Tidak!" Ibu menjerit-jerit histeris selama beberapa saat, lalu berlari ke arah Qiera, dan dan handak menamparnya.
Aku tidak terkejut, Ibu memang sering melakukan itu kepada Qiera, tapi aku sangat berbeda ketika melihat Qiera menahan tangan ibu dan menjatuhkannya.
"Kenapa? Mau jadi mantu durhaka ya, kamu?” Ibu kembali menjerit.
"Aku tidak akan seperti ini kalau Ibu tidak mencari masalah lebih dulu. Dari awal aku memang selalu melakukan apapun yang Ibu perintahkan, karena aku sadar kalau Ibu adalah wanita yang harus aku hormati. Tapi apa yang aku dapatkan?" Qiera mengungkapkan isi hati yang selama ini selalu dia pendam.
Aku sendiri tidak tahu kalau dia tertekan dengan keadaan ini. Aku pikir selama ini dia baik-baik saja, karena selalu tersenyum dan tidak pernah mengeluh. Ternyata aku salah.
"Baik, maafkan Ibu, Qiera." Aku berkata tanpa sadar, sampai membuat Ibu menatap geram ke arahku. "Maafkan Ibu juga, apa yang seorang Ibu lakukan tidak pernah salah."
Qiera yang awalnya terkejut dengan perkataan maafku, kini tertawa kecil dengan mata yang melihat kami penuh kebencian.
"Terserah, apapun yang kalian lakukan, aku tetap tidak akan tinggal diam. Terutama jika kalian menyentuh anak-anak, aku tidak suka, dan paling benci hal itu." Qiera melipat tangan di d**a. "Ayo, siapa yang mau marah-marah lagi? Untuk kali ini aku ladeni!"
"Lalu, bagaimana caranya kau mengganti rugi baju kami yang berubah menjadi jelek ini?" Yani menarik tangan Qiera yang sudah mulai tenang dan berbicara keras padanya.
"Lah, yang nyuci kan Mas kamu, kenapa jadi aku yang harus bertanggung jawab? Ngaco!" Qeira mendengus kesal, lalu masuk ke dalam kamarnya tanpa mendengarkan teriakan dan jeritan Ibu juga Yani.
Qiera tidak menutup pintu kamar, jadi aku bisa melihat dengan jelas kalau dia sedang membersihkan kamar. Aku menghampirinya ke sana dan duduk di atas tempat tidur.
"Harusnya kamu tidak berbicara seperti itu sama Ibu," ucapku pelan agar emosinya tidak kembali aktif. "Nanti jangan lupa minta maaf."
"Maaf? Heh, terserah apapun yang kau inginkan, Mas, tapi jangan paksakan keinginan kamu padaku." Qeira berbicara tajam tanpa melihat ke arahku.
"Kenapa? Mau menjadi mantu durhaka? Bagaimanapun Ibu adalah surgaku dan aku adalah surgamu, jadi kamu harus tetap hormat." Aku menjelaskan.
"Ibu bukan surgamu dan kamu bukan surgaku, Mas," sanggahnya cepat. Melainkan, "surga di bawah telapak kaki ibu dan keridhoan suami. Hanya perantara, tapi Ibu dan suami seperti apa dulu. Intinya aku tidak pernah menyanggah perintah Ibu dan kamu selama itu baik, tapi sayangnya kalian tidak bisa menghargainya." Ia berbicara panjang lebar.
Malas berdebat, aku memilih untuk kembali keluar, dan bersiap-siap untuk pergi ke mall meksipun hanya membeli beberapa kaus kaki.
Beberapa pasang benda itu tekena luntur tadi, jadi terpaksa aku harus menggantinya. Aku pergi diam-diam, karena takut Ibu dan Yani minta ikut. Kalau kondisi dompetku tebal dengan uang sih, tidak masalah kalau mereka ikut. Cuman sayangnya isi dompetku tinggal KTP.
***
"Sepasang yang begini berapa?" Aku bertanya kepada seorang SPG.
Wanita itu mendekat dan melihat label harga yang ada di produk. "150 ribu, Pak."
"Apa? Bukankah ini hanya enam pasang?" Kembali aku bertanya. Tentu saja harga ini terlalu mahal kalau hanya enam pasang, kecuali selusin, baru aku tidak akan kaget.
"Maaf, Pak, ini mall. Bukan pasar tradisional yang bisa Bapak tawar. Lagipula harga ini sudah pasaran dan sudah dikurangi karena sedang diskon. Harga awalnya tiga ratus ribu," jelasnya.
Ah, gila, kenapa harga kaus kaki bisa semahal ini?
Selama ink Qiera yang selalu membelikannya untukku, makanya aku gak tahu kalau harganya sangat mahal.
"Yanti? Yanti, kan?" tanyaku pada seorang gadis cantik yang sedang melihat-lihat tas pria.
"Eh, iya, siapa, ya?" Ia menatapku heran.
"Ini aku, Yasa, masa iya kamu lupa?"
Yanti melihatku dari atas sampai bawah. "Sekarang kamu kerja di mana?" tanyanya seolah mengakui kalau dia kenal aku.
"Aku masih di kantor, kantor kecil, sih." Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.
Yanti adalah kembang desa di tempat tinggalku dulu, tapi karena keluarga kami miskin, aku tidak berani mendekatinya. Apalagi yang melamarnya rata-rata dari kalangan orang berada.
"Oh." Wajahnya kembali ditekuk dan bersikap cuek.
"Lebih tepatnya di PT. Karya Jaya, tapi cabangnya." Aku melanjutkan.
Yani kembali berbalik ke arahku dengan tatapan kagum. "Wah, keren kamu."
Tentu saja dia tahu perusahaan yang aku sebutkan, karena merupakan perusahaan pemilik banyak brand makanan terkenal.
"Biasa saja, karena gajinya kecil. Soalnya tempatku kerja baru berdiri dan gajinya juga kecil," batinku menjawab.
Aku tidak berani jika mengatakannya langsung.
"Kamu datang ke sini pakai apa?" Ia kembali bertanya dengan antusias.
"Mobil." Aku menjawab cepat, lalu membayar kaus kaki yang tadi sempatkan aku pilih. Bisa malu sama Yanti kalau sampai nanti tidak jadi beli Aya aku tawar-menawar lagi. "Mau barengan?"
Ia tersenyum lalu dan kami pun pulang bersama, lebih tepatnya aku mengantar dia dulu ke kos-kosan, baru pulang.
Di perjalanan, kami banyak membicarakan tentang masa lalu yang membuatku ingin menikahinya lagi. Andai saja aku belum menikah .... Eh, bukannya laki-laki bisa punya istri lebih dari satu?
***
Setelah sampai rumah, aku kembali kepikiran untuk berpoligami. Apa sebaiknya aku langsung ajak Yanti menikah tanpa perlu izin sama Ibu dan Qiera?
Tapi bagaimana kalau nanti mereka marah? Atau Qiera pergi dari rumah seperti beberapa hari lalu?
"Kenapa, Mas? Mau kawin lagi?" Qiera tiba-tiba bertanya, seolah dia menyimpan CCTV di dalam pikiranku.
"Enggak, kok." Aku menggeleng.
"Kalau mau, Ibu dukung, Yas," sahut wanita yang sudah melahirkan aku itu.
"Dukung ya, dukung, tapi ingat, aku istrinya Mas Yasa yang bisa melakukan apapun. Termasuk meninggalkan rumah ini lagi," tegas Qiera.
"Enggak, kok, jangan bicara sembarangan." Aku duduk di samping Qiera dan berusaha untuk membujuknya agar tidak pergi lagi.
"Kamu ingat baik-baik ya, Mas. Kalau sampai kamu berani menikah lagi, akan aku adukan semua kebohongan kamu kepada bos jalak kamu itu!" Qiera mengeluarkan kalimat ancaman yang membuatku bingung.
"Kebohongan? Sejak kapan aku menjadi pembohong?" Aku berpura-pura tidak tahu. Pokoknya aku harus membuat Qiera diam, bisa bahaya kalau bos galak itu mengetahui semua tipu dayaku.
"Sudahlah, Mas, aku sudah ada bukti tentang aktivitas kamu di tempat kerja." Qiera terlihat percaya diri.
Spontan aku merebut ponselnya dan membantingnya ke lantai sampai hancur. "Fitnah apa yang kau berikan ini? Aku tidak pernah berbohong apalagi di tempat kerja!"
"Benar, Mas, hancurkan saja ponselnya biar dia tahu rasa!" Yani tertawa girang.
Qeira tersenyum menyeringai. "Tidak apa, banting saja, tapi aku masih punya banyak stok," ucapnya percaya diri sambil menunjukkan beberapa ponsel dari dalam tasnya.
"Kenapa, terkejut? Ini bukan seberapa, aku punya banyak bukti yang lebih akurat," ancamnya lagi membuatku terdiam.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?