16. Mulai Menyesal?

1916 Words
Semua bermula dari tiga bulan yang lalu, Kanaya dan rencana gilanya. Begitu selesai dengan penyuntikan sp*rma Sean ke dalam rahimnya, wanita itu mulai mengurus segala hal yang menyangkut masa koasnya. Ia tidak ingin berada di rumah sakit pusat dan meminta dipindahkan ke rumah sakit milik ayahnya yang berada di beda kota. Sedikit rumit sebab ia harus bolak-balik ke kampus untuk membujuk pihak sama agar mau memindahkan lokasi tempatnya koas. Bukan seperti alasan yang ia ungkapkan pada keluarganya atau pada pihak kampus, melainkan agar tidak ada orang yang mencurigainya ketika ia mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan seumpama inseminasi yang ia lakukan berhasil. Masalahnya, dia gadis lajang yang punya pacar atau suami saja tidak, tentu Kanaya ingin meminimalisir anggapan buruk orang-orang. Sementara di rumah sakit cabang, tidak ada yang mengenalinya sebagai putri seorang Ferdinand Brata Sadega, juga statusnya yang belum menikah. Kanaya sudah memperkirakan dan merencanakan semuanya dengan sedetail mungkin, ia tinggal menjalankannya saja. Perihal berhasil tidaknya nanti, ia pikir belakangan. Cukup berisiko memang, selain kemungkinan inseminasi buatannya itu gagal, ia juga tidak akan bisa mendekati Sean lagi mengingat kesepakatannya bersama pria itu. Namun rupanya, semesta pun sedang berpihak padanya. Rencanya berjalan dengan sangat mulus sebab beberapa minggu setelah inseminasi itu, ia mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Entah morning sickness yang berkelanjutan hingga membuatnya luar biasa lemas atau dirinya yang mengidam makanan yang sebelumnya sama sekali tidak ia suka. Dan benar saja, ketika ia mengetesnya dengan testpack, ada dua garis merah yang muncul di sana. Hal itu tentu saja membuatnya luar biasa bahagia. Namun, tahu dirinya tengah mengandung, tak serta merta membuat Kanaya kembali ke Jakarta dan menemui Sean. Ia masih membutuhkan waktu untuk mempersiapkan diri bertemu dengan lelaki itu dan juga keluarganya. Terlebih, ia sendiri tidak tahu respons seperti apa yang akan ia dapat nantinya. Begitu ia merasa siap lahir dan batin, Kanaya baru memberanikan diri menemui Sean. Hari ini lebih tepatnya. Dari Bandung, ia tidak langsung pulang ke rumah orang tuanya, melainkan ke rumah Sean. Berbekal alamat yang ia dapat dari salah satu dokter yang bekerja di rumah sakit sang ayah, ia memberanikan diri mengetuk rumah lelaki itu. Bukan Sean yang membukakan pintu, melainkan seorang wanita paruh baya yang bisa ia pastikan adalah ibu dari lelaki yang merajai hatinya itu. Awalnya ia mendapat respons yang ramah, tetapi setelah ia mengungkapkan bahwa dirinya tengah mengandung anak Sean, senyum di wajahnya mulai memudar. Beliau tidak menanyai Kanaya perihal apa yanh terjadi, tetapi langsung mengajak wanita itu masuk ke dalam rumah. Kanaya pun hanya menurut dan menutup mulutnya sampai ia diminta berbicara. Dan seperti yang sudah ia duga sebelumnya, Sean jelas tidak percaya jika janin yang tengah ia kandung adalah anak lelaki itu. Pada akhirnya, Kanaya mengeluarkan sebuah foto sebagai bukti untuk memperkuat ucapannya jika ia tengah mengandung anak Sean. Foto yang ia ambil ketika dulu mereka berkunjung ke Puncak. Kanaya akui ia sudah bertindak di luar batas. Kanaya sadar, cintanya pada Seanlah yang membuatnya buta. Ia melakukan segala cara untuk mendapatkan pria itu tanpa memikirkan bagaimana perasaan kedua orang tuanya juga bagaimana nama baik mereka jika orang luar mendengar kehamilan di luar nikahnya itu. Kesimpulannya, apa yang ia lakukan dulu terlalu gegabah. Kini, entah mengapa ia merasa amat menyesal. Menyesal telah melakukan hal yang barangkali akan merugikan banyak pihak itu. Terlebih ketika melihat wajah kedua orang tuanya. Kanaya hanya mampu menundukkan kepalanya dalam. Ia tak cukup kuat melihat kilatan rasa marah, kecewa, bercampur sedih yang terpancar dari manik ayah juga ibunya itu. Ia tak mampu berucap, kedua belah bibirnya terkunci rapat, enggan untuk dibuka. Keluarga Seanlah yang meminta lelaki itu untuk menghubungi ayah dan ibunya. Awalnya Sean enggan melakukannya sebab ia berpikir, masalah itu akan semakin runyam jika melibatkan keluarga Kanaya. Citranya pasti akan berubah buruk di mata Ferdinand ketika turut mendengar kebohongan yang putri bungsu lelaki itu umumkan. Namun, atas paksaan kedua orang tuanya, dengan berat hati, Sean menghubungi Ferdinand dan menyuruh lelaki paruh baya itu untuk segera menuju ke rumahnya. Sean tak menjelaskan secara spesifik apa alasannya. Ia hanya mengatakan jika Ferdinand harus berkunjung ke rumahnya. Ferdinand tentu saja menolak, menganggap apa yang Sean inginkan sangat tidak penting dan hanya membuang-buang waktu berharganya saja. Sean pun tak berusaha keras memohon pada Ferdinand untuk datang berkunjung, jika lelaki paruh baya itu memang tidak menginginkan datang ke rumahnya, ya sudah. Itu artinya, Sean tak perlu repot-repot menjelaskan kekacauan yang Kanaya buat atau mengelak segala tuduhan yang perempuan itu arahkan padanya. Terlalu membuang waktu dan tenaganya saja. Sean pun juga enggan ketika kedua orang tuanya memaksa dirinya untuk pergi ke rumah Kanaya dan mengatakan semuanya pada keluarga perempuan itu. Ia lebih memilih bertingkah seperti remaja labil yang mengunci dirinya di dalam kamar. Tetapi, entah bagaimana bisa, Ferdinand berikut istrinya datang dengan raut wajah merah menahan amarah ketika melihatnya, padahal sebelum ini ia tak menjelaskan sama sekali kekacauan yang telah Kanaya buat dengan mengaku-ngaku hamil anaknya. Tahu Sean akan tetap mempertahankan pendiriannya, keluarga lelaki itu pun meminta Kanaya untuk menghubungi ayah dan ibunya, menceritakan segalanya hingga keduanya datang ke sana. Lagi, Kanaya hanya menurut. Orang tuanya tak banyak bicara ketika ia menelepon, sehingga ia berpikir mereka tidak peduli. Namun, begitu mereka tiba di rumah besar itu sepuluh menit yang lalu, Kanaya tahu jika pikirannya salah besar. "Kenapa, Nak?" Mega, ibu Kanaya melemparkan suara yang terdengar pelan dan sendu pada anak bungsunya yang tengah berbadan dua itu. Ini jelas bukan hal yang Kanaya inginkan. Dari ekor matanya ia bisa melihat kilatan kesedihan yang terpancar dari manik sang ibu. Dan Kanaya sangat membencinya. Perempuan itu jelas tahu, ibunya menyimpan kekecewaan yang sangat besar padanya. Kanaya mengerti, inilah konsekuensi yang ia dapat. Dan benar apa yang Garril katakan padanya dulu. Ia jadi merasa bersalah pada lelaki itu. Ia harus segera menghubungi Garril dan meminta maaf pada lelaki itu karena tidak mau mendengar nasihatnya. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada, membuat Kanaya didera rasa pusing sekaligus mual yang bergejolak di perutnya. Namun, sebisa mungkin ia tahan. Tidak mungkin juga Kanaya berlari mencari kamar mandi, sementara suasana yang ada terlihat sama sekali tak bersahabat. "Nak Sean, kenapa?" Masih dengan suara yang sama, beliau bersuara. Kanaya juga bisa melihat sorot yang sama yang beliau arahkan padanya tadi ketika melihat Sean. Wanita paruh baya itu juga mengarahkan tatapan sarat akan kekecewaan pada lelaki itu. Kanaya kemudian melarikan kedua bola matanya untuk melihat reaksi Sean. Lelaki yang duduk bersebelahan dengan kedua orang tuanya itu tampak sangat santai dan sama sekali tak merasa bersalah, karena memang sejujurnya dia merasa tak bersalah. "Saya tidak menghamili putri Anda, Dokter Mega. Jadi, tidak ada alasan kenapa saya melakukan hal itu, karena memang saya tidak merasa pernah berhubungan lebih dengan Kanaya." Suara Sean terdengar tenang. Lelaki itu pun tak merasa terintimindasi oleh tatapan tajam Ferdinand yang jelas tengah menahan emosi itu. Arland, ayah Sean kemudian memberikan sikutannya pada perut putra sulungnya itu, dan berbisik untuk bersikap lebih baik di hadapan sepasang paruh baya yang berpotensi besar menjadi besannya itu. "Tidak merasa bukan berarti tidak melakukan Dokter Sean. Anda cukup mengakui saja, setelah itu semuanya beres." Ferdinand berucap dengan nada tegas. Berharap sikap keras Sean akan melentur dan lelaki muda itu mau mengakui perbuatannya pada Kanaya. "Saya tidak akan marah pada Anda, jika Anda mau mengakui perbuatan Anda," Ferdinand berterus terang dengan suara yang tak setegas sebelumnya. Jika Sean bisa mengontrol emosinya, maka beliau juga akan berusaha melakukan hal yang sama. Ia mengira Sean takut akan kekuasaannya di rumah sakit dan menjadikan lelaki itu seperti pengecut yang terus saja mengelak kebenaran yang sudah terpampang nyata di depannya. "Silakan Dokter Sean, akui dan pertanggung jawabkan perbuatan Anda," lanjutnya dengan intonasi penuh penekanan pada setiap katanya. Pria paruh baya itu tak cukup sabar menghadapi sikap cuek Sean yang tak kunjung merespons kata-katanya. Namun, sejurus kemudian, Sean akhirnya mau membuka suaranya. "Apa yang harus saya akui dan saya pertanggung jawabkan, Dokter Ferdinand. Saya memang tidak pernah menyentuh putri Anda dan sejauh ini, putri Andalah yang mengejar-ngejar saya. Dia sangat agresif pada laki-laki," Sean menghunuskan tatapan sinis pada Kanaya yang duduk tepat di hadapannya. Kanaya hanya diam. Ia tak akan menyanggah kata-kata Sean. Mulutnya ia gunakan untuk menahan lonjakan dalam perutnya yang ingin dimuntahkan. "Mengetahui sikap agresifnya, mungkin saja, kalau Kanaya benar-benar hamil, janin yang dia kandung bukan anak saya. Tapi anak lelaki lain. Tidak ada yang tahu kan?" Ia mengedikkan bahu dan dagunya dengan ringan. Sementara itu, Kanaya sudah ingin membantah ucapan-ucapan Sean. Ia benar-benar hamil dan janin yang ia kandung adalah anak Sean. Melihat keterdiaman Kanaya, Sean kembali berujar, "Kanaya tidak berusaha menyanggah ucapan saya, artinya saya berkata benar. Anak yang dia kandung bukan anak saya." Sean akan berusaha sesantai mungkin. Ia tak akan melibatkan emosinya, karena tahu hal itu akan sia-sia. Ia sudah mencobanya tadi, ketika berbicara dengan kedua orang tuanya. Tidak akan ada titik terang yang mereka temui jika masih dikuasai emosi. "Tapi foto-foto itu jelas sudah menerangkan segalanya Dokter Sean!" sela Ferdinand dengan nada tinggi. Lelaki itu bangkit dari duduknya, menunjukkan jarinya pada foto Sean juga Kanaya yang tengah berpelukan di dalam selimut dan ranjang yang sama. Mata pria paruh baya itu kemudian menyorot bengis Sean yang masih mempertahankan sikap santainya. Beliau cukup kesal melihat sikap Sean yang tidak punya sopan santun sama sekali. Ia jadi menyesal ingin menjadikan lelaki itu sebagai mantunya, menikahkannya dengan Miranda sebab ia memang pernah berpikiran seperti itu. Meski sekarang sepertinya Sean akan benar-benar menjadi anak mantunya, mengingat putri bungsunya tengah mengandung anak lelaki itu. "Kalau Anda memang bersalah, Anda harus mengakuinya Dokter Sean," tegas Ferdinand tetap pada posisinya. "Saya tidak bersalah, Dokter Ferdinand Brata Sadega yang terhormat," bela Sean dengan mengeja nama lengkap atasannya itu. Dia bukan tipe lelaki penyabar sebenarnya. Jadi, mendapati Ferdinand yang masih menggunakan urat ketika berbicara, membuat sumbu kesabarannya tersulut oleh api emosi. "Foto itu bisa saja hanya rekaan atau jebakan dari putri Anda yang sangat licik itu. Lagi pula, bukannya Anda melihat sendiri, putri Anda sama sekali tak berusaha menolak ucapan saya?!" Sean ikut emosi, tak sadar nada suaranya mengeras ketika berbicara dengan Ferdinand. Ia tak pernah berlaku seperti ini sebelelumnya dan atasannya itu ternyata cukup terkejut mendapati sikapnya yang terkesan kasar. "Sean! Apa-apaan kamu?! Bicara yang sopan! Mama nggak pernah ngajarin kamu ngomong keras kayak gitu sama orang yang lebih tua!" seru ibu Sean yang sedari tadi hanya menjadi pendengar dan pengamat. "Tapi Ma, Sean sama sekali nggak punya salah. Sean nggak pernah ngelakuin nggak-nggak sama Kanaya," sahut Sean keras kepala. "Sean, bicara yang sopan sama Mama kamu dan Pak Ferdinand!" tegur ayahnya ikut angkat bicara. Ketika Sean hendak mengangkat suaranya lagi, Kanaya langsung berdiri. Perempuan itu berlari tak tentu arah untuk mencari kamar mandi. Ia sudah tak cukup kuat menahan gejolak di perutnya. Langkah kakinya kemudian mengarah ke dapur. Di sana ia melihat kedua saudara Sean yang tengah berdiri dengan posisi setengah membungkuk di dekat rak berisi piring dan gelas itu. Namun Kanaya tak mempedulikan hal itu. Ia langsung menghela langkah cepatnya ke arah wastafel dan memuntahkan seluruh isi dalam perutnya. "Hoek... hoek... hoek..." Kanaya tak peduli, jika kedua saudara Sean akan jijik melihatnya nanti. "Hoek... hoek... hoek..." Ia terus memuntahkan isi dalam perutnya tanpa henti. Bermenit-menit kemudian, Kanaya masih saja muntah. Membuat tenaganya terkuras habis. Kakinya melemas, ia terduduk begitu saja di lantai dapur yang dingin. "Eh, eh, dia kenapa?" "Udah tahu muntah-muntah, masih aja nanya." Kedua orang yang masih setia berdiri di samping rak itu terdengar berdebat. Kanaya ingin melihat, tapi ia cukup tak mampu mendongakkan kepalanya. Tubuhnya benar-benar sangat lemas. Lalu, sebelum kesadarannya terenggut, ia mendengar derap langkah kaki yang saling menyahut menuju ke arahnya. Kanaya tak benar-benar tahu bagaimana kelanjutannya, karena sesudah itu, semuanya menjadi gelap. Ia jatuh pingsan. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD