21. Resah

1794 Words
Pagi ini Sean sudah sedikit membaik. Namun, keinginannya untuk memakan makanan yang berbahan dasar ketan masih belum menghilang. Malah, ia semakin menginginkan makanan bertekstur kenyal itu. Membayangkan dirinya menggigit dan mengunyah makanan itu membuat Sean hampir saja meneteskan air liurnya. Namun karena gengsi dan juga egonya yang cukup tinggi, Sean lebih memilih menahannya. Seperti yang ia katakan sebelumnya, jika ia menuruti keinginannya itu, berarti secara tidak langsung ia juga mengiyakan jika anak yang Kanaya kandung adalah anaknya. Padahal Sean sendiri sangat yakin, janin yang wanita itu kandung anak dari lelaki lain yang sengaja dialihkan padanya. Sean tahu hal itu terlalu ia paksakan, mengingat dirinya yang juga ikut-ikutan muntah dan mengidam makanan yang sejujurnya bukan makanan yang ia gemari. Tapi demi apa pun ia tak pernah ingat pernah berhubungan dengan Kanaya di luar batas yang ada. Sean tidak ingat pernah menyentuh wanita itu. Jangankan menyentuh, memeluk saja ia tidak pernah. Bagaimana bisa Kanaya hamil anaknya? Tidak mungkinkan, sp*rmanya terbang sendiri dan membuahi sel telur wanita itu? Sangat tidak logis. Sean hanya mengingat mereka yang berlibur ke Kebun Raya Cibodas, lalu menginap di salah satu penginapan yang ada di sana. Tidak ada hal lebih yang terjadi pada mereka, meski ada foto keduanya yang berada di bawah selimut yang sama. Tapi Sean ingat betul, tidak ada bau khas lelaki saat ia bangun waktu itu. Ah, memikirkan semuanya membuat Sean pusing dan mendadak merasa mual lagi. Untuk itu, setelah selesai mandi dan memakan sarapan yang Bi Minah, pembatu yang tinggal di rumah baru yang ia tempati, ia berangkat ke rumah sakit yang untuk ke depannya menjadi tempatnya bekerja. Kini, mobil Sean sudah tiba di pelataran rumah sakit. Ia sudah disambut oleh beberapa dokter dan perawat yang berjejer di depan pintu masuk, entah siapa yang menyuruh mereka menyambutnya seperti itu, tetapi pagi tadi Sean memang sempat menghubungi dokter kepala di rumah sakit itu dan mengabarkan bahwa hari ini ia sudah mulai masuk. "Pagi Dokter Sean, akhirnya Anda datang juga." Seorang pria baruh baya menyapanya pertama kali diikuti oleh beberapa orang lainnya. Sean tersenyum tipis, sembari menganggukkan kepalanya untuk membalas mereka semua. Sebenarnya, ia merasa tergelitik dengan perlakuan-perlakuan yang perawat-perawat itu berikan. Terlalu berlebihan kalau hanya untuk menyambutnya yang bukan siapa-siapa itu, menurutnya. Meskipun bisa dikatakan kalau dia adalah menantu si pemilik rumah sakit. Lain hal dengan mereka yang tahu sepak-terjang Sean di bidang medis. Hebat. "Kami tidak menyangka jika Pak Ferdinand rela melepaskan Anda dari rumah sakit pusat. Anda kan, sangat wow begitu." Pria paruh baya yang Sean ketahui bernama Prambudhia itu kembali bersuara. Ia lumayan mengenal beberapa dokter dan perawat di situ karena memang setiap bulan akan diadakan pertemuan antar kedua rumah sakit untuk membahas beberapa hal yang berkaitan dengan alat-alat medis dan juga untuk saling share bagaimana cara menangani pasien-pasien gawat darurat, atau masalah-masalah yang lain. Sean tertawa kecil menanggapi ucapan Prambudhi. Merasa agak lucu. Dia, wow? Patut kah dia berbangga diri? Kemudian, satu per satu dari mereka mulai membubarkan diri, dan mulai melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Prambudhi mengajak Sean menuju ruangan yang tentunya sudah disiapkan untuknya. Sepanjang koridor rumah sakit, mereka isi dengan obrolan-obrolan kecil tentang penderita tumor otak yang sudah sebulan ini berada di ruang ICU dengan kondisi koma. Katanya, si penderita sendiri sudah melakukan kemoterapi dan operasi berulang kali untuk pengangkatan tumornya itu. Sempat dinyatakan bebas, tapi beberapa bulan setelahnya sel-sel tumor ganas itu kembali menggerogotinya. Kasihan sekali. "Sebenarnya sudah tidak ada harapan hidup lagi untuknya, tapi Dokter Abyan bersikukuh mempertahankannya dan melarang kami mencabut segala macam alat penunjang kehidupannya." "Kenapa bisa begitu?" Sean menyahut bingung. Tak mengerti mengapa ada seorang dokter yang bersikap seperti itu pada pasiennya. "Lalu, kalau dia---maaf, maksud saya Dokter Abyan menginginkan kesembuhan pada si pasien, kenapa ia tak memindahkannya saja ke rumah sakit lain yang memiliki alat-alat medis canggih lebih dari ini?" "Saya sebenarnya juga kurang tahu, Dok. Tapi menurut desas-desus yang saya dengar, pasien dan Dokter Abyan memiliki hubungan spesial. Dan untuk pertanyaan yang terakhir, saya malah tidak tahu sama sekali kenapa Dokter Abyan tak memindahkan pasien ke rumah sakit lain." Prambudhi menjawab. "Oh atau, mungkin saja Dokter Abyan tidak ingin berpisah dengan si pasien karena beliau kan ditugaskan di sini," lanjutnya kemudian. Sean mengangguk mengerti. Sekarang ia sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi di antara dokter bernama Abyan dan pasien penderita tumor itu. Cinta pria itu mungkin terlalu besar hingga ia tak sanggup harus melepaskannya, tanpa tahu jika orang yang ia cintai itu cukup menderita dengan penyakitnya. Cinta mungkin memang membutakan siapa saja yang merasakannya. Sean punya contohnya, barangkali jika kalian meminta bukti yang lebih konkrit. Sudah pasti dia adalah Kanaya, perempuan yang lebih dari seminggu ini telah terikat dengannya. Rubah betina itu pasti sedang berada di atas awan sekarang, karena sudah berhasil memilikinya. Hah, lihat saja nanti, ia pasti membuat wanita itu menderita. Tunggu saja, Kanaya. Bak sinetron-sinetron yang sering bermunculan di televisi-televisi swasta itu, Sean membatin, merutuki segala sesuatu yang berhubungan dengan Kanaya. Rasa-rasanya, ia ingin sekali meremukkan tubuh gadis itu. "Dokter Sean, ini ruangan Anda. Bersebelahan dengan ruangan saya, jadi jika Anda membutuhkan teman mengobrol, Anda bisa ke ruangan saya." Suara Prambudhi membuyarkan lamunan Sean. Ia mengerjap, kemudian mengalihkan pandangannya ke depan, menatap kedua pintu yang bersebelahan itu. Ia tak sadar kalau sudah sampai di sana. "Oh iya, kapan-kapan saya akan berkunjung ke ruangan Anda. Terima kasih, Dokter Pram." Bibir Sean melengkung tipis. Tak lama setelah itu, Prambudhi pamit. Pria paruh baya itu mengatakan jika ia harus mengunjungi pasiennya untuk melakukan pemeriksaan. Sean menghela napasnya sebelum memasuki ruangan barunya itu. Matanya memonitor ke sekeliling, setelah ia berada di dalam ruangan itu. Tidak ada yang spesial di sana. Fasilitasnya pun tak seperti di rumah sakit pusat. Tidak ada AC, di ruangan itu hanya ada kipas angin manual. Tidak ada lemari pendingin yang biasanya akan ia isi dengan botol-botol air mineral. Tak ada juga kamar mandi di sini, terbukti hanya ada satu pintu, dan itu adalah pintu masuknya tadi. Ruangannya pun sebenarnya tak terlalu luas, mungkin hanya 4×5 meter saja. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan ruangannya yang dulu. Tapi masih bisa dikatakan layak. Lagi-lagi terdengar helaan napas dari mulut pria itu. Sean sadar, ia terlalu banyak menuntut. Seharusnya tidak seperti itu. Ia kemudian melangkah lesu menuju meja kerjanya. Menaruh tas jinjingnya yang sejak tadi ia tenteng ke atas meja, melepas jas putihnya kemudian menyampirkan ke sandaran kursi. Sean mendudukkan dirinya ke sana. Bunyi decitan yang kursi itu hasilkan membuatnya refleks memejamkan sebelah matanya. Ah, sepertinya ia membutuhkan banyak waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya itu. Sean seharusnya tidak semanja itu hanya ruangan yang ia tempati sangat berbeda dengan ruangan yang dulu. Toh, ia menjadi dokter bukan untuk mendapat fasilitas yang bagus, melainkan menyelamatkan nyawa pasiennya. Tidak apa, tidak apa. Sean membatin pelan. *** Di waktu yang sama, Kanaya tengah menatap sendu, sosok yang tengah terbaring dengan berbagai macam alat penunjang hidup itu. Ia mengelus kaca pembatas yang berada di hadapannya. Tiga bulan berada di rumah sakit itu membuatnya menjadi lebih dekat dengan beberapa pekerja dan pasien di sana. Tadi ia memang memutuskan pergi ke situ, dan memastikan apakah Sean berada di sana atau tidak, karena pria itu menghilang sejak tadi pagi. Dan sekalian, ia juga ingin mengunjungi Naraya, sahabatnya selama menjadi koas di rumah sakit itu. "Sama sekali nggak ada perkembangan ya, Dok?" Kanaya bertanya tanpa mengalihkan atensinya. Laki-laki yang berada di sampingnya itu terdengar menghela napasnya sesaat, sebelum membuka celah bibirnya yang terkatup dan mengatakan, 'belum' dengan suara lirih, bahkan hampir tak terdengar. "Apa nggak ada cara lain buat nolong dia? Aku beneran pengen ngelihat dia sembuh, bisa main-main sama aku, kalau aku lagi ada waktu kosong," kata Kanaya suara yang mencicit pelan, juga wajah yang terlihat begitu sendu. Belum ada respons. Lelaki yang berada di sebelah Kanaya itu hanya diam sembari menatap hadapannya dengan tatapan kosong. Namun, sekian detik kemudian, pria itu akhirnya mau membuka suaranya juga. "Saya ini bodoh, nggak bisa melakukan apa pun untuk dia, Kanaya. Saya bodoh!" Pria itu malah merutuki dirinya sendiri dan merancau tak jelas. "Dokter jangan kayak gitu." Kanaya mulai merasa bersalah. Ia tak bermaksud mengatakan hal seperti itu tadi, ia hanya ingin menanyakan bagaimana perkembangan kondisi Naraya saja. "Selama ini Dokter sudah berusaha cukup keras. Dokter Abyan sudah mengusahakan apa pun untuk Naraya." Ia melanjutkan. Entah mengapa, sudut hati Kanaya merasa sakit melihat begitu kacaunya Abyan. Ia tidak tahu mengapa bisa begitu. "Itu belum seberapa, Kanaya. Saya tak melakukan apa pun pada Nara. Saya sama sekali tak melakukan usaha apa pun." Nada suara Abyan terdengar frustrasi, kepalanya pun tertunduk dalam. Kekalutan benar-benar telah membelenggunya sekarang. Membuat otaknya membeku dan mogok bekerja. Sejenak, Kanaya tampak berpikir, sebelum memutuskan untuk lebih mendekatkan jarak antara dirinya dengan Abyan, kemudian menepuk bahu pria itu pelan. "Jangan salahin diri Dokter. Mungkin, memang benar kalau Dokter nggak bisa ngelakuin apa pun buat Naraya, tapi itu bukan berarti Dokter nggak berusaha. Seenggaknya Dokter udah berusaha keras, Dokter udah berjuang banyak buat Nara. Dan, yang perlu kita lakuin sekarang adalah berdoa, memohon kesembuhan Nara pada-Nya." Senyum tipis tampak terbit di bibir Kanaya, sementara matanya memancarkan ketulusan. "Terima kasih." Hanya kata itu yang bisa Abyan ucapkan. Tanpa mereka tahu, ada sesosok pria yang berdiri tak jauh dari mereka. Menatap dua orang berbeda jenis itu dengan perasaan campur aduk yang sama sekali tak bisa ia jelaskan. Sean tidak tahu apa yang ia rasakan. Tapi melihat betapa dekatnya Kanaya dengan pria itu membuat sesuatu dalam dirinya menjadi tidak tenang. Ah entahlah. **** Sean tampak uring-uringan di meja kerjanya. Entah itu karena ia merasa tak nyaman dengan tempatnya itu atau karena pemandangan yang ia lihat beberapa waktu yang lalu. Ia sudah berusaha menghilangkan rasa tak enak yang tengah menderanya itu dengan menyibukkan diri, membaca beberapa ensiklopedia tentang penyakit kanker dan tumor yang sebenarnya sudah ia baca puluhan kali. Buk! Dihempaskan lembaran kertas yang ia pegang itu dengan keras. Ia kemudian meraup wajahnya dengan kasar. Perasaannya benar-benar tak tenang. Menghela napas pelan, akhirnya ia memilih bangkit. Melangkah gontai menuju pintu keluar. Mungkin ia bisa menghirup udara segar, di taman rumah sakit. Tepat saat ia sampai di sana, matanya langsung bertumbukkan dengan pemandangan yang hampir sama seperti yang ia lihat di koridor depan ruang ICU tadi siang. Lagi-lagi ia melihat perempuan yang sudah terikat dengannya itu tengah berdua-duaan bersama pria yang tadi ia lihat, di taman itu. Sean mengacak rambutnya sembarangan. Entah mengapa hatinya semakin tidak tenang. "Aku kenapa sih? Kok jadi gelisah kayak gini." Sean benar-benar tidak tahu apa yang sedang menderanya, hingga membuatnya semakin uring-uringan seperti itu. Sean frustrasi. Sungguh! Ia ingin rasa tidak tenang itu menghilang, tapi rasanya malah semakin menjadi. "Astaga ... Ya Tuhan, aku harus apa?" Wajah Sean menunjukan kesengsaraan yang nyata. Ia tampak begitu kacau karena perasaannya sendiri yang benar-benar tidak ia mengerti kenapa. "Argh!" Lagi, ia mengacak-acak rambutnya, membuatnya menjadi semakin berantakan. Persis seperti apa yang tengah ia rasakan sekarang. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD