Part 6 Tas Lily Kemalingan

1278 Words
Hari ini Lily akan pergi ke Jakarta, sebelum itu, ia berpamitan kepada kedua orang tua dan adik laki-lakinya. Semua peralatan Lily sudah tersusun rapi didepan halaman rumah orang tuanya. Lily menciumi punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian dan terakhir adik laki-lakinya. "Ibu, Ayah, Lio, Lia pamit pergi dulu ya. Doakan Lia agar lancar sampai tujuan," ucap Lily berusaha tersenyum dihadapan kedua orangtuanya walaupun didalam hatinya terasa sedih meninggalkan mereka. Mendengar perkataan anak gadisnya, lantas, Ibu Leani langsung berhambur memeluk tubuh Lily dengan erat. "Kamu jaga diri ya nak, jangan lupa makan dan jangan lupa sholat. Jangan mudah mempercayai orang lain dan tetap berhati-hati dalam menjaga kebersihan." Ibu Leani mengelus pundak anaknya. "Iya Bu, Lily akan selalu ingat kata Ibu. Doakan Lily agar berhasil dalam mengikuti test pengajuan pekerjaan di perusahaan." "Aamiin." Ibu Leani mengaminkan perkataan Lily. "Ayah harap kamu dapat memberikan kabar baik untuk kami, nak." Papa Rendi mengelus kepala Lily dengan sayang. Lily meregangkan pelukan dari Ibu Leani dan ia menatap sendu menuju kedua orang tuanya. “Iya kak, tetap semangat ya dalam keadaan apapun, jika kakak sudah sampai tujuan. Kakak langsung memberi kabar pada kami.” sahut Leo tersenyum tulus pada Lily. “Siap dedek gemes aku.” balas Lily. Sebuah mobil taksi yang dipesan oleh Lily melalui medsos telah datang. Untuk berada ditempat Terminar bus memiliki jarak 500 m dari rumahnya dan ia lebih memilih untuk menaiki taksi saja agar orang tuanya tidak repot-repot untuk mengantarkannya. “Ibu, Ayah, Lio, Lily pamit dulu, assalamualaikum,” ucap Lily sambil membawa satu koper berwarna pink berukuran sedang dengan tas ransel yang dikenakannya agar berjalan masuk ke dalam mobil taksi. “Wa’alaikumsalam,” ucap mereka secara serempak melihat Lily yang sudah masuk kedalam mobil taksi dan melambaikan tangan menuju ke arah mereka. Suasana dijalan raya dipagi hari sangatlah banyak motor dan mobil yang berlalu Lalang, Lily mengamati kota kelahirannya menuju ke kota yang pernah menjadi tempat mengais rezeki Ibunya. Lily ingat betul terakhir ia berada di kota Jakarta saat ia dibangku putih abu dan ia sering membantu Ibunya yang bekerja pembantu rumah tangga di rumah mewah pengusaha terkaya nomor satu didunia. Pemilik rumah mewah itu sangatlah baik pada dirinya dan Ibunya. Seringkali Lily diberikan uang saku dan ia dekat dengan anak semata wayangnya yang begitu mencintainya. Tapi, kenyataan pamit menampar dirinya dan Ibunya yang memilih pergi dari kehidupan di Jakarta. Lihatlah, takdir sedang menyorotinya agar menyapa kota itu. Lily menggelengkan kepalanya saat mengingat kejadian di masa lalu, ia yakin bahwa kota Jakarta itu sangatlah luas dan tidak mudah dirinya dipertemukan kembali dengan dia. “Okey Lily harus tetap semangat. Pokoknya jangan biarkan masa lalumu mematahkan kariermu.” kata Lily dalam hati. Ia berusaha menyemangati dirinya sendiri tanpa lelah. Merasa bosan dengan melewati jalanan menuju ke tempat terminal bus, Lily memilih mengambil ponselnya yang berada didalam saku celananya yang memiliki kancing tentunya tidak mudah terjatuh ponselnya. Dibukanya layar kunci ponselnya dan ia mulai membaca grub kelasnya yang ternyata meminta reunion tapi tak dihiraukan oleh Lily. Ia memilih membuka situs koran online yang pastinya mendapatkan informasi terkini. Lily membaca berita mengenai berita Covid-19 varian terbaru bernama Omigron dan ia sudah vaksin dua kali untuk menghindari virus mematikan yang mendunia itu. Lily terus mensroll berita hingga nama seseorang yang familiar dibacanya yang tertera didalam berita yang dinama salah satu perusahaan ternama dan terkaya nomor satu didunia yang tinggal diibukota Indonesia memberikan bantuan sembako bagi masyarakat yang ingin melakukan vaksin agar dapat mengurangi kasus Covid-19. “Alex?” lirih Lily pelan. Rasanya dunia Lily mulai terasa berbeda disaat membaca nama itu apalagi lebih tepatnya fotonya yang terpampang jelas didalam berita online. Membuat Lily menelan salivanya dengan susah payah. “Tidak! di Jakarta itu daerahnya luas dan aku tidak boleh merasa takut jika aku bertemu dengannya. Ia pasti sudah melupakanku. Ia itu pasti.” kata Lily dalam hati. Lily terlihat tertekan akan terbawa kenangan pahit itu, hingga ia tak menyadari laju mobil taksi telah terhenti disekitar terminar bus. “Nona!” “Nona! Kita sudah sampai!” tidak ada sahutan apapun dari penumpang yang duduk dibelakang mobilnya, supir mobil pun berinisiatif membukakan pintunya agar dapat membangunkan penumpang yang tidak mendengar suaranya. “Nona!” ucap Supir mobil taksi yang telah membukakan pintu dan tepatnya berdiri dihadapan Lily. Lily langsung tersadar dari lamunannya dan ia menoleh menuju supir yang mengerutkan sebelah alisnya merasa binggung. “Eh iya pak, sudah sampai ya?” tanya Lily dengan senyuman terpaksa. “Iya Nona.” jawab supir itu membalas senyumannya. Lily memperhatikan disekelilingnya yang ternyata benar ia berada di terminar bus. Ia keluar dari mobil taksi dibantu oleh supir taksi yang membantu menangkatkan tas kopernya. Kemudian, Lily mengambil dua lembar uang berwarna merah dari tasnya untuk membayar ongkos pada Supir mobil taksi. “Ini pak uangnya, terima kasih ya sudah mau mengantarkan saya sampai masuk kedalam terminar bus,” ucap Lily sambil menyerahkan dua lembar uang berwarna merah itu dihadapan supir mobil taksi yang dipesannya melalui akun medsosnya. Pak supir itu menerima uang pemberian Lily. “Iya Nona, ini uangnya kelebihan. Cukup bayar serratus ribu saja.” Pak supir itu menatap penuh tanya pada Lily. Lily tersenyum tulus pada Pak supir itu. “Uang lebihnya untuk Bapak saja, anggap saja rezeki ini sedekah dari salah untuk Bapak. Doakan saya ya pak agar saya berhasil mendapatkan pekerjaan.” sahut Lily menatap Pak supir yang terlihat bahagia. “Aamiin, saya doakan nona menjadi orang yang sukses dan dipermudahkan dalam segala urusan.” doa tulus dari Pak supir itu. “Aamiin, kalau begitu saya pamit pergi dulu pak.” perkataan Lily dibalas anggukan oleh Pak Supir. Lily melangkahkan kaki menuju ke tempat parkiran bus yang melaju menuju ke Kota Jakarta. Ia memberikan karcis terlebih dahulu barulah ia melangkah masuk ke dalam bus. Lily melihat orang-orang yang duduk didalam tidak mematuhi prokes social distancing, ia pun memilih kursi kosong di belakang. Lily menaruh kopernya didalam kursi yang berdekatan dengan kaca mobil bus. Barulah ia duduk dipinggir kursi penumpang agar tidak ada orang lain yang mau duduk disebelahnya. Lily memilih mendengarkan musik disepanjang jalan, ia mengambil ponsel dari celana sakunya dan dipasangnya headset agar dapat menyejukkan suasana hatinya. Perjalanan dari Bandung menuju Jakarta memakan waktu selama tiga jam. Jadinya, Lily dapat bersantai sedikit. Tiga jam telah berlalu, semua penumpang turun di terminar bus Jakarta, Lily pun ikut turun dengan membawa tas ransel untuk disandangnya pada tubuhnya dan tas koper untuk diangkat keluar dari mobil bus. Rasa lelah dan berat itulah yang Lily rasakan disaat ia memeluk tas koper itu. Setelah memberikan karcis untuk membayar, barulah Lily bebas untuk mencari mobil taksi menuju di anak cabang perusahaan Industri. Lily melangkahkan kaki menjauhi area terminal bus untuk mempermudah mendapatkan taksi. Tapi, langkah kakinya terhenti disaat seseorang menabrak dirinya. Bruk! Lily terjatuh diatas trotoar jalanan dan tas kopernya ikut menimpa dirinya. Ia terlihat kesulitan bangun dari duduknya. “Perlu ku bantu?” tawar seorang Pria yang berdiri tegak dihadapan Lily. Lantas, Lily mengandahkan kepalanya keatas, seketika ia terpesona dengan paras ketampanan mirip pria india. “Hey!” ucap Pria itu memberikan uluran tangannya pada Lily dan disambutnya dengan cepat. “Eh iy-iya boleh.” sahut Lily berdiri tegak dihadapan pria itu. “Siapa namamu?” tanya Pria tampan itu. “Lily.” jawab Lily tersenyum manis. “Oh iya, sini tasnya biar aku bawakan.” tawar Pria tampan itu dengan senang hati Lily menyerahkan tas koper itu begitu saja tanpa rasa curiga sedikit pun dengan orang yang baru yang dikenalnya. Setelah menerima tas koper milik Lily, Pria itu langsung berlari cepat meninggalkan Lily yang berdiri ditempat. Hal itu membuat Lily merasa panik dan ia berteriak meminta tolong. “Eh, tas aku. Tolong! Tolong tas aku kena maling!” teriak Lily meminta tolong pada orang-orang disekitarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD