19. Sesuatu yang Tidak Beres

1735 Words
Alea, ibu Sean itu sudah menghidangkan berbagai makanan yang ia dan pembantunya tadi masak ke atas meja makan, menata piring beserta sendok dan garpunya sedemikian rupa. Sejak tadi ia tak berhenti bekerja, bolak-balik dari dapur ke ruang makan. Sekarang, setelah semua beres, ia mendudukkan di kursi paling ujung, menunggu semua keluarganya untuk berkumpul dan makan bersama. "Pagi Mama sayang." Suaminya yang pertama kali datang. Pria paruh baya itu mengecup pipi istrinya dengan mesra, sebelum mendudukkan dirinya ke kursi. "Pagi, Pa." Sementara itu, Alea membalas tak acuh sebelum meneguk teh hijau yang ia buat. "Anak-anak belum pada turun, Ma?" tanya Arland sebelum menyeruput kopi hitam yang telah Alea siapkan. Alea mengedikkan bahunya, lalu mendudukkan dirinya ke kursi. "Belum, kayak nggak tahu kebiasaan Jean sama Athaya yang kalau bangun pas udah matahari di atas." "Sean? Nggak biasanya dia bangun siang. Apa jangan-jangan lagi main ya sama istrinya? Pengantin baru kan suka gitu." "Hush, apa sih Papa. Tadi Sean udah ke sini, tapi pergi lagi gara-gara debat sama Mama," beritahunya dengan wajah yang berubah masam. "Anak itu, keras kepala banget, mirip sama Papa yang nggak pernah mau ngalah," lanjut wanita itu, mendesis pelan. "Ya elah, Ma, cuma nggak mau kalah urusan yang mandi duluan aja dibesar-besarin." Arland menyesap kopinya, memandang sang istri dengan malas. "Ngomong-ngomong, nggak biasanya juga Mama debat sama Sean, paling biasanya sama Jean sama Athaya. Ada masalah apa, Ma?" Lelaki setengah baya itu bertanya dengan kening yang berkerut dalam. Ia cukup penasaran dengan apa yang didebatkan oleh istri dan putranya sepagi itu. Sangat bukan Sean sekali yang gampang mendebat sesuatu, kecuali memang masalah itu cukup mengganggunya. Arland sudah cukup hafal dengan sifat putra sulungnya itu. "Itu, perkara istrinya. Sean masih aja ngelak kayak kemarin, nggak mau ngaku kalau dia yang udah hamilin Kanaya," jawab wanita itu, kemudian mengalihkan pandangannya pada sang suami, dan menatapnya dengan serius. "Ngomong-ngomong aku baru mikirin ini tadi pagi habis debat sama dia. Aku ngerasa ada yang nggak beres sama hubungan mereka. Em, Papa ngerti kan maksud Mama?" Arland mengernyitkan kening, lalu menggeleng dengan wajah lugunya. Sungguh, ia memang tak tahu apa yang dimaksud istrinya itu. Alea berdecak kesal. "Bodoh banget sih Papa ini!" sungutnya sembari mencubit lengan keriput Arland, membuat pria paruh baya itu meringis kesakitan. "Kamu keterlaluan Ma, sama suami sendiri aja, kamu masih berbuat kasar." "Itu karena Papa sendiri yang terlalu bodoh, yang sama sekali nggak peka. Coba ingat-ingat lagi interaksi mereka. Kemarin-kemarin, Sean mati-matian nolak Kanaya dan nggak mau ngakuin kalau bayi yang perempuan itu kandung adalah anaknya. Dan kemarin malam juga pas kita makan malam bareng, mereka kayak ngomong serius gitu. Aku yakin Sean lagi nyudutin Kanaya, karena nggak mungkin juga dia baik-baikin Kanaya setelah semua yang terjadi." Alea berujar panjang lebar. Kepala Arland mengangguk-angguk selama beberapa kali. Sekarang ia mulai mengerti arah pembicaraan istrinya itu. "Pasti ada sesuatu di balik hubungan mereka, Ma. Dan Papa rasa itu bukan hal yang baik ." Pria paruh baya itu menyimpulkan. "Em, Papa tahu nggak, sebenarnya aku mulai percaya sama Sean. Bukannya aku mau bela anak kita, tapi sejauh ini sikap dan perilaku Sean sama sekali nggak nunjukin kalau dia bisa berbuat hal yang nggak senonoh kayak gitu sama perempuan. Dan Papa sendiri cukup tahu kan, gimana sifat dia. Dia sangat bertanggung jawab sama apa yang dia ucapin. Dia dulu juga pernah bilang ke Mama, masih pengen fokus sama karirnya dan belum mau jalin hubungan sama perempuan dulu." Alea menghela napasnya panjang seusai mengatakan isi hatinya itu. Ia jadi yakin, Sean tidak bersalah dalam hal itu. Namun, ia juga tidak bisa menyalahkan Kanaya begitu saja, mengingat bukti yang wanita itu bawa cukup kuat. Mungkin, ketika nanti anak yang Kanaya kandung lahir ke dunia, mereka bisa mencari kebenaran dari semua itu. Benarkah Sean yang salah atau malah Kanaya. "Jadi, maksud Mama di sini yang salah Kanaya, begitu?" "Mama nggak tahu." Alea memilih untuk tidak menjawab, dan hanya mengedikkan bahunya saja. Ia tidak mau menyimpulkan sesuatu yang tidak berdasar, apalagi hanya dari presepsinya yang bisa jadi salah. "Tapi kalau iya, aku rasa itu juga nggak mungkin. Wajahnya polos, malah kelihatan rapuh. Sama sekali nggak mengindikasikan kalau dia bisa berbuat hal selicik itu. Dia kayak bukan orang yang ditakdirin buat jadi tokoh antagonis." Arland menanggapi kemudian. Alea termenung memikirkan ucapan suaminya itu. Ia jadi ragu setelahnya. Kanaya memang tampak polos dan rapuh secara bersamaan. Jadi, mustahil kalau dia berbuat senekat itu. Namun, yang namanya manusia tidak selalu bisa dibaca dari sampulnya saja, kan? "Ah, nggak tahu lah. Bingung Mama sekarang," ujar Alea sembari menghela napas kasar. "Seharusnya kita cari tahu lebih dulu sebelum mutusin Sean buat tanggung jawab sama hal yang belum tentu dia lakuin. Sekarang, Mama cuma bisa ngerasa bersalah sama dia." "Papa pun, Ma. Kita memang udah terlalu gegabah." *** Ketika matahari sudah semakin meninggi, Kanaya baru tersadar dari pingsannya. Kondisinya tak cukup baik, meski ia sudah tak merasakan mual lagi. Dengan susah payah, ia mulai mendudukkan dirinya kemudian menyadarkan punggungnya ke kepala ranjang. Tangannya ia gunakan untuk memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Kehamilannya itu benar-benar menyiksanya. Tapi ia tak boleh mengeluh, ia harus menerima semua konsekuensi dari rencana yang ia buat. Hamil, nama baiknya tercoreng, atau keluarganya yang sangat kecewa padanya, dan mungkin mereka semakin tidak mau memandangnya lagi. Itulah yang menguasai benak serta pikiran Kanaya. Obrolannya dengan sang ayah tempo hari tak benar-benar membuatnya berpikir jika ia sama berharganya dengan Miranda. Pikirannya masih saja dipenuhi hal buruk. Yang ia tahu dan ia pahami, selama ini mereka tak cukup memperhatikannya karena ia tak sepandai Miranda, tak pernah membanggakan mereka dengan prestasi-prestasinya yang mungkin tak akan pernah ia raih, dan malah menjelekkan nama keluarga dengan perbuatan yang ia lakukan ini. Sejak dulu, Kanaya hidup dalam aturan yang baginya terlalu sulit. Seperti anak sekolah dasar yang diharuskan mengerjakan soal-soal matematika untuk anak SMA yang jelas-jelas membuatnya angkat tangan. Kanaya dituntut untuk menuruti setiap apa yang mereka perintahkan. Masuk ke jurusan yang orang tuanya mau, bukan ke jurusan yang demi apa pun sangat ia inginkan. Dulu, sewaktu ia baru lulus sekolah menengah, ayahnya langsung memintanya untuk masuk ke fakultas kedokteran. Berulang kali Kanaya menolak, namun ayahnya masih bersikeras memaksanya. Lalu dengan berat hati ia mengabulkan permintaan ayahnya itu. Ia cukup tertekan sebenarnya dengan materi-materi kuliah yang diberikan, dan hal itu membuatnya selalu gagal saat di ujian akhir. Jelas saja kesehatan bukanlah bidangnya. Kanaya lebih menyukai arsitektur yang bisa mendesain apa saja. "Eungh." Ia melenguh pelan. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Diedarkan kedua bola matanya ke sekeliling. Kanaya baru sadar, jika sekarang ia sudah tak lagi berada di kamar mandi. Tempat terakhirnya sebelum benar-benar hilang kesadaran tadi. Mungkin Dokter Sean yang pindahin aku ke sini, pikirnya. Perlahan-lahan, ia mulai menurunkan kedua kakinya dan menjejakkannya ke atas lantai. Ia harus bangun, tidak enak pada mertuanya yang pasti beranggapan jika dirinya adalah wanita pemalas, yang tidak bisa diandalkan dalam setiap urusan rumah tangga. Perlahan-lahan ia langkahkan kakinya menuju pintu keluar. Wajahnya yang terlihat pucat mengidentifikasikan jika dirinya dalam kondisi yang tidak baik. Ditambah lagi perutnya yang sejak tadi bergejolak mual. Ia baru paham jika morning sickness bisa separah itu. Ia pikir itu hanya kisah fiksi yang dibumbui dan dipoles sedemikian rupa untuk memunculkan empati pembaca. Namun nyatanya hal itu benar adanya. "Kak Kanaya, baru bangun Kak?" Laki-laki muda yang ia ketahui bernama Athaya itu menyapanya dengan ramah ketika ia masih berada di ambang pintu kamar. Kanaya tersenyum tipis. Ia merasa kalau Athaya sedang menyindirnya, meski kenyataannya bukan seperti itu. "Em, m-maaf, tadi aku sedikit nggak enak badan." Ia berucap dengan canggung. "Pantas aja wajah Kakak kelihatan pucet. Mungkin Kakak kelelahan ya gara-gara tadi malam ngadepin nafsu Kak Sean yang pastinya besar banget, ditambah Kakak kan lagi hamil." Athaya menyunggingkan senyum jahilnya, menatap Kanaya dengan kedua alis yang ia gerakkan ke atas dan ke bawah. Lagi-lagi Kanaya hanya membalas dengan senyum tipis. Andaikan hal itu yang Sean lakukan padanya, ia akan senang dan bahkan sangat rela, karena dengan begitu lelaki itu berarti menerimanya. Namun yang ia alami pun malah sebaliknya. Pria itu menolak serta tak memedulikannya seperti tadi pagi, meski pada akhirnya ia tahu jika lelaki itu lah yang membaringkannya lagi ke atas ranjang. Hah, lagi-lagi Kanaya harus mengingatkan dirinya jika itulah konsekuensi yang ia dapat. Cinta dan obsesinya pada Sean membuatnya melakukan hal nekat seperti itu. Harapannya untuk memiliki keluarga bahagia bersama Sean mungkin tak akan pernah terwujud dan akan tetap menjadi angan-angannya saja. Namun tidak, ia tidak boleh pesimis kan? Ia bisa merebut hati suaminya itu, kan? Ya, ia yakin pasti bisa. "Kak Kanaya mau turun kan, kalau gitu aku bantu ya? Soalnya aku takut nanti Kakak jatuh gara-gara tubuh Kakak yang kayaknya lagi lemas gitu," tawar Athaya seraya mengambil tempat di sebelah Kanaya dan mulai menuntun perempuan itu. Memang sejak semalam, Kanaya tertidur di kamar Sean. Ibu Sean lah yang memaksanya, katanya wanita paruh baya itu takut jika Kanaya menginginkan sesuatu atau mual dan muntah yang hebat, tak ada orang yang membantu dan menolongnya. Percuma saja sebenarnya, Sean malah tak mengacuhkannya dan pergi begitu saja. Tadi malam pun, sebenarnya hanya Kanaya yang menempati kamar itu. Sementara Sean, entahlah. Ia tak tahu pria itu tidur di mana. "Kakak duduk dulu, aku mau cari Mama dulu, biar bisa bantu Kakak." Kanaya mengangguk sembari mengucapkan terima kasih. Tak lama berselang, ibu mertuanya datang dengan langkah tergopoh-gopoh. Wajah wanita paruh baya itu menyiratkan kekhawatiran. "Ya ampun, kamu sakit ya? Kenapa tadi pagi Sean nggak bilang sama Mama? Tahu gitu Mama bawain air kompres," sahut wanita itu. Belum sempat Kanaya menjawab, namun sesosok pria yang berada di belakang mertuanya itu sudah lebih dulu berbicara. "Untuk apa Sean kasih tahu Mama, biarin aja dia sakit. Palingan dia juga lagi pura-pura biar dapat perhatian dari kita," katanya dengan jengah. "Sean!" Alea memperingati putra sulungnya itu. Mengedikkan pundaknya dan tampak tak acuh, Sean berjalan menuju pantry, mengambil gelas kemudian menuangkan air ke dalamnya. Kepala Alea menggeleng kecil melihat tingkah anaknya yang berubah seratus delapan puluh derajat itu. "Kamu nggak usah masukin omongan Sean ke hati, ya Sayang. Suami kamu itu gengsinya selangit. Kemarin dia kan sok-sokan nolak kamu, jadi kalau sekarang sikapnya berubah jadi manis-manis gitu kan nggak mungkin. Tunggu aja, bentar lagi dia bersikap lebih baik sama kamu kok," ujar Alea sembari mengelus punggung Kanaya. Tidak, ia tidak ingin disebut munafik sebab tadi mungkin sudah mengobrolkan yang tidak-tidak dengan sang suami di belakang wanita itu. Ia hanya menjalankan perannya sebagai mertua yang baik. Sementara itu, mendengar kata-kata ibunya, Sean langsung berdecih sinis. Bersikap manis, pada Kanaya? Hanya ada dalam angan-angan wanita itu. Sean pastikan itu. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD