Bab 3 — Cermin dalam Mimpi
Langkah-langkahku terasa cepat, tergesa-gesa, dan entah mengapa terasa berat saat meninggalkan rumah Luira. Dedaunan di sepanjang jalan kecil itu berdesir pelan dihempas angin malam, namun di telingaku, suara itu terasa seperti bisikan yang mengejek, meremehkan setiap keputusan yang kubuat. Aku tak habis pikir apa yang sebenarnya kupikirkan datang ke sana malam-malam seperti itu. Mungkin hanya karena rasa penasaran yang tak terkendali, atau mungkin juga karena… aku sendiri pun tidak tahu alasan pastinya. Sebuah dorongan impulsif yang kini berujung pada perasaan campur aduk.
Aku mengusap lenganku, merasakan sentuhan kain seragam di kulitku yang masih terasa sedikit kesemutan. Tali-tali biru itu memang sudah terlepas, namun bekas tekanan dinginnya seolah masih tersimpan, melekat erat, di kulitku. Sensasi aneh yang sulit hilang.
Angin malam kembali berhembus, menyentuh bagian bawah rokku yang menggantung longgar, mengibarkannya sedikit. Dan saat itulah, sebuah ingatan ganjil tiba-tiba menyorot tajam dalam benakku—entah berasal dari mana, entah kenapa bisa muncul sekarang, begitu jelas dan nyata.
Aku melihat diriku sendiri. Bukan sekadar bayangan, melainkan sebuah gambaran yang sangat detail dan terasa begitu hidup.
Aku melihat diriku terikat.
Dalam posisi Frogtie yang sempurna, persis seperti Luira, persis seperti aku terikat tadi.
Tidak ada stocking, tidak ada pelindung apa pun di seluruh kakiku yang terekspos. Hanya kulit telanjang yang memerah karena tekanan tali yang kencang. Dress dan rok pendekku yang kupakai saat itu naik sedikit, cukup untuk memperlihatkan posisi yang… terlalu terbuka. Terlalu rentan. Terlalu… memalukan. Rasa tidak berdaya yang begitu kuat menyergap.
Aku langsung menghentikan langkah. Sebuah dorongan aneh, rasa malu yang menusuk, menyergap d**a. Malu. Sangat malu. Rasanya seolah seluruh dunia bisa melihatku dalam kondisi itu.
“Apa-apaan itu barusan…” gumamku, suaraku tercekat di tenggorokan, tak percaya dengan apa yang baru saja terlintas dalam benakku.
Dengan cepat aku melangkah lagi, kali ini lebih cepat dari sebelumnya, seolah ingin lari dari bayangan itu. Suara langkah kakiku menggema lebih keras di jalan bebatuan kecil menuju asrama, sebuah ritme tergesa-gesa yang mencerminkan kegelisahan hatiku.
Begitu sampai di depan pintu asrama, aku hanya bisa menunduk, menghindari kontak mata dengan siapa pun yang mungkin berpapasan. Wajahku masih panas, seperti seseorang barusan memperlihatkanku sesuatu yang tak seharusnya kulihat, sesuatu yang sangat intim dan pribadi. Padahal itu cuma… ingatan. Atau mungkin hanya halusinasi yang dipicu oleh pengalaman yang baru saja kualami. Tapi rasanya begitu nyata, begitu membekas.
Aku masuk ke asrama tanpa berbicara pada siapa pun, langsung menuju kamarku. Suara kunci yang berputar di pintu terasa memekakkan telinga dalam kesunyian yang kuinginkan. Tanpa membuang waktu, aku menjatuhkan tubuhku ke atas tempat tidur, membiarkan kelelahan dan emosi menguasai.
Selimut menutupi tubuhku, memberikan sedikit kehangatan dan rasa aman. Tapi tidak pikiran. Bayangan aneh itu masih tertinggal di pelupuk mata, terlalu jelas, terlalu rinci, menolak untuk pergi. Apa ini karena malam ini aku terlalu banyak memikirkan soal ikatan itu? Apakah pengalaman singkat tadi benar-benar meninggalkan jejak sedalam ini? Atau… apakah ada sesuatu yang lain?
Aku menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungku yang masih berpacu kencang. Menutup mata, aku membiarkan kegelapan merayap, dan membiarkan mimpi mengambil alih, berharap ia akan membawa jawaban, atau setidaknya melenyapkan bayangan yang mengganggu itu.
Dalam Mimpi
Aku kembali berdiri di depan pintu rumah Luira. Udara malam terasa persis seperti tadi, dingin dan hening. Langkahku juga terasa sama, ringan namun penuh antisipasi. Tapi ada sesuatu yang berbeda—hawa di sekeliling terasa lebih sunyi, lebih mencekam, seperti dunia sedang menahan napas, menungguku.
Aku mendorong pintu perlahan, dan ruang tamu itu menyambutku dengan pencahayaan redup kebiruan yang akrab namun kini terasa mengancam. Dan di sana, duduklah Luira, persis seperti yang kulihat di dunia nyata, dalam kondisi terikat sempurna—tangan di belakang, kaki tertekuk Frogtie, tubuhnya tegak dan tenang. Tapi ada satu hal yang berbeda: Luira tersenyum padaku, lebih lebar dari biasanya, senyum yang entah mengapa terasa dingin dan mengerikan, penuh rahasia.
Aku mengangkat sesuatu di tangan—sebuah alat perekam, atau mungkin ponsel, bentuknya samar namun tujuannya jelas. Aku berniat memotret, mengulangi kesalahan yang sama.
Dan seperti kejadian sebelumnya, aku tahu… aku telah melanggar. Sebuah kesadaran yang muncul terlalu terlambat dalam alam mimpi.
Dalam sekejap, tali biru itu muncul dari udara, seperti sulur hidup yang haus, membelit tubuhku dengan cepat, tanpa ampun. Dalam hitungan detik, aku sudah dalam posisi yang sama dengan Luira, terikat, terduduk di lantai, lutut menekuk dan terikat ke samping, pergelangan tangan terjepit ke belakang. Rasa tidak berdaya yang familiarnya kembali menyerang.
Tapi… mimpinya tidak berhenti di situ. Kali ini, ia terasa lebih nyata, lebih menyeramkan.
Luira bergerak.
Masih dalam kondisi terikat, ia meluncur ke samping ruangan seperti makhluk yang tidak terhalang apa pun oleh ikatan fisiknya. Gerakannya begitu mulus, hampir melayang. Ia membuka ceruk kecil di dinding dan mengambil sesuatu—kristal, seperti sebelumnya, memancarkan cahaya redup.
Aku merasa lega. Ia akan membebaskanku, pikirku, sebuah harapan yang melintas cepat. Tapi ternyata…
Ia hanya melepaskan ikatannya sendiri. Tali-tali biru di tubuhnya melonggar satu per satu, mengurai dengan mulus. Tubuhnya bebas. Aku menatapnya, bingung dan frustrasi. Dia bebas, tapi aku tidak.
Ia menatapku, senyumnya kini lebih aneh, lebih menyeramkan. Lalu dengan langkah ringan, ia mengambil seutas tali biru baru dari lantai, yang entah bagaimana muncul di sana. Dan dengan gerakan yang tenang namun tegas, ia mulai menyambungkan ikatan kakiku ke kaki sofa di belakangku.
Aku tidak bisa bergerak lagi. Posisi dudukku sekarang benar-benar membuatku tidak bisa menunduk, kepalaku terpaku menghadap ke depan. Kakiku terekspos penuh, tidak ada satu pun kain yang melindunginya. Ujung rokku tersingkap sedikit ke atas, dan tali yang mengunci pahaku menyilangkan tekanan ke posisi yang… sangat pribadi. Rasa malu yang luar biasa menghantamku.
“Apa yang kamu—” Aku tak sempat menyelesaikan kata-kata. Suaraku tercekat, ketakutan melumpuhkanku. Luira mengambil sebuah cermin kecil, berbingkai perak, lalu meletakkannya tepat di hadapanku. Aku bisa melihat wajah dan tubuhku sendiri di pantulannya—memerah, terengah, dan benar-benar tak berdaya. Semua ketidakberdayaan itu terpampang jelas, tercermin sempurna.
Lalu dengan suara yang sangat lembut, namun mengerikan karena ketenangannya yang dingin, Luira berkata, seolah setiap kata adalah hukum yang tak terbantahkan.
“Inilah akibatnya… masuk rumah orang dan memotret seseorang yang sedang terikat.”
Aku ingin menjawab. Ingin berteriak. Tapi mulutku disumpal olehnya dengan kain putih, seolah terikat bersama tubuhku.
Aku ingin menoleh. Ingin lari dari pantulan cermin yang memalukan itu. Tapi tali itu terlalu kuat, mengunci leher dan tubuhku.
Aku ingin bangun. Ingin melarikan diri dari mimpi buruk ini. Tapi… aku tak bisa.
Aku terbangun.
Bernapas berat, terengah-engah, seolah baru saja berlari maraton. Tubuhku basah oleh keringat dingin, menempel tak nyaman di kulitku. Suara detak jantungku bergema keras di telinga, memenuhi seluruh kesadaranku. Cahaya pagi belum muncul sepenuhnya di balik tirai kamar, hanya menyisakan semburat kelabu yang samar. Tapi aku tahu… aku benar-benar sudah kembali ke dunia nyata.
Aku melihat sekeliling. Kamarku. Kasurku.
Tidak ada tali.
Tidak ada cermin.
Tidak ada Luira.
Hanya aku. Sendirian di kamar.
Dan rasa malu yang anehnya… masih tertinggal, membekas dalam benakku, terasa begitu nyata seolah mimpi itu baru saja terjadi. Rasanya seperti sebuah peringatan yang tak akan pernah kulupakan.