20. Bandung

1757 Words
Sepanjang perjalanan menuju kota Bandung---kota tempat rumah sakit cabang milik keluarga Ferdinand berada, hanya deru mesin lah yang mengisi keheningan di dalam mobil itu, padahal di sana ada sepasang manusia yang masing-masing memiliki kemampuan berbicara. Pagi-pagi tadi, Sean dan Kanaya berangkat dari Jakarta. Terkesan sangat tiba-tiba dan kedua orang tua Sean sempat tak mengizinkan, jelas saja, Sean mendadak memberitahu kepindahannya itu, termasuk kepada Kanaya. Kanaya sebenarnya tidak heran, mengingat kemarin malamnya pria itu mulai mengemasi pakaian-pakaiannya. Tapi, Kanaya juga sama sekali tidak menduga, kalau Sean ternyata dirotasi ke rumah sakit yang berada di Bandung, tempat koasnya itu. Kanaya pikir, ayahnya akan mengizinkannya melanjutkan koas di rumah sakit pusat, tapi ternyata tidak. Beliau malah lebih dulu bertindak dengan memindahkan Sean ke sana. Padahal sebelumnya Kanaya sudah menyiapkan beberapa rencana. Sementara ini ia meminta cuti koas selama beberapa waktu. Dalam masa cutinya itu, ia sudah memikirkan cara agar bisa dipindahkan ke rumah sakit pusat. Dan, rencana manusia memang tak selalu sama dengan kenyataan. Ya sudah, Kanaya tinggal menerima saja. Tetapi, ada satu hal yang menganggu pikiran Kanaya. Tentu tentang bagaimana hubungannya dengan Sean. Lelaki itu jelas memberinya ancaman yang tak main-main beberapa waktu yang lalu. Kanaya jadi takut membayangkan kemungkinan terburuk yang akan menimpanya di kemudian hari. Tapi semoga saja tidak. Cukup lama berselang hingga mobil yang mereka naiki itu berhenti tepat di pelataran sebuah rumah tak bertingkat yang terlihat cukup besar dari luar. Rumah yang tiga bulan belakangan Kanaya tempati. Untuk ke depannya, baik ia dan Sean akan tinggal di sana. Ia juga yang tadi mengarahkan laki-laki itu di mana lokasi rumah mereka. Tanpa berucap, Sean melepas sabuk pengaman dan lebih dulu keluar dari sana. Pria itu berjalan mengitari mobil, bukan untuk membukakan Kanaya pintu, melainkan mengambil kopernya dan mungkin juga koper Kanaya yang tersimpan di bagasi. Sementara itu, Kanaya menghela napasnya sebelum ikut keluar dan menyusul Sean menuju tempat yang sama. Tentu saja ia ingin mengambil kopernya sendiri, karena tak mungkin juga Sean membawakan barang itu untuknya. Dan benar saja, benda berbentuk balok itu masih teronggok di sana. Kanaya memandang Sean yang hendak meninggalkannya dengan tatapan tak percaya. Lelaki itu benar-benar sangat menyebalkan. Sempat menggerutu sebentar, Kanaya segera mengangkat kopernya itu. Sedikit kesusahan karena memang pakaian yang ia bawa cukup banyak. Ia jadi menyesal membawa pakaian-pakaianya kembali ke Jakarta. Ia mengira ia akan tinggal di kota besar itu, tapi ternyata tidak. "Dokter." Ia memutar tubuhnya menghadap Sean, kemudian memanggil pria itu. Namun, sayangnya ia malah tak digubris. Sean tetap tak mengacuhkannya, berjalan cepat menuju pintu masuk. Kanaya mendengkus sebal. "Dokter Sean punya hati nurani apa nggak sih? Dokter nggak kasihan ya ngeliat orang hamil kayak aku ini ngangkat benda yang punya beban seberat ini? Aku ini istri Dokter! Perhatian sedikit nggak bisa apa?" Sean memutar tubuhnya, menatap Kanaya yang tampaknya mulai kembali pada sifatnya yang asli, cerewet dan sangat menyebalkan. Hormon kehamilan. Sean tahu itu. Tak diragukan lagi sebenarnya, banyak para wanita hamil yang memiliki suasana hati yang berubah-ubah. Terkadang merasa senang, terkadang juga merasa marah dan sedih dalam waktu bersamaan, jika apa yang diinginkan tak sesuai dengan angannya. Tapi tak menutup kemungkinan juga, sikapnya beberapa lalu yang terkesan pendiam itu disebabkan karena perempuan itu berada di sekeliling keluarga Sean. Sean mulai menyimpulkan dalam benaknya. Bruk! Kanaya menghempaskan kopernya begitu saja ke permukaan paving block yang terpasang menyeluruh di halaman rumah itu. Suaranya cukup nyaring, membuat Sean sempat terperanjat. "Apa-apaan sih kamu?!" Pria itu berbicara dengan nada tinggi, cukup terkejut dengan kelakuan Kanaya. Kanaya mencebik. "Aku kan nggak sekuat Dokter, koper ini terlalu berat buat aku, Dokter Sean sayang." Sean bergidik jijik mendengar jawaban Kanaya. Sayang? Kata-kata itu begitu menggelikan di telinganya. Dan, entah mengapa, tiba-tiba Sean merasa mual. Perutnya bergejolak, sesuatu di dalam sana seakan saling berdesakan meminta dikeluarkan. Sean tak tahan lagi. Mulutnya refleks terbuka, dan likuid kental mulai menyembur dari sana. Kanaya melototkan matanya. Ia tak menyangka akan perbuatan Sean yang begitu mendadak. Pria itu memuntahi bajunya. Menjijikkan dan Kanaya tak menyukainya. "Dokter Sean." Ia memanggil nama pria itu. Tersirat nada tak percaya di balik kata yang ia ucapkan. Lagi-lagi Sean tak menggubris. Pria itu malah terduduk lemas dengan mulut yang masih mengeluarkan muntahan. Sean terlihat begitu mengenaskan. Mabuk darat, pikir pria itu. Tapi aneh, dia tak pernah seperti ini sebelumnya. Sejauh apa pun perjalanan yang ia lakukan Sean selalu kuat dan tidak pernah mabuk. Ah, mungkin karena itu. Sean membatin. Namun sejurus kemudian ia menggelengkan kepalanya. Tidak, tidak. Ia tidak boleh berpikiran seperti itu, karena dengan begitu, berarti ia mengakui jika Kanaya tengah mengandung anaknya. Tetapi tetap saja akalnya bilang seperti itu. Sebenarnya hal ini cukup lumrah, banyak pria yang mengalami masa-masa seperti ini jika istrinya tengah mengandung. Suami akan ikut merasakan mual dan muntah, bahkan mengidam pun juga termasuk. Hal itu sangat wajar terjadi. "Ya ampun, Dokter Sean!" Kanaya memekik kecil, setelah kembali dari keterkejutannya. Wanita itu kemudian bersimpuh di depan Sean yang saat ini terkulai lemas dengan kedua tangan yang pria itu gunakan untuk menompang tubuh. "Dokter Sean baik-baik aja, kan?" Kanaya bertanya dengan nada khawatir. Tentu saja, meski Sean tak peduli padanya saat ia mengalami hal yang sama seperti yang pria itu alami, Kanaya akan tetap berlaku baik. Ya siapa tahu saja, Sean jadi cinta dengannya, kan? Meski rasanya tidak mungkin, tetapi tidak ada salahnya untuk berpikir positif, kan? Siapa tahu Sean akan benar-benar menerimanya atas kebaikannya yang tidak seberapa itu. "Menurut kamu bagaimana?" Sean balik bertanya dengan suara pelan dan serak, membuyarkan angan-angan tidak jelas Kanaya. Kanaya merespons dengan ringisan saat mendapati tatapan Sean yang begitu tajam. Suaminya ini kenapa sih, sok jahat begitu? Apa salahnya? Oh, sangat banyak. Kanaya sadar diri kok, makanya dia memaklumi sikap Sean. Tapi, kalau Sean masih bersikap dingin padanya, atau bahkan sampai kasar, entah Kanaya tak tahu lagi harus mengambil sikap bagaimana ke depannya nanti. Jujur ia memang menyesal sudah berbuat selicik itu dan merugikan banyak orang. Tapi tidak bisa Kanaya pungkiri, jika ia juga merasa senang sudah berhasil mengikat Sean, meski hatinya masih belum bisa ia raih. Namun ia berharap, suatu saat nanti Sean akan benar-benar menjadi miliknya, seutuhnya. "Ya udah, kalau gitu ayo Dok, aku bantu. Pasti Dokter nggak kuat kalau jalan sendiri." Kanaya meraih tangan Sean untuk ia sampirkan di bahu, namun Sean segera menepisnya dan beringsut mundur menjauhi Kanaya. Ia tidak mau dekat-dekat dengan wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Demi apa pun, Sean tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. "Saya tidak mau, di baju kamu ada muntahan saya, dan saya jijik melihatnya." Ia menolak sembari bergidik ngeri, menatap ke arah baju Kanaya. Kanaya mendengkus jengah. Semua ini kan, karena ulah Sean sendiri? Lalu, kalau sudah begini, apa yang harus Kanaya lakukan? Mencopot bajunya hingga menyisakan dalamannya saja, kemudian memapah Sean ke dalam rumah? Kalau memang benar, ia sangsi orang-orang sekitar akan mengira mereka sebagai pasangan pezina. Padahal kan mereka sudah sah jadi suami-istri. Jelas saja ia tak mau itu terjadi. Dia perempuan baik-baik, bermoral, dan tidak mur*han seperti kebanyakan wanita di luar sana yang mengobralkan tubuhnya dengan cuma-cuma. Ya, meskipun cara yang ia gunakan untuk mengikat lelaki itu bukan cara yang baik juga. "Oh ayolah Dok, Dokter ini hampir sekarat, kalau kelamaan di sini bisa-bisa Dokter sekarat beneran," ujar Kanaya tanpa beban, lalu meraih lengan kekar Sean, kemudian menyampirkannya pada pundaknya. Sean hendak memprotes, namun Kanaya segera memperingatinya untuk diam saja karena kondisi laki-laki itu yang tak bisa dibilang baik. Ia mendesah pasrah, dan memilih menuruti Kanaya. Pria itu berdiri dengan susah payah, pun dengan Kanaya yang tampaknya sedikit kesulitan mengingat tubuh Sean yang cukup besar, namun tak bisa dikatakan besar juga sebenarnya. "Pelan-pelan, Dok." Kanaya memapahnya menuju ke pintu depan, meninggalkan koper-kopernya yang masih tergeletak di dekat mobil. Kanaya memencet bel rumah, menunggu pembantu yang bekerja di sana membukakan mereka pintu. Sebenarnya rumah ini pun milik keluarga Kanaya. Tak terlalu besar, karena memang keluarganya hanya menggunakannya ketika ada kunjungan ke rumah sakit atau ada dinas lain di kota itu. Tak lama berselang pintu pun terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul. "Non Kanaya, loh kok Non balik ke sini lagi? Bukannya Non Nay bilang mau tinggal di Jakarta lagi?" cecarnya yang terkejut mendapati majikannya kembali ke rumah itu. Tatapannya lantas jatuh pada Sean yang masih tampak tak baik-baik saja. "Oalah, Non Nay ke sini sama suami Non ternyata. Siapa namanya Non? Kenalin dong sama Bibi, beuh mening kasep pisan suaminya Non Kanaya." Wanita itu berbicara tanpa henti, persis seperti yang biasa Kanaya lakukan. Dan Sean sangat tidak menyukainya. "Bibi nih kebiasaan, kalau ngomong nyerocos aja kayak kereta api," gurau Kanaya. "Entar aja ya, aku jelasin Bi. Sekarang aku minta tolong sama Bibi, ambilin koper-koper aku, tuh masih ada di halaman. Kalau nggak kuat panggil Pak Umar, suruh bantuin, sekalian juga ya nanti masukin mobilnya ke carport." "Oh, itu ya Non? Siap, Bibi kalau angkat-angkat koper segitu, mah kecil. Bibik kan, seterong." Bi Minah kemudian melangkahkan kakinya menuju koper-koper itu. Sementara itu Kanaya mulai memasuki rumah dan berjalan menuju kamarnya yang untungnya berada tak jauh dari sana. Kanaya merebahkan tubuh Sean ke atas ranjang. Sementara Sean, dia benar-benar pasrah, karena tubuhnya yang masih terasa lemas. Ia tak mengerti, mengapa mual serta muntah yang ia alami membuatnya terlihat layaknya orang yang baru saja tempur di medan perang. Berlebihan memang, tapi bukankah dia mengalami hal seperti itu, secara nyata. Jujur saja, ia juga merasa bingung. Biasanya orang-orang yang mengalami hal yang sama seperti dirinya itu, tal akan separah ini. Oh atau, lagi-lagi itu karena hormon kehamilan Kanaya. Sean menyimpulkan, dan secara tak langsung ia mengakui anak yang Kanaya kandung, adalah anaknya. "Dokter Sean istirahat aja, nanti aku suruh Bi Min, buat bikinin Dokter teh hangat." Kanaya menarik selimut yang berada di ujung ranjang hingga menutupi sebagian tubuh Sean. "Aku pergi dulu ya Dok, mau mandi. Nanti, kalau butuh apa-apa, teriak aja. Eh, tapi kalau Dokter bisa sih." Kanaya mulai beranjak dari sana. Koper miliknya dari tadi belum datang, jadi dia berniat membantu Bi Minah, mungkin wanita paruh baya itu sedang kesusahan. *** Malam harinya, Sean terbangun dengan kondisinya yang tiba-tiba menginginkan olahan makanan yang berbahan dasar ketan. Lelaki berusia di awal kepala tiga itu membayangnya tekstur ketan yang kenyal saat digigit. Dan sungguh demi apa pun, Sean benar-benar menginginkannya. Oh tidak, ia baru sadar jika sekarang dirinya tengah mengidam. Dan hal itu mungkin akan berakibat buruk padanya, karena jika ia menuntaskan keinginannya itu, maka kembali ke awal, ---berarti ia telah mengakui bayi yang Kanaya kandung. Tidak, dia tidak mau. Bayi itu bukan anaknya. Sean sama sekali tak pernah menyentuh Kanaya. Tapi, masalahnya dia pasti akan tersiksa dengan keinginannya itu. Jadi, sekarang dia harus apa? Mempertahankan kekeraskepalaannya juga tidak mungkin, kan? Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD