Perkataan seorang pria itu membuat Alex menghentikan aktivitas menyiksa Lily. Lily yang menahan kedua tangannya untuk melindungi wajahnya agar tidak terkena pukulan Alex pun terhenti. Lily melihat Alex telah melangkah tegas menuju seorang pria tampan yang ingin ikut mencampuri urusan dirinya dengan Alex.
“Siapa dia?” tanya Lily dalam hati.
Lily berusaha berdiri dari duduknya, sakit itulah yang ia rasakan di beberapa bagian tubuhnya. Lily melihat Alex yang ingin menyerang pria tampan itu.
Alex berdiri di hadapan seorang pria tampan yang tak ia kenalinya. Alex mengepalkan kedua tangannya di ujung bajunya dan rahangnya mengeras apalagi pria tersebut tersenyum mengejek pada dirinya.
“Kau siapa?” tanya Alex to the point/
“Tidak perlu mengetahui siapa diriku, yang terpenting aku tidak suka gayamu yang sukar menyiksa wanita.” Jawab pria itu to the point.
Mendengar perkataan Pria itu yang terimindasi Alex membuat murka.
“Beraninya kau mengaturku! Kau siapa! Jangan ikut campur dengan urusanku atau…” perkataan Alex terhenti disaat Pria itu memotong pembicaraannya.
“Mau membunuhku?” ucap Pria itu ternyata memahami pola pikir Alex.
“Dasar Pengecut! Kau memang seorang pria pengecut yang lebih menghandalkan kekerasan dibandingkan pemikiran otak. Dasar dangkal dan tidak tahu malu menyiksa wanita. Ketahuilah, kau itu lahir dari Rahim wanita. Jadi, berpikirlah berulang kali jika ingin menyiksa seorang wanita itu sama saja kau menyiksa ibumu sendiri.” Perkataan Pria membuat Alex benar-benar ingin menyerang Pria itu.
“Omong kosong! Aku tidak butuh saran murahanmu itu. Kau tidak tahu apa permasalahanku dengan dia,” ucap Alex sambil menunjuk ke arah Lily.
Sementara Lily yang berdiri di tempat dan mendapat tunjukkan dari Alex. Ia begitu terkejut dan takut. Lily memundurkan dua langkah ke belakang untuk menghindari tatapan tajam dari Alex. Sampai akhirnya, Lily mendengar dengan jelas bahwa Alex mengajak Pria itu untuk bertarung.
“Jika kau berani mencampuri urusanku, ayo lawan aku.” setelah Alex mengatakan itu, Alex memajukan langkah untuk menghajar Pria itu dan terjadilah baku hantam.
Lily melihat Alex terus melayangkan pukulan pada Pria itu tapi dengan mudahnya Pria yang ingin membela Lily dapat menghindari pukulan Alex.
“Siapapun kamu, aku tetap mendukungmu untuk melawan Alex.” batin Lily.
Lily benar-benar merasa lelah dengan sikap Alex yang seenak jidatnya ingin menyiksa Lily tanpa merasa kasihan dengan kondisi Lily yang fisik dan mentalnya yang lelah.
“Semangat!” ucap Lily sedikit berteriak.
Pria itu menoleh ke arah Lily, senyuman manis itu membuat Lily merasa sesuatu dan kata Lily membuat Pria itu bersemangat dalam membalas serangan Alex yang bertubi-tubi. Hingga, tanpa terasa si Pria itu mampu mengalahkan Alex.
Alex jatuh tersungkur di atas tanah, ia terlihat lemah atas pertandingan yang ia mulai.
“Uhukkk, Kurang ajar.” lirih Alex dengan suara lemahnya. Setelah mengatakan itu, Alex tak sadarkan diri.
Pria itu tersenyum puas dengan sikap Alex yang berani menyerang wanita tanpa rasa kasihan sedikit pun.
Sedangkan Lily tampak merasa kasian dengan kondisi Alex yang tampak kritis yang dipukuli oleh Pria tampan yang melangkah tegas ke arah dirinya.
Walaupun, Alex sering menyiksanya. Lily masih memiliki hati nurani untuk menolong Alex. Lily ingin berjalan menuju ke arah Alex tapi tangannya dicekal oleh Pria itu. Lily menoleh ke arah Pria yang berada di sebelahnya. Kini tatapan mereka saling bertemu satu sama lain.
“Kenapa kamu menolongku?” ucap Lily bertanya pada Pria itu.
“Karena aku tidak ingin kamu tersakiti dan kamu berhak bahagia dengan pria yang tepat seperti diriku.” jawab Pria itu membuat Lily menyerhitkan keningnya merasa binggung.
Lily mensejajarkan tubuhnya agar berdiri di depan Pria itu. Pri itu memiliki tinggi tubuh 170 cm dan dirinya memiliki tinggi 150 cm.
“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Lily lagi.
Pria itu mengulurkan tangannya di depan Lily, tentunya, Lily menerima uluran tangannya itu.
“Namaku Dimetri,” ucap Pria itu menjawab pertanyaan Lily.
“Aku Lily.” Lily tersenyum tulus menatap Dimetri.
“Terima kasih sudah menolongku.” lanjut Lily.
Dimetri mengangguk dan ia melihat ke sekelilingnya.
“Pesanku, jangan pernah membiarkan orang yang ada di masa lalumu hadir kembali di masa depanmu. Sebab, bukan kebahagian yang akan kamu dapatkan melainkan kamu akan kembali terluka pada rasa yang salah.” perkataan itu membuat Lily terbangun dari alam mimpinya.
Lily menatap ke sekeliling kamarnya yang terasa dingin dan sunyi. Lalu, ia melihat jam dinding telah menunjukkan pukul 05.00 pagi yang menyuruhnya untuk Shalat subuh. Lily bergegas bangun dari tidurnya dan ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya.
Lily mengambil air wudhu untuk membasuh mukanya hingga telapak kaki, setelah selesai, ia berdoa dan mengambil mukenah dan sajadah untuk berdoa kepada ALLAH SWT. Di raka’at terakhir, Lily selalu menutup Shalatnya dengan berdoa kepada ALLAH SWT agar dirinya dan kedua orang tuanya serta adiknya diberikan kesehatan dan kesuksesan segala urusan.
“Ya Allah, semoga aku tidak bertemu dengan dirinya lagi, aku sangat membencinya.” kata Lily dalam hati.
Setelah selesai Shalat Subuh, Lily merapikan kembali alat shalatnya untuk ditaruh ke dalam lemari. Lily memilih berjalan keluar dari kamarnya menuju ke ruang dapur untuk bersiap-siap untuk memasak.
Di dalam dapur yang tertata rapi dan bersih, Lily sedang sibuk mencari bahan makanan untuk dimasaknya pagi ini. Lily memilih mengambil telur, sayur, nasi, kecap, dan bumbu untuk memasak nasi goreng kesukaannya.
Dengan cekatan Lily menaruh semua bahan makanan itu untuk dimasak. Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit, makanan nasi goreng ala Lily homemade telah masak.
“Hem… Harum sekali masakanku. Pastinya enak banget.” lirih Lily pelan.
“Wangi banget makanannya, anak gadis Ibu lagi masak apa?” ucap Ibu Leani yang berjalan mendekati Lily yang sedang sibuk mengisi nasi goreng di tempat piring.
Lily menoleh ke arah Ibu Liani yang memberikan senyuman tulus terhadap dirinya.
“Biasalah Bu, aku memasak makanan nasi goreng.” sahut Lily.
“Ayo Bu, duduk dulu. Biarkan Lily menaruh makanan nasi goreng buat Ibu.” Lily menarik kursi makan untuk diduduki oleh Ibu Leani.
“Terima kasih.” Ibu Leani menduduki kursi yang disediakan oleh Lily dan ia menerima piring yang berisi makanan nasi goreng.
“Apakah sudah cukup?” tanya Lily yang masih memegang penyedok nasi dan dibalas anggukkan oleh Ibu Leani.
“Okey, Ibu mau minum apa? Biar Lily saja yang buatin?” tanya Lily menawarkan pada Ibu Leani.
“s**u putih saja.” pinta Ibu Leani dan langsung dibuat oleh Lily.
“Hem… Harumnya masakan buatan kakak, aku mau coba,” ucap Lio berlari kecil menuju ke arah meja makan yang sudah tersedia tempat nasi goreng dan s**u putih.
Lio langsung mengambil piringnya untuk mengisi makanan buatan Lily dan gelas yang dituangkannya s**u putih.
“Pelan-pelan dek, nanti susunya tumpah loh.” Lily melihat Lio yang sibuk menyediakan minuman untuk dirinya tanpa menyisakan s**u kepada Lily dan Ayah Rendi.
“Kok dihabisin sih susunya, aku sama ayah gak kebagian loh dek.” Lily mencibirkan bibirnya di depan Lio dan Lio cuek bebek saja.
“Kakak bisa buat lagi dan siapa suruh membuat susunya sedikit.” sahut Lio.
Lily yang berniat mengisi nasi goreng ke dalam piring ayah pun terhenti, saat perkataan jengkel Lio yang seenak jidatnya berbicara. Lily menelisik gerak-gerik Lio yang sedang melahap habis makanannya.
“Gimana gak sedikit, kamu sengaja mengambil gelas berukuran jumbo untuk mengisi s**u putih itu,” ucap Lily to the point.
Lio menyengir kuda atas perkataan Lily.
Lily melanjutkan aktivitas untuk mengisi makanan di piringnya. Setelah itu, barulah, ia membuatkan kembali s**u untuk dirinya dengan ayah.
Lily memilih duduk disebelah Lio yang lihat sangat kelaparan. Sehingga, tidak terasa menambah tiga piring nasi goreng.
“Huft, dah lah rakus,” ucap Lily meledeki adiknya.
“Biarin.” setelah mendengar ucapan dari adiknya. Lily memilih menghabiskan makanannya dan ia ingin mengatakan sesuatu pada kedua orang tuanya.
Suasana menjadi hening dan hanya terdengar dentingan garpu dan sendok di atas meja. Lily melihat ayahnya yang telah menghabiskan makanannya dan ia cepat-cepat menghabis sesuap terakhir di piringnya serta meminum s**u putih murni.
“Ayah,” ucap Lily dan membuat Ayah Rendi mengalihkan pandangannya menuju ke arah Lily.
“Hem..” deheman Ayah Rendi membuat Lily berusaha menetralkan deru nafasnya.
“Ayah, dua hari lagi aku akan berangkat ke Jakarta. Aku ingin melamar pekerjaan di salah satu anak cabang Perusahaan Industri di Jakarta. Gajinya, gede dan bisa membantu perekonomian hidup kita. Aku harap ayah dan Ibu mau mendukung keputusanku,” ucap Lily dengan tatapan sendunya.
Ayah Rendi menghela nafas kasar dan ia menoleh ke arah Ibu Leani yang mengangguk setuju atas perkataan Lily.
“Baiklah, jika itu memang keputusan terbaikmu maka Ayah dan Ibumu menyetujui keinginanmu itu. Tapi ingat, saat berada di kota orang apalagi di masa pandemi Covid-19. Kamu harus tetap jaga kesehatan dan jaga jarak kepada siapapun.” jelas Ayah Rendi panjang lebar.
“Ibu harap kamu bahagia atas keputusanmu dan tidak menyesal atas konsekuensinya.” lanjut Ibu Leani.
“Iya Ayah, Bu. Lily sudah besar dan bisa menjaga diri.” balas Lily memberikan senyuman kepada kedua orang tuanya.
“Jangan lupa bawa oleh-olehnya.” celetuk Lio asal sambil menyuapi dirinya dengan nasi goreng.
“Ish… Kamu itu makan terus nanti gendut baru tahu loh. Kurusin badan itu susah yang mudah itu makan banyak dan gendut.” ejek Lily.
“Biarin, iri bilang dong.” sahut Lio.
“Dah lah, males aku bicara sama kamu.” Lily mengambil ponselnya dan ia mengarahkan layar ponselnya yang telah menampilkan berkas penting.
“Bu, Ayah, lihatlah. Dokumen yang aku kirimkan melalui website resmi perusahaan sudah diterima. Tinggal aku mengikuti test wawancara saja secara tatap muka.” Lily tampak bahagia dengan kemampuan keterampilan dirinya yang lolos seleksi di anak cabang Perusahaan Industri.
“Apakah menjamin kalau kamu akan diterima bekerja di perusahaan itu?” tanya Ayah Rendi polos.
Lily tampak berpikir sejenak dan ia tidak ingin kedua orang tuanya kecewa atas keraguannya.
“Tentu saja, aku diterima bekerja disana. Aku ingin memiliki penghasilan yang baik.” jawab Lily mantap.
“Oh iya, Lio, kamu sudah selesai makan?” tanya Lily pada adiknya.
“Sudah.” jawab Lio cepat.
“Kalau begitu, temani aku ke Supermarket.” Lily melirik ke arah Lio yang sedang menyenderkan tubuhnya di kursi makan.
“Baiklah, sebentar lagi. Kalau aku sudah tidak kenyang lagi,” ucap Lio dibalas anggukan oleh Lily.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi dan membersihkan sisa piring dan gelas kotor. Lily dan Lio pamit kepada Ibu Leani pergi ke Supermarket. Ayah Rendi sudah pergi ke kantor sejak tadi. Lily yang sudah mencium punggung tangan Ibu Leani, Ia pamit pergi bersama Lio menggunakan sepeda motor.
Sekitar satu jam setengah, Lily dan Lio telah sampai di area parkiran Supermarket. Lily memilih berjalan lebih dulu menuju ke arah pintu utama Supermarket diikuti oleh Lio dari arah belakang.
Lily memutuskan mencuci tangannya dengan sabun dan membasuhnya dengan air kran yang mengalir yang sengaja disediakan oleh setiap Supermarket dan ia melihat suhu tubuhnya untuk mengikuti protokol kesehatan. Lily disambut oleh kedua karyawan Supermarket dan Lily membalas sapaannya. Lily mengambil tempat troli untuk mengisi barang belanjaannya.
“Dek, Kita ke bagian buah-buahan dulu ya. Kakak pengen membuat salad buah.” Lily menoleh ke arah Lio yang berjalan di belakangnya.
“Okey.” setelah menerima persetujuan itu. Lantas. Lily memilih beberapa buah-buahan apel, anggur, strawberry, mangga, alpokat, jeruk, pisang. Setelah itu, ia menyerahkan barangnya agar dibawakan oleh karyawan dan memberikannya tiket barang belanjaannya untuk dibayar ke kasir.
Lily melanjutkan langkah kakinya menuju ke ruang makanan yang dapat ia pilih bagian ikan segar, daging sapi segar, sayur manis, serta wortel, kentang dan bumbu lainnya ia ambil sebanyaknya untuk menjadi bahan makanannya untuk dibawa ke Jakarta.
“Kakak beneran ingin membeli semua makanan ini dan dibawa ke Jakarta? Apa tidak takut basi?” tanya Lio mulai menyelidiki Lily terus memasukkan bahan makanan.
“Iya, jangan takut setelah ini kita menuju ke ruangan snack dan minuman.” perkataan Lily membuat Lio bungkam karena ia sangat menyukai makanan siap saji.
Lily mengajak adiknya untuk memilih makanan snack apapun untuk ia beli, mengingat, ia akan berangkat dua hari lagi setelah melengkapi semua berkas beberapa minggu yang lalu. Kini, ia membiarkan adiknya merasa senang dan tersenyum padanya untuk saat terakhidirnya.
“Pilihlah yang kamu inginkan maka aku senang hati akan membayarnya,” ucap Lily dibalas senyuman bahagia Lio.
“Okey, Terima kasih kak.” Jawab Lio dan Lily memilih makanan dan minuman siap saji untuk ia bawa sebagai cemilan.
Kemudian, Lily menyuruh Lio untuk membawa tempat troli itu menuju ke meja kasir untuk dibayar.
“Berapa jumlah seluruhnya, kak?” tanya Lily pada pegawai kasir yang tengah menghitung semua makanan yang dibelanja oleh Lily dan Leo.
“Lima ratus delapan puluh ribu.” jawab Karyawan kasir sambil tersenyum manis pada Lily.
Lily mengambil uang tunai yang ia sediakan dan memberikan sejumlah uang itu pada karyawan kasir. Setelah itu, Lily melihat Lio yang bersemangat membawa semua plastik berukuran besar untuk dibawa menuju ke area parkiran motor.
Lily tersenyum senang melihat adiknya sedang bahagia.
“Sudah bahagiakah dirimu hari ini?” tanya Lily iseng.
“Bahagia banget.” jawab Lio jujur.
Lily menerima helm yang diserahkan oleh Lio untuk dikenakannya dan mereka siap meninggalkan area parkiran Supermarket.
Tidak terasa, terik matahari telah menyinari permukaan bumi. Untungnya Lily selalu mengenakan jaket tebal dan skincare agar kulit putihnya tidak kusam. Motor yang dikendarai oleh Lio dan ditumpangi oleh Lily telah terparkir rapi di halaman depan rumah minimalis orang tuanya.
Baru saja, Lily ingin membantu mengangkut bawaan belanjaannya di Supermarket. Lily mendengar suara Ibu Leani.
“Anak kesayangan Ibu sudah pulang. Banyak banget belanjaannya? Mau nyetok makanan selama satu bulan kah?” tanya Ibu Leani yang berdiri di depan Lily dan Lio.