Shinta Pov
Setibanya di rumah aku langsung membawa tubuh ini untuk segera bisa mendudukan diri karena tak tahan dengan kepalaku yang masih terasa pening ini.
“Hhhh...”
Helaku panjang saat akhirnya kududukan diriku di sofa.
“Sayang, ini minum dulu”
Mas Rama memberiku segelas air sambil mendudukan dirinya di sampingku.
“Ehm, makasih Mas, maaf aku ngerepotin kamu jadinya...”
“Gak ada kata repot buat istri Mas ini, cepet sembuh ya sayang...”
Cup
Mas Rama mendaratkan kecupan ringan nan lembut di keningku.
Aku benar-benar harus berterimakasih padanya, ia bahkan sampai memilih untuk membatalkan semua jadwalnya hari ini karena ingin menjaga dan tetap berada di sampingku.
Ting
*(Suara notifikasi remainder jadwal makan harian)
16.30 Salad + 1 buah ubi panggang
Itu adalah salah satu menu makanku selama seminggu ini, selain kacang almond, tofu, hummus, dan jamur. Diet yang kujalani adalah diet vegan, yang berbeda dengan vegetarian, meskipun pada umumnya banyak sekali disamakan. Vegetarian adalah seseorang yang tidak memakan daging atau mengkonsumsi segala jenis produk hewani, tapi mereka mengkonsumsi turunan hewani seperti s**u dan telur. Sementara diet vegan itu sama sekali tidak mengkonsumi produk hewani, karenanya dokter begitu khawatir pada kondisi tubuhku hingga menyarankanku untuk menghentikan dietku itu.
Aku sudah kehilangan sampai lebih dari 5 kg dalam seminggu karena diet itu. Aku pikir aku akan bisa menjadi bugar seperti foto banyak wanita yang terpampang di beberapa majalah women beauty, bisa seperti mereka yang cantik dan menarik dengan tubuh rampingnya itu. Tapi aku malah jadi kurus seperti mayat hidup dan hampir di nyatakan sebagai penderita eating disorder atau gangguan makan sekarang ini.
“Stop lakuin diet-diet kaya gini, siniin handphonenya”
Mas Rama langsung mengambil handphoneku dan menghapus semua hal yang berbau diet di handphoneku itu.
“Ini udah...”
Setelah selesai Mas Rama langsung mengembalikan handphoneku, yang belakangan selalu berisik dengan motivasi body goals, jadwal makan, olahraga, dan lainnya.
Kini kupandangi beberapa note perkembangan dietku selama seminggu ini yang kucatat lenkap di handphoneku, sampai menimbulkan banyak pikiran yang mulai bercampuraduk di kepalaku.
‘Kenapa aku sampai harus melakukan ini? Dari mana mulanya... cemburu? Takut kalah cantik dengan karyawan muda di kantor Mas Rama? Takut Mas Rama berpaling dariku? Atau aku yang terlalu terobsesi ketika di puji cantik saat orang lain melihat perubahan tubuhku, sampai aku ketagihan dan jadi ingin terus menurunkan berat badanku???’
‘Kenapa aku sampai sebodoh ini melakukan diet bukan karena ingin sehat, tapi karena merasa terancam dan ingin bersaing dengan banyaknya perempuan cantik di luar sana...’
Batinku, penuh sesal atas semua kebodohanku itu
“Aku bahkan sampe bisa merusak tempat janinku nanti...”
Gumamku pelan sambil mengusapi perutku yang kempis sekali saat ini. Mungkin Tuhan di atas sana semakin ragu untuk menanamkan buah hati ke dalam perut ini.
“Sayang...”
“Mas... maaf”
“Hhhh, gak papa udah...”
Mas Rama, aku benar-benar harus meminta maaf padanya. Ia benar-benar jadi sangat kesulitan karena diet ketatku selama seminggu ini.
Aku berubah jadi sangat menyebalkan sekali. Sangat-sangat menyebalkan. Karena gula darahku yang selalu rendah, aku jadi mudah tersinggung dan marah padanya. Dan lagi ...
Malam sebelumnya....
“Sayang...”
Mas Rama tiba-tiba melingkarkan tangannya pada tubuhku, rasanya tangan kekarnya itu amat menumpuk dan sedikit menekan otot tangan juga perutku yang belakangan jadi tak enak dan pegal-pegal karena jadwal nge-gymku yang amat melelahkan.
“Sayang...”
Ia perlahan mulai menarik tubuhku untuk lebih dekat padanya. Kutebak ia sedang inginkan ‘itu’ malam ini. Karena memang sudah beberapa malam ini aku selalu saja tidur dan tak melayani dirinya, setelah kelelahan sepanjang hari dengan jadwal padat juga diet ketatku.
Aku sungguh tak memiliki tenaga untuk melakukan apa yang jadi inginnya itu. Tapi Mas Rama kini sudah mulai menciumi wajah, leher hingga ke area dadaku.
Sepertinya malam ini Mas Rama tak ada niatan untuk menghentikan inginnya melakukan ‘itu’ denganku.
“Mas....”
“Ehmmm...”
Mas Rama hanya membalas begitu, sambil terus menyapukan bibir lembutnya pada tubuhku. Aku mengelinjang mulai kegelian di buatnya. Tapi sungguh entah bagaimana aku enggan melakukan itu dengannya.
“Mas... aku- hmmm”
Bibir Mas Rama menyumpal bibirku seolah tak ingin memberikan kesempatan untuk aku berbicara. Sepertinya ia cukup bisa membaca bahasa tubuhku yang lagi-lagi berniat ingin menghentikan aktifitasnya malam ini.
Kurasakan tali piayamaku sudah mulai diturunkannya, tangannya pun sudah berkeliaran menjamah tubuhku dengan sentuhan-sentuhan nakalnya.
“Mas...”
Meski dengan mata yang hanya bisa setengahnya saja kubuka, namun bisa kutemukan dirinya yang kini jelas benar-benar tengah kalap terbakar nafsunya, inginkan b******u dan menyatu, memompa dalam satu irama dengan tubuhku.
Tapi sayangnya tubuhku sungguh ingin menolak atas apa yang coba di lakukannya padaku itu.
“Mas...”
“Apa sayang... Mas gak tahan, kamu diem aja pokoknya”
Ucapnya, ingin tak setuju atau menghentikannya pun aku akan kalah tenaga darinya.
“AH!”
Area tulang pubic-ku saat ini tengah menjadi incarannya, kurasakan tangannya kini mulai menuntun miliknya untuk di arahkannya pada milikku.
“Mas...”
.
.
.
Aku sungguh tak bisa mengimbangi permainan ranjangnya kemarin malam. Aku sampai ambruk dan tak bisa berkutik, hanya membiarkan dirinya melakukan semua inginnya pada tubuh yang mendadak mengalami gangguan gizi buruk karena niatku yang ingin cantik dan ramping itu.
Diet ketat benar-benar bisa menyebabkan turunnya hasrat seksual. Dan hal itu tentu akan sangat berpengaruh pada hubunganku dengan suamiku. Bahkan menurut penjelasan dokter di rumah sakit sebelumnya, sebuah penelitian sudah mendukung pernyataan tentang perempuan dengan ganggaun makan seperti wanita yang mejalani diet ketat, akan mengalami penurunan minat untuk melakukan hubungan intim.
Dan seperti yang terjadi padaku, setelah kehilangan banyak berat badan, ternyata itu juga berimabas pada libidoku yang jadi ikut berkurang dan jika di biarkan akan berangsur hilang.
Diet ketat yang membuatku mejadi seseorang yang berada dalam kondisi malnutrisi itu, benar-benar berdampak buruk pada produksi hormone s*x seperti estrogen, yang membutuhkan lemak sebagai salah satu bahan produksinya.
Dan di katakan pula ketika wanita terlalu kurus, maka indung telur yang merupakan sumber setengahnya kadar testosterone pada perempuan jadi kurang aktif. Dan jika testosterone rendah akan berakhir pada kondisi libido yang juga rendah.
Dan sepertinya benar apa kata mereka, s*x dan makanan itu benar-benar merupakan dua sumber kesenangan dalam hidup. Bahkan para pakarpun katanya sepakat kalau makanan itu memiliki pengaruh yang sama seperti s*x, keduanya bisa membuat kita bahagia.
.
.
“Sayang kamu mau makan apa? Mas beliin, atau kamu mau Mas bikinin sesuatu?”
Tanya Mas Rama padaku,
“Ehmm aku pengen siomay kuah...”
Tiba-tiba saja aku mengidam makanan yang satu itu. Mas Rama tersenyum sambil kemudian memelukku.
“Mas seneng kamu balik lagi kaya gini sayang, jangan diet lagi ya, pokoknya jangan.... Mas lebih seneng beliin jananan yang banyak buat kamu, liatin kamu makan, dari pada harus liat kamu kecapean, sensitive terus lesu banget...”
Ungkap Mas Rama padaku, aku benar-benar sudah membuatnya tak nyaman sepertinya. Memang karena kurang nutrisi dan gizi, tubuhku jadi susah focus. Sampai-sampai ada kejadian aku yang hampir memasukan handphoneku ke dalam mesin cuci bersama cucianku, ahh mengingat kejadian sore itu aku benar-benar semakin sadar kalau diet yang baik bukanlah diet yang hanya menargetkan turunnya masa tubuh.