15. Kembali

2210 Words
Sudah tiga bulan ini Kanaya menghilang, Garril sampai putus asa dibuatnya. Lelaki itu sudah mencoba mencari Kanaya ke seluruh penjuru kota, namun wanita itu tak kunjung ia temukan juga. Garril menghela napas lelah, mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamu ada di mana, sih, Nay?" Pria itu menggeram pelan. Ia kembali menghela napas untuk ke sekian kalinya. Memilih bangkit dari kursi yang sudah lebih dari tiga puluh menit ini ia duduki, kursi di ruang kerjanya. Dengan tak bersemangat, dilangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Ia harus melakukan visit pada pasiennya yang kemarin ia operasi untuk mengecek apakah pasien menerima dengan baik organ barunya atau tidak. Saat sudah berada di luar, lagi-lagi Garril menghela napas. Ia teringat dengan kebiasaan Kanaya yang suka menjahili dirinya dengan muncul secara tiba-tiba di hadapannya. Senyum samar lantas tersungging di bibir Garril. Ia sangat merindukan hal kecil itu. "Garril!" Pekikan itu berhasil menyentaknya, membuyarkan lamunan singkatnya tentang Kanaya. Helaan napas kasar kini terdengar dari mulutnya. "Ada apa lagi, Miranda? Jangan ganggu saya kalau nggak ada hal penting yang ingin kamu obrolkan dengan saya," ujar Garril penuh peringatan. Nada suaranya rendah dan terkesan tak bersahabat. Miranda menggigit bibirnya pelan. Nyalinya menjadi menciut mendapat respons demikian dari Garril. Sejak perdebatannya di rooftop waktu itu, hubungan keduanya memang semakin buruk meski Miranda sendiri sudah mencoba memperbaikinya. "Maaf Garril, aku nggak ada maksud buat kamu. Maaf kalau kamu malah ngerasa nggak nyaman," ujar Miranda dengan kepala menunduk. Salahnya juga sebenarnya, sudah tahu Garril akan selalu bereaksi begitu, ia malah terus-terusan mendekat. "Ya emang, bukan cuma nggak nyaman, tapi sangat amat nggak nyaman," desis Garril pelan yang malah semakin membuat Miranda merasa bersalah. "Sekarang, bisa nggak kamu minggir? Saya mau lewat. Ada pasien yang harus saya periksa," lanjutnya kemudian. "Tunggu bentar," Miranda berdiri di hadapan Garril, menghalangi pria itu yang hendak melangkahkan kakinya. "Ini, aku cuma mau kasih kamu ini." Miranda memperlihatkan kantong plastik yang ia tenteng. "Isinya roti gandum dan air mineral. Kamu makan dulu, ya, Ril. Kamu pasti laper, tadi pas makan siang aku nggak lihat kamu di kafetaria rumah sakit." Garril membiarkan saja kantung itu menggantung di udara. Ia sama sekali tak berminat untuk sekadar berkata tidak atau bahkan meraih kantung itu. Lelaki itu lebih suka menatap Miranda dengan sinis, lalu betanya, "Kenapa kamu begitu peduli dengan saya, sementara untuk adik kamu sendiri kamu masa bodoh? Kamu tahu, Kanaya sudah menghilang selama berbulan-bulan, tapi kamu kelihatan biasa-biasa saja. Di mana hati nurani kamu, Miranda?" Pada akhirnya, Garril mengeluarkan uneg-unegnya pada wanita itu. Miranda menaikkan kedua alisnya, sehingga kulit di sekitar keningnya mengkerut. "Kanaya ngilang? Aku bodo amat? Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti." Ia mengingat-ingat, lalu selang beberapa detik ia menerbitkan senyum masamnya. "Jadi, kamu pikir dia ngilang?" Garril mengangkat alisnya, tak mengerti apa yang Miranda bicarakan. "Apa maksud kamu?" tanya Garril terdengar menuntut. "Pembantu rumah kamu sendiri yang bilang sama saya kalau tiga bulan yang lalu Kanaya nggak pulang ke rumah, dan setelahnya dia nggak ada kabar." "Beberapa bulan yang lalu, Kanaya minta dipindahin ke rumah sakit cabang yang ada di Bandung, katanya dia udah nggak sanggup kalau koas di rumah sakit pusat. Dia bilang rumah sakit ini terlalu besar. Soal pembantu rumahku, mungkin dia belum tahu saja kalau Kanaya emang lagi ke Bandunh, soalnya beberapa hari sebelumnya dia nggak masuk," paparnya. Beberapa hari sebelum masa koasnya dimulai, Kanaya memang sempat mengajukan surat pindah pada pihak kampusnya ke rumah sakit ayahnya yang lain. Sempat tak mendapat persetujuan karena ia sudah mendapatkan pembagian stase. Namun, karena Kanaya yang gigih membujuk, akhirnya pihak kampus menyetujuinya. Semua orang jelas tidak tahu, termasuk Garril yang sebelumnya sempat bersitegang dengannya. Barangkali hanya ayah, ibu, dan kakaknya saja yang tahu. "Kenapa kamu nggak bilang?" sungut Garril dengan tak mengubah nada suaranya. Tangannya mencekal erat pergelangan tangan Miranda, membuat perempuan itu meringis kesakitan. "Aku pikir Kanaya udah bilang sama kamu," jawabnya di sela-sela ringisannya. Cengkeraman Garril tak main-main di tangannya. Garril menghempaskan tangan Miranda dengan kasar. "Tapi dia sama sekali nggak kasih tahu saya!" "Aku nggak tahu." Miranda mengangkat bahunya. Garril mengacak rambutnya dengan kasar. Tentu saja Kanaya tidak akan memberitahunya. Seperti yang ia katakan sebelumnya, beberapa hari mereka sempat bersitegang. Laki-laki itu kemudian melangkahkan kakinya dengan gusar. Meninggalkan Miranda yang menatap sendu ke arah punggungnya yang kian menjauh. "Sebenarnya, seberapa besar rasa cinta kamu sama Kanaya, Garril? Apa nggak ada kesempatan buat aku?" lirihnya. *** Sore hari, suasana di rumah keluarga Sean tampak ricuh dengan perdebatan kedua orang tua lelaki itu tentang apa yang akan mereka lakukan di hari libur yang sebenarnya masih beberapa hari lagi itu. "Kita liburan aja ya Ma, Papa lagi suntuk banget sama pekerjaan kantor. Hari ini aja Papa milih nggak masuk." "Nggak, Mama nggak mau ke mana-mana. Mama nggak mau liburan," balas Alea, ibu Sean yang tak mau kalah dari suaminya itu. "Oh, ayolah. Jarang-jarang kita bisa liburan. Jadi, kita jalan-jalan aja ya Sayang, ya, ya, ya ...." Arland, ayah dari Sean itu terdengar merajuk. Alea mendelikkan matanya melihat tingkah suaminya yang sangat kekanakan itu, padahal umurnya sudah lebih dari setengah abad. "Cih, Papa bikin jijik Mama aja, sih!" "Ck, ini kan Papa lakuin buat bujuk kamu, Sayangku ...." Arland mengerucutkan bibirnya. "Jadi, kita jalan-jalan aja ya, Papa bener-bener udah suntuk banget di sini, Mama kan tahu sendiri, jadwal Papa kan padat banget." Lagi-lagi pria baya itu membujuk. Suaranya terdengar sangat memelas sekarang. "Mama nggak mau sekali nggak mau ya tetep nggak mau." Alea menekankan setiap kata yang ia ucapkan. Wanita paruh baya itu cukup keras kepala juga. "Oh, ayolah Ma, kita liburan aja ya, nanti Papa beliin tas yang Mama pengen itu deh." Alea memutar bola matanya dengan malas. Wanita itu hendak membalas perkataan sang suami. Namun, bel rumah mereka yang berbunyi menginterupsi percek-cokan mereka. "Bentar l, Mama buka pintu dulu, kita lanjutin nanti," ujar Alea sebelum bangkit dan berjalan menuju pintu utama. Saat pintu sudah terbuka, pemandangan yang pertama kali wanita paruh baya itu lihat adalah seorang wanita muda yang tengah memegang perutnya yang sedikit menonjol. Tanpa bertanya pun, Alea tahu jika wanita itu tengah mengandung sekarang. "Maaf, siapa dan ada keperluan apa ya?" tanya Alea dengan nada suara yang berubah ramah, tak seperti tadi ketika ia berdebat dengan sang suami. Wanita muda itu tampak menundukkan kepalanya, tak berani memandang Alea. "Kamu siapa? Ada perlu apa kamu ke sini?" ujar Alea mengulangi pertanyaannya tadi. Kedua alisnya terangkat, hingga membuat tambahan kerutan di keningnya. Tak lama, terdengar sebuah isakan kecil dari wanita muda itu. "Hiks ... hiks ... sa-saya, ingin bertemu dengan Do-Dokter Se-Sean. Di-dia ha-harus bertanggung jawab pa-pada sa-saya," jawab gadis itu di sela-sela isak tangisnya. Alea membulatkan matanya dengan hati yang mencelos. "A-apa maksud kamu?" Ia tergagap. "Sa-saya hamil, anak- hiks hiks, anak Dokter Sean, hiks ...." Alea langsung memegang dadanya. "Kamu tidak berbohong, kan?" Sungguh, ia tak percaya dengan ucapan wanita muda di hadapannya itu, karena selama ini, di antara ketiga putranya, hanya Sean lah yang paling anteng, tidak neko-neko seperti kedua putranya yang lain. Wanita muda itu mendongakkan wajahnya. Kemudian, menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Sa-saya benar-benar tidak berbohong, Tan," ujarnya dengan terbata. Matanya menatap dalam ke arah manik ibu tiga anak itu. Alea membekap mulutnya. "Saya tidak berbohong." Sebenarnya, ia sedikit meragu. Meski perempuan muda di depannya itu berulang kali mengatakan jika dirinya tidak sedang berbohong, tapi hati kecilnya menolak mengakui informasi yang baru diterima gendang telinganya yang langsung diimpuls ke otaknya itu. Menghela napas panjang, Alea memilih membawa masuk perempuan itu ke dalam rumahnya. Barangkali ia ingin mendengar penjelasan dari sang anak. "SEAAAAN! SEAAAAN! SEAN, TURUN KE LANTAI BAWAH!" Perempuan berusia senja itu memanggil nama si putra sulung bak orang kesetanan. Mendengar teriakan dari sang Nyonya Besar, seluruh penghuni rumah pun langsung menghambur ke sumber suara, tak terkecuali pembantu mereka. "Apa sih Ma, tidur sore Jean jadi keganggu, nih!" cetus kembaran Sean itu dengan muka bantalnya, sembari menguap lebar. "Iya, Mama ini, Atha juga keganggu gara-gara suara Mama, padahal tadi aku lagi diskusi online sama temenku," timpal Athaya dengan wajah tertekuk. Anak bungsu Alea dan Arland itu tampak mengembungkan pipinya, persis seperti anak kecil yang sedang merajuk. "Mama buat telinga Papa sakit aja." Arland ikut-ikutan mengomeli sang istri. "Di mana Sean?" tanya Alea tanpa menghiraukan perkataan suami dan kedua anaknya. "Ada apa sih Ma?" jawab Sean yang baru turun dari lantai atas. Pria itu tampak berjalan santai sembari memasukkan kedua tangannya di saku celana pendek selutut yang ia kenakan. Kebetulan sekali, ia pulang lebih awal tadi. Jadi penampilannya sudah lebih santai dari ketika ia berada di rumah sakit. "Ada apa! Ada apa!" Alea mencibir dengan mata yang menatap nyalang. "Apa yang kamu lakuin sama wanita ini, Sean?! Ha?!" Suara Alea kembali meninggi. Ia kemudian menarik wanita muda yang sedari tadi bersembunyi di belakangnya. Badan Sean menegang di tempat. Ia tak menyangka, wanita yang beberapa bulan ini tak ia ketahui keberadaannya itu sekarang berada di rumahnya. Entah hal apa yang sudah wanita itu lakukan sampai-sampai membuat ibunya semarah itu. Sementara itu, ayah serta kedua adiknya tampak mengernyitkan dahi, merasa bingung. "Dia siapa?" tanya sang kepala keluarga. "Kamu tanya aja sama Sean!" seru Alea yang sarat akan emosi, tatapannya begitu tajam ke arah sang putra sulung. Sean hendak membuka kedua celah bibirnya. Namun, suara Arland terdengar mengintruksi mereka. "Udah-udah, Papa rasa ini bukan masalah yang sepele. Kita bicarakan dulu semuanya," ujar Arland pelan, memberi solusi setelah membaca situasi yang tengah mereka alami itu. Kemudian, lelaki paruh baya itu mengajak seluruh anggota keluarga dan wanita yang menjadi objek keributan di rumahnya itu menuju ruang keluarga. Mungkin untuk merundingkan masalah itu. "Jadi, ada apa, Ma? Kenapa kamu teriak-teriak kayak tadi?" tanya Arland dengan tenang. Meski begitu, tatapannya sarat akan penasaran. Wanita setengah baya itu pun kemudian menunjuk wanita yang duduk di sebelahnya. "Perempuan ini bilang kalau Sean udah hamilin dia, Pa." Mendengar kata-kata yang ibunya lontarkan, membuat Sean langsung membulatkan mata. "Ha-hamil?" ujarnya tak percaya. Ditatapnya Kanaya---lebih tepatnya perut wanita itu---yang duduk di sebelah ibunya dengan intens. Sean bisa melihat perut Kanaya yang sedikit membuncit. "Iya, dia hamil, dan katanya itu anak kamu." Ibunya menjawab dengan nada yang masih penuh amarah. Wajahnya pun memerah, menahan emosi yang hampir meluap. "Anak aku? Kok aku?" sahut Sean. Nada suara yang ia gunakan sarat akan kebingungan. "Ya kalau bukan kamu siapa lagi, wanita ini bilang sendiri, kalau kamu ayah dari bayi yang dia kandung." Alea menjawab dengan sewot. "Lho, aku nggak pernah sentuh dia, Ma. Mana mungkin aku bisa ngehamilin dia, kalau pun dia hamil, pasti itu bukan anak aku!" ujar Sean berusaha membantah. Nada suaranya pun terdengar menggebu. Jelas saja ia tidak terima dituduh macam-macam. Demi apa pun, dia tidak pernah berbuat hal-hal yang jelas-jelas dilarang dalam agamanya. Ia cukup tahu batasan. Sudah pasti jika Kanaya hamil, anak yang wanita itu kandung bukanlah anaknya. Melainkan anak lelaki lain. Kemudian, terjadilah perdebatan antara ibu dan anak itu. Sementara yang lainnya hanya menjadi penonton dan pendengar. Sean terus saja melontarkan pembelaan untuk menyangkal perkataan ibunya. "Ma, demi Tuhan, Sean nggak pernah sentuh dia. Sean nggak akan pernah ngelakuin hal kotor itu, Ma!" "Dokter Sean, kenapa Dokter nggak mau ngakuin anak Dokter sendiri? Dok, aku hamil anak Dokter." Kanaya yang sedari tadi diam, akhirnya turut membuka suara. "Kak Sean, akui ajalah Kak, kalau Kakak udah ngehamilin dia," ujar Athaya yang sudah lelah mendengar dan melihat drama yang tampak sangat membosankan itu. "Iya Se, akui saja. Kenapa lo masih aja berkelit sih?" timpal Jean dengan nada tak bersahabat. Bukannya ia ingin mengompori mereka, sekalipun hubungannya dengan Sean tidak baik, tetapi ia ingin saudara kembarnya itu mengakui kesalahannya. Bukan terus berkelit seperti itu. Kalau begitu, dia tidak beda jauh dari lelaki b*rengsek di luaran sana. "Aku harus ngakuin apa, kalau faktanya aja aku nggak pernah nyentuh dia? Sumpah, demi Tuhan, gue nggak ngehamilin dia. Dan dia bohong sama kita." Sean menunjuk Kanaya dengan bengis. "Kenapa aku harus bohong, kalau aja aku punya bukti yang kuat?" Kanaya merogoh sesuatu dari dalam tasnya, kemudian meletakkannya di atas meja. Alea yang melihat barang---yang ternyata adalah sebuah foto itu--- langsung membulatkan matanya lebar-lebar. Di dalam foto itu jelas-jelas ada Sean dan wanita muda yang mengaku-aku hamil anak putranya itu tengah berada di atas ranjang dan selimut yang sama dengan posisi saling mendekap. Tidak jauh berbeda dengan Alea, Sean juga ikut membulatkan matanya. Pria muda itu terkejut. Pun dengan yang lain. "Lo ketangkap basah, Se," kata Jean seolah memberi ejekan pada saudara kembarnya itu. Sean menoleh, pria itu mengelengkan kepalanya kuat-kuat. "Foto itu palsu! Aku berani bersumpah kalau foto itu palsu!" sangkal Sean yang tetap kukuh dengan pendiriannya tadi. "Ck! Kamu masih mau ngelak lagi, Se?" decak Alea, wanita paruh baya dengan rambut yang hampir memutih semuanya itu menatap putranya dengan tajam. "Aku nggak bohong, Ma, foto itu palsu!" "Cukup, Se! Mama nggak mau tahu. Kalau kamu benar-benar seorang pria, kamu harus mau bertanggung jawab, kamu harus mau mengakui kesalahan kamu. Jangan terus mengelak seperti tadi," tegas Alea tak terbantah. Bahu Sean merosot seketika. Ia tak tahu mengapa ada foto dirinya dan Kanaya di atas ranjang. Kemudian, ingatannya kembali berkelana ke kejadian beberapa bulan yang lalu. Perjanjiannya dengan Kanaya. Jalan-jalan itu, lalu dirinya yang terbangun di salah satu penginapan yang ada di Puncak. Memikirkan kemungkinan yang terjadi membuat Sean luar biasa frustrasi. Ia tak percaya jika Kanaya bisa sepicik dan selicik itu. Wanita itu pasti menjebaknya. Ya, ia yakin itu. Sean jadi menyesal sudah mengkhawatirkan wanita itu beberapa hari belakangan. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD