Sinar matahari telah berganti dengan gelapnya paronama bulan. Semua perlengkapan lamaran pekerjaan telah Lily sediakan sejak pagi tadi. Kini, Lily bergegas menuju ke kamar mandi yang letaknya di sebelah ruang kamarnya.
Setelah menyelesaikan gosok gigi dan mencuci muka sebelum tidur, Lily melangkah masuk ke dalam kamarnya. Tidak lupa ia berganti pakaian tidur untuk melepaskan diri di atas kasur yang sederhana tapi nyaman untuk ditempati. Lily menyelimuti kaki mulusnya menggunakan selimut tebal, mengingat bulan ini muslim hujan jadi ia tidak ingin kedinginan.
Tidak memerlukan waktu yang lama, dua menit kemudian, Lily telah terlelap ke dalam alam mimpinya.
Di sebuah taman wisata yang terletak di sekitar sungai. Banyak dihiasi berbagai pohon dan bunga yang bermekaran indah hingga kupu-kupu berwarna-warni berterbangan untuk menghiasi keindahan alam. Lily yang berjalan sendirian, ia tampak bahagia dengan dekor alam.
Lily terus melangkahkan kakinya menuju ke arah taman itu.
"Indah sekali," ucap Lily memuji taman itu, ia tersenyum manis saat melihat ada anak-anak kecil yang berlarian ke arahnya.
"Hay kakak cantik," sapa anak perempuan kecil berbaju pink dan berbaju lylac dengan suara cadelnya.
Dua paduan warna itu hampir serupa dengan warna gamis yang ia kenakan bersama hijab pasminanya.
"Hay juga adik-adik cantik, siapa nama kalian?" balas Lily tersenyum ramah.
"Nama aku Rika dan teman aku bernama Ayu. Nama kakak siapa? Kakak sendirian datang kemari? Dimana panutan hati kakak?" tanya kedua gadis kecil yang menatap polos ke arah Lily.
Lily menghela nafas sejenak dan ia tersenyum hangat ke arah kedua gadis kecil itu.
"Nama yang cantik sama seperti adik-adik yang cantik." Lily menatap intens ke arah wajah bulat milik anak kecil itu.
"Namaku Lily dan kakak sudah terbiasa pergi sendirian. Kakak masih single dan baru lulus kuliah." jawab Lily dengan suara cadel khas anak kecil berumur 5 tahun.
"Oh kakak masih sendiri? Hem..." ucap Ayu dengan suara cadel.
"Iya, hehehe..." tawa Lily malu.
"Bagus deh kak, kakak terhindal dari perbuatan fitnah dan zina." sahut Rika cadel.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kami jodohkan kakak dengan seorang pria tampan dan baik hati untuk menjadi teman sekaligus teman hidup kakak." tawar Rika to the point.
"Hem... Seperti tidak terlalu buruk untuk mencoba." sahut Lily yang sedikit berpikir jernih.
Rika dan Ayu tersenyum senang saat tawaran mereka dikabulkan oleh Lily.
"Mari kak ikutlah dengan kami," ajak Rika dan Ayu mengandeng lengan tangan Lily.
Lily mengikuti langkah kaki kecil Rika dan Ayu yang berjalan di sebelahnya.
"Rumah kalian dimana? Dimana kedua orang tua kalian?" tanya Lily sambil berjalan.
"Kami tinggal di sekitar sini dan orang tua kami sedang bertengkar." jawab Ayu singkat.
Lily yang mendengar ucapan kedua anak kecil itu langsung terdiam karena ia merasa kasian pada kedua anak kecil itu merasakan betapa egoisnya kedua orang tua mereka yang tidak memperdulikan keadaan mereka.
Lily terus berjalan melewati pohon rindang yang menyejukkan hati hingga samar-samar seorang pria bertubuh kekar dan besar sedang berdiri membelakanginya. Pria yang mengenakan pakaian jas lylac senada dengan celananya sedang asyik menatap danau kecil di sekitar taman.
"Kakak, itu dia kakak tampan yang baik hati dan tidak sombong," ucap Rika dan Acu secara bersamaan.
"Bukankah pria itu mirip seperti Alex?" Lily terus menatap lurus ke arah pria itu, di dalam hatinya ia terus bertanya-tanya.
" Ah... Mana mungkin Alex ada disini, aku pasti salah lihat dan hanya sekedar mirip saja dengan tubuh kekarnya." kata Lily dalam hati.
"Kak Alex!" panggil Rika dan Ayu dengan suara cadelnya.
Deg!
Tiba-tiba detak jantung Lily terasa berhenti saat melihat pria tampan itu menoleh ke arahnya.
Pria tampan itu tersenyum hangat saat melihat kehadiran Lily yang berdiri tidak jauh darinya.
"Hay sweety, kita bertemu lagi," ucap Alex dengan suara beratnya.
Raut wajah Lily terlihat kaget, apabila Alex berjalan menuju ke arahnya.
"Tidak mungkin, ini pasti tidak mungkin Alex." lirih Lily memundurkan langkah kakinya ke arah belakang.
"Kak Alex, Kak Lily, kami permisi dulu. Kami mau main ke arah sana." pamit Rika dan Ayu yang mulai berjalan ke arah pinggir taman.
Lily sekilas menoleh ke arah kedua anak kecil itu. Rasanya, Lily ingin meminta tolong pada kedua anak kecil itu agar tetap bersamanya tapi itu mustahil karena kedua anak kecil itu telah menjauh dari hadapannya.
Lily terus melihat wajah tampan Alex yang tersenyum hangat di hadapannya. Hingga langkah kaki Alex terhenti di hadapan Lily.
"Al-alex," ucap Lily terbata-bata.
"Iya, aku disini sayang. Apa kabar kamu?" tanya Alex seraya menyentuh pipi cabi Lily dengan telapak tangannya.
"Ak-aku baik-baik saja." jawab Lily terbata-bata dan ia langsung menepis tangan Alex namun dengan cepat Alex menggenggam tangan Lily.
"Lepaskan aku, Alex!" teriak Lily.
"Tidak! Kamu tidak boleh pergi dariku lagi. Aku tidak akan pernah melepaskan dirimu dari sisiku lagi." sahut Alex yang telah berubah tatapan tajam ke arah Lily.
Lily tampak tidak nyaman dengan sikap keposesifan Alex. Alex dengan seenaknya mengatur hidup Lily dan menyiksa Lily atas kecemburuannya. Yang lebih parah lagi, Alex membawa Lily untuk menyaksikan langsung kebejatan Alex yang membunuh korban yang berani menyentuh Lily tanpa seizinnya.
"Aku tidak mau," ucap Lily yang berusaha menarik tangannya di genggam kuat oleh Alex.
"Alex, sakit," ucap Lily tapi tak dihiraukan oleh Alex. Alex yang tak tahan dengan sikap penolakan Lily, ia langsung menarik Lily agar masuk ke dalam pelukannya.
"Hangat." batin Alex dan Lily. Mereka terhanyut dengan perasaan rindu yang telah lama tak bertemu.
"Kenapa aku tak bisa menolak? Apakah aku masih mencintainya?" tanya Lily dalam hati.
"Sayang, maafkan aku. Maafkan aku karena telah membuatmu menderita atas kejahatanku. Aku mohon, menikahlah denganku," ucap Alex masih memeluk Lily.
Lily mematung sejenak dan ia mengerti kalau Alex mencintainya. Tapi, Lily tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya yang tak merestui hubungannya dengan Alex.
Lily meregangkan pelukan hangat dari Alex dan ia melihat wajah tampan Alex yang sama seperti dulu. Lily mencari kebohongan di kedua mata biru tosca milik Alex tapi ia menemukan kejujuran.
Lily berpikir jernih untuk memulihkan dirinya siap melarikan diri dari Alex. Ia melepaskan pelukannya dari Alex dan ia menatap wajah sendu milik Alex.
"Alex, sepertinya menunggu jawaban dariku." batin Lily.
Lily terus menatap wajah tampan milik Alex dan ia menelisik ke sekitar taman untuk mencari jalan pintas.
"Itu dia jalannya." kata Lily dalam hati.
Alex yang mengerti gerak gerik tidak beres dari Lily. Ia langsung mencengangkan dagu Lily.
"Cepat katakan iya, karena aku tidak sabar ingin menikahimu," ucap Alex dengan terdengar suara mengintimidasi.
"Ak-aku tidak mau, Alex." jawab Lily jujur.
Alex tidak puas dengan sikap Lily, ia langsung mendorong Lily terjatuh di atas rumput.
"Aw... Sakit," pekik Lily.
"Kenapa sikapnya berubah drastis menjadi kejam. Pasti ia tidak puas dengan penolakanku." gumam Lily pelan.
Alex yang geram dengan jawaban Lily, ia langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi di wajah cantik Lily. Dua pukulan tepat mengenai pipi dan sudut bibir Lily hingga mengeluarkan darah segar.
Lily menangis menahan rasa sakit yang menjalar di bagian wajah cantiknya. Ia menghalangi kedua tangannya agar tidak terkena pukulan oleh Alex. Alex yang tidak puas memukul Lily, ia langsung menarik hijab Lily hingga berantakan.
"Hey pengecut! Apa yang kamu lakukan dengan wanita itu? Apakah kamu tidak punya hati nurani karena seenaknya melukai wanita!" teriak seorang pria yang berada di belakang Alex.