Part 5 Meminta Tolong

1856 Words
Lily langsung menyengirkan gigi putihnya dihadapan Ibu Leani, sepertinya bahan makanan yang dibelinya terlalu berlebihan. “Iya Bu, lumayan untuk bahan makanan Lily datang di Jakarta. Jadi, gak repot lagi untuk membeli makanan.” Lily melirik dua plastik ukuran besar yang berisi beberapa bahan makanan yang dibelinya tadi bersama Lio. “Kak, berat nih bawaannya aku masuk dulu ya.” perkataan Lio dibalas anggukan cepat oleh Lily dan ia melihat kepergian Lio yang membawa beberapa belanjaan dirinya dan Lio. “Ya sudah, Lily masuk saja. Pastinya kamu capek dan butuh istirahat,” ucap Ibu Leani membantu membawakan belanjaan Lily tapi dilarangnya agar ia saja yang membawanya karena berat. Setelah melangkahkan kaki masuk kedalam rumah, Lily menaruh dua plastik berukuran besar diruang dapur. “Lebih baik aku pilah saja bahan makanan untuk aku bawa dan untuk Lio. Pastinya nanti tertukar. Sekalian aku catat jumlah belanjaan hari ini.” batin Lily. Lily berjalan menuju ke arah ruang kerja ayahnya dilantai dasar untuk mengambil buku kosong dan pena. Tidak ada siapapun diruangan itu mengingat ayahnya masih bekerja dikantor. Lily menutup pintu ruangan itu kembali dan ia melangkahkan kaki menuju ke ruang dapur. Didudukkannya dirinya diatas lantai tanpa alas dan ia mulai mengeluarkan beberapa barang hasil belanjaannya untuk dicatat semua jumlah pengeluaran uangnya hari ini. Lily terlihat fokus dan teliti dalam mengecek dan mencatat agar tidak ada yang tertinggal. Ia menyisihkan barang untuk Lio agar tidak repot lagi untuk memakan makanannya. Lily melihat daging sapi segar dan ikan segar yang dibungkus oleh plastik itu ia berinisiatif untuk menyimpannya didalam kulkas agar tetap segar serta ia akan menyisihkan untuk bahan makanan dirumah. Setelah dikiranya semua selesai, barulah, Lily berjalan menuju keanak tangga agar dapat menuju ke ruang kamarnya untuk membersihkan dirinya. Matahari telah terbenam dan bulan telah menyapa seisi dunia, harumnya masakan yang dikelola oleh Ibu Leani sesuai bahan makanan yang dibelikan oleh Lily dan pastinya sudah Lily katakana ingin memakan menu makanan sayur tumis, daging sapi rica-rica dan ikan lempah kuning itu termasuk makanan kesukaan Lily saat menikmati makanan daerah ayahnya berasal dari Bangka Belitung. “Harumnya masakan Ibu selalu nikmat nomor satu didunia,” Lily memuji Ibunya yang sedang menaruh beberapa masakan diatas piring dan Lily memilih membantu Ibunya untuk menyiapkan makan malam. “Biar Lily bantu mengisi makanannya.” Lily mengambil piring kosong dan dipindahkannya beberapa masakan sayur tumis, daging sapi rica-rica dan ikan lempah kuning khas Bangka Belitung untuk dimasukkan kedalam piring yang sudah tertata rapi diatas meja makan. “Bu, nasinya aku isi dipiring apa ambil sendiri saja?” tanya Lily menoleh menuju Ibunya yang sedang mengangkat panci kotor. Mendengar perkataan Lily, lantas Ibu Leani menoleh menuju kearah dirinya. “Ambil sendiri saja nasinya sesuai selera saja, tolong Lily angkatin isi tempat mejikomnya diatas meja agar mudah mengambil nasi!” perintah Ibu Leani pada Lily. “Baik bu.” Lily memutarkan tubuhnya dan berjalan mendekati tempat mejikom yang masih terpasang kabel. Dilepasnya kabel mejikom lebih dulu dan dibukanya untuk mengambil isi tempat mejikom. Rasa panas menyelimuti tangannya yang masih terbungkus oleh kain. Ia berjalan mendekati meja makan, sebelum menaruh tempat mejikom dilapisinya lebih dulu agar kaca meja tidak retak kan sayang tidak indah lagi. “Selesai.” lirih Lily merasa senang semua makanan sudah rapi diatas meja. Tidak lama kemudian, datanglah ayah Rendi dan Lio yang pastinya ingin bergabung untuk makan malam. “Sepertinya menu makan malannya enak semua dan ayah sudah tidak sabar untuk mencobanya,” ucap Ayah Rendi sambil mendudukan diri diatas kursi meja makan. “Iya, aku mau makan daging saja.” sambung Lio yang meminta piring kosong pada Lily dan Lily menyerahkannya pada Lio. “Ayah mau makan apa? Biar Lily saja yang ambilkan?” tanya Lily menawarkan pada Ayah Rendi yang telah duduk disebelah Ibu Leani. “Ayah mau makan nasi lauk sayur tumis dan ikan lempah kuning saja.” jawab Ayah Rendi. “Okey.” Lily langsung menyedokkan nasi putih untuk ditaruh kedalam piring dan lauknya dimasukkan kedalam mangguk. Setelah selesai, barulah Lily menyerahkannya pada Ayah Rendi. “Ayah tidak makan daging sapi?” tanya Lily. Ayah Rendi yang sedang mengambil piring berisi nasi dan lauknya, ia menoleh menuju ke arah Lily. “Tidak usah, nanti kolesterol.” jawab Ayah Rendi cepat. “Baiklah, kalau Ibu mau makan apa?” tanya Lily lagi untuk melayani kedua orang tuanya. Lily ingin menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya makanya ia senang mengisi makanan untuk kedua orang tuanya dan membantu membersihkan rumah. “Sama seperti ayahmu.” jawab Ibu Leani tersenyum manis pada Lily dan Lily pun mengikuti sesuai keinginan dari Ibunya. Setelah mengisi semua makanan untuk kedua orang tuanya, barulah Lily menaruh makanan untuk dirinya sendiri. Tidak ada suara saat menikmati makan makan hanya terdengar dentingan sendok dan garbu mengisi ruangan itu. Lily yang telah menyelesaikan makan malamnya, ia mengambil semua piring kotor untuk dicucinya. Namun, aktivitasnya terhenti disaat ia mendengarkan perkataan ayahnya. “Kamu yakin ingin pergi ke Jakarta?” pertanyaan yang selalu ayah berikan pada Lily dan pastinya membutuhkan keyakinan yang tinggi dalam mengambil keputusan itu mantap. “Iya ayah, jangan khawatirkan aku. Aku bisa menjaga diri dan aku akan berjuang untuk merubah nasib hidupku agar lebih baik. Selain itu, dapat membantu perekonomian keluarga.” itulah konsep hidup Lily yang ia tata secara rapi langsung dilontarkan pada ayahnya agar menghargai keputusannya. Meskipun terasa sulit untuk melepaskan anak gadis didaerah orang dan tidak memiliki keluarga. Tentunya membutuhkan keputusan yang sangat matang. “Baiklah, jika itu keinginanmu sudah matang maka ayah akan mendukung. Semoga berkah keputusanmu itu.” “Terima kasih ayah.” Lily tersenyum tulus pada ayahnya yang terlihat raut wajahnya masih menghawatirkan dirinya. Lily menepis pikiran kotor yang tiba-tiba menguasai pikirannya mengenai mimpi buruk itu. Tapi, ia yakin Tuhan masih melindunginya. Kemudian, ia mengambil piring terakhir yang ternyata diambil cepat oleh Lio. “Stop kak! Jangan dibuang dulu sisa makan dagingnya biarkan aku yang menghabiskannya,” ucap Lio langsung memakan lauk daging sapi itu dengan lahap. Lily yang menyaksikan Lio yang nafsu makannya meningkat ditambah lagi perutnya mulai membuncit yang sangat ia maklumi bahwa adiknya menyukai makanan mewah. Siapapun pasti berminat untuk memakan makanan itu termasuk Lily. “Okey, aku tunggu lima menit kalau lama menghabiskannya maka cuci sendiri piringnya.” sahut Lily asal dan ia ingin tertawa ngakak melihat Lio mempercepat durasi makannya hingga habis tanpa sisa. “Pelan-pelan dek makannya nanti keselek loh.” Lily geleng kepala melihat adiknya yang memaksa menelan makanan dengan cepat ditambah lagi dengan disudut bibirnya belepotan atas tertinggal kuah makanan daging sapi. “Hahaha… badut nyasar.” tawa Lily melihat adiknya berhasil menghabiskan makanan didalam piring tanpa sisa. “Makin ganteng banget kamu dek kalau kamu berdandan seperti itu, hahaha….” Lio mendengus sebal mendengar perkataan Lily. “Dah lah, yang terpenting perutku kenyang memakan masakan itu dan kakak bisa mencuci piring biar bersih.” Lio menyerahkan piring kotor dihadapan Lily dan Lily menolaknya. “Kenapa kak?” tanya Lio polos. “Sekarang sudah melebihi batas waktu lima menit dan kamu cuci sendiri tuh piring.” jawab Lily sengaja memancing emosi Lio. “Kok begitu sih kak, kan aku menghabiskan makannya lewat satu menit. Setidaknya gak lama-lama amat.” sahut Lio dengan wajah memberengkut kesal. “Gak mau.” Lily langsung berjalan meninggalkan Lio yang masih duduk dikursi meja makan. “Ibu, Ayah,” ucap Lio dengan memberikan kedua bola mata bulatnya yang dapat meluluhkan siapapun yang melihatnya. Lily tak menghiraukan perkataan Lio yang memanggil namanya, apalagi Ibunya yang membela adiknya. Hingga, Lio terpaksa berjalan menuju kearah westafel untuk mencuci piringnya sendiri karena Lily sudah selesai membersihkan semua piring kotor. Lily senang membuat adiknya menderita, sesekali ia mengajarkan adiknya untuk membantu memberihkan rumah tapi tidak hanya bermain game saja. “Mudah kan mencuci piringnya? Apa perlu aku bantu tambahin lagi biar kamu jadi cowok multitalenta.” goda Lily yang telah berdiri disebelah adiknya. “Aku gak mau jadi cowok multitalenta.” sahut Lio asal sambil menaruh satu piring itu berada didalam rak piring. “Kok gak mau sih padahal semua wanita suka loh sama cowok serba bisa dalam segala hal. Coba deh kamu kurangin main gamenya nanti kakak ajarin cara membersihkan rumah dengan baik.” “Gimana mau ajarin aku? Besok juga, kakak sudah pergi ke Jakarta.” kilah Lio dan Lily langsung ingat kalau besok ia akan pergi ke Jakarta. “Eh benar juga ya aku pun sampai lupa. Ya udah lain kali saja kakak ajarkan dan kuringin main gamenya ditambahin belajarnya biar pintar,” ucap Lily sambil mengacak-ngacak rambut Lio menjadi berantakan. “Kakak sudah dong rambutku berantakan nih nanti berkurang nilai plus ketampananku yang hakiki ini.’ Lio menepis tangan Lily agar tidak menggangu rambutnya. “Hahaha… Iya deh, adek aku yang tampan dan bawel ini. Kakak ke kamar dulu ya mau siapin keperluan untuk besok.” pamit Lily dan dibalas anggukan cepat oleh Lio. Lily melangkahkan kakinya menuju menaiki anak tangga agar dapat sampai diruang kamarnya berada dilantai satu. Ceklek! Pintu kamarnya terbuka lebar dan ia berjalan masuk kedalam kamar tidak lupa menutupnya kembali. Lily berniat untuk mengambil koper pink dan tas ransel yang berada diatas lemarinya tapi tubuhnya yang mungkil tidak memungkinkan dirinya untuk mengambil tas itu diatas lemari dengan tingginya luar biasa. Hanya ada kursi riasnya tapi masih tidak cukup tinggi. Terpaksa Lily berjalan gontai menuju keluar kamarnya untuk memanggil adik semata wayangnya untuk membantu dirinya. Tok! Tok! Tok! Lily mengetuk pintu kamarnya adiknya yang berada disebelah kamarnya. “Dek!” panggil Lily. “Dek Lio!” “Lagi ngapain dek? Bisa bantuin kakak gak?” tidak ada balasan apapun dari orang didalam kamar dan terpaksa Lily terus mengetuk pintu kamar Lio. Tetap nihil dengan itu, terpaksa Lily mengedor-ngedor pintunya dengan kasar dan meneriaki pemilik kamar itu agar keluar. “Woi buka pintunya dek!” ucap Lily meninggikan suaranya terdengar kasar sehingga kedua orang tuanya keluar kamar karena merasa terganggu dengan sikap Lily yang terkesan bar-bar dimalam hari. “Ada apa sih malam-malam begini bikin ribut saja! Bisa menggangu kedamaian rumah dan tetangga sekitar,” ucap Ibu Leani yang berjalan disebelah ayah Rendi menuju mendekatinya. Lily mensejajarkan dirinya agar berhadapan langsung dengan kedua orang tuanya. “Ini Bu, Ayah, si Lio aku panggilin gak menyahut. Aku tuh ingin minta tolong sama dia tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan didalam kamarnya.” sahut Lily dengan wajah memberengut sebal. Ibu Leani menatap kedua bola mata malas menuju ke arah Lily. “Begini nih kalau ada maunya pasti buat adik kamu susah, coba tadi adikmu telat sedikit minta tolong cuci piring pastinya kamu gak mau tolongin.” sindir Ibu Leani. “Ibu, jangan begitu,” ucap Ayah Rendi memperingati Ibu Leani. Ayah Rendi menoleh kearah Lily yang berdiri diam ditempat. “Lily mau minta tolong apa?” tanya Ayah Rendi to the point. “Mau minta tolong ambilin tas koper dan tas ransel diatas lemari Lily itu tinggi dan Lily gak bisa ambil sendiri.” jawab Lily jujur. “Ya sudah biar Ayah saja yang ambil.” Perkataan Ayah Rendi dibalas anggukan oleh Lily dan mereka berjalan menuju ke ruang kamar Lily. Ceklek! Pintu kamar Lio terbuka lebar membuat mereka menoleh ke arah belakang. “Ya ampun, Lio!” ucap mereka secara bersamaan saat melihat Lio yang mengenakan headseat ditelinganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD