Edwyn bahagia sekali hatinya pagi ini. Bagaimana tidak? Dia bisa satu mobil dengan seorang direktur di kantor, dalam perjalanan meeting penting ke Bandung selama dua hari. Mereka menggunakan salah satu mobil kantor lengkap dengan sopirnya. Edwyn sejak tadi duduk tenang di kursi belakang, di samping Inggrid. Tadinya Edwyn sudah mau naik ke kursi penumpang depan, tapi Inggrid menyuruhnya pindah ke belakang, duduk bersamanya. Inggrid masih sibuk dengan handphone. Mungkin urusan pekerjaan, pikir Edwyn. Maka dia tidak berani menegur sejak tadi. Sampai Inggrid berdeham pelan, barulah Edwyn menoleh dan menatap menunggu perintah. “Hemm Edwyn, nanti sesampainya di Bandung, kamu langsung urus hotel, ya. Kamar dan nama hotelnya sudah diinfo oleh Mbak Rosa, kan?” “Oh iya, sudah Bu. Nanti saya ya

