Glow up

1466 Words
Sudah satu minggu lamanya, sejak aku memutuskan untuk memperbaiki penampilanku. Dan di sinilah aku, tengah berdiri memandangi bayang diriku di depan cermin dengan puas hati. “Senyum aku jadi cantik” Seperti orang narsis saja aku memuji diriku sendiri seperti ini. Ternyata usaha tak membohongi hasil. Aku benar-benar menyukai penampilanku saat ini. “Hihihi...” Aku bahkan bisa tersenyum dengan lebih percaya diri saat harus menampilkan deretan gigiku yang sudah lebih rapi dari sebelumnya. Meski harus merogoh uang yang tak sedikit, tapi aku puas sekali dengan perawatan yang sudah dan akan mulai rutin kujalani. Mulai dari memutihkan gigi, yang sejujurnya itu tak perlu di lakukan karena gigiku sudah memiliki warna putih yang sehat, tapi dasar aku, bandel jadi tetap saja kulakukan. Aku juga mencabut dua gigiku, kemudian mendapat perawatan laser untuk membentuk gusi sampai melakukan veneer gigi. Dan hasilnya bentuk wajahku jadi lebih kecil dan senyumku jadi terlihat lebih manis, menambah kesan muda. Aku melakukan perawatan HIFU atau High-Intensity Focused Ultrasound, yaitu perawatan kecantikan yang mirip seperti facial contour, untuk meniruskan pipi. Namun kelibihan dari prosedur ini bisa membuat kulit tampak awet muda, karena bisa memicu produksi kolagen yang membuat kulit jadi lebih kencang dan kenyal. Tapi tentu rasanya tak afdol jika tak ku konsultasikan dan mendapat perawatan langsung dari ahlinya untuk kulitku. Karenanya aku memutuskan untuk routine mengunjungi dokter kulitku dua kali dalam seminggu. “kulitku jadi Glass Skin sekarang” *(Glass skin adalah istilah yang menggambarkan kulit yang mengkilap, berkaca-kaca, dan bercahaya). Gumamku sambil mempertahankan senyumku. Selain mengunjungi dokter kulit dan menggunakan produk andalan dari mereka, Rupanya rutin mengaplikasikan cairan pembersih bebas sulfat, essence, serum yang memiliki kandungan peptide, niacinamide dan asam hialunorat, juga terakhir menggunakan pelembab ringan kaya antioksidan, mampu memberikan hasil yang glowing seperti kulitku saat ini. “Waw” Mas Rama muncul dengan matanya yang langsung melakukan screening pada penampilan baruku ini. “Apa ini? Glow up challenge? Kamu- kamu jadi glowing, shining shimmering, splendid kaya gini” “Gimana?” Tanyaku sambil mengulum senyumku. “Cantik” Aku menaikan kedua alisku, tak puas hanya dengan satu kata itu saja. Auhor pov “.....” “Cantik bangettt sih istri akuuu” Ucap Rama akhirnya, sambil mendekat dan mencium pipi shinta yang terasa lebih lembut dan kenyal itu. Rama sampai menatap lekat pemilik wajah yang memberikan perbedaan kesan yang cukup drastic itu. “Pipi kamu... selembut kapas” Shinta yang mendengar itu sampai di buat tersipu karenanya. Tangan Rama kemudian juga melakukan patroli di bagian tubuh Shinta yang lainnya. Lengannya menjadi yang pertama di periksanya. “Ini... halus banget” “Biasanya kasar gitu?” Tanya Shinta aneh dengan pujian Rama yang berlebihan dari biasanya. “Kali ini sepuluh kali lebih halus sayang...” Bibirnya mulai turun, ingin menghirup dan turut mencicipi kelembutan tubuh istrinya yang bahkan mejadi lebih molek, di bandingkan sebelumnya. Shinta melakukan diet air putih yang rupanya cocok untuknya yang di barengi dengan menghonsumi banyak buah dan sayuran, setelah menghubungi ahli gizinya. Dan sepertinya itu memang berdampak baik pada tubuh juga kulitnya. “Mas...” “Ehm” “Hari ini aku ikut ke kantor ya? Aku mau kasihin makanan yang kemarin aku buat di kelas masak ke karyawan di lantai kamu, itu banyak banget soalnya” Rama langsung menegakkan tubuhnya, menatap Shinta untuk memastikan kebenaran dari apa yang baru saja di dengarnya itu. “Serius?” “Ehm, Serius” “Wah, anak-anak pasti pada suka nih, yaudah karena kebetulan nanti juga ada work shop, anak-anak pasti sibuk banget, jadi kamu bisa have fun sama mereka waktu jeda istirahat” “Okey...” “Sayang...” “Ehmm?” “Makasih, udah mau kasih sedikit perhatian kamu buat karyawan aku, belakangan mereka aku bikin cape terus, dan parahnya lagi cuma aku kasih makan junk food sama kopi” Jujur Rama sambil memeluk istrinya, untuk menyembunyikan wajah malunya. Dikarenakan deadline dan pekerjaan menumpuk, makanan instant dan siap saji adalah ganjal perut termudah untuk orang-orang sibuk seperti karyawan Rama. “Mas ini jahat banget sih, kali-kali adain makan malem tim gitu, kasih satu credit card kamu buat mereka jajan” “Udah, tiap tim di kasih kartu kredit perusahaan, tapi merekanya yang suka gak ada waktu, bukan gak ada uang jajannya sayang” Shinta jadi perpikir, mungkin seharusnya ia memberikan perhatian pada karyawannya itu sedari lama. Ia merasa telah bersikap egois, hanya selalu focus pada dirinya sendiri yang ingin segera memiliki anak. “Yaudah nanti sekitar jam 10 aku ambil dulu ke tempat-“ “Eh eh, gak usah nanti Mas biar suruh orang aja buat ambil, masa iya kamu mau bawa sendiri, udah gak papa kamu tinggal duduk manis aja berangkat di mobil sama Mas, okey” “Iya deh, aku nurut ajaa...” Ucap Shinta sambil tersenyum. “Tapi nanti di kantor jangan tebar pesona ya, anak muda sekarang genit-genit, pada berani lagi” Shinta langsung menatap Rama yang memberinya peringatan seperti itu. Ia sedikit aneh, padahal ia jadi seperti sekarang ini karena alasan yang sama dengan apa yang baru saja di katakan oleh Rama. Shinta kini benar-benar sudah di kelilingi oleh karyawan-karyawan Rama yang kelihatannya seperti orang yang sudah lama tak bertemu makanan saja. Mereka tampak begitu lahap menyantap, amat menyukai apa yang Shinta siapkan untuk mereka. “Ayo ayo di makan, masih ada banyak kok” Ucapnya humble pada karywan yang sepertinya ingin menambah porsinya. “Wah, Pak Rama beruntung banget yaa...” “Iya, coba aja aku punya istri kaya Bu Shinta” “Tumpah, overload itu perutmu nanti...” Tawa kemudian pecah, dalam canda receh karyawan Rama yang mampu mencairkan suasana. Semua wajah tampak tak canggung dengan kehadiran istri dari bos mereka itu. “Sayang...” Rama yang muncul dan memanggil istrinya begitu, sampai jadi memicu suara siulan hingga sorakan dari karyawan yang mendengarnya. “Cieee...” “Suittt suittt” “Tch, iri ya??” “Banget Pak” Jawab Bimo jujur sambil terus melahap makanan yang Shinta buatkan untuk mereka. “Kita ke kafe bentar yu, ada Mbak Lina di bawah” “Oh ya?” “Ehm, jadi ayo ketemu dulu” Akhirnya Shinta harus mengakhiri waktu singkatnya bersama karywan Rama itu. Sebelum pergi ia menyempatkan diri, berjanji akan sering-sering mengunjungi dan membawakan mereka makanan kembali. Ia kemudian turun ke lantai tiga untuk bertemu dengan kakak iparnya itu. Sedikit tanya timbul di kepala Shinta, tak biasanya ibu dua anak itu mampir ke kantor suaminya. “Shintaa...” “Mbak...” Keduanya langsung saling memeluk, menyapa dan... memperhatikan, melakukan checking kondisi tubuh satu sama lain. Keduanya menyadari ada perbedaan besar pada tubuh mereka saat ini. “Shin diet?” “Mbak kok...ini- kenapa??“ Shinta merasa tak enak mengatakan kalau kakak iparnya yang terlihat lebih berisi saat ini, sampai kalimatnya jadi menggantung dan tak berani di lanjutkannya. “Badan aku emang jadi gedein, tapi kenapa kamu jadi langsing banget gini, kulit kamu juga glowing banget, mau jadi model?” Lina, sampai berkata begitu, pangling dengan perubahan Shinta. “Ehm, biar Mas Rama gak kepincut yang muda-muda di sini” Balas Shinta jujur namun dengan nada candanya. “Hahahh, bisa aja kamu, awas aja tuh si Rama kalo beneran cari yang muda, aku runtuhin juga ini gedung barunya” “Hahahh, jangan Mbak kasian nanti karyawannya...” Keduanya kemudian mulai duduk. Dan dalam posisi duduknya Lina itu, Shinta jadi semakin jelas melihat perut yang nampak berisi itu. “Apa? Ada yang salah sama baju aku?” Lina yang merasa di perhatikan, langsung memeriksa kancing kemeja yang di kenakannya, khawatir kalau itu terbuka dan tengah menjadi focus mata adik iparnya itu kini. “Mbak...” Tanya Shinta ragu, tapi bentuk perutnya itu, jelas bisa di sadarinya kalau itu bukanlah mengembang karena lemak yang menumpuk, tapi... “Iya, aku lagi isi” Jawabnya bahkan sebelum Shinta bertanya. “Seriuss??? Waahh... selamat ya Mbak, ya ampun aku dapet keponakan lagi nanti” “Semoga kamu nyusul ya Shin” “Semoga Mbak, aku juga udah gak sabar pingin nimang-nimang satu yang kaya anak-anak Mbak” “Hhh... yang ini sebenernya di luar rencana, tapi ya mau gimana lagi...” Ucap Lina sambil mengulum senyumnya, memang sebenarnya ia dan suaminya tak ada rencana memiliki anak ke-3 mereka itu. “Hhh, padahal aku yang di rencanain banget gak jadi-jadi” Shinta malah mengeluh jadinya. “Hhh, kadang keinginan itu kaya kupu-kupu, di kejar-kejar malah pergi dan gak ketangkep, eh pas di diemin malah hinggap gitu aja, kaya anak di perutku ini” “Mungkin aku juga harus diem aja dulu kali ya...” Balas Shinta setelah mendengar kalimat yang mungkin harus di setujuinya itu. Ia pikir begitulah takdir bekerja. “Percaya aja, mungkin kamu cuma lagi nunggu antrian buat lahirin anak yang hebat nantinya, jadi cetaknya agak lama” Shinta mengulum senyumnya, sambil meng-aminkan dalam hati soal akan mengandung anak yang hebat kelak di rahimnya itu. ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD