan terbongkar.
“Eh?! Nggak usah!” Riria langsung menolak, suaranya meninggi secara tidak wajar. Ia segera menurunkan nadanya, berusaha terdengar lebih masuk akal. “Maksudku, dia… tidur di kamar. Aku gak mau ganggu dia. Kamu bisa titipkan padaku saja.”
Aira tetap menatapnya, matanya yang keemasan tidak goyah sedikit pun. Keheningan yang tiba-tiba menyelimuti mereka terasa pekat, udara di antara mereka terasa seperti medan perang sihir tanpa mantra, di mana setiap pihak mencoba membaca niat lawannya. Riria bisa merasakan tekanan dari tatapan Aira, seperti timbangan yang perlahan miring.
Lalu tiba-tiba—sebuah bunyi kecil terdengar dari dalam rumah. Sebuah suara yang sangat pelan, nyaris tak terdengar, namun cukup jelas dalam keheningan yang mencekam itu.
“Mmm—!”
Suara yang tertahan, sebuah rintihan kecil dari mulut yang dibungkam. Sangat pelan. Tapi cukup untuk menarik perhatian. Itu adalah Luira. Riria merasa perutnya melilit.
Aira langsung menoleh ke dalam, matanya menyipit sedikit, mencoba menembus kegelapan samar di balik tirai. Riria membeku, seluruh tubuhnya kaku seperti patung. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa berkata-kata.
“…Itu barusan apa?” tanya Aira pelan, nada suaranya tidak menuduh, melainkan penuh dengan rasa ingin tahu yang dingin.
“Eh…! Itu… radio!” Riria menjawab secara refleks, kata pertama yang melintas di benaknya, suaranya terlalu cepat dan terlalu nyaring untuk meyakinkan.
Aira tidak terlihat percaya. Senyum tipis yang tak terbaca melintas di bibirnya. Perlahan ia melangkah maju, kakinya yang ramping melewati ambang pintu. Riria buru-buru menghalangi tubuhnya, menempatkan dirinya sepenuhnya di antara Aira dan celah di mana Luira mungkin terlihat.
“Maaf, rumah ini tidak menerima tamu sembarangan,” kata Riria, berusaha bersikap galak dan tegas, meskipun ia bisa merasakan getaran tak terkendali dalam nadanya. Ia berharap kata-katanya terdengar meyakinkan, bukan hanya kepanikan murni.
Aira menatap wajahnya, matanya menyapu ekspresi Riria yang tegang dan panik. Lalu, perlahan-lahan… sebuah senyuman muncul di bibirnya.
Itu adalah senyuman yang aneh. Bukan sinis, bukan pula ramah. Lebih mirip senyum seorang pengamat yang baru saja menemukan sesuatu yang menarik, sebuah teka-teki yang menyenangkan. Sebuah senyum yang membuat bulu kuduk Riria merinding.
“Ooh… Jadi begitu, ya.” Nada suaranya terdengar penuh pemahaman, seolah semua keraguannya telah terjawab.
“Be… begitu apanya?” Riria tergagap, rasa takut mencengkeramnya. Gadis ini terlalu cerdas, terlalu jeli.
Aira menunduk sedikit, pandangannya beralih dari mata Riria ke arah dadanya, seolah mencari sesuatu di sana. Lalu ia mendongak kembali, matanya kembali menatap Riria dengan intens, dan berkata lirih, hampir seperti sebuah bisikan yang hanya bisa didengar Riria.
“Sepertinya… tali biru sudah mulai bergerak ke arah yang menarik, ya?”
Jantung Riria nyaris berhenti berdetak. Dunia seolah berhenti berputar. Kata-kata itu, “tali biru,” bergaung di telinganya. Kata-kata itu hanya bisa merujuk pada satu hal.
Matanya membelalak, pupilnya melebar karena syok. “Kamu… tahu tentang tali itu?” suaranya nyaris tak terdengar, hanya bisikan yang penuh ketidakpercayaan.
Aira hanya tersenyum. Senyum itu kini sedikit lebih jelas, mengkonfirmasi bahwa ia memang tahu. Sebuah senyum rahasia, penuh pengetahuan tersembunyi.
“Nanti malam… aku datang lagi. Kali ini… aku tidak akan mengetuk.”
Dan tanpa menjelaskan lebih jauh, tanpa menunggu reaksi Riria, Aira berbalik. Ia berjalan tenang menjauh di bawah cahaya pagi, langkahnya ringan dan percaya diri, seolah baru saja melakukan percakapan yang paling biasa, meninggalkan Riria terpaku di ambang pintu, kaget dan bingung.
Riria menutup pintu cepat-cepat, suara bantingan pintu yang keras bergema di seluruh rumah. Napasnya sesak, seolah ia baru saja berlari maraton. Ia bersandar pada pintu, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang di dadanya.
Ia berbalik. Di dalam ruangan, Luira masih duduk dalam ikatan sempurna, ball gag masih terpasang, matanya tenang namun penuh tanya, memandang Riria dengan tatapan yang seolah menuntut penjelasan. Ada keprihatinan samar di kedalaman matanya, seolah ia bisa merasakan kegelisahan Riria.
Riria mendekat, lututnya sedikit gemetar, dan melepaskan penyumbat mulut itu perlahan, dengan hati-hati. Bola hitam itu terasa dingin saat ia menariknya keluar.
Begitu mulutnya terbuka, Luira hanya berkata pelan, suaranya sedikit serak karena lama terbungkam.