Sedari tadi yang Kanaya lakukan adalah memandangi setiap gerak-gerik Sean yang tengah memindahkan pakaiannya dari dalam lemari ke dalam koper yang pria itu letakkan di ujung ranjang.
Beberapa kerutan tercetak jelas di kening perempuan itu. Ia heran, memangnya suaminya itu mau pergi ke mana sampai harus membereskan pakaiannya seperti itu? Oh, atau, Sean ingin mengajaknya untuk berbulan madu, pelesiran ke berbagai negara dan menghabiskan waktu berdua?
Ha ha, tidak mungkin. Kamu terlalu berharap, Kanaya. Dewi Batin dalam diri Kanaya mengejek pikiran wanita itu. Tentu saja, sangat mustahil mengharap Sean mengajaknya begitu. Lelaki itu saja bahkan belum sepenuhnya menerima pernikahan mereka, lebih tepatnya sama sekali belum menerimanya.
Namun, kalau begitu apa? Kanaya bertanya-tanya sebab sejak tadi pun Sean tidak membagi cerita dengannya. Jangankan begitu, berbicara sepatah kata saja sepertinya dia enggan. Pun, Kanaya tidak bisa membaca pikiran Sean yang seperti kabut hitam tebal itu.
Mungkin saja dia ingin pergi meninggalkan dirimu. Lagi-lagi, sudut kecil di hati Kanaya berbisik pelan, menjawab pertanyaannya dengan nada mengejek.
Tidak. Kanaya menggeleng keras. Dokter Sean tak akan meninggalkannya. Keduanya sudah terikat, ia sudah sah menjadi istrinya. Jadi, tidak mungkin kan kalau lelaki itu lepas tanggung jawab begitu saja?
Perempuan itu kemudian mendongakkan kepalanya, memandang Sean. Ia ingin bertanya untuk memastikan apa yang dikatakan hati kecilnya. Mulutnya hendak terbuka, namun urung karena pastinya pria itu tak akan mau menjawab apa yang ia tanyakan, atau lebih tepatnya berbicara dengannya.
Seperti halnya makan malam tadi, pria itu hanya bungkam ketika Arland dan Alea menanyai tentang hubungan mereka sebelumnya. Hal itu tentu saja membuat Kanaya sempat kebingungan. Ia bahkan tak tahu harus menjawab bagaimana, dan pada akhirnya yang ia lakukan adalah menyunggingkan senyum canggung kepada sepasang paruh baya itu dan disambut dengan senyum maklum yang menandakan jika mereka mengerti, kalau Kanaya sama sekali tak ingin mengisahkannya.
Kanaya tampak jengah dengan suasana yang seperti ini. Seharusnya ini menjadi malam bahagia bagi pengantin baru seperti dirinya. Tapi ia cukup sadar diri. Tentu saja, karena yang menginginkan pernikahan ini hanyalah dirinya, sementara Sean, pria itu sama sekali tak mengharapkannya.
Menghela napasnya panjang, akhirnya Kanaya memilih mengajak Sean untuk berbicara. "Dokter Sean," panggilnya, sama sekali tak menghilangkan sebutannya pada pria itu, meski sekarang ia sudah menjadi istri lelaki itu. "Kenapa Dokter masukin hampir semua pakaian Dokter ke koper? Emangnya Dokter mau ke mana?" tanyanya kemudian.
Seperti dugaannya di awal tadi, Sean sama sekali tak menggubris kalimatnya. Pria itu tetap melanjutkan aktivitasnya tadi, seakan ia tidak mendengar apa pun atau melihat keberadaan Kanaya yang sejak tadi tak mengalihkan tatap darinya. Sementara itu, melihat ketidak-acuhan Sean, membuat Kanaya tanpa sadar mengerucutkan bibirnya. Jelas saja ia kesal.
"Dokter Sean, aku sekarang istri Dokter, jadi seharusnya Dokter bisa bersikap lebih baik sama aku, jangan kayak gini!" Kanaya berseru dengan intonasi tinggi, ia sudah tak tahan dengan sifat Sean. Sungguh, demi apa pun.
Sean menghentikan aktivitasnya. Pria itu mamalingkan wajah dan memandang Kanaya dengan tatapan sinisnya. "Istri, kamu bilang? Huh!" Ia mendengkus dengan keras. "Saya sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini, dan jangan pernah mengharapkan apa pun dari saya, karena harapan kamu itu tidak akan pernah terkabul. Camkan itu baik-baik," katanya yang sarat akan emosi.
"Dan, bukankah saat makan malam tadi saya sudah bilang sama kamu," Sean menjeda ucapannya. Pria itu melangkahkan kakinya mendekati Kanaya. Setelah berada di hadapan perempuan itu, Sean mencondongkan tubuhnya, menyejajarkan wajahnya dengan wajah sang istri. "Kalau saya tidak akan pernah membuat hidup kamu tenang. Saya akan menghancurkan hidup kamu, Kanaya. Kamu tidak akan pernah merasa bahagia hidup bersama saya," lanjutnya dengan suara mendesis tajam.
Kanaya meneguk salivanya dengan susah payah. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menyalurkan rasa takut sekaligus khawatirnya. "Do-Dokter nggak bisa kayak gitu sama aku. Ak-aku bakal ngadu sama mama Dokter, kalau Dokter mau buat jahat sama aku. Pasti Mama Alea bakal bantu aku," sahut Kanaya dengan terbata. Ucapan Sean cukup mampu memengaruhinya hingga membuat tubuhnya bergetar hebat.
Dengusan kembali terdengar dari mulut Sean. "Besok kita sudah tidak ada di sini," katanya seraya menjauhkan wajah serta menegakkan tubuhnya.
"Ke-kenapa?"
"Itu semua karena ulah kamu. Kalau saja kamu tak berpura-pura hamil anak sa-"
"Aku benar-benar hamil anak Dokter, kok!" Kanaya memotong ucapan Sean.
"Ya, ya, ya, terserah kamu. Tapi, sekali lagi, perlu kamu tahu, itu semua karena ulah kamu. Kalau saja kamu tidak berbuat licik seperti itu, Ayah kamu tidak akan memindahkan saya dan saya masih bekerja di sana." Sean menatap Kanaya dengan tajam.
"Ma-maksud Dokter apa?" Sepertinya Kanaya belum mengerti apa-apa.
Sean tak menjawab, pria itu malah berbalik dan meninggalkan Kanaya begitu saja.
Kanaya menghela napasnya. Tatapannya begitu sendu memandang pintu tempat Sean menghilang tadi. Ditepuknya dadanya, berharap rasa sesak yang ia rasakan bisa menghilang atau setidaknya berkurang.
Tak sadar air matanya menetes. Ia tahu, pernikahannya ini bukanlah pernikahan yang membahagiakan, untuknya maupun untuk Sean. Meski begitu, ia sama sekali tak peduli. Ia masih bisa mengubah perasaan Sean. Ia akan membuat pria itu jatuh cinta padanya.
Ya, dia akan berusaha. Tapi, sanggupkan dia, sementara Sean pasti akan selalu menolaknya? Entahlah, Kanaya sendiri tidak tahu. Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Dan ia berharap, di waktu yang tepat nanti, Sean akan benar-benar menerimanya, juga anak mereka yang akan lahir ke dunia. Bukan seperti sekarang yang bak musuh yang disatukan.
***
Pagi itu, Kanaya merasakan mual yang luar biasa. Perutnya terasa diaduk-aduk, sementara kepalanya berdenyut sakit. Rasa mual yang ia rasakan semakin kuat. Lantas, ia segera beranjak dari ranjangnya dan berlari menuju kamar mandi untuk menumpahkan isi dalam perutnya.
Sean yang tadinya ingin keluar dari kamar itu akhirnya mengurungkan niat. Ia berjalan mengikuti Kanaya menuju ke toilet. Dilihatnya perempuan itu yang saat ini tengah terduduk lemas dengan tubuh menyender pada dinding kamar mandi. Wajah perempuan itu tampak pucat, butiran keringat sebesar jagung tampak menghiasi pelipis serta keningnya. Mungkin karena mual dan muntahnya tadi, Kanaya bisa seperti itu.
Sean mendesis jijik menatap muntahan Kanaya yang belum sempat disiram itu. Tak ada niatan untuknya membantu sang istri.
"Dok-Dokter Sean," lirih Kanaya memanggil Sean. Ia memandang laki-laki itu dengan tatapan kesakitannya.
Sean berdecak, "Apa? Kamu mau saya membantu kamu?" Ia berujar dengan sinis.
Kanaya mengangguk lemah. Ia tidak kuasa menjawab pertanyaan suaminya meski hanya dengan satu kata.
"Saya tidak akan pernah membantu kamu." Sejurus kemudian, laki-laki itu memutar tubuhnya dan sama seperti tadi malam, meninggalkan Kanaya begitu saja.
Tidak ada belas kasihan di hatinya sekarang, yang ada hanyalah kemarahan dan kebencian pada perempuan itu. Ia tak peduli jika Kanaya mati, justru ia malah akan bahagia mungkin? Meski hal itu sangat bertolak belakang dengan profesinya yang seorang dokter. Namun, Sean benar-benar dibutakan oleh kebencian.
"Lho, Sean, Kanayanya mana? Kenapa dia nggak ikut sama kamu?" tanya ibunya ketika Sean tiba di meja makan.
Sean hanya mengangkat bahunya, tampak tak acuh dengan pertanyaan wanita setengah baya yang sudah melahirkannya itu. "Nggak tahu, emangnya peduli Sean apa?" katanya, lalu duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Meraih gelas dan juga teko yang tak jauh darinya.
Ibunya memalingkan wajah, menatap sang putra sulung yang tengah menuangkan air ke dalam gelas. Matanya menatap tajam ke arah anak tertuanya. "Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Dia istri kamu, dan dia juga sedang hamil anak kamu, Sean!" geram ibunya yang tampak tak suka dengan tingkah Sean yang menurutnya tidak pantas itu. Bagaimanapun juga, Kanaya adalah istrinya. Sean seharusnya tidak bersikap setidak acuh itu padanya, terlebih wanita itu tengah mengandung sekarang.
"Yang dia kandung itu bukan anak Sean, Ma," kata Sean kemudian setelah meneguk habis airnya.
"Buktinya udah ada di depan mata, Sean. Foto yang dia bawa udah jelasin semua. Sudah tahu risiko seks bebas, kamu malah ngelakuin itu. Dan kalau udah ada hasilnya, tugas kamu bertanggung jawab. Bukan malah mengelak kayak gini," sahut ibunya panjang lebar, berharap Sean tidak keras kepala lagi dan mau sedikit menurunkan egonya.
"Ma, Sean nggak pernah macem-macem. Sean punya agama, Sean tahu batasan, dan Sean juga tahu dampak apa yang bakal Sean terima kalau Sean benar-benar ngelakuin itu. Sean nggak akan seceroboh itu, Ma. Dan, bisa aja foto itu cuma editan dari dia, kan?"
"Kenapa kamu masih mengelak, Sean? Kamu mau bilang kayak apa pun, kalau nggak ada bukti ya percuma. Papa atau bahkan Mama juga nggak sebodoh itu. Kami sangat bisa bedain mana yang foto editan dan mana yang bukan."
"Kalau gitu dia jebak Sean!"
"Jangan ngelak lagi, Sean!"
"Udahlah Ma, Sean capek. Cuma karena perempuan itu kita jadi debat kayak gini." Sean berdiri, meninggalkan ibunya begitu saja dengan emosi yang membuncah. Padahal selain minum tadi, dia ingin pamit pada ibunya itu perihal kepindahannya, tetapi beliau malah mengajaknya berdebat.
Embusan napas kasar terdengar dari mulut Sean. Pria itu memutuskan untuk kembali ke kamarnya, dan segera bersiap-siap. Ia sudah tak tahan berada di rumah itu. Ia merasa dianggap b*jingan oleh keluarganya sendiri.
Sean mengedarkan pandangannya ke setiap sisi kamar. Ia mengernyit, ketika tak mendapati perempuan yang belum genap dua puluh empat jam menjadi istrinya itu. Dan ia baru mengingat jika tadi Kanaya sedang terduduk lemas di kamar mandi.
Lantas ia gerakkan kakinya menuju ke sana. Sekadar mengecek bagaimana keadaan perempuan itu. Ia berdecak kesal ketika melihat Kanaya yang sudah tak sadarkan diri.
"Nyusahin aja," gerutunya dan mulai mengangkat tubuh Kanaya yang tak seberapa berat meski tengah berbadan dua.
Ia membaringkan Kanaya ke atas ranjang. Meski ia seorang dokter, ia tak akan memeriksa kondisi istrinya itu. Sudah Sean katakan sejak awal, ia tak peduli dengan keadaan Kanaya mau segawat apa pun dia. Ah, entah ke mana perginya jiwa penyelamat Sean. Empatinya sudah ditendang jauh-jauh oleh amarah.
Lantas, ia mendudukkam dirinya di tepi ranjang. Menatap koper yang berada di ujung sana dengan tatapan tak bersemangat. Mungkin ia harus menunda keberangkatannya, mengingat kondisi Kanaya yang jauh dari kata baik.
Sisa hari ini mungkin akan ia gunakan untuk mencoba berdamai dengan sang ibu dan mengobril dengannya lebih banyak sebelum benar-benar pergi dari rumah yang sudah ia tinggali lebih dari tiga dekade itu. Meski ia ingin sekali pergi ke rumah sakit, tapi ia sudah tak punya hak apa pun di sana. Dia sudah bukan lagi dokter di sana, Ferdinand pasti juga sudah mengumumkan kepindahannya. Mungkin seharusnya Sean datang, sekadar untuk mengucapkan kalimat perpisahan kepada rekannya yang lain, tapi sepertinya itu tidak perlu.
Ah, mengingat hal itu membuat emosinya yang tadi sudah tenang, kembali bergemuruh. "Ini semua karena ulah kamu, Kanaya. Kamu tidak tahu bagaimana usaha saya agar bisa masuk ke sana. Dan karena itu, saya tidak akan pernah membiarkan hidup kamu atau, kalau perlu anak yang kamu kandung itu, bisa hidup tenang," ujarnya sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat, hingga buku jarinya tampak memutih.
Hati Sean kini benar-benar telah diliputi oleh benci, amarah, serta dendam. Dan hal itu mungkin akan berakibat buruk terhadap kehidupan Kanaya selanjutnya.
Tbc