Yasa
Tubuh merinding ketika Om Dino berbisik demikian, kenapa semuanya menjadi seperti ini? Padahal aku memang sama sekali tidak ada niat untuk berpisah dengan Qiera, aku hanya suka menakutinya saja.
"Bagaimana, kau siap kan untuk berpisah?" Lelaki itu kembali berbisik, tapi aku memilih diam, dan berpura-pura tidak mendengar semuanya. Bukan ini yang aku inginkan sejak awal, aku hanya ingin Qiera pintar menjaga rumah, anak-anak, juga mengelola uang dengan baik.
Jiak dia tidak kunjung menurut, maka aku akan membuatnya menurut dengan luka yang akan aku torehkan lewat obat yang lama-kelamaan akan membuatnya kehilangan kesadaran, tapi bukan perceraian.
"Kau nerima ataupun tidak, kalian tetap harus berpisah. Lagipula tidak mungkin aku membiarkan keponakanku untuk bersama dengan lelaki ular seperti kamu," ucapnya lagi.
Tanganku mengepal semakin kuat, ingin rasanya aku meluncurkan bogem mentah ke arahnya, tapi tidak bisa. Di sini ada banyak orang, bahkan bapak dan mertuaku juga ada di sini.
Aku harus bisa menahan diri lebih lama dalam kesabaran.
"b***k, ya? Kalau benar, akan lebih baik untuk kalian berpisah." Ia kembali bicara.
Sial. Kupikir dia akan diam kalau aku tidak bicara, nyatanya dia malah terus mengatakan apapun uang ingin dikatakannya. Sebenarnya apa keuntungan yang bisa dia dapatkan dari semua ini? Kenapa yang lain tidak bisa mengatakan kalau hal ini dosa?
"Cukup! Aku tidak akan pernah menceraikan Qeira, Pak." Aku berkata mantap.
"Apa kau mencintainya?" Bapak bertanya dengan mata yang menatapku tajam. "Tidak, kan? Bahkan kau sendiri tidak tahu apa yang sedang kau rasakan."
Aku memilih diam, karena apa yang bapak katakan benar. Aku memang tidak ingin berpisah dengan Qiera, tapi aku juga tidak tahu alasan kenapa aku harus mempertahankannya. Semuanya ternyata begitu sulit jika dipikirkan.
"Sudah pasti tidak. Karena kalau cinta, tidak mungkin dia sampai berani menyentuh anak-anak sejauh itu!" Paman Qiera kembali bicara. Sebenarnya dia siapa, kenapa ikut campur ke dalam rumah tangga kami?
"Sudahlah Yasa, sekarang ucapkan talaknya!" titah Bapak setengah berteriak.
Wajahku tiba-tiba merasa panas. Bagaimana aku bisa mengucapkan talak kalau kata berpisah memang tidak pernah ada di dalam kamusku dan tidak pernah terbersit ingin melakukannya.
Aku berjalan ke arah keluarganya Qiera dan berlutut. "Aku tahu apa yang sudah aku lakukan adalah kesalahan yang sangat besar, aku juga tahu kalau kata maaf tidak mungkin kalian ucapkan padaku, tapi dengan segenap hati dan jiwaku, aku mohon, maafkan aku, dan kita pertahankan pernikahan ini," lanjutnya romantis.
Suasana mendadak hening dan semuanya entah larut ke dalam situasi seperti apa. Apa perkataanku terlihat atau terdengar seperti main-main?
Apa orang-orang dewasa ini menganggapku seperti anak kecil yang suka berkata sembarangan?
Aku menatap ke arah Qiera yang memalingkan wajahnya. Aku memang muak dengan sikapnya, tapi aku sedikit pun tidak punya niat untuk menceraikannya. Malah aku ingin membesarkan anak-anak dengannya sampai melihat mereka sukses nanti.
Bagaimana Qiera, apa kau tidak percaya padaku dan perkataan tulus yang baru saja aku ucapkan sampai kau memalingkan wajahmu itu?
"Bagaimana Qiera?" Paman Dino malah bertanya pada Qiera yang sepertinya memang ingin rumah tangga ini selesai.
"Tidak! Dia hanya seorang istri, kenapa malah bertanya padanya? Kalau aku mau lanjut, harusnya cukup mendengarkan pendapatku saja!" bentakku kesal.
Aku berharap mereka sadar dan membiarkan kami bersama, tapi nyatanya aku malah mendapatkan tamparan yang begitu menyakitkan.
"Apa kau sudah gila? Kau tidak waras? Bagaimana mungkin kau bisa berbicara begitu dengan lancarnya?" Bapak tidak berhenti membentak aku.
"Cukup, Pak, tidak usah buang-buang energi untuk orang seperti ini. Yasa memang begitu, sepertinya itu sudah keturunan dari neneknya dulu," sahut Papa.
Lelaki itu biasanya diam ketika kami ada masalah, tapi sekarang malah ikut bicara yang mendukung perceraian ini.
"Pokoknya aku tidak mau cerai, titik!" Aku menggebrak meja yang ada di hadapan mereka, lalu kembali ke kamar tanpa meninggalkan satu kata pun.
***
"Bagaimana ini?" Terdengar Qiera bertanya dengan panik.
"Sebaiknya kita batalkan saja perceraiannya ya, Nak. Ibu janji tidak akan berbuat begitu lagi, jadi maafkan Yasa, ya?" Dapat aku dengar kalau ibu memohon.
"Untuk apa? Agar anakmu mau menyiksa anakku lagi?" Keluarga Qiera terdengar sangat emosi. Untuk kali ini aku benar-benar meninggalkan mereka dan mengunci pintu kamar.
"Kalau kau tetap kasar seperti ini, Qiera bisa pergi dari hidupmu begitu saja!" ucap Jordi kala itu.
Aku yang saat itu sangat percaya kalau Qiera tidak mungkin melakukan itu pun hanya diam sambil menatap sendu ke arah foto pernikahan yang sejak lama terpasang di sisi nakas meja ini.
***
Di waktu makan malam, terpaksa aku keluar untuk melihat Qiera yang mungkin masih memikirkan pilihan yang tadi aku berikan. Namun yang aku bayangkan sangat jauh dengan kenyataannya, Qiera sudah tidak ada di rumah ini.
"Siapa yang kau cari sebenarnya?" Paman Dino tiba-tiba muncul di depanku dengan sosok yang begitu mengerikan. "Apa kau mencari wanita, ibu dari anak-anak yang selalu kau lukai itu?" tanyanya penuh penekanan.
Aku hanya menatapnya dalam bisu, lalu memutar langkah untuk kembali masuk ke kamar, tapi entah kapan tangan laki-laki itu tiba-tiba ada di tanganku, lalu menariknya hingga tubuh ini hampir terjatuh.
"Kenapa, pusing kah?" tanyanya dengan senyuman menyeringai. "Dasar cemen!" bentaknya lagi, lalu menjauh, dan pergi ke arah dapur. Apa yang sebenarnya dia inginkan?
Aku menatapnya geram ketika melihat Qiera membawa banyak makanan dari dapur ke arah meja ruang tamu. Ia menatapku heran. "Ada apa?" tanyanya datar.
"Ah, tidak."
Aku hanya bisa berkata begitu. Entah kenapa setelah kejadian tadi, aku merasakan energi yang berbeda dari tubuhnya Qeira. Kita seperti sudah lama tidak berjumpa sampai membuatku segan untuk berbicara seperti biasa padanya.
Apa ini yang dinamakan dengan perubahan wanita yang katanya sangat menakutkan daripada hewan buas itu?
"Ayo, makan dulu!" teriak Bapak membuatku heran.
Ada yang kurang di sini, tapi apa?
Lama aku berpikir, tapi tidak juga aku temukan apa itu.
"Kau memang sudah pantas untuk ditinggalkan!" Laki-laki yang bernama Dion ini kembali berbisik.
Dasar keluarga yang tidak tahu malu dan kuno terhadap agama. Bukankah seharusnya dia mengingatkan keponakannya ini kalau menjauhi suami adalah perbuatan dosa yang begitu besar, tapi kenapa dia malah mendukungnya, dan menyudutkan aku seperti ini?
Brak!
Aku menggebrak meja ketika melihat Qiera dan Dino itu saling menyuapi. Apa-apaan mereka ini, hah? Kenapa begitu tidak tahu batas?
"Apa yang kau lakukan, apa kau sudah gila?" Bapak kembali berteriak dan kali ini sepertinya bener-bener marah. "Sepertinya yang dikatakan pamannya Qeira benar, kau sudah kehilangan akal, dan harus segera dipisahkan dari anak-anak ataupun Qiera!"
"Tidak bisa, mereka anak-anakku, kenapa kalian harus melakukan ini padaku? Apa kesalahan yang sudah aku lakukan sebenarnya?" Tanpa sadar, aku berteriak.
Papa mertua tiba-tiba saja meminta anak buahnya untuk mencekal pergelangan tanganku.
"Menjauhlah dariku!" teriakku geram, apalagi aku sama sekali tidak bisa mengendalikan emosiku sendiri. Kenapa ini? Kenapa aku tidak bisa sadar dengan kata-kata yang keluar begitu saja dari bibirku?