1. Tubuh Yang Mulai Berubah
Malam sudah cukup larut ketika mobil hitam Liam memasuki halaman rumah. Lampu taman menyorot genangan air hujan sore tadi, memantulkan cahaya kuning yang bergoyang pelan.
"Kau menikmati pestanya?" tanyanya pada sang istri ketika mereka turun dari mobil. Suaranya berat, sedikit serak, efek dari dua gelas wiski tadi.
Wanda tersenyum tipis. Bibirnya masih terasa kering meski sudah berkali-kali dijilat. Ia mengangkat bahu.
"Lumayan."
Liam mendengus pelan. Matanya yang kehijauan, warisan dari ayahnya yang berkebangsaan Irlandia, menyipit lucu.
"Jawabanmu terdengar seperti sedang diwawancarai."
Wanda terkekeh. Suaranya terdengar renyah di malam yang sunyi, tapi ada nada letih yang tak bisa ia sembunyikan.
"Aku lelah."
Liam mengangkat tangan Wanda, membalikkannya, lalu menempelkan bibirnya pada pergelangan tangan yang masih terasa hangat. Di sana, di titik di mana denyut nadi berdetak lambat, Liam mengecupnya dengan lembut.
"Ya malam ini cukup melelahkan."
Jemarinya yang dingin menyentuh kulitnya. Wanda menahan napas.
Dulu, hanya satu ciuman seperti ini cukup untuk membuat tulang punggungnya merinding. Dulu, Liam hanya perlu menyentuh pergelangan tangannya seperti ini dan Wanda sudah kehilangan kata-kata.
Tapi malam ini?
Ia hanya merasa ... hangat. Tidak lebih.
Wanda menggerakkan bibirnya berusaha tersenyum. Ia melangkah masuk ke dalam rumah.
Di belakangnya, Liam mengikuti dengan langkah santai, tangan di saku celana, matanya menatap punggung sang istri dengan sorot yang sulit diartikan.
Di dalam rumah, Wanda melepas sepatu dan menaruhnya di rak. Ia membungkuk terlalu cepat, kepalanya berdenyut sebentar. Tapi sebelum ia sempat berdiri tegak, Liam sudah berada di belakangnya. Tangannya menyentuh pinggang Wanda, jari-jarinya menelusuri kain blus sutra yang masih melekat di tubuhnya.
"Capek?" bisiknya di dekat telinga Wanda. Nafasnya hangat, beraroma wiski dan mint.
Wanda menggeleng pelan. Rambutnya yang tersimpul rapi mulai terurai, beberapa helai jatuh ke pipi.
"Sedikit."
Liam mengecup pelipisnya. Bibirnya lembap dan lembut. Tangannya bergerak naik, meraba bahu Wanda yang terasa kaku.
Wanda berbalik menghadapnya.
Tatapan mereka bertemu.
Liam menatapnya dengan sorot yang Wanda tahu betul, lambat, dalam, dan penuh hasrat yang tertahan. Di ruang kamar yang hanya diterangi lampu tidur dari sudut, bayangan wajah Liam jatuh membentuk rona gelap di bawah tulang pipinya.
Ia mendekatkan wajahnya.
Wanda menutup mata.
Ciuman pertama terasa sama seperti dulu. Lembut, ragu, penuh tanya. Liam selalu seperti ini saat memulai, seolah meminta izin, seolah takut Wanda berkata tidak.
Wanda membalasnya.
Ia membiarkan tangan Liam melingkar di pinggangnya. Membiarkan pria itu mendorongnya perlahan hingga punggungnya menyentuh dinding. Membiarkan ciuman itu berubah lebih dalam, lebih lapar.
Wanda terdiam.
Liam menarik diri, menatap Wanda dengan dahi berkerut.
"Kenapa?"
Wanda menggeleng cepat.
"Tidak apa-apa."
"Kau yakin?"
"Iya."
Ia memaksakan senyum. Otot-otot di wajahnya terasa kaku.
Tapi Liam tidak bergerak. Ia masih menatap Wanda, mata hijaunya menyipit, seolah. membaca sesuatu yang tak terucap.
Wanda mengulurkan tangan, meraih kerah kemeja Liam, dan menariknya mendekat lagi. Ia menciumnya, kali ini lebih keras, seolah bisa menutupi keheningan yang tiba-tiba menggantung di antara mereka.
Liam merespons.
Tapi kali ini, saat tubuhnya mendesak Wanda lebih dalam ke dinding, Wanda merasakan sesuatu yang aneh.
Bukan sakit.
Bukan ketidaknyamanan fisik.
Tapi ... kekosongan.
Seperti ada ruang hampa di dalam dadanya yang seharusnya berisi debar.
Ia masih bisa mencium aroma parfum Liam, campuran kayu cedar dan jeruk yang selalu ia kenali. Masih bisa merasakan hangatnya telapak tangannya di punggungnya. Masih mendengar helaan napasnya yang memburu.
Tapi tubuhnya?
Tubuhnya diam. Dingin. Tak bergerak.
Wanda memejamkan mata lebih erat. Ia membiarkan Liam membawanya ke kamar. Membiarkan kancing kemejanya terbuka satu per satu. Membiarkan tubuhnya jatuh ke atas seprai yang masih berbau pelembut pakaian kegemarannya.
Liam bergerak di atasnya, dan Wanda berusaha merespons. Ia menggigit bibir bawahnya. Ia mengerjapkan bulu mata. Ia bahkan mengeluarkan suara, desahan kecil yang dulu keluar alami, kini ia paksakan keluar dari kerongkongannya yang tercekat.
Tapi matanya terbuka.
Dan ia menatap langit-langit kamar. Lampu gantung kristal yang mereka beli di Italia tiga tahun lalu berkilau redup, memantulkan bayangan yang bergetar mengikuti gerakan suaminya.
Wanda menghitung kilauan kristal itu.
Satu. Dua. Tiga.
Liam mencapai puncaknya dengan desahan panjang, tubuhnya bergetar sejenak sebelum jatuh lemas di samping Wanda. Dadanya naik turun cepat. Keringat membasahi pelipisnya.
Ia menoleh ke samping, bibirnya melengkung membentuk senyum khasnya yang selalu membuat Wanda luluh.
Tapi Wanda masih menatap langit-langit.
Bibirnya setengah terbuka. Wajahnya pucat di bawah sorot lampu samping tempat tidur.
Senyum kepuasan perlahan menghilang dari wajah Liam.
"Sayang?"
Wanda tersentak. Matanya berkedip cepat, seperti orang yang baru sadar dari lamunan panjang.
"Hm?"
"Kau tidak apa-apa?"
Wanda mengangkat sudut bibirnya. Ekspresi yang ia harap terlihat seperti senyum.
"Aku cuma mengantuk."
Liam mengamatinya. Sorot matanya bergerak dari mata Wanda yang sembab, ke bibirnya yang sedikit tergigit, ke jari-jarinya yang menggenggam erat ujung selimut.
Ia tahu Wanda.
Ia tahu cara istrinya menarik napas saat bahagia. Ia tahu cara istrinya memejamkan mata saat terlena. Ia tahu getaran kecil di kaki Wanda saat ia mencapai puncak.
Dan malam ini, Wanda tidak melakukan satu pun dari semua itu.
"Wanda ...."
Namun istrinya sudah bangkit dari tempat tidur. Kaki telanjangnya menginjak karpet bulu dengan gerakan tergesa.
"Aku ke kamar mandi sebentar."
"Wanda." Liam memanggil lagi.
Tapi Wanda terus berjalan. Ia tak menoleh. Tak berhenti.
Pintu kamar mandi tertutup dengan bunyi yang pelan.
Beberapa detik kemudian, suara keran air mengalir.
Wanda berdiri di depan wastafel. Kedua tangannya bertumpu pada tepi marmer yang dingin. Ia menatap cermin.
Di sana, seorang wanita berusia empat puluh tiga tahun menatapnya kembali. Rambut cokelatnya kusut, beberapa helai menempel di pelipis yang berkeringat. Matanya sembap. Dan di bawah cahaya lampu kamar mandi yang terang, Wanda bisa melihat dengan jelas, kerutan halus di sudut matanya, kulit di lehernya yang mulai kehilangan kekencangan, dan di dalam matanya ...
Kekosongan.
Sama seperti yang ia rasakan tadi.
Wanda menundukkan kepala. Ia menggigit bibir bawahnya, keras, sampai ia merasakan rasa logam di lidahnya.
"Ada apa denganku?"
Pertanyaan itu keluar seperti bisikan. Pecah. Hampir tak terdengar oleh telinganya sendiri.
Sudah berapa minggu ini terjadi?
Empat? Enam?
Awalnya hanya rasa lelah yang tak biasa. Lalu datang panas di sekujur tubuh tanpa sebab, yang membuatnya terbangun di tengah malam dengan keringat membasahi leher. Emosinya naik turun, pernah ia menangis hanya karena melihat iklan s**u bayi di televisi. Dan beberapa minggu terakhir, ia merasakan sesuatu yang lebih mengerikan lagi.
Ia tidak menginginkan Liam.
Bukan karena ia tidak mencintainya. Bukan karena ada pria lain. Bukan karena pernikahan mereka retak.
Tapi tubuhnya ... tubuhnya seperti milik orang lain.
Seorang asing yang tinggal di kulitnya.
Wanda menegakkan kepalanya. Ia memandang pantulan tubuhnya yang telanjang di cermin.
Pinggangnya masih ramping. Dadanya masih terlihat indah. Kakinya masih jenjang.
Tapi semua itu terasa seperti properti yang tak lagi ia kenali.
Liam masih ada di luar sana. Menunggu. Mungkin bertanya-tanya. Ada apa dengan dirinya?
Wanda tahu, jika ia kembali ke kamar, Liam akan memeluknya. Akan bertanya dengan lembut. Dan Wanda akan berbohong. Lagi. Dan lagi.
Karena bagaimana ia bisa mengatakan kebenaran?
Wanda menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air keran masih mengalir. Suaranya menutupi isak tangis yang mulai keluar dari dadanya.
Di balik pintu, Liam masih duduk di tepi tempat tidur. Kedua sikunya bertumpu pada lutut, kepalanya menunduk. Jari-jarinya memilin cincin kawinnya, memutar-mutarnya perlahan.
Di dalam kamar mandi, Wanda menangis tanpa suara tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Ia benar-benar tidak mengerti.