17. Menikah

1900 Words
Seminggu berlalu, Sean dan Kanaya kini sudah berganti status. Mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Ya, pada akhirnya, mau tidak mau, atas paksaan kedua orang tuanya juga orang tua Kanaya, akhirnya Sean menikahi perempuan itu juga. Mempertanggungjawabkan hal yang tidak pernah ia lakukan. Yang otomatis membuatnya mengakui jika janin yang Kanaya kandung adalah anaknya. Pernikahan mereka cukup sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga inti dari masing-masing keluarga. Bahkan dari kedua belah pihak pengantin, tidak ada yang mengundang teman, sahabat, maupun rekan kerja mereka. Untuk merayakan pernikahan ini saja, mereka hanya melakukan makan malam bersama. Perbedaan yang sangat kontras pada raut wajah yang Sean dan Kanaya tampilkan. Mata Kanaya berbinar, senyum tipis menghiasi wajahnya yang tampak manis dan ayu---meski hanya dipoles oleh bedak tipis. Hal ini sangat jauh berbeda dengan Sean. Sedari tadi pria itu hanya menekuk wajahnya, menggambarkan suasana hatinya yang kelabu. Bahkan tadi, saat Miranda mengucapkan selamat pun, Sean tak membalas apa-apa, hanya gumaman tak jelas saja dengan wajah yang sangat kecut. Suasana hatinya sudah seperti langit kelabu dengan petir yang menyambar-nyambar. Menakutkan. Dalam orientasi Sean, untuk tahun ini dan beberapa tahun berikutnya, sama sekali belum ada rencana untuk menikah. Ia masih ingin fokus pada karirnya, pada pasien-pasiennya yang sudah menggantungkan nyawa mereka padanya. Ya, seperti yang sudah ia katakan pada sang ibu jauh-jauh hari sebelum ini. Namun rupanya semesta tak menghendaki. Ia memainkan Sean dengan hal yang paling tidak ia inginkan dan dengan wanita yang bahkan sama sekali tidak ada dalam bayangan lelaki itu. Entah hanya untuk menjadi pendamping sementara atau selamanya. "Kamu pasti bahagia kan sekarang?" Sean mendesis tajam tepat di dekat telinga wanita yang beberapa saat lalu menjadi istrinya itu. Jujur saja, ia sangat malas menyebutkan nama Kanaya untuk saat ini, atau mungkin untuk ke depannya juga? Kanaya meringis di tempatnya, tatkala mendengar kumpulan kata yang Sean lontarkan. Padahal sedari tadi dia sudah menahan euforianya, namun tampaknya yang ia lakukan itu malah gagal. Ia masih terlihat sesenang dan sebahagia itu memiliki seorang Sean Arselino. Ya, meski ia sempat menyesal telah melakukan hal gila itu, tetapi tidak dapat ia pungkiri jika hatinya tengah diselimuti rasa bahagia. Pun, meski ia juga tahu Sean hanya terpaksa menikahinya karena kehamilannya itu. Memilih tak menanggapi, Kanaya kemudian mengalihkan tatapannya pada piring-piring yang penuh dengan berbagai macam hidangan makanan. "Oh, saya benar-benar terlihat sangat bodoh. Kamu berhasil menjebak saya waktu itu. Kamu wanita paling licik yang pernah saya temui." Sean berujar dengan suara rendah dan pelan tepat di depan telinga Kanaya. Hal itu membuat Kanaya refleks memalingkan wajah, menatap Sean dengan mata yang membulat. Perkataan Sean membuatnya sakit hati. Ia akui, dirinya memanglah licik. Tapi itu semua ia lakukan untuk mendapatkan hati Sean. Salah satu sudut bibir Sean terangkat. "Jangan senang dulu Kanaya, karena setelah ini saya tidak akan membiarkan hidup kamu tenang. Akan saya pastikan itu," ujarnya seperti tadi. Dengan susah payah Kanaya meneguk salivanya. Ia tahu, Sean tak akan main-main dengan ucapannya. Mungkin jika dilihat dari sisi lain, orang-orang yang turut berada di ruangan itu akan menganggap jika kedua pengantin baru itu sedang dimabuk asmara. Saling berbisik romantis untuk mengungkapkan isi hati mereka. Namun, ada juga yang berpikiran sebaliknya. Mereka tak yakin jika Sean akan berkata manis setelah penolakan yang dilakukannya beberapa hari sebelumnya. Kecurigaan mulai mereka rasakan. Ia yakin, ada suatu hal yang Sean sembunyikan. Namun mereka tak akan mempermasalahkan hal itu, toh bisa jadi itu hanya perasaan mereka saja. *** Sean duduk termenung cukup lama di kursi taman belakang rumahnya. Ia sedang menunggu Ferdinand yang setelah makan malam tadi ingin mengajaknya mengobrol serius. Entah tentang apa, Sean tak cukup tahu. "Dokter Sean." Ferdinand memanggil dari arah belakang. Sean menolehkan wajahnya. Ia tersenyum sangat canggung menyambut pria paruh baya itu. Kemudian, digesernya tubuhnya ke samping, mempersilakan Ferdinand untuk duduk di sebelahnya. Sejujurnya, Sean merasa sangat tidak enak pada pria paruh baya itu, mengingat sikapnya pekan lalu yang tidak bisa dibilang sopan. "Saya sudah memaafkan Anda, atas perilaku Anda beberapa hari yang lalu. Saya mengerti bagaimana perasaan Anda. Anda pasti takut citra Anda akan buruk di mata saya," ujar Ferdinand seakan tahu apa yang Sean pikirkan. Sean tidak ingin menyanggahnya. Yang Ferdinand katakan benar. Ia memang takut citranya berubah buruk di mata lelaki paruh baya itu. Bukan ia saja sejujurnya, tetapi juga orang lain. "Saya sebagai ayahnya sebenarnya sangat kecewa pada Anda. Seharusnya, jika Anda mencintai anak saya, Anda bisa menjaganya, melindunginya, dan tidak melakukan hal tak senonoh seperti itu. Anda seharusnya lebih bisa mengontrol diri Anda, Dokter Sean sampai kalian bisa benar-benar menikah seperti sekarang." Tapi kali ini anggapan Ferdinand salah dan membuat Sean cukup tersinggung dengan kata-kata yang terlontar dari mulut mertuanya itu. Sean tak pernah melakukan apa yang Ferdinand tuduhkan. Tapi, Sean sadar, percuma ia menyanggah. Tidak ada yang percaya padanya, sekalipun keluarganya sendiri. Membuat Sean benar-benar membenci Kanaya. "Sampai sekarang, meski Anda sudah mau mengakui kesalahan Anda, saya masih merasakan kekecewaan yang luar biasa," desah beliau panjang. "Saya tidak rela melihat nasib anak saya sekarang." Mungkin Ferdinand bukan ayah yang baik, yang selalu memaksakan kehendaknya, yang selalu berbuat tak adil, dan yang selalu menganggap putri bungsunya itu bodoh. Namun, siapa pun harus tahu, tak ada ayah yang akan biasa-biasa saja jika melihat putri kandungnya hamil di luar nikah. Perasaan mereka pasti akan tetap hancur, karena merasa didikan yang mereka berikan tak dikerjakan dengan baik oleh si anak. Sean memutuskan untuk diam saja. Selain karena rasa kesalnya yang masih bercokol dalam hati akibat kata-kata Ferdinand, juga karena ia tak tahu bagaimana bisa berbicara dengan sopan, sementara ia sedang memendam emosi pada orang yang mengajaknya berbicara itu. Lalu, helaan napas panjang Sean dengar dari mulut Ferdinand. Ia menunggu pria paruh baya itu menyambung kalimatnya. "Kata Kanaya, kandungannya sudah memasuki bulan ketiga." Sean masih menunggu kelanjutannya. Ia tak tahu, mau dibawa ke mana perbincangan mereka ini. Ferdinand terlalu bertele-tele. "Dokter Sean, saya sebagai seorang ayah tak banyak tahu tentang hubungan antara Anda dan putri saya, Kanaya." Ferdinand menjeda sebentar, sembari menarik napasnya. "Awalnya, saya ingin menjodohkan Anda dengan Miranda." Ferdinand berterus terang. Kening Sean terangkat, membentuk lipatan-lipatan samar di sana. "Tapi rencana itu gagal, karena Anda sendiri telah memiliki hubungan dengan Kanaya, bahkan sampai tahap---tahap yang begitu gila." Ia mengembuskan napas berat, lalu tersenyum masam. Apa-apaan ini? Sean mendengkus dalam hati. Ferdinand masih mau mengulur-ulur pembahasan mereka ternyata. "Dokter Sean, sebelumnya saya minta maaf." Jujur, sekarang Sean mulai bingung. Kenapa harus meminta maaf? Apa lelaki paruh baya itu baru sadar jika selama ini ia sudah salah paham padanya? Begitu sekiranya yang Sean pikirkan. Tetapi, setelah dipikir-pikir hal itu tidak mungkin. Pasti ada hal lain yang sengaja ingin Ferdinand sampaikan padanya. "Saya tidak tahu kenapa Dokter Ferdinand meminta maaf kepada saya. Mungkin saya bisa menebak, tapi saya kira itu hanya sia-sia. Jadi, tolong katakan secara langsung saja." Setelah keterdiamannya yang cukup lama, Sean akhirnya membuka suaranya juga, tentu dengan hati yang menahan geraman. Ia adalah lelaki pendendam sebenarnya, jadi cukup sulit untuk bersikap baik pada sang lawan. Ferdinand mendesah lirih. "Saya benar-benar minta maaf pada Anda, Dokter Sean. Dengan berat hati, saya akan memindahkan Anda ke rumah sakit yang ada di Bandung." Bagai petir yang menyambar di siang bolong, Sean terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ferdinand. "Apa maksud Anda, Dokter Ferdinand?!" Ia tanpa sadar sudah meninggikan suaranya. Sementara emosi yang sudah ia tahan sedari tadi akhirnya meluap juga. Ferdinand tampak memijit pelipisnya. "Kanaya sedang menjalani masa koas di sana. Saya tak bisa membiarkannya sendirian, mengingat kehamilannya itu. Dia tak akan cukup kuat ketika morning sickness sudah mulai menyerangnya dan akhirnya seperti sebelum-sebelumnya, pingsan. Tentunya, wanita hamil pasti mengalami masa yang namanya ngidam juga, kan? Dia membutuhkan Anda sebagai ayah dari janin yang ia kandung. Dia tidak bisa sendirian, meskipun di sana ada pembantu juga. Tetapi, bukankah suami siaga yang pertama kali ia butuhkan?" Daripada fokus pada kalimat Ferdinand perihal dirinya yang harus menjadi suami siaga itu, Sean malah fokus dengan hal yang lain. Gadis itu tidak menghilang, melainkan menjalankan koas di tempat lain. Entah bagaimana bisa, tetapi rupanya Kanaya memang merencanakan semuanya dengan sangat detail. Sean benar-benar merasa dicurangi. Tapi, bukan itu yang lebih menganggu ego Sean. Ini tentang pekerjaannya. Dalam hati Sean menggeram marah. Tangan pria itu terkepal erat bersamaan dengan rasa marah yang meluap-luap. Jelas saja ia merasakan hal itu, ia sudah mapan dan nyaman bekerja di sana, sementara di tempat baru, ia mesti beradaptasi, menyesuaikan diri dengan tempat barunya. Ia paling benci hal itu. Sifat Sean sebenarnya sangat bertolak belakang dengan profesinya. Ia tak suka jika berhubungan dengan orang baru, sementara setiap harinya ia bertemu dengan mereka. Seolah tersadar, pikirannya lalu tertuju pada sosok wanita yang tengah mengaku hamil anaknya itu, Kanaya. Semua hal yang menimpanya karena perempuan itu. Ia tak tahu, Kanaya benar-benar mengandung anaknya atau tidak. Bisa jadi perempuan itu sedang memanipulasi kejadian yang sebenarnya, lalu menjadikan Sean sebagai objek yang patut bertanggung jawab. Padahal, ada lelaki lain yang barangkali tengah kabur entah ke mana. "Tapi Anda tidak bisa begitu saja memindahkan saya, Dokter Ferdinand. Saya masih ingin bekerja di RS pusat." "Maaf Dokter Sean, ini sudah menjadi keputusan saya. Saya tak bisa membiarkan Kanaya menderita seorang diri karena kehamilannya di sana. Lagi pula, rumah sakit itu juga masih milik saya." Sean memutar otaknya, berusaha mencari alasan lain yang bisa membuat Ferdinand mengurungkan niatnya. "Pasien saya," kejarnya. "Bagaimana dengan pasien-pasien saya? Apa Anda tidak kasihan pada mereka?" "Masih ada dokter lain yang bisa menanganinya, Dokter Sean. Anda tenang saja." Ferdinand menyahut dengan sabar. Ia tahu, Sean sedang dalam emosi, jadi ia tidak akan melibatkan emosinya. Lagi pula, keinginan untuk Sean bertanggung jawab sudah terwujud. Tangan Sean semakin kuat terkepal, kedua bibirnya terkatup rapat, sementara rahangnya tampak mengeras. Berita kepindahannya ini semakin membuat emosinya tak terkendali. "Dokter Ferdinand tinggal memindahkan Kanaya kembali ke rumah sakit pusat jika itu masalahnya, biarkan dia meneruskan masa koasnya di sana," usulnya dengan napas yang terdengar memburu, sebab menahan diri untuk tidak berbicara kasar pada pria paruh baya itu. Namun sedetik kemudian, sebuah gelengan kecil ia terima. Jelasnya, Ferdinand menolak. "Itu tidak mungkin. Apa tanggapan mereka ketika tahu Kanaya datang dengan kondisi perut yang mulai membuncit? Mereka akan berpikir yang tidak-tidak. Imbasnya, nama keluarga saya, khususnya Kanaya, akan tercoreng, begitu pun dengan nama Anda." Sebenarnya, inilah alasan utama Ferdinand memindahkan Sean, ia tak ingin nama keluarganya atau anak bungsunya itu tercemar hanya karena berita kehamilan gadis itu yang berada di luar pernikahan. Meski memang itulah faktanya. Sementara, jika di rumah sakit cabang, Ferdinand masih bisa memanipulasi keadaan putrinya sedemikian rupa. Sehingga tidak ada orang lain yang tahu bagaimana fakta yang sebenarnya. Sean menghela napasnya kasar. Otak dan hatinya berusaha mencerna alasan Ferdinand yang ingin memindahkannya itu. Barangkali, memang benar. Jika ia tidak dipindahkan dari sana, maka rekan-rekan sesama dokter dan perawatnya akan berpikiran buruk tentang dirinya. 'Dokter Sean telah menghamili putri bungsu Dokter Ferdinand'. Pasti dari sini akan memunculkan anggapan-anggapan baru seperti, 'pasti Dokter Sean melakukan hal itu supaya bisa menggantikan Dokter Ferdinand memimpin rumah sakit'. Tidak! Sean tidak mau itu terjadi. Namanya akan benar-benar tercoreng, dan citra baiknya akan menghilang begitu saja. Jalan satu-satunya untuk keluar dari masalah itu adalah menyetujui rencana Ferdinand. Menghela napas panjang, akhir ia menjawab, "Ya, baiklah. Saya setuju jika Anda ingin memindahkan saya." Lalu embusan napas pasrah ia keluarkan dalam sekali sentakan. Emosi masih menguasainya, tapi sebisa mungkin Sean berusaha mengontrolnya. Ia tidak mungkin langsung mendaratkan kepalan tangannya pada bagian tubuh Ferdinand. Selain karena lelaki itu jauh lebih tua darinya, statusnya pun juga sudah menjadi menjadi mertuanya. Akan sangat tidak sopan untuknya, bukan? Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD