Siang itu, seusai menjenguk Naraya dan berbicara sebentar dengan Abyan di taman rumah sakit seputar kesehatan Naraya---Kanaya meminta laki-laki itu untuk bersedia memindahkan Naraya ke rumah sakit yang lebih memadai, di luar negeri misalnya---sekalian mencari udara segar di sana agar Abyan lebih tenang, Kanaya langsung disibukkan dengan tugas koasnya. Kebetulan ia berada di stase anak, salah satu stase terbesar selain empat stase lainnya; stase bedah, obstetri dan ginekologi, serta stase penyakit dalam.
Lantas saja, Kanaya dengan langkah tergesa langsung melangkahkan kakinya menuju poli anak. Tadi ia langsung mendapatkan tugas dari konsulen yang menaunginya untuk melakukan follow up pada salah satu pasien yang tadi pagi baru datang, sebenarnya ini bukan tugasnya, melainkan tugas salah satu rekannya, tapi karena rekannya itu berhalangan jadi dialah yang menggantikan tugas itu. Terus terang saja, Kanaya ogah. Dia kan sedang mengambil cuti, kenapa jadi disuruh begituan?
Kanaya menghela napas pendek. Oke, posisinya adalah bawahan, dan dia sangat tahu diri. Cukup laksanakan tugasmu, dan jangan membantah.
Dibukannya pintu berwarna putih itu. Ia sudah menyiapkan senyum lima jarinya sebelum memasuki ruangan itu. "Halo, permisi?" ujarnya dengan nada halus, sesaat setelah memasuki ruang rawat inap, lalu mengayunkan kakinya menuju bangsal yang ditempati anak itu dan berdiri tepat di sampingnya. Tidak ada orang di sana, entah ke mana orang yang menjaganya.
"Hai, Ganteng, lagi apa nih?" tegur Kanaya pada anak itu.
Namun sangat disayangkan, anak kecil yang ia sapa malah mengabaikannya dan lebih memilih berkutat dengan tablet yang berada di genggamannya. Mungkin bermain gim yang sedang hapening di masyarakat. Mobile Legend atau sejenisnya.
Tipe-tipe anak kecil yang individualis, lebih memilih berkutat dengan gadget daripada bermain dengan teman-teman seusianya. Kanaya mengusap perutnya yang sedikit membuncit, dalam hati ia membantin semoga anaknya kelak tak memiliki sifat yang sama seperti bocah itu.
"Ano, kalau disapa sama dokter itu, dijawab dong, jangan dicuekin." Lalu sesosok pria tampan---namun masih kalah jika dibandingkan dengan Sean, menurut Kanaya---yang baru saja muncul dari pintu yang menghubungkan dengan toilet kecil di kamar rawat inap itu memberi peringatan pada pasien cilik yang kalau Kanaya tak salah ingat bernama Liano Dathan Prastawa itu. Ia tadi sempat menengok pada data pasien yang dipasang pada ujung bangsal, mungkin perawat yang melakukannya.
"Maafkan perilaku putra saya ya, Dok."
Kanaya sebenarnya sudah biasa dipanggil 'dok' atau 'dokter' oleh keluarga pasien atau pasien sendiri, meski ia belum resmi mendapatkan gelar itu. Barangkali karena jas putih yang ia pakai.
"Tidak masalah, Pak. Saya sudah lumayan biasa mendapatkan respons seperti ini." Kanaya memberikan senyum manisnya pada pria yang ia yakini ayah dari bocah cilik yang hingga kini tetap bersikap masa bodo itu.
Si Bapak malah tertawa renyah, membuat matanya menyipit karena hal itu. "Jangan panggil saya 'Pak' dong Dok, saya kan masih muda, bukan bapak-bapak tua," katanya masih dengan sisa tawanya.
Kanaya tersenyum canggung. Dan lagi-lagi ia mengusap perutnya, kembali membatin supaya anaknya kelak tak meniru perilaku pria itu yang menurutnya aneh. Aneh karena dia begitu narsis. Tak sadar saja, ada beberapa kerutan di sekitar area matanya.
"Maaf Pak, saya bisa melakukan pemeriksaannya sekarang, karena setelah ini saya harus melakukan check up di dokter kandungan," beritahu Kanaya sembari memperlihatkan perut setengah buncitnya dengan cara mengelus. Sebenarnya, jadwal check up-nya masih beberapa hari lagi, ia hanya ingin menunjukkan pada laki-laki itu saja bahwa ia sudah tak sendiri. Jadi, haram hukumnya untuk siapa pun yang ingin menggoda Kanaya.
"Oh, Dokter hamil." Pria itu mendesah dengan suara lesu.
Kanaya memilih tak menanggapi ucapan pria itu. Langsung saja ia menyuruh Liano untuk menghentikan permainannya dan segera membaringkan tubuhnya. Sedikit ada adegan paksaan karena si anak tak mau menuruti perintahnya. Untungnya, si ayah anak ikut turun tangan dengan cara mengambil tablet sang putra lalu mengancam tak akan mengembalikannya sebelum si anak selesai melakukan pemeriksaan.
Dengan enggan si anak menuruti titah Kanaya dan sang ayah. "Nanti pokoknya balikin tablet Ano, kalau enggak Ano bakal mogok makan," rajuknya dengan suara serak, yang dibalas dengan gumaman kurang jelas dari sang ayah.
Kanaya tersenyum simpul, sebelum menanyakan pertanyaannya. "Apa keluhan yang sekarang kamu rasakan?" tanyanya sembari meletakkan tas alat kesehatan multifungsinya ke atas nakas kecil samping bangsal, membukanya lalu mempersiapkan alat-alat yang kemungkinan akan ia gunakan.
"Oh, tadi pas makan tahu bulat yang digoreng dadakan, putra saya ngeluhin sakit di tenggorokannya Dok, terus dimuntahin lagi deh, dan dimuntahannya itu ada bercak-bercak merahnya gitu, Dok," jawab si ayah pasien saat Kanaya mulai memeriksa denyut nadi anaknya.
"Oh, pantes." Kanaya bergumam kecil, sembari mengambil stetoskopnya, kemudian memasang ujungnya pada telinganya.
"Lalu, sebelum ini, apakah ada riwayat penyakit lain, Pak?"
Barangkali, apa yang Kanaya lakukan terkesan bertele-tele dan terlalu mengulur-ulur waktu pemeriksaan, namun sebenarnya tidak. Anamnesia atau bila dijabarkan lebih jelas adalah riwayat kesehatan dari seorang pasien yang berfungsi sebagai dasar seorang dokter---atau calon dokter seperti Kanaya---melakukan diagnosanya.
"Tidak ada. Ini baru pertama kalinya untuk anak saya."
Kanaya mengangguk mengerti. Ia mulai mengarahkan stetoskopnya pada d**a si anak, mencoba mendengarkan detak jantung, serta memeriksa tekanan darahnya. Setelah merasa cukup, ia mulai menyuruh si anak untuk membuka mulutnya. Sontak saja bau kurang sedap merasuk ke lubang hidungnya yang langsung diimpuls ke otak. Barangkali anak itu belum menggosok giginya. Mengambil penlight---senter kecil yang bentuknya menyerupai pulpen--- dalam sakunya, menyalakannya lalu mengarahkan pada tenggorokan Liano.
"Eh, tapi Dokter belum menikah kan? Semacam ONS, One Night Stand, begitu? Saya lihat, di jari manisnya Dokter nggak ada cincin." Tiba-tiba si pria yang tampannya belum bisa menandingi Sean itu membuka suara, mengeluarkan topik baru sebagai bahan perbincangan mereka.
Kanaya menghela napas berat. Memang benar, ia tak memakai benda berbentuk lingkaran yang berfungsi sebagai tanda pengikat itu, pun dengan Sean. Bukan karena ia takut ada yang tahu tentang status mereka---malah sangat bagus kalau ada yang mengetahuinya, sebenarnya, tetapi karena memang sejak awal Sean tak pernah memasangkan benda itu di jari manisnya. Pantas saja jika ada orang yang mengira seperti itu. Tapi, kalau diingat-ingat, ia memang hamil di luar nikah, sih.
"Dipikir cerita di platform oren ya, Pak? Yang melakukan hubungan one night stand, terus yang perempuan hamil, si laki-laki nggak bertanggung jawab, dan bla bla bla, ketemuan, happy ending." Akhirnya setelah keterdiamannya selama beberapa detik, Kanaya membalas ucapan pria itu. "Saya sudah menikah, kebetulan saya memang nggak pakai cincin kawin."
"Aduh Dok, nggak usah malu atuh kalau mau jujur sama saya tentang status Dokter yang sebenarnya. Nggak pa-pa kalau orang yang menghamili Dokter nggak mau tanggung jawab sama Dokter, saya mau kok jadi suaminya Dokter, ayah anak Dokter juga."
Gendeng! batin Kanaya menjerit, setelah mendengar ungkapan mengada-ada dari sosok pria yang kini berdiri tepat di hadapannya---di sisi lain bangsal yang ditempati sang anak. Kanaya tak tahu jalan pikiran pria yang bahkan belum ia ketahui namanya itu.
Berapa IQ yang ia punya, hingga membuat pria itu tak bisa menangkap kata-katanya? Sekiranya itulah pertanyaan yang kini tengah membayang-bayangi benak Kanaya.
"Hehe, tenang saja Dok. Saya hanya bergurau tadi."
Kanaya mulai geregetan sekarang mendengar lelaki itu berbicara. Rasanya ia ingin menyentil kepalanya.
Kanaya menarik napasnya panjang, sebelum mengembuskannya secara perlahan. Sepertinya ia harus segera menyelesaikan follow up-nya ini agar cepat keluar dari ruangan itu. Maka yang ia lakukan selanjutnya adalah menulis beberapa diagnosis banding kemudian menyimpulkannya dengan diagnosis kerja.
"Pemeriksaannya sudah selesai. Anak Bapak sepertinya terkena radang tenggorokan. Jadi, untuk sekarang lebih baik hindari memakan makanan berminyak, seperti tahu bulat seperti yang Anda bilang tadi. Sebab, akan semakin membuat iritasi di tenggorokan putra Anda semakin parah. Hindari juga makanan asam dan pedas, minuman dingin, es teh atau es krim," Kanaya sedikit melirik plastik putih berisi berbagai macam makanan ringan, gorengan, serta beberapa botol minuman dingin yang sepertinya baru dibeli itu di kursi samping bangsal. "semua produk s**u, termasuk yogurt juga, minuman bersoda, junkfood atau aneka fast food lainnya, dan terakhir, kalau bisa beri makanan yang bertekstur lembut. Untuk lebih jelasnya, nanti Dokter Sinta akan kembali memeriksa putra Anda, sekalian memutuskan untuk dirawat inap atau diizinkan pulang," Kanaya mengakhiri ucapannya seraya mengembuskan napas lega.
Dokter Sinta merupakan dokter spesialis anak yang memimpin departemen yang Kanaya tempati sekaligus konsulennya untuk beberapa hari ke depan, karena setelah ujian yang diberikan olehnya, ia dan beberapa teman koasnya sudah dipindahkan ke departemen lain.
"Duh, Dokter perhatian banget sih sama anak saya."
Diam-diam Kanaya memutar bola matanya. Ia jengah mendengar perkataan pria itu. Dokter perhatian pada pasien itu lumrah, karena memang sudah menjadi tugasnya. Yang tidak lumrah itu, jika Dokter malah memberikan obat dengan dosis tinggi pada pasiennya---kecuali dalam kondisi pasien sedang sakit parah, dan hidupnya masih mengambang, antara hidup dan mati, Dokter bisa melakukan euthanasia pada pasien.
Memilih mengabaikannya, Kanaya segera merapikan alat kesehatannya, memasukkannya ke dalam tas alkes (alat kesehatan) tadi. "Karena sudah selesai, saya permisi dulu, Pak." Kanaya mencoba menyunggingkan senyum manisnya.
"Aduh Dok, dari tadi Dokter panggil saya 'Pak' saja. Kan sudah saya bilang, saya masih muda. Dokter bisa panggil saya Mas atau Abbygail, nama saya."
Abbygail? Abbygila kali? dengkus batin Kanaya.
"Papa lebay banget sih, Ibu Dokter nggak bakalan mau sama Papa."
Kanaya masih bisa mendengar celetukkan dari anak kecil yang baru ia periksa itu. Selanjutnya ia tak mengerti apa yang mereka bicarakan, karena ia sudah keluar dari ruangan itu.
Menghela napas lelah, Kanaya kemudian melangkahkan kakinya menjauhi ruangan itu. Ia akan memeriksakan kandungannya. Ya, pada akhirnya ia memajukan jadwal check up-nya.
Namun, saat ingin berbelok ke poli bidan dan kandungan, Kanaya malah membelokkan kakinya menuju ke daerah poli bedah, barangkali Sean ada di sana. Betul sekali, Dokter spesialis muda itu berada di sana, berdiri bersebelahan dengan pria yang Kanaya kenal bernama Abyan itu. Mereka tampak serius berbicara. Mungkin mereka membicarakan tentang penyakit Naraya, itu tebakan Kanaya.
Saat ingin mendekat, mereka tampak menyudahi pembicaraan mereka. Abyan lebih dulu pamit, bisa Kanaya lihat wajah pria itu yang tampak begitu lesu.
"Dokter Sean, tadi apa yang Dokter omongin sama Dokter Abyan?" Kanaya bertanya setelah berada di hadapan Sean, ia melongokkan kepalanya ke belakang tubuh Sean, melihat punggung Abyan yang kian menjauh.
"Apa yang saya dan selingkuhan kamu itu bicarakan, bukan urusan kamu, Kanaya," ujarnya ketus dengan wajah datar.
Kedua alis Kanaya terangkat, membuat lipatan-lipatan samar pada keningnya. "Selingkuhan? Kenapa Dokter Sean bisa ngomong kayak gitu? Selingkuhan apa sih, Dok?"
Sean mengangkat kedua bahunya. "Tadi saya melihat kamu sama dia. Ya, barangkali dia selingkuhan kamu," sahutnya.
Bukannya tersinggung Kanaya malah merasa senang dengan perkataan Sean yang demikian. "Wah, akhirnya Dokter ngakuin status kita juga." Ia mengedipkan sebelah matanya pada Sean.
Gelagapan, Sean mengerjapkan matanya berulang kali. "A-apa? Status apa?"
"Alah, ya status pernikahan kita dong Dok," jawab Kanaya. "Ngomong-ngomong, soal Dokter Abyan, dia itu salah satu temenku. Eh bukan sih, tunangannya yang temanku, namanya Naraya. Gara-gara dia, aku jadi kenal Dokter Abyan. Ih, Dokter Sean, kalau Dokter tahu kisah mereka, Dokter bakal nangis deh. Kasihan tahu, Naraya itu lagi sakit Dok, dan mungkin udah nggak ada harapan lagi buat dia," cerocos Kanaya dengan nada yang awalnya riang dan berubah sendu di akhir.
Sean kemudian ingat cerita Prambudhi pagi tadi ditambah permintaan Abyan-Abyan itu beberapa waktu lalu. Dan ia memang salah paham pada Kanaya.
"Dokter Sean nggak perlu cemburu ya, sama Dokter Abyan. Dia itu setia banget sama Nara."
Salah satu sudut bibir Sean berkedut. "Saya tidak cembur-"
"Udah, udah. Aku tahu, Dokter Sean itu orangnya gengsian, Dokter pasti nggak akan mau mengakuinya," ujar Kanaya memotong ucapan Sean.
"Jadi sekarang, Dokter ikut saja sama aku. Kita pergi ke poli kandungan buat meriksain calon bayi kita." Kanaya kemudian meraih tangan Sean, mengajak pria itu mengikuti langkah kakinya, dengan tak menghiraukan tatapan beberapa pasang mata yang mengarah pada mereka. Mungkin mereka merasa bingung dengan interaksi Kanaya dan Sean, si Dokter Spesialis Bedah Onkologi yang baru pindah ke tempat itu.
"Semoga calon anak kita sehat ya, Dok."
Tbc